NovelToon NovelToon
Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.

Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.

Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.

Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.

Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.

Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?

Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33 : Jarak Yang Tak Terucap

Kereta berhenti tepat di pusat Elvengarden. Di bawah bayangan Pohon Dunia yang menjulang tinggi. Cahaya lembutnya menyinari seluruh area.

Indah.

Tenang.

Namun—suasananya tidak hangat.

Saat Ferisu turun dari kereta—puluhan pasang mata langsung tertuju padanya. Bisikan mulai terdengar. Pelan. Namun jelas.

“Manusia…”

“Kenapa dia di sini?”

“Putri Licia benar-benar membawa orang luar…”

Ferisu tidak bereaksi. Ia sudah menduga ini.

Di sampingnya—Reliza berdiri diam.

Namun aura dinginnya perlahan keluar.

“Berisik sekali...” gumamnya pelan.

Anor melirik ke sekeliling. Tangannya tetap dekat dengan belati. Siap jika sesuatu terjadi.

Licia berdiri di depan. Menatap ke arah istana pohon yang besar di pusat.

“Ayo,” ucapnya singkat.

Namun langkahnya—sedikit lebih berat dari biasanya.

Mereka berjalan melewati jembatan kayu yang terhubung antar pohon. Suasana di sepanjang jalan—tidak bersahabat. Beberapa elf hanya melihat. Beberapa memalingkan wajah. Beberapa—menatap dengan jelas penuh penolakan.

Ferisu tetap berjalan tenang. Namun ia bisa merasakan—tekanan sosial yang kuat

“Kalau kau tidak nyaman…” bisik Reliza, “aku bisa menghancurkan tempat ini.”

Ferisu menghela napas kecil, “Jangan.”

Reliza mendecih pelan. Namun tetap diam.

Akhirnya—mereka sampai di depan istana utama. Pohon raksasa dengan ukiran alami. Pintu besar terbuka perlahan. Seorang penjaga memberi isyarat.

“Mereka sudah menunggu.”

Langkah kaki bergema pelan. Interiornya luas. Namun tetap menyatu dengan alam. Dan di ujung ruangan—beberapa sosok berdiri.

Keluarga kerajaan elf.

Yang pertama terlihat—seorang pria dengan aura tenang. Mata hijau yang dalam. Raja elf—Lorien.

Di sampingnya—seorang wanita anggun dengan aura dingin. Ratu—Silvia.

Di sisi lain—dua sosok lagi. Seorang pria dengan tatapan tajam. Alinas.

Dan seorang wanita dengan senyum tipis. Teresia.

Serta—di sedikit belakang—sosok yang familiar. Vivian.

Langkah Licia berhenti. Beberapa detik—tidak ada yang berbicara.

“Aku kembali,” ucap Licia akhirnya.

Lorien tersenyum tipis. “Selamat datang kembali, Licia.” Nada suaranya hangat. Namun tetap formal.

Silvia—tidak tersenyum. “Lama tidak bertemu.” Hanya itu yang ia ucapkan.

Alinas menatap Licia. Lalu—beralih ke Ferisu. Tatapannya berubah. “Jadi ini manusia itu.” Nada suaranya jelas tidak ramah.

Teresia hanya tersenyum tipis. Mengamati. Tidak ikut bicara.

Vivian—menatap Licia. Matanya melembut sedikit. “Licia.” Namun ia tidak langsung mendekat.

Ferisu melangkah maju satu langkah. Sedikit menunduk. “Aku Ferisu. Raja Asterism.”

Hening.

Alinas mendecih kecil. “Tidak perlu memperkenalkan diri.”

“Kami tahu siapa kau,” lanjutnya.

“Manusia yang membawa perubahan… dan masalah.”

Anor langsung sedikit bergerak. Namun Ferisu memberi isyarat kecil untuk tenang.

“Cukup, Alinas,” suara Lorien tenang.

Namun tegas. Ia menatap Ferisu.

“Selamat datang di Elvengarden.” Kalimat itu sopan. Namun—tidak sepenuhnya hangat.

“Selamat datang…” ulang Silvia pelan. Lalu—matanya menatap langsung ke Ferisu, “Meskipun kehadiranmu tidak sepenuhnya diinginkan.”

Udara langsung terasa dingin.

Aura Reliza langsung berubah. Gelap.

“Aku tidak suka dia,” gumamnya.

Ferisu sedikit mengangkat tangan. Menahan.

Lorien melangkah maju sedikit.

“Kita akan membicarakan semuanya nanti.”

“Untuk sekarang—” ia melirik ke arah pelayan.

“Siapkan tempat untuk tamu kita.”

Saat mereka berbalik untuk pergi—Alinas masih menatap Ferisu. Tajam.

Teresia tersenyum tipis. Seolah menikmati sesuatu.

Dan Vivian—masih menatap Licia. Dengan perasaan yang tidak sederhana.

Sementara itu—di dalam hati semua orang—mereka tahu. Ini baru permulaan. Dan konflik sebenarnya—belum dimulai.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Langkah kaki mereka bergema pelan saat meninggalkan aula utama. Pintu besar tertutup di belakang. Menyisakan suasana yang jauh lebih… ringan. Namun bukan berarti nyaman.

Seorang pelayan elf memimpin jalan.

“Silakan ikuti saya.”

Nada suaranya sopan. Tapi tetap menjaga jarak.

Ferisu berjalan di samping Licia.

Sementara—Reliza sedikit di belakangnya.

Anor paling belakang. Seperti bayangan yang selalu siap.

