Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Tobias tidak merasa menyesal. Saat ia memeluk Amara dan merasakan kehangatan kulit mereka yang bersentuhan, segalanya terasa begitu nyata. Rintihan pelan dan perlawanan lemah Amara justru memberinya kepuasan.
Tangannya bergerak bebas menjelajahi lekuk tubuh Amara—tubuh yang sudah sekian lama tidak ia sentuh, tidak ia rasakan, dan tidak lagi mereka nikmati bersama.
Sensasi itu begitu nyaman, hingga untuk sesaat Tobias menyesali keputusannya menceraikan Amara. Seandainya ia bisa memutar waktu ke hari di mana ia mengajukan perceraian itu, mungkin ia akan memilih jalan yang berbeda.
Namun, pikiran itu langsung sirna saat Amara tersadar sepenuhnya. Dengan sisa tenaga yang ada, Amara mendorong Tobias menjauh.
"Kau benar-benar keterlaluan, Tobias!" bentak Amara sambil terengah-engah dan merapikan baju tidurnya. "Kenapa kau masih bersikap gila seperti ini?"
"Gila?" tantang Tobias sambil melangkah maju, mencoba kembali mendekat.
Kali ini, Amara tidak ragu. Ia mendorong dada Tobias dengan kuat agar pria itu mundur.
"Jangan berani mendekat lagi," ancam Amara dengan suara bergetar. "Atau aku benar-benar akan menelepon polisi!"
Tobias hanya mendengus remeh. Sepertinya mengancam dengan polisi sudah menjadi hobi baru Amara belakangan ini.
"Kau berpura-pura membenciku, padahal tubuhmu tidak bisa berbohong. Kau sadar itu, kan?"
Mata Amara berkilat marah. "Aku sadar?" ulangnya dengan nada menantang. "Dan apakah kau sadar bahwa apa yang baru saja kau lakukan ini disebut pelecehan?"
"Pelecehan?"
"Ya, kau mau lihat apa yang akan polisi katakan?" Tanpa menunggu jawaban, Amara menyambar ponselnya dan langsung menghubungi layanan darurat.
Tobias hanya menghela napas panjang. Baginya, situasi ini terasa lebih merepotkan daripada negosiasi bisnis tersulit yang pernah ia tangani.
Atas laporan pelecehan, polisi tiba di kediaman Amara dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Tobias masih berdiri di sana, menolak pergi. Mungkin karena ia merasa tak tersentuh, atau mungkin karena ia menganggap remeh ancaman Amara.
Namun, para petugas polisi itu langsung terpaku saat melihat siapa sosok yang dilaporkan.
"Tu-Tuan Larsen?" tanya salah satu petugas dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
"Apakah ini tidak salah? Apa benar Tuan Larsen pelakunya?" petugas lain yang awalnya tidak mengenali Tobias ikut bertanya dengan nada ragu.
"Ya, dia pelakunya," sahut Amara cepat, memotong keraguan mereka. Ia menunjuk Tobias dengan tatapan tajam. "Si cabul ini mencoba melecehkan saya, jadi saya tidak punya pilihan selain memanggil kalian."
Mendengar kata "cabul", kedua petugas itu makin syok, sementara Tobias hanya memutar bola matanya dengan jengah.
"Jangan berlebihan. Ini hanya kesalahpahaman antara suami dan istri," bela Tobias tenang. Ia kemudian menatap petugas yang tadi memanggil namanya. "Memangnya sejak kapan keributan pasangan bisa dilabeli sebagai pelecehan seksual?"
Petugas itu tampak ragu. Ia berdeham, tidak yakin bagaimana harus menjawab pria sekuat Tobias. "Itu... yah..."
Sebelum Tobias sempat bicara lagi, Amara mengejek. "Suami istri? Kita sudah bercerai, Tobias Larsen. Dan terakhir kali aku periksa, aku tidak mau berhubungan apa pun denganmu. Aku sudah memintamu secara spesifik untuk menghilang dari hidupku, tapi kau malah di sini, menyerang privasiku dan mengganggu ketenanganku." Sambil menoleh ke arah petugas, Amara menuntut, "Saya menuntut agar dilakukan tindakan tegas. Jika Anda gagal menghukumnya dengan cara yang benar, saya pastikan akan mengunjungi atasan Anda dan memastikan masalah ini ditangani dengan semestinya."
Ancamannya berhasil karena petugas tersebut segera berdiri tegak di detik berikutnya. "Ka-kami akan menangani ini, Nyonya, percayalah."
Beralih ke arah Tobias, petugas yang lebih tua berbicara dengan ragu. "Tuan Larsen, bisakah Anda ikut dengan kami? Kami ingin berbicara sebentar dengan Anda."
Tobias sempat terpikir untuk menolak permintaan mereka, tapi dia sedang tidak ingin membuang waktu berharganya berurusan dengan polisi. Maka, dia mengangguk.
"Ah, Nona, Anda juga perlu ikut ke kantor untuk memberikan pernyataan. Jika tidak terlalu merepotkan, maukah Anda ikut?"
Amara lebih dari senang untuk memenuhi permintaan itu, dia bahkan memberikan senyuman palsu sebagai bonus. "Saya tidak keberatan sama sekali."
Setelah itu, Tobias, Amara, dan para petugas meninggalkan rumah menuju kantor polisi.
Di kantor polisi, Amara duduk di sebelah Tobias, dan di depan mereka duduk dua orang petugas. Petugas yang lebih tua sudah memegang buku catatannya, siap menuliskan pernyataannya.
"Nona, bisakah Anda ceritakan kembali apa yang terjadi?"
"Saya sedang bekerja lembur tadi malam ketika bel pintu berbunyi. Saya membuka pintu dan menemukan si berengsek ini—Tuan Larsen berdiri di luar. Ketika saya melarang dia masuk, dia memaksa masuk. Kami sempat bertengkar kecil, dia menuduh saya melakukan sesuatu dan saya membela diri. Lalu..." Amara berhenti sejenak dan menatap Tobias dengan ekspresi jijik. "Dia mencoba melecehkan saya secara seksual."
Petugas itu menoleh ke arah Tobias. Amara mendecit kesal saat menyadari petugas itu masih bersikap sangat sopan pada pria di sebelahnya.
"Apakah semua yang dikatakannya benar, Tuan Larsen?"
"Ya, tapi..." Tobias terkekeh pelan. "Aku tidak merasa melecehkannya."
"Kau—"
"Bukan pelecehan jika kedua belah pihak setuju. Jangan bilang kau tidak menikmati itu?"
Amara mendengus muak. "Aku tidak setuju, dan aku tidak menikmatinya!"
"Benarkah? Seingatku, kau bahkan membalas ciumanku."
Wajah Amara memerah padam. "Kau bajingan sialan!"
"Oke, oke." Petugas yang tadinya hanya mendengarkan perdebatan kecil mereka akhirnya angkat bicara. "Kami sudah mendengar cerita dari kedua belah pihak dan sayangnya, kami harus menangani kasus ini."
Mendengar kata "sayangnya", Tobias hanya menghela napas panjang, seolah merasa prosedur hukum ini hanyalah gangguan kecil yang membosankan. Sikap meremehkan itu membuat Amara melemparkan tatapan tajam yang seolah ingin menembus jantung pria itu.
Apa maksud petugas itu dengan kata 'sayangnya' dan kenapa Tobias menghela napas seperti itu?!
"Nona, bagaimana Anda ingin kasus ini ditangani? Kami bisa menghukum Tuan Larsen di sini dengan denda atau penahanan selama beberapa hari."
Meskipun pilihan-pilihan tersebut tidak terlalu memuaskan Amara, dia tetap memilih opsi yang terakhir. "Kalau begitu, aku pilih penahanan. Dan itu harus selama tiga hari."
Tobias terkekeh lagi. Namun kali ini, itu adalah kekehan yang dingin—jenis tawa yang seolah berkata: 'Beraninya kau, aku akan membalasmu nanti.'
"Apakah Anda yakin?" petugas itu bertanya, tampak ragu.
"Ya."
Petugas itu ragu sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Jika itu keinginan Anda." Dia menuliskan sesuatu di buku catatannya sebelum berbalik ke petugas lain dan membisikkan instruksi. "Anda boleh pergi sekarang, Nona. Kami akan mengurus ini."
Amara berdiri, dengan berani mengacungkan jari tengah ke arah Tobias sekali lagi, lalu berjalan keluar.
Setelah Amara pergi, Tobias berbalik menghadap petugas. "Berapa dendanya?"
"Lima puluh ribu—" Petugas yang lebih muda mencoba menjawab namun langsung mendapat teguran dari rekannya yang lebih tua.
"Tuan, pilihannya untuk Anda adalah penahanan."
"Jadi kau ingin menahanku?" tanya Tobias.
"Tidak, tidak sama sekali."
"Kalau begitu beri tahu saja dendanya."
Petugas yang lebih tua ragu-ragu, tapi satu tatapan dari Tobias sudah cukup untuk membuatnya menyerah. "Ini... lima puluh ribu."
"Aku akan bayar seratus lima puluh ribu, anggap saja uang tambahan karena sudah merepotkan kalian," ucap Tobias santai sambil merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya. "Aku akan hubungi pengacaraku sekarang untuk membereskan semua administrasinya."
Tobias terdiam sejenak, seolah sengaja menunggu apakah ada yang berani membantahnya—meski ia tahu jawaban itu tidak akan pernah ada.
"Kalian tidak keberatan, kan?" tanyanya dengan nada meremehkan.
Kedua polisi itu saling lirik, lalu serempak menundukkan kepala dan mengangguk. Mereka bahkan tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun untuk melawan. Mereka sadar betul, berurusan dengan orang seberkuasa Tobias adalah ancaman besar; salah bicara sedikit saja, karier mereka bisa tamat seketika. Dan tentu saja, tak ada satu pun dari mereka yang mau mengambil risiko itu.
####
Satu jam kemudian, Tobias sudah kembali ke rumahnya yang nyaman. Sopirnya telah mengantarnya pulang, dan setelah memulangkan sopir tersebut, Tobias masuk ke kamarnya lalu berganti pakaian dengan pakaian yang lebih santai.
"Aku tidak menyangka hari ini akan berakhir sekacau ini," gumamnya pelan. Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan memejamkan mata, berharap tidur bisa menghapus rasa kesal yang menumpuk sejak tadi.
Namun, pikirannya tetap tidak bisa tenang. Ke mana pun ia mencoba mengalihkan perhatian, hanya ada satu wanita yang memenuhi benaknya: Amara.
Sambil menghela napas panjang, Tobias membuka mata dan menatap sisi kosong di tempat tidurnya. Ia teringat masa lalu, saat Amara selalu ada di sana, berbaring di sampingnya. Dulu, ia justru bersikap dingin dan acuh tak acuh, padahal saat itu Amara sangat mengharapkan kasih sayang dan perhatian darinya.
Kini, keadaan berbalik total. Amara justru sangat membencinya.
"Bagaimana bisa semuanya jadi berantakan seperti ini?" gumamnya lagi.
Ia tidak habis pikir kenapa tiba-tiba ia merasa sangat rindu. Kenapa ia begitu mendambakan sentuhan dan kehangatan Amara? Kenapa ia mendadak merindukan cara Amara memanggil namanya, menatapnya, dan memeluknya seolah-olah ia adalah orang yang paling berharga di dunia?
Dan pertanyaan yang paling menghantui pikirannya adalah: kenapa sekarang Amara bisa membencinya sampai sedalam itu?
#####
Amara pulang saat jam hampir menyentuh tengah malam. Begitu melangkah ke ruang tamu, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah mainan-mainan dewasa yang berserakan di lantai.
Ia mendengus kesal. Sambil mendekat, ia berjongkok di samping kotak dan mulai memungut benda-benda itu satu per satu. Namun, tangannya terhenti saat menyentuh satu benda yang sebelumnya sempat direbut paksa oleh Tobias dari genggamannya. Seketika, ingatan Amara terseret kembali pada momen ciuman itu.
Meski akal sehatnya menolak, otaknya justru memutar ulang semuanya dengan jelas: bagaimana rasa bibir Tobias, lembutnya jemari pria itu saat menyentuh kulitnya, dan betapa emosionalnya perasaan Amara saat itu.
Jujur, itu bukan ciuman terbaik di dunia. Namun, Amara tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa ciuman itu sempat membuatnya benar-benar tidak berdaya selama beberapa saat.
Mengapa?
Jawaban paling masuk akal adalah karena pelakunya adalah Tobias—pria yang telah ia cintai selama enam tahun. Pria yang seolah punya sihir untuk mengendalikan hatinya. Tapi Amara mencoba mencari alasan lain yang lebih logis.
"Mungkin bukan karena itu Tobias," batinnya menghibur diri. "Mungkin karena aku sudah terlalu lama tidak melakukannya, jadi ciuman tadi terasa begitu intens."
"Ya, itu menjelaskan semuanya," gumam Amara pelan. Ia memasukkan mainan terakhir ke dalam kotak, menutupnya rapat-rapat, dan menyimpannya di tempat tersembunyi.
Saat ia duduk kembali, ia merasa bodoh. Tobias datang hanya demi Celestine. Pria itu menciumnya hanya untuk merendahkannya dan membuktikan ego semata. Amara mengatupkan giginya kuat-kuat. Tobias ternyata jauh lebih jahat dari yang ia kira, dan Amara bersumpah tidak akan mau jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Keesokan paginya, Amara bangun dengan kondisi berantakan: sakit kepala, lingkaran hitam di bawah mata, dan pikiran yang kacau. Ia berangkat kerja dengan langkah lunglai, tampak seperti seseorang yang tidak tidur selama seribu tahun. Jangankan tidur nyenyak, bayangan "pertunjukan kecil" Tobias kemarin terus menghantuinya sepanjang malam.
DUARR!
Suara letusan konfeti mendadak meledak begitu ia melangkah masuk ke lobi kantor. Amara tersentak kaget.
"Selamat!" seru para karyawan serempak. Suara sorak-sorai mereka menggema di seluruh lantai bawah.
"Selamat, Amara! Kita berhasil mendapatkan proyek MD!"
"Selamat, MD (Managing Director)!"
Amara mengedarkan pandangan ke sekeliling lobi kantor. Ia sedikit terkejut melihat dekorasi sederhana yang telah disiapkan timnya, namun hatinya merasa sangat tersentuh.
"Terima kasih semuanya," sebuah senyum tulus merekah di wajahnya yang tampak lelah.
Para karyawan segera mengerumuninya, memberikan hadiah-hadiah kecil namun bermakna. Amara menerima semuanya dengan tangan terbuka. "Keberhasilan ini adalah hasil kerja keras kita bersama. Bagaimana kalau kita makan malam bersama akhir minggu ini? Aku yang traktir!"
Sorak sorai setuju langsung pecah di ruangan itu. Namun, di tengah kegembiraan tersebut, Jasper menyelip masuk dan mendekati Amara.
"Selamat, Nona Miller," ucap Jasper sambil mengulurkan tangan.
Amara melirik tangan itu, lalu sengaja mengabaikannya. Menyadari penolakan dingin tersebut, Jasper berdehem canggung dan segera memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
"Semua orang sangat senang Anda berhasil mengamankan kontrak itu. Saya tahu ini tanggung jawab yang besar, dan saya akan dengan senang hati membantu Anda jika—"
"Membantu saya?" potong Amara dengan nada ketus. "Anda... ingin membantu saya?"
Amara terkekeh sinis. "Sepertinya itu tidak akan terjadi. Lagipula, Madam Sinclair dan Bethany punya kebijakan yang sangat ketat: mereka tidak akan bekerja sama dengan penyebar gosip seperti Anda."
Wajah Jasper seketika memerah karena malu sekaligus tersinggung.
"Nona Miller, saya tidak pernah—"
"Jangan cari alasan," potong Amara lagi, tidak memberi celah. "Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Kalau Anda tidak punya pekerjaan lain, silakan pulang sekarang. Anggap saja ini perintah dari atasan Anda."
Mendengar itu, emosi Jasper langsung mendidih. Namun, meski dadanya sesak oleh amarah, ia tidak berani membantah. Dengan langkah gusar dan wajah tertekuk, ia pergi meninggalkan ruangan.
"Perlu saya hubungi Bos Besar dan minta dia memecat pria itu?" tanya Duncan yang tiba-tiba muncul dan membantu mengambil alih tumpukan hadiah dari tangan Amara.
Amara menggeleng tenang. Ia membubarkan para karyawan dengan isyarat tangan, menginstruksikan mereka untuk merapikan lobi dan kembali bekerja. "Memecatnya sekarang hanya akan memperburuk citra perusahaan," sahutnya pelan.
Saat mereka berjalan menuju lift, Duncan terus mengikuti di belakang. Amara kemudian menoleh dan berkata, "Menurutmu, apa yang akan orang pikirkan jika mereka mendengar seorang eksekutif dipecat tepat saat kita merayakan kemenangan? Itu bukan kesan yang baik untuk perusahaan, kan?"
Amara berhenti di depan lift, menekan tombolnya, dan menunggu pintu terbuka. "Jasper bisa kita urus nanti. Aku sendiri yang akan memastikan dia menerima akibatnya, tapi tidak sekarang."
Begitu lift tiba, Duncan bersiap melangkah masuk, namun ia terkejut saat Amara justru mendorongnya lembut ke dalam kabin lift sendirian.
"Simpan semua hadiah ini di ruanganku, lalu temui aku di kantor Madam Sinclair," perintah Amara sambil melambai singkat. Ia tidak ingin membuang sedetik pun untuk urusan penandatanganan kontrak ini.
Amara bertemu dengan Bethany tepat di depan gedung perusahaan ibunya.
"Senang bertemu denganmu lagi, Mara," sapa Bethany ramah sembari memberikan pelukan hangat. "Datang untuk meresmikan kontraknya?"
Amara mengangguk mantap saat mereka berjalan beriringan menuju lift.
"Aku tahu ini agak terlambat, tapi selamat ya," tambah Bethany tulus.
Amara tersenyum tipis. "Terima kasih, Bethany."
Namun, senyum di bibir Amara seketika memudar saat ia melangkah masuk ke ruang penandatanganan. Alih-alih hanya mendapati Duncan yang menunggu, matanya justru menangkap sosok Tobias.
Pria itu duduk santai di samping Madam Sinclair, sedang tersenyum dan mengobrol akrab—seolah-olah dia adalah tamu kehormatan, bukannya pria brengsek yang seharusnya dikurung di dalam sel penjara!
tuk Amara mending kamu rehat menjauh dari hal" yg berhubungan dgn tobias dan keluarganya, klo mabuk"an malah jadi masalah baru lagi nanti klo ketemu tobias