Sejak kecil, Lolitta telah melewati begitu banyak penderitaan hidup. Berbagai masalah bahkan menyeretnya hingga ke penjara, menempa dirinya menjadi seorang gadis yang tangguh dan mandiri. Ia selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Meski bertunangan dengan pria kaya dan tampan, Lolitta tak pernah menjadi manja atau bergantung pada tunangannya.Di
balik ketegarannya, ia menyimpan luka yang hanya bisa ia tangisi dalam diam.
Dev Zhang, seorang konglomerat berpengaruh, menerima pertunangan itu hanya demi memenuhi permintaan sang kakek. Ia tak pernah menyadari bahwa gadis yang berdiri di sisinya telah mencintainya selama sepuluh tahun. Kedekatan Dev dengan cinta pertamanya membuat Lolitta memilih menjauh dan selalu menjaga jarak, mengubur perasaannya dalam diam.
Akankah Lolitta akhirnya berani mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam pada Dev Zhang?
Dan di antara Lolitta dan cinta pertamanya, siapakah yang benar-benar dicintai Dev?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
BRAK!!
Pintu tiba-tiba terbuka dengan keras.
Suasana langsung berubah.
Seorang pria berdiri di ambang pintu dengan aura dingin dan penuh tekanan.
Ken.
Tatapannya langsung tertuju pada dua pria itu—tajam, berbahaya.
"Nona…"
Suaranya rendah, namun penuh kemarahan yang tertahan.
Begitu melihat kondisi Lolitta wajahnya langsung mengeras.
"Berani sekali kalian menyentuhnya."
Kedua pria itu sempat terkejut, namun salah satunya mencoba bersikap santai.
"Hei, ini bukan urusanmu—"
Belum sempat kalimat itu selesai—
BUGH!
Ken sudah berada di depan mereka dalam sekejap, tinjunya menghantam wajah pria itu hingga terpental.
Pria yang memegang Lolitta refleks melepaskan cengkeramannya.
Lolitta hampir jatuh—
namun Ken dengan cepat menangkap tubuhnya, menahannya agar tidak menyentuh lantai.
"Nona, maaf saya terlambat," ucap Ken pelan, namun nada suaranya dipenuhi kekhawatiran.
Lolitta sudah hampir tidak sadar. Tubuhnya lemas di pelukan Ken.
Ken mengangkatnya perlahan, memastikan ia aman dalam pelukannya.
Sementara di belakang ... pria yang tadi dipukul berusaha bangkit.
Namun Ken hanya melirik sekilas.
Tatapannya cukup untuk membuat mereka membeku.
"Aku tidak akan membiarkan kalian lolos begitu saja," kata Ken yang melangkah keluar dari ruangan itu.
Di luar terlihat dua orang pria telah tergeletak di lantai akibat pukulan dari Ken.
Di seberang jalan, sebuah mobil hitam terparkir dalam gelap. Mesin masih menyala pelan.
Dari dalam, Dev menurunkan kaca jendela. Tatapannya lurus ke arah pintu restoran—tepat saat Ken keluar sambil menggendong Lolitta yang sudah tidak sadarkan diri.
Langkah Ken cepat dan tegas, tanpa menoleh ke mana pun.
Sorot mata Dev mengeras.
"Sepertinya Nona sudah berhasil diselamatkan," ujar Shane pelan dari kursi pengemudi, matanya ikut mengamati situasi lewat kaca depan.
Dev tidak langsung menjawab.
Tatapannya masih terpaku pada sosok Lolitta yang dibawa pergi, semakin menjauh dari pandangannya.
"Dalam keadaan bahaya…" ucap Dev akhirnya, suaranya rendah, mengandung kekecewaan yang tertahan, "dia lebih memilih menghubungi orang lain daripada tunangannya sendiri."
Tangannya perlahan mengepal di samping.
Shane terdiam sejenak sebelum akhirnya angkat bicara.
"Tuan, jangan kecewa," katanya hati-hati. "Kalau ingin membuat Nona percaya pada Anda… mungkin Anda harus berusaha lebih keras."
Ia melirik sekilas ke arah Dev melalui kaca spion.
