Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Hari-hari berlalu dengan cepat, dan kesibukan di Aegis Corp semakin meningkat seiring dengan mendekatnya tanggal peluncuran proyek gabungan pertama dengan Haesung Group.
Kim Ae Ra kini benar-benar menjadi ujung tombak dalam koordinasi antar kedua perusahaan. Setiap hari, ia harus memastikan segala detail teknis, administrasi, dan logistik berjalan sesuai rencana.
Meskipun tugasnya menuntut banyak waktu dan tenaga, Ae Ra tidak pernah mengeluh.
Justru, ia merasa bangga bisa dipercaya dengan tanggung jawab sebesar ini, terutama karena ia tahu Jae Hyuk selalu mendukungnya di belakang layar.
Suatu siang, setelah menyelesaikan rapat koordinasi yang cukup panjang di ruang konferensi, Ae Ra kembali ke mejanya dengan membawa setumpuk berkas yang perlu diperiksa kembali.
Baru saja ia duduk dan hendak menyeduh secangkir teh untuk melepas lelah, ponselnya di atas meja bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah ia hafal di luar kepala—pesan dari Bo Ram.
"Ae Ra, kamu lagi sibuk banget gak? Kalau ada waktu luang sebentar, bisa kita bertemu di lobi gedungmu? Aku bawa sesuatu yang ingin kuberikan ke kamu."
Ae Ra tersenyum membaca pesan itu. Bo Ram kembali lagi. Sejak pertemuan di kantor beberapa hari yang lalu, mereka memang sudah berjanji untuk sering bertemu. Dengan cepat, Ae Ra membalas pesan tersebut.
"Aku lagi gak sibuk kok sekarang. Kamu langsung naik ke lantai ini aja, atau aku yang turun jemput kamu dibawah?"
Tidak lama kemudian, balasan dari Bo Ram masuk.
"Jangan repot-repot, aku akan naik ke sana sebentar. Tunggu sebentar ya."
Ae Ra meletakkan ponselnya kembali di atas meja, lalu merapikan sedikit penampilannya dan berkas-berkas yang berserakan agar terlihat lebih rapi.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian, bel kecil di meja resepsionis berbunyi, menandakan ada tamu yang datang. Ae Ra segera mengangkat telepon dan mengizinkan Bo Ram untuk masuk.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan Bo Ram melangkah masuk dengan senyum ceria di wajahnya. Ia mengenakan setelan kasual yang nyaman namun tetap rapi, tampak segar dan bersemangat.
"Ae Ra!" seru Bo Ram pelan namun penuh semangat saat melihat Ae Ra sedang menunggunya di dekat meja.
Ae Ra langsung berdiri dan menyambutnya dengan hangat.
"Bo Ram! Apa kabar? Senang banget kamu datang lagi. Silakan duduk dulu di sini."
Ia menunjuk sofa tunggu di sudut ruangan yang nyaman. Bo Ram mengangguk patuh dan duduk, sementara Ae Ra segera menuangkan secangkir teh hangat untuk tamunya.
"Terima kasih," ucap Bo Ram saat menerima cangkir teh itu dengan kedua tangan, menunjukkan sopan santunnya.
"Kamu bener-bener perhatian banget ya."
"Sama-sama. Kamu ini kan sahabatku, udah tentu aku harus menyambutmu dengan baik," jawab Ae Ra sambil duduk di samping Bo Ram.
"Jadi, apa yang membawa kamu kesini hari ini? Kamu bilang ada sesuatu yang mau kamu berikan?"
Bo Ram tersenyum misterius, lalu ia membuka tas tangan yang ia bawa dan mengeluarkan sebuah bungkusan kecil yang dibungkus dengan kertas kado berwarna biru muda yang cantik.
"Ini," kata Bo Ram sambil menyerahkan bungkusan itu kepada Ae Ra.
"Ini hadiah kecil dari aku buat kamu. Anggap saja sebagai ucapan selamat atas kesuksesanmu sejauh ini, dan juga sebagai tanda persahabatan kita yang tak akan pernah putus!."
Mata Ae Ra berbinar melihat bungkusan itu. Ia menerimanya dengan hati-hati.
"Wah, terima kasih banyak, Bo Ram! Kamu gak perlu repot-repot kasih hadiah kayak gini."
"Gak repot sama sekali kok. Coba buka aja dulu, lihat apakah kamu menyukainya," ajak Bo Ram antusias.
Dengan perlahan dan penuh rasa ingin tahu, Ae Ra membuka kertas kado itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung perak yang indah dengan liontin berbentuk bunga sakura kecil yang dihiasi dengan batu permata berwarna merah muda yang berkilau indah. Desainnya sangat elegan namun tetap sederhana, sangat sesuai dengan selera Ae Ra.
"Wah, Bo Ram… ini cantik banget!" seru Ae Ra pelan, matanya tak lepas dari kalung itu.
"Aku sangat suka! Terima kasih banyak ya!"
Bo Ram tersenyum lega dan bahagia melihat reaksi Ae Ra.
"Syukurlah kalau kamu menyukainya. Aku melihat kalung ini saat sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan beberapa hari yang lalu, dan langsung teringat kamu. Rasanya kalung ini sangat cocok dengan kepribadianmu yang cantik dan lembut, namun juga kuat seperti bunga sakura yang tangguh."
Ae Ra merasa terharu mendengar kata-kata sahabatnya itu. Ia segera memeluk Bo Ram erat-erat.
