Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.
Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.
Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.
Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.
Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.
Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?
Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4 : Pembangunan Ulang Tidak Selalu Berjalan Mulus
Di balik dinding yang diperbaiki, jalan yang kembali dilapisi batu, dan pasar yang perlahan hidup kembali—retakan lama tetap ada. Retakan yang tidak bisa ditambal dengan kayu, batu, atau emas.
Keributan kecil kerap terjadi.
Kadang di antrean pembagian pangan.
Kadang di lokasi kerja.
Kadang hanya karena tatapan yang terlalu lama.
Dan hampir selalu… antara manusia dan beastman.
Warga Zenobia tumbuh dalam sistem yang mengajarkan satu hal sejak kecil: manusia adalah ras tertinggi. Yang lain—elf, beastman dan ras selain manusia—hanyalah alat.
Sekarang, sistem itu runtuh.
Dan bagi banyak dari mereka, runtuhnya sistem terasa seperti runtuhnya identitas.
“Apa maksudnya kami harus berbagi jatah dengan mereka?”
“Mereka itu budak, sejak kapan punya hak bicara?”
“Kami kehilangan keluarga di perang, tapi mereka malah diperlakukan setara?”
Kalimat-kalimat itu tidak selalu diucapkan keras. Justru sering dilontarkan setengah berbisik—cukup pelan untuk terdengar, cukup tajam untuk melukai.
Ferisu mendengar laporan-laporan itu hampir setiap hari.
Ia berdiri di depan jendela ruang kerjanya, memandang kota yang sedang dibangun ulang. Di kejauhan, manusia dan beastman bekerja di lokasi yang sama—secara teknis setara, namun secara batin berjauhan sejauh jurang.
“Kesetaraan di atas kertas…” gumamnya pelan, “tidak menghapus rasa takut.”
Beastman di Zenobia membawa luka yang lebih sunyi. Berbeda dengan manusia yang marah karena kehilangan posisi, beastman hidup dengan ketakutan yang diwariskan. Rantai mungkin telah dilepas, namun bekasnya masih menempel di jiwa.
Mereka bicara pelan. Menunduk saat manusia lewat. Menahan amarah meski dihina terang-terangan.
Karena mereka tahu—satu kesalahan saja, dan semua bisa kembali seperti dulu.
“Yang Mulia,” laporan seorang kesatria memecah lamunannya. “Terjadi cekcok kecil di wilayah timur. Tidak ada korban.”
Ferisu menutup mata sesaat.
“Wilayah Duke Albrecht?” tanyanya.
“Benar.”
Ferisu terdiam.
Wilayah itu sering muncul dalam laporan. Namun anehnya, hampir selalu diikuti satu kalimat tambahan.
Telah ditangani oleh Duke Albrecht.
Dan memang benar.
Di berbagai titik wilayah timur, Duke Albrecht kerap muncul sebagai penenang. Ia berdiri di antara manusia dan beastman, berbicara dengan nada yang adil, menegur tanpa merendahkan.
“Tidak ada ras yang lebih tinggi di bawah hukum Asterism,” ucapnya suatu kali, cukup keras untuk didengar semua orang.
“Siapa pun yang memicu keributan akan dihukum. Tanpa pengecualian.”
Ia bahkan tak segan melindungi beastman dari perlakuan kasar—setidaknya di depan umum.
Gambaran itu menyebar cepat.
Duke Albrecht yang adil.
Duke Albrecht yang bijak.
Duke Albrecht yang menerima kesetaraan ras.
Bahkan beberapa kesatria Asterism mulai menganggapnya sekutu yang dapat diandalkan.
Ferisu mendengar semua itu.
Dan justru itulah yang membuat dadanya terasa berat.
“Terlalu sempurna,” gumamnya suatu malam.
Ia tahu dunia tidak berubah secepat itu. Terlalu banyak kebencian, terlalu banyak darah yang belum kering.
Namun di sisi lain, ia tidak memiliki bukti untuk mencurigai Albrecht. Setiap keributan berhenti. Setiap konflik mereda. Setiap laporan berakhir dengan kata aman.
Jika dia memang tulus… pikir Ferisu, maka Zenobia beruntung memilikinya.
Namun jauh di dalam dirinya, sebuah naluri berbisik pelan, ketenangan yang terlalu rapi sering kali menyembunyikan sesuatu di bawahnya.
Dan sementara Ferisu bergulat dengan idealisme dan kenyataan, di gang-gang sempit wilayah timur, bisikan lain beredar.
Bisikan tentang hak lama.
Tentang rasa malu menjadi setara.
Tentang ketertiban yang “dipaksakan oleh Asterism”.
Bisikan yang tidak pernah terdengar di ruang rapat.
Namun hidup… di antara rakyat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam turun tenang di wilayah timur Zenobia.
Lampu-lampu jalan mulai dipadamkan satu per satu, menyisakan cahaya redup dari rumah-rumah penduduk. Dari kejauhan, wilayah itu tampak damai—terlalu damai untuk sebuah daerah yang kerap dilanda keributan siang hari.
Di balik tembok tinggi kediaman bangsawan Rethania, suasana jauh berbeda.
Duke Albrecht duduk di ruang kerjanya, diterangi cahaya lilin. Di hadapannya terhampar beberapa lembar laporan—bukan laporan resmi yang ia kirim ke istana, melainkan catatan kasar yang ditulis tangan.
Nama-nama.
Lokasi.
Reaksi rakyat.
Ia membaca dengan tenang, lalu menyeringai tipis.
“Seperti yang kuduga,” gumamnya pelan.
Di sudut ruangan, seorang pria berlutut. Bukan bangsawan. Bukan kesatria. Wajahnya biasa saja—jenis wajah yang mudah dilupakan, dan justru karena itu berguna.
“Bagaimana respon warga hari ini?” tanya Albrecht tanpa menoleh.
“Manusia mulai bertanya-tanya, Tuan,” jawab pria itu lirih. “Mereka tidak marah… tapi gelisah. Mereka merasa kehilangan sesuatu, meski tidak tahu apa.”
Albrecht mengangguk pelan.
“Kehilangan posisi,” katanya. “Kehilangan keistimewaan. Hal-hal seperti itu jarang disadari sebelum benar-benar lenyap.”
Ia berdiri dan berjalan ke jendela. Di luar, terlihat kawasan tempat manusia dan beastman bekerja bersama. Dari jauh, semuanya tampak harmonis.
“Harmoni semu,” ucapnya pelan.
“Dan beastman?” tanyanya.
“Masih takut,” jawab sang pria. “Mereka patuh. Terlalu patuh. Beberapa bahkan menolak perlindungan karena takut dicap melawan.”
Albrecht tersenyum.
“Bagus.”
Senyum itu tidak kejam. Tidak juga penuh amarah.
Tenang. Terukur.
“Takut adalah pupuk terbaik,” lanjutnya. “Ia membuat api kecil menyala lebih lama.”
Ia kembali ke meja, mengambil sebuah kertas kosong.
“Sebarkan narasi yang sama seperti kemarin,” perintahnya. “Tidak frontal. Jangan menyebut Asterism secara langsung.”
“Seperti apa, Tuan?”
Albrecht berpikir sejenak, lalu berkata pelan, seolah sedang menceritakan dongeng.
“Katakan bahwa dulu, di bawah Zenobia, manusia memang menderita… tapi setidaknya dunia punya tatanan.”
“Sekarang? Semua disamakan. Tapi apakah itu adil bagi yang kehilangan segalanya?”
Pria itu menelan ludah.
“Dan untuk beastman?”
Albrecht menulis satu kalimat di kertas itu.
“Katakan bahwa kesetaraan hanyalah janji sementara,” katanya. “Bahwa ketika konflik besar datang… yang pertama dikorbankan selalu mereka.”
Ia meletakkan pena.
“Manusia akan merasa terancam,” lanjutnya. “Beastman akan merasa dikhianati. Dan Asterism…” Ia tertawa kecil, “akan sibuk menjelaskan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.”
Pria itu menunduk lebih dalam. “Dan jika Raja Ferisu menyadarinya?”
Albrecht terdiam.
Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresinya berubah—bukan takut, melainkan tertarik.
“Ferisu,” ucapnya perlahan. “Raja yang terlalu percaya pada rasionalitas dan moral.”
Ia melipat kertas itu rapi.
“Jika dia bertindak terlalu cepat, dia akan terlihat sebagai tiran.”
“Jika dia diam terlalu lama, dia akan dianggap lemah.”
Ia menatap api lilin yang bergetar pelan.
“Dalam kedua pilihan itu… aku menang.”
Pria itu pergi tanpa suara.
Albrecht kembali berdiri di depan jendela. Di kejauhan, terdengar suara tertawa—manusia dan beastman yang baru selesai bekerja.
Ia mengamati mereka lama.
“Menarik,” gumamnya. “Kalian bahkan belum tahu bahwa benih sudah ditanam.”
Di saat yang sama, jauh di istana, Ferisu terbangun dari tidurnya tanpa sebab yang jelas.
Dadanya terasa sesak.
Seperti ada sesuatu yang bergerak… perlahan… tak terlihat.
Dan di wilayah timur Zenobia, sebuah rumor kecil mulai beredar—hanya bisikan malam ini, namun esok hari… akan terdengar seperti kebenaran.