“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Yang Tidak Bisa Kutanyakan
Ayza menatap gedung itu dari dalam mobil. Gedung tempat Kaisyaf menghabiskan sebagian besar waktunya.
Tangannya masih menggenggam setir. Jemarinya perlahan mengencang.
Ia sudah sampai. Tinggal turun. Tinggal masuk. Dan… bertanya.
Sesederhana itu.
Namun tubuhnya tak bergerak. Matanya menatap pintu masuk gedung, tempat beberapa karyawan keluar masuk dengan wajah biasa. Seolah dunia mereka baik-baik saja.
Berbeda dengan dunianya.
Berantakan.
"Kalau aku masuk… aku harus bertanya pada seseorang…"
Pikirannya mulai berputar.
Resepsionis. Staf kantor. Atau… mungkin orang yang cukup dekat dengan Kaisyaf.
"Dan kalau mereka tahu aku bertanya…" Napasnya tertahan. "Kalau sampai ke telinga Abi…?"
Dada Ayza terasa sesak. Ia membayangkan tatapan dingin Kaisyaf. Nada suaranya yang datar. Dan jarak yang semakin terasa.
"Apa ini akan membuat semuanya semakin buruk?"
Tangannya gemetar di atas setir. Ia ingin tahu. Sangat ingin. Tapi…
"Apa aku siap dengan jawabannya?"
Pertanyaan itu justru membuatnya diam.
Dalam mobil terasa sunyi. Hanya suara detak jantungnya yang terdengar begitu jelas.
Ayza menunduk. Matanya terpejam sejenak. Air matanya jatuh tanpa suara.
“Aku… takut…” bisiknya lirih.
Takut kalau semua ini benar.
Takut kalau semua yang ia pertahankan selama sepuluh tahun… benar-benar sudah tidak tersisa.
Perlahan, ia mengangkat wajahnya. Menatap gedung itu sekali lagi. Lama.
Seolah berharap menemukan jawaban tanpa harus melangkah masuk. Namun yang ia temukan hanya… kosong.
Ayza menghela napas panjang. Lalu, tanpa berkata apa pun, ia menyalakan mesin mobil.
Kakinya menginjak pedal gas. Mobil itu perlahan menjauh dari gedung tersebut. Meninggalkan pertanyaan yang belum terjawab.
Dan rasa takut yang semakin besar.
Ia tidak tahu… bahwa di saat yang sama, seseorang sedang mengamatinya dari dalam gedung itu.
Kaisyaf.
Beberapa menit sebelumnya—
Tok… tok…
“Masuk.”
Pintu terbuka. Ridho, orang kepercayaannya, melangkah masuk.
“Pak, satpam di bawah melapor. Ada mobil Bu Ayza di parkiran.”
Kaisyaf yang sedang membaca berkas terdiam. Beberapa detik. Lalu perlahan ia mengangkat wajahnya.
“Lakukan sesuai perintahku,” ucapnya tenang.
Ridho mengangguk. “Baik, Pak.”
Ia berbalik dan keluar dari ruangan.
Kaisyaf menghela napas berat. Perlahan ia bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju dinding kaca.
Dari sana… ia bisa melihat dengan jelas mobil Ayza di bawah.
Diam. Menunggu. Namun wanita itu tak kunjung keluar.
Beberapa menit berlalu. Lalu… mobil itu bergerak.
Pergi.
Kaisyaf tetap berdiri di tempatnya. Tatapannya mengikuti mobil itu hingga benar-benar menghilang dari pandangannya. Tangannya perlahan mengepal.
“Harusnya… aku tidak membawamu sejauh ini,” gumamnya lirih.
***
Di dalam mobil, Ayza mengemudi tanpa arah yang benar-benar jelas.
Matanya menatap jalan, tetapi pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tak menemukan jawaban.
"Harus tanya ke siapa…?"
Gumam itu hanya terdengar di dalam kepalanya.
Ia tidak mungkin bertanya pada orang kantor Kaisyaf. Terlalu berisiko. Ia juga tidak ingin masalah rumah tangganya diketahui orang lain.
Tangannya menggenggam setir lebih erat. Lalu… satu nama muncul.
Fahri.
Ayza mengangkat sedikit wajahnya, seolah baru menemukan pegangan.
Fahri… mantan adik iparnya dari pernikahan pertamanya. Namun sejak lama, hubungan mereka tak lagi sekadar “mantan keluarga”. Bagi Ayza, Fahri sudah seperti adik kandungnya sendiri.
Dan… seseorang yang cukup dekat dengan Kaisyaf.
Kedekatan itu bukan tanpa alasan.
Fahri pernah berada di titik terendah dalam hidupnya, dicap anak bandel, pembuat masalah, bahkan hampir kehilangan arah karena dunia balap liar yang ia jalani.
Sampai akhirnya… semuanya berubah.
Dunia balap yang dulu membawanya ke arah gelap, justru menjadi jalan yang menyelamatkannya saat ia masuk ke jalur profesional.
Bengkel performa yang kini ia miliki berdiri dari proses panjang itu, tempat modifikasi motor balap, riset teknologi mesin, sekaligus markas kecil bagi mimpi-mimpi yang dulu hampir ia buang.
Dan di balik semua itu… ada peran Kaisyaf.
Pria itu bukan hanya partner bisnisnya, tapi juga mentor yang membimbing Fahri ke jalur bisnis.
Karena itu, Fahri cukup tahu tentang pekerjaan Kaisyaf.
Cukup dekat… untuk mungkin mengetahui sesuatu yang Ayza tidak tahu.
Ayza menarik napas panjang.
“Ya… Fahri,” bisiknya pelan.
Tanpa ragu lagi, ia memutar kemudi. Mobilnya berbelok, menuju satu tempat yang sudah sangat ia kenal, bengkel performa milik Fahri.
Suara mesin meraung memecah udara saat mobil Ayza memasuki area bengkel.
Berbeda dengan rumahnya yang tenang… tempat ini hidup.
Bising. Panas. Penuh aroma oli dan logam.
Ayza mematikan mesin mobilnya, lalu turun perlahan.
Langkahnya berhenti sejenak.
Matanya menyapu area di depannya.
Motor-motor balap berjajar rapi. Beberapa terbuka, memperlihatkan mesin yang belum sempurna dirakit. Para mekanik bergerak cepat, tangan mereka hitam oleh oli, suara alat beradu terdengar nyaris tanpa jeda.
Ayza menarik napas pelan.
Dunia ini… jauh dari dunia yang biasa ia kenal.
Tak ada kain, tak ada warna lembut, tak ada garis-garis desain di atas kertas.
Yang ada hanya suara keras, mesin, dan kecepatan. Namun anehnya… tempat ini tidak asing baginya.
Ia melangkah masuk.
Di salah satu dinding, matanya tertarik pada deretan foto yang dipajang rapi.
Fahri.
Dengan baju balap.
Dengan helm di tangan.
Dengan senyum lebar yang berbeda dari yang biasa ia lihat sekarang.
Ayza mendekat. Hal yang tanpa sadar selalu ia lakukan setiap kali datang ke tempat ini. Seolah tak bosan memandang foto-foto itu.
Foto pertama, Fahri berdiri di podium, memegang piala.
Juara dua.
Ia tersenyum tipis.
“Ini pertama kalinya dia naik podium…” gumamnya pelan.
Matanya bergeser ke foto berikutnya.
Kali ini Fahri berdiri lebih tegak.
Di tengah.
Juara satu.
Sorot matanya berbeda. Lebih yakin. Lebih hidup.
Ayza menghela napas kecil.
Lalu foto-foto berikutnya…
Lintasan asing. Nama-nama sponsor luar negeri. Bendera yang berbeda.
Di beberapa foto, Fahri berdiri di antara para pembalap lain.
Bukan di tengah.
Tapi cukup dekat.
Lima besar.
Beberapa kali.
“Dia memang lumayan…” bisik Ayza, nyaris seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.
“Lumayan?”
Suara itu tiba-tiba terdengar dari belakangnya.
Ayza menoleh.
Fahri berdiri di sana. Kaos hitamnya sedikit kotor, tangannya masih berlumur oli.
Namun senyumnya… sama seperti dulu.
“Cuma ‘lumayan’ buat sebelas tahun perjuanganku?” ujarnya sambil menyeringai.
Ayza ikut tersenyum.
“Kalau sombong nanti jatuh,” balasnya santai.
Fahri terkekeh pelan.
Matanya menatap Ayza beberapa detik lebih lama dari seharusnya.
“Jarang banget Kak Ayza ke sini,” katanya akhirnya.
Nada suaranya ringan.
Tapi tatapannya… tidak sepenuhnya begitu.
Ayza tersenyum tipis.
“Lagi pengen ngobrol aja.”
Fahri mengangguk pelan.
Ia melirik sekeliling bengkel yang masih ramai oleh suara mesin dan aktivitas para mekanik.
“Di sini berisik,” ujarnya. “Yuk, ke dalam.”
Tanpa menunggu jawaban, Fahri berjalan lebih dulu, memberi jalan untuk Ayza.
Ayza mengikutinya.
Mereka masuk ke sebuah ruangan kecil di sisi bengkel. Tidak terlalu luas, tapi cukup rapi. Meja kerja dipenuhi beberapa berkas, laptop, dan miniatur motor balap di sudut rak.
Suara bising dari luar masih terdengar samar, tapi jauh lebih tenang.
Fahri menarik kursi.
“Duduk, Kak.”
Ayza mengangguk pelan, lalu duduk.
Fahri ikut duduk di seberangnya, menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menatap Ayza.
“Sendiri?” tanyanya.
“Iya.”
Hening sejenak.
Fahri mencondongkan tubuh sedikit.
“Semua baik-baik aja?”
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi cukup untuk membuat Ayza menahan napas sejenak.
Ayza tidak langsung menjawab.
Tangannya perlahan mengepal di atas pangkuannya.
“Fahri…”
...🔸🔸🔸...
..."Tidak semua pertanyaan berani kita ucapkan....
...Kadang, kita hanya mencari jawabannya… diam-diam."...
..."Ada hal-hal yang ingin kita ketahui,...
...tapi lebih kita takutkan saat kebenarannya terungkap."...
..."Ketika kepercayaan mulai retak,...
...bahkan diam pun terasa penuh kecurigaan."...
..."Yang paling sulit bukan mencari jawaban,...
...tapi menghadapi kemungkinan bahwa jawaban itu akan menyakitkan."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Ridho berharap kamu jujur sama Ayza tentang penyakit Kaisyaf,kasihan Ayza dan Al....
Nara jadi mengerti pilihan Kaisyaf.
Reza ini mencari kesempatan lagi. Sekarang yang didekati Alvian. Benar-benar muka tembok ini orang 😄. Urat malunya sudah putus.
Pinternya Alvian - menolak ajakan Reza.
Dikasih mainan saja bilang "Gak usah" - Alvian ingat larangan dari Umi-nya, gak boleh terima apa-apa dari orang.
Jelas orang lain. Sudah menjadi orang lain.
Alvian perasaannya peka - Om di depannya orang yang kurang baik - Alvian sampai mundur walaupun cuma setengah langkah. Itu tanda penolakan.
Nara menangis. Sebagai sahabat yang pernah ditolong Kaisyaf - ia tidak ingin Kaisyaf menyerah, ngga bakal diam melihat Kaisyaf nyerah.
Nara penyemangat Kaisyaf. Nara tidak ingin Kaisyaf menyerah.
Bagi Kaisyaf ini bukan menyerah, tapi menyelesaikan.