Sejak keluar dari aula—Licia tidak berbicara. Tatapannya lurus ke depan. Namun langkahnya—terasa sedikit berat.

Ferisu meliriknya, “Kau tidak apa-apa?”

Licia tersentak kecil. Seolah baru sadar.

“Aku baik-baik saja,” jawabnya cepat.

Terlalu cepat.

Ferisu tidak memaksa. Namun ia tahu—itu bukan jawaban yang jujur.

“Jelas tidak baik-baik saja.” Reliza berbicara tanpa menahan diri.

Licia berhenti sejenak. Menoleh sedikit. “Aku tidak berbicara padamu.”

Reliza menyipitkan mata. “Kalau begitu jangan terlihat lemah.”

Suasana kembali menegang.

“Sudah,” suara Ferisu tenang.

Keduanya terdiam.

Meski jelas—tidak sepenuhnya setuju.

Akhirnya mereka sampai. Sebuah ruangan luas. Terbuat dari kayu alami. Dengan jendela besar yang menghadap langsung ke hutan.

“Ini kamar Anda,” ucap pelayan itu. Ia sedikit menunduk. Lalu pergi.

Pintu tertutup.

Ferisu menghela napas.

“Lumayan.”

Anor langsung memeriksa ruangan. Cepat. Efisien. “Tidak ada jebakan.”

Reliza langsung menjatuhkan dirinya ke sofa. “Kalau ada pun, aku sudah tahu.”

Licia berdiri dekat jendela. Menatap keluar. Pohon-pohon tinggi. Jembatan gantung. Dan di kejauhan—Pohon Dunia.

“Tidak ada yang berubah,” gumamnya.

Ferisu berjalan mendekat. Berdiri di sampingnya. “Tempat ini… penting untukmu.”

Licia mengangguk kecil, “Iya,” Ia terdiam sejenak, “tapi rasanya berbeda.”

Ferisu tidak langsung menjawab. Ia hanya melihat ke arah yang sama, “Aku bisa mengerti.”

Licia tersenyum tipis. Namun—tidak sepenuhnya bahagia.

Tok.

Tok.

Semua langsung waspada. Anor bergerak duluan. Mendekat ke pintu.

“Siapa?”

“Ini aku, Licia," suara lembut dari luar.

Licia sedikit terkejut, “Vivian?”

Pintu dibuka. Vivian berdiri di sana. Dengan senyum lembut. Namun—ia tidak langsung masuk.

“Boleh aku masuk?”

Licia menatapnya beberapa detik. Lalu—mengangguk.

Vivian masuk perlahan. Langkahnya ringan. Matanya langsung tertuju pada Licia.

“Kau benar-benar kembali.”

Licia tersenyum tipis.

“Iya.”

Hening. Tidak ada pelukan. Tidak ada tangisan. Hanya—dua orang yang saling menatap. Dengan banyak hal yang tidak terucap.

Vivian melangkah sedikit lebih dekat. Namun tetap menjaga jarak. “Aku senang kau baik-baik saja.”

“Terima kasih,” jawab Licia pelan.

Vivian melirik ke arah Ferisu.

Lalu ke Reliza.

Dan Anor.

Matanya berhenti di Ferisu.

“Jadi ini orangnya.”

Ferisu tersenyum tipis.

“Senang bertemu denganmu.”

Vivian mengangguk ringan. Namun tidak langsung membalas ramah.

“Aku sudah mendengar tentangmu.” Nada suaranya netral.

Ia memperhatikan Ferisu beberapa detik lebih lama. Seolah merasakan sesuatu.

“Energi yang aneh,” gumamnya pelan.

Reliza langsung menyipitkan mata.

“Jangan terlalu dekat,” ucap Reliza dingin.

Vivian meliriknya. Namun tidak terpancing. “Aku tidak akan melakukan apapun.”

Vivian kembali menatap Licia. “Ayah ingin berbicara denganmu nanti.”

Licia mengangguk. “Aku mengerti.”

Vivian berbalik. Menuju pintu. Namun sebelum keluar—ia berhenti.

“Hati-hati,” ucapnya pelan.

Tidak jelas ditujukan ke siapa.

Lalu—ia pergi.

Ruangan kembali hening.

Ferisu menatap pintu. “Keluargamu… Cukup unik.”

Licia tersenyum kecil. “Ya...” Namun di dalam hatinya—ia tahu. Pertemuan tadi—bukan sekadar reuni. Tapi awal dari—sesuatu yang jauh lebih rumit. Dan mungkin—berbahaya.

1
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
elf idiot 🙄....bknny pikirkn dlo...tpi sibuk cari kambing hitam....gk ada bedany seperti negara zenobia
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
Scorpio bs evolusi? hmm...gw gk Tau apapun ttg evolusi scorpio
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
ah! jd kekuatan kna segel...tpi reliza sebut serangga... pasti dewa dewi ya? yare2 🙄
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
kli ini kalajengki ya? bner2 deh...
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
hmph 🙄....elf jg sama ternyata
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya: iya Thor
total 2 replies
Frando Wijaya
elf td....blg manusia pembawa mslh...tpi kenyataan elf jg sama aja
Frando Wijaya
ekhem! next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
awal Dr konflik? gw punya firasat yg sgt buruk
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
Luthfi Afifzaidan
up
Luthfi Afifzaidan
lg
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
boneka Bru? atau robot Bru??
Frando Wijaya
mata 1 raksasa itu apa sih???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!