"Kamu benar-benar sahabat terbaik yang pernah aku miliki, Bo Ram. Terima kasih untuk hadiah yang indah ini dan untuk segala hal yang uda kamu lakukan untukku."
"Sama-sama, Ae Ra. Kamu juga sahabat terbaik bagiku," balas Bo Ram sambil membalas pelukan itu.
Mereka pun melepaskan pelukan dan kembali duduk dengan perasaan yang hangat. Mereka mulai mengobrol ringan, berbagi cerita tentang hari-hari mereka belakangan ini.
Bo Ram bercerita tentang proyek desain baru yang sedang ia tangani di perusahaannya, sementara Ae Ra bercerita tentang persiapan peluncuran proyek yang semakin dekat.
Di tengah obrolan mereka yang asik, pintu ruangan CEO terbuka dan Hyun Jae Hyuk keluar. Pria itu tampak baru saja selesai dengan pekerjaannya di dalam ruangan dan hendak pergi untuk rapat eksternal siang ini.
Namun, langkahnya terhenti saat melihat Ae Ra sedang duduk bersama tamunya di sofa.
Mata Jae Hyuk bertemu dengan mata Ae Ra, dan ia langsung memberikan senyum hangat. Ia kemudian berjalan mendekat ke arah mereka berdua.
"Selamat siang, Ae Ra," sapa Jae Hyuk pelan, lalu tatapannya beralih ke arah Bo Ram. Ia mengingat wajah wanita ini dari pertemuan sebelumnya.
"Oh, Nona Muda Bo Ram. Selamat siang. Senang sekali melihat Nona Muda datang berkunjung lagi."
Bo Ram segera berdiri karena sopan santun saat melihat Jae Hyuk mendekat, diikuti oleh Ae Ra yang juga ikut berdiri.
"Selamat siang, Tuan Hyun," sapa Bo Ram dengan sopan dan sedikit membungkukkan badannya tanda hormat.
"Maaf jika kedatangan saya mengganggu kesibukan Tuan. Saya hanya mampir sebentar untuk bertemu Ae Ra."
"Tidak sama sekali, Nona Muda Bo Ram. Justru saya senang melihat Ae Ra memiliki teman yang begitu dekat dan perhatian seperti Nona Muda. Silakan nikmati waktu kalian berdua," jawab Jae Hyuk dengan ramah dan sopan, menggunakan bahasa yang baku dan penuh hormat sesuai dengan tata krama yang berlaku.
Ia kemudian menatap Ae Ra dengan tatapan lembut.
"Ae Ra, saya permisi dulu untuk pergi ke rapat. Nanti sore kita bisa membahas hal-hal yang perlu disiapkan untuk minggu depan."
"Baik, Tuan Hyun. Hati-hati di perjalanan," jawab Ae Ra dengan senyum manis.
Jae Hyuk menganggukkan kepalanya sekali lagi kepada mereka berdua, lalu melanjutkan langkahnya menuju lift dengan langkah tegap namun anggun.
Setelah Jae Hyuk menghilang dari pandangan, Bo Ram menoleh ke arah Ae Ra dengan mata berbinar-binar dan senyum kagum di wajahnya.
"Wah, Ae Ra… Tuan Hyun benar-benar orang yang sangat sopan dan berwibawa ya," bisik Bo Ram pelan, seolah takut ada orang lain yang mendengar.
"Cara bicaranya, cara dia memandangmu… semuanya terasa begitu tulus dan penuh rasa hormat. Aku semakin yakin kalau kamu benar-benar telah menemukan orang yang tepat."
Ae Ra tersenyum malu namun penuh kebanggaan.
"Iya, Bo Ram. Dia memang orang yang luar biasa. Aku sangat bersyukur memilikinya."
"Kamu beruntung sekali," ucap Bo Ram sambil mengangguk setuju. Ia kemudian melirik jam tangannya dan menghela napas pelan.
"Waduh, hari ini waktu terasa berjalan cepet banget ya. Aku harus pergi sekarang. Nanti aku akan terlambat untuk janji temu dengan klienku."
"Yah, sudah mau pergi lagi?" Ae Ra tampak sedikit kecewa, namun ia mengerti kesibukan sahabatnya.
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya. Dan terima kasih lagi untuk hadiah yang indah ini. Aku akan selalu memakainya."
"Sama-sama. Sampai jumpa lagi nanti ya! Kabari aku kalau kamu ada waktu luang," ucap Bo Ram sambil memeluk Ae Ra sekali lagi.
"Sampai jumpa, Bo Ram."
Ae Ra mengantar Bo Ram sampai ke pintu keluar, lalu berdiri di sana menatap punggung sahabatnya yang menjauh hingga hilang dari pandangan. Ia kemudian menatap kalung indah di tangannya sekali lagi, lalu memutuskan untuk memakainya segera.
Dengan bantuan cermin kecil di mejanya, ia mengenakan kalung itu di lehernya. Liontin bunga sakura itu terlihat sangat cantik di lehernya, seolah memang dibuat khusus untuknya.
Hati Ae Ra terasa begitu penuh dan bahagia. Hadiah dari Bo Ram bukan hanya sekadar perhiasan indah, melainkan simbol dari persahabatan mereka yang tulus dan abadi.
Dan ditambah dengan cinta yang ia miliki bersama Jae Hyuk, serta dukungan dari teman-teman lainnya, Ae Ra merasa ia memiliki segalanya.
Dengan semangat yang baru, ia kembali duduk di mejanya, siap melanjutkan pekerjaannya dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajahnya.