Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skripsi dan Deadline
Bulan keempat studio Bima berjalan semakin mantap. Orderan klien terus berdatangan, timnya kini beranggotakan lima orang, dan omzet bulan ini menembus angka yang membuat Bima tersenyum puas. Tapi di balik kesuksesan itu, ada satu hal yang mulai menggerogoti ketenangan pikirannya: Kay.
Sudah dua minggu ini, Kay jarang datang ke studio. Pesan-pesan singkat mereka pun semakin pendek. Dari yang biasanya puluhan chat sehari, kini hanya sisa-sisa kabar singkat di pagi dan malam.
"Selamat pagi, Bim. Semangat kerja."
"Malam, Bim. Capek, tidur dulu."
Bima mencoba tidak terlalu khawatir. Mungkin Kay sedang sibuk dengan skripsi. Tapi hari ini, ia menerima pesan dari Mika yang membuatnya mengerutkan kening.
Mika: Bim, lo cek Kay dong. Seminggu ini dia di kamar mulu, jarang makan. Gawat.
Bima menatap ponselnya, lalu melihat kalender di dinding studio. Sudah dua minggu ia tidak benar-benar bertemu Kay—hanya sekilas di kampus atau pesan singkat. Keputusan muncul dalam sekejap.
"Mas Bima mau keluar," katanya pada Andri sambil mengambil jaket. "Tolong jagain studio."
"Ada apa, Mas?" tanya Andri heran.
"Urusan penting."
---
Perjalanan menuju kos Kay memakan waktu dua puluh menit dengan motor-Semenjak tinggal di kos Mika, Kay memilih untuk kos sendiri, alasannya agar fokus dengan skripsi.
Sepanjang jalan, Bima mengingat-ingat dua minggu terakhir. Kay memang terlihat lebih pendiam. Matanya sayu. Senyumnya jarang. Tapi ia selalu bilang "nggak apa-apa, cuma capek".
Bima memarkir motornya di depan kos Kay—rumah mewah di daerah Condongcatur yang kontras dengan kos-kosan sederhana di sekitarnya. Ia mengetuk pagar, menunggu. Tidak ada jawaban.
Ia menekan bel. Masih tidak ada.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Kay:
Kay: Bim, lo di luar?
Bima: Iya. Bukain pintu.
Kay: Gue lagi capek, Bim. Lo pulang aja.
Bima menghela napas. Ia tidak akan pergi.
Bima: Kay, gue bawa makan. Bukain pintu.
Lima menit kemudian, pintu terbuka. Kay berdiri di baliknya dengan penampilan yang membuat hati Bima mencelos. Rambut panjangnya acak-acakan, diikat asal dengan karet gelang.
Wajahnya pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata yang jelas karena begadang. Ia memakai kaos oblong oversized dan celana pendek, tanpa alas kaki.
"Lo kenapa, Kay?" tanya Bima pelan.
Kay menggeleng, menghindari tatapan Bima. "Nggak apa-apa. Cuma skripsi."
"Skripsi?"
"Iya. Revisi bab empat gak kelar-kelar. Pembimbing gue galaknya minta ampun. Udah tujuh kali revisi masih kurang terus." Suara Kay terdengar datar, lelah.
Bima masuk ke dalam, menutup pintu di belakangnya. Ia mengamati ruang tamu kos Kay yang biasanya rapi, kini berantakan.
Tumpukan kertas dan buku berserakan di meja dan lantai. Laptop Kay menyala dengan dokumen terbuka, kursor berkedip di tengah paragraf yang tidak selesai.
"Kay, lo udah makan?" tanya Bima.
"Enggak laper."
"Kapan terakhir makan?"
Kay diam. Bima menghela napas. Ia berjalan ke dapur kecil—sesuatu yang jarang ia lakukan karena biasanya Kay yang selalu membawakannya makanan.
Ia membuka kulkas. Kosong. Hanya ada beberapa botol air mineral dan sisa makanan kemarin yang sudah tidak layak.
Bima menutup kulkas, mengambil ponselnya, dan memesan makanan dari warung langganan. Lalu ia mulai membereskan tumpukan kertas di meja Kay, menyusunnya berdasarkan bab.
"Bim, nggak usah," kata Kay lemah.
"Gue bantu."
"Skripsiku, bukan urusan lo."
Bima berhenti, menatap Kay. Ada nada kesal di suaranya yang jarang ia dengar. "Kay, gue pacar lo. Ini urusan gue."
Kay mendengus, duduk di sofa dengan wajah muram. "Lo juga sibuk. Lo punya studio, skripsi sendiri. Lo nggak perlu repot-repot urus gue."
Bima tidak menjawab. Ia terus merapikan kertas, membaca sekilas judul-judul bab. Skripsi Kay tentang pengaruh literasi keuangan terhadap perilaku investasi generasi milenial.
Topik yang menarik, tapi dari catatan revisi yang menumpuk, terlihat jelas Kay mengalami kesulitan di bab metodologi dan analisis data.
Makanan datang dua puluh menit kemudian. Bima membuka bungkusan, menyajikan nasi goreng dan es jeruk di depan Kay.
"Kay, makan."
"Nggak mau."
"Kay."
"Gue bilang nggak mau!"
Bima tidak bergeming. Ia duduk di hadapan Kay, menatapnya dengan sabar. "Gue tunggu sampe lo makan."
Kay menatap Bima dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu Bima tidak akan pergi sebelum ia makan. Dengan gerakan lambat, ia mengambil sendok dan mulai menyuap nasi goreng. Baru beberapa suap, air matanya jatuh.
"Bim, gue capek banget," isaknya. "Gue udah berusaha, revisi terus. Pembimbing gue bilang data gue kurang valid, metode gue salah, teori gue nggak kuat. Semua salah. Rasanya kayak... kayak gue nggak becus apa-apa."
Bima duduk di samping Kay, meraih tangannya. "Kay, denger. Lo itu anak pinter. IPK lo 3.8. Skripsi ini cuma proses. Nggak ada yang langsung lancar."
"Tapi udah tujuh kali revisi, Bim! Tujuh kali! Temen-temen gue udah pada sidang. Gue masih di bab empat."
"Setiap orang punya waktu masing-masing, Kay. Nggak usah bandingin sama orang lain."
Kay menangis lebih keras. "Gue takut gagal, Bim. Gue takut nggak bisa lulus tepat waktu. Gue takut ngecewain ibu. Gue takut..."
Bima memeluk Kay, membiarkannya menangis di bahunya. "Lo nggak akan gagal, Kay. Gue di sini. Kita kerjain bareng."
---
Malam itu, Bima memutuskan untuk tidak pulang. Ia membantu Kay mengerjakan skripsi—bukan mengerjakan, tapi menemani. Ia duduk di samping Kay, membaca revisi yang diminta dosen pembimbing, lalu membantu mencari referensi tambahan di jurnal online.
"Bim, lo nggak ngerjain skripsi sendiri?" tanya Kay pelan, matanya masih merah.
"Udah. Gue lembur nanti malam."
"Tapi—"
"Kay." Bima menatapnya. "Lo dulu selalu dateng ke studio gue, bawain makan, ingetin gue. Sekarang giliran gue."
Kay menunduk, pipinya merona. "Maaf, Bim. Dua minggu ini gue nggak dateng-dateng."
"Gue tahu lo sibuk. Tapi lo juga harus makan. Dan lo harus cerita kalo ada masalah."
Kay mengangguk pelan. "Gue pikir... gue nggak mau ngerepotin lo."
"Kapan lo jadi beban?"
"Lo punya studio, skripsi, banyak tanggung jawab. Gue nggak mau nambahin."
Bima membalikkan badan Kay sehingga mereka berhadapan. "Kay, denger. Lo bukan beban. Lo adalah alasan gue bisa sampai di titik ini. Kalo nggak ada lo, mungkin gue masih jadi ojek online yang lari dari kenyataan. Jadi jangan pernah mikir lo ngerepotin."
Air mata Kay jatuh lagi, tapi kali ini bukan karena stres—karena haru. "Bim..."
"Udah. Sekarang fokus skripsi. Bab empat revisi apa aja?"
Kay tersenyum tipis, lalu menunjukkan catatan revisi di laptopnya. Mereka berdua membaca bersama, membahas satu per satu poin yang diminta dosen pembimbing.
Pukul sepuluh malam, Mika datang dengan membawa kopi dan camilan. Ia mendapat info dari Bima bahwa Kay sedang stres.
"Kay! Lo kenapa? pantes gue curiga," tegur Mika sambil meletakkan bungkusan di meja. "Diam-diam stres gak cerita-cerita!"
Kay tersenyum malu. "Maaf, Mik."
"Udah, sekarang makan." Mika membuka bungkusan, menyajikan pisang goreng dan kopi susu. "Bim, lo juga makan. Lo kelihatan kurusan."
Bima mengangguk, mengambil satu pisang goreng.
Mereka bertiga bekerja bersama di ruang tamu kos Kay. Mika membantu mencari referensi jurnal, Bima membantu merapikan metodologi, Kay fokus menulis. Sesekali mereka bercanda kecil, melepas penat.
Pukul satu dini hari, Kay mulai mengantuk. Matanya berat, tubuhnya lelah.
"Kay, tidur dulu," kata Bima.
"Tapi belum selesai—"
"Besok lanjut. Kita lanjut lagi."
Kay menggeleng. "Gue harus selesai minggu ini. Deadline revisi hari Jumat."
Bima melihat kalender. Hari ini Selasa. Masih tiga hari. "Oke. Tapi lo tidur dulu. Jam 4 pagi gue bangunin, kita lanjut."
Kay ragu. Tapi matanya sudah tidak kuat. "Janji?"
"Janji."
Kay berbaring di sofa, memejamkan mata. Dalam hitungan menit, ia sudah tertidur pulas. Bima mengambil selimut, menyelimuti Kay. Ia duduk di sampingnya, mengamati wajah Kay yang lelah.
"Bim, lo juga tidur," bisik Mika.
"Gue nggak ngantuk."
"Bohong. Mata lo udah merah."
Bima tersenyum tipis. "Bentar lagi. Gue mau mastiin Kay beneran tidur."
Mika menggeleng-geleng. "Dasar bucin."
---
Jam 4 pagi, Bima membangunkan Kay dengan lembut. Kay menggeliat, matanya masih berat.
"Kay, bangun. Kita lanjut."
Kay duduk dengan susah payah, meraih laptopnya. Bima sudah menyiapkan kopi dan camilan. Mika juga bangun, meski matanya masih setengah terbuka.
"Gila, kalian semangat amat," gumam Mika.
"Skripsi gak kenal waktu," jawab Kay sambil membuka file revisinya.
Mereka bekerja hingga matahari terbit. Kay menulis dengan semangat baru, dibantu Bima yang sesekali memberi saran untuk metodologi—keahliannya dari Ilmu Komputer ternyata berguna untuk analisis data.
"Bim, lo jago juga bahas statistik," puji Kay.
"Hitungan mah mirip-mirip coding."
Mika yang mendengar hanya geleng-geleng. "Anak IPA emang beda."
Pukul 9 pagi, Kay berhasil menyelesaikan revisi bab empat. Ia menyandarkan punggung di sofa, menghela napas lega.
"Kelar," bisiknya.
Bima membaca ulang. "Bagus, Kay. Ini jauh lebih rapi dari sebelumnya."
"Lo yakin?"
"Yakin. Sekarang tinggal bab lima."
Kay mengangguk. Semangatnya kembali. "Makasih, Bim. Makasih, Mik. Gue nggak tahu harus gimana tanpa kalian."
Mika memeluk Kay. "Kita sahabatan, Kay. Itu tugas kita."
Bima hanya tersenyum, meraih tangan Kay dan menggenggamnya erat.
---
Hari Jumat tiba. Kay berhasil mengirim revisi tepat waktu. Dua hari kemudian, ia mendapat kabar dari dosen pembimbing: revisi diterima, lanjut ke bab lima.
Kay menangis bahagia saat itu. Ia langsung menelepon Bima.
"Bim! DITERIMA! BAB EMPAT GUE DITERIMA!"
Bima tertawa di ujung telepon. "Selamat, Kay!"
"GUE BISA LANJUT BAB LIMA! SEMANGAT!"
"Ini baru Kay yang gue kenal."
Kay tersenyum lebar. "Bim, makasih ya. Lo mau nemenin gue semaleman."
"Kapan aja, Kay. Gue di sini."
"Gue sayang lo."
Bima terdiam sejenak, lalu menjawab dengan suara lembut, "Gue juga sayang lo, Kay. Lebih dari yang lo tahu."
---
Malam harinya, mereka merayakan dengan sederhana di studio Bima. Mika, Laras, dan Tasya datang membawa pizza dan kue. Kay yang biasanya selalu membawakan makanan untuk Bima, kali ini dilayani oleh mereka semua.
"Ini buat lo, Kay," kata Laras sambil menyodorkan kue coklat.
"Dan ini buat lo, Bim," tambah Tasya, memberi Bima minuman favoritnya.
Mereka makan bersama di studio kecil itu. Kay duduk di samping Bima, sesekali menyendokkan kue ke mulutnya.
"Bim, lo tahu gak? Minggu lalu gue hampir nyerah," aku Kay pelan.
Bima menoleh. "Sekarang?"
Kay tersenyum. "Sekarang gue yakin bisa selesai. Karena lo."
Bima mengusap rambut Kay pelan. "Lo kuat, Kay. Gue tahu dari awal."
Kay menyandarkan kepala di bahu Bima. "Bim, janji ya, kalo lo juga stres skripsi, cerita ke gue. Jangan dipendam kayak gue."
"Janji. Tapi gue gak akan stres. Gue punya lo."
"Dasar cuek."
Mereka tertawa bersama, diiringi tawa teman-teman yang lain. Di studio kecil di Demak itu, di tengah tumpukan kertas dan komputer, mereka belajar satu hal: cinta bukan hanya tentang kebersamaan di saat senang, tapi juga tentang bagaimana saling menguatkan di saat terberat.
Dan Kay tahu, apa pun yang terjadi, Bima akan selalu ada. Seperti janji yang tak pernah diucapkan, tapi selalu ditepati.