"Lagi pula… Ken adalah orang yang paling dia percaya. Sejak Nona kembali, hanya dia yang selalu ada di sisi Nona."
Dev tersenyum tipis, namun tidak ada kehangatan di sana.
Matanya masih mengikuti arah mobil yang membawa Lolitta pergi hingga benar-benar menghilang.
"Lalu kapan…" ucapnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri, "dia akan percaya padaku?"
Ia menghela napas panjang.
"Apakah dia mengira aku tidak bisa menyelamatkannya?"
"Cari tahu siapa yang ingin melukai Lolitta… jangan beri dia kesempatan untuk membela diri," perintah Dev dingin, tatapannya masih tertuju ke depan.
"Baik, Tuan!" jawab Shane tegas.
Mobil itu pun perlahan melaju, membawa niat yang tidak lagi sekadar melindungi—tetapi juga membalas.
Rumah sakit.
Aroma antiseptik memenuhi ruangan yang tenang. Lolitta sudah sadar, tubuhnya bersandar di kepala ranjang.
Di sampingnya, Ken berdiri dengan sikap hormat, namun sorot matanya menunjukkan kekhawatiran yang belum hilang.
"Nona, jangan khawatir. Salah satu dari mereka sudah kita tahan," lapor Ken. "Sebentar lagi kita akan tahu siapa pelakunya."
Lolitta terdiam sejenak.
Lalu sudut bibirnya terangkat tipis—bukan senyum, melainkan sesuatu yang lebih dingin.
"Aku bisa menebak siapa," ucapnya pelan. "Hanya dia yang tidak pernah puas denganku."
Tatapannya mengeras.
"Posisiku… dan tunanganku… menjadi incarannya."
Ia menarik napas dalam, lalu menatap lurus ke depan.
"Wanita gila seperti dia… sepertinya sudah waktunya aku menghancurkan kariernya. Cari tahu jadwalnya," perintah Lolitta.
"Baik, Nona," jawab Ken. Namun ia sempat ragu sebelum melanjutkan, "Tapi… dia masih artis di perusahaan Zhang. Apakah kita akan melibatkan mereka? Dan Tuan Zhang masih belum mengetahuinya."
Lolitta langsung menoleh.
"Kenapa aku harus mempertimbangkan hal itu?" balasnya dingin.
"Rugi atau untung adalah urusan mereka. Begitu banyak artis… kenapa harus memilih mantannya sebagai bintang iklan produk? Aku sudah mencoba mengerti. Aku tidak mencampurkan perasaan pribadi dalam pekerjaan. Tapi kesabaranku ada batasnya. Dan sekarang… kesabaranku sudah habis."
Ken terdiam.
"Nona, kalau kita membuatnya hancur… apakah Anda tidak akan dituntut oleh pihak perusahaan?" tanya Ken hati-hati. "Kalau kariernya runtuh, kemungkinan besar akan berdampak pada Perusahaan Zhang. Produk mereka juga bisa ikut terancam di pasaran."
Lolitta tidak langsung menjawab.
Ia menatap lurus ke depan, matanya dingin dan tanpa ragu.
"Saat ini… nyawaku lebih penting dari segalanya," ucapnya pelan namun tegas. "Kalau aku terus memikirkan kondisi mereka… kapan wanita itu akan menerima balasannya?"
Tatapannya semakin tajam.
"Dev Zhang harus membuka matanya," lanjutnya, nada suaranya mulai mengeras. "Agar dia tahu seperti apa wanita kesayangannya itu."
Ken terdiam, tidak menyela.
"Aku tidak peduli apakah dia setuju atau tidak dengan rencanaku," sambung Lolitta. "Yang penting… dendamku terbalas."
Di saat yang sama di luar kamar rumah sakit, sesosok pria berdiri diam.
Dev.
Tangannya mengepal pelan di samping tubuhnya. Wajahnya tak terbaca, namun sorot matanya menggelap saat mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Lolitta.
Ia tidak masuk.
Hanya berdiri… mendengarkan.
Di dalam ruangan, suara Lolitta kembali terdengar—lebih dingin, lebih tegas.
"Kalau aku harus memilih…" katanya tanpa ragu, "aku tetap akan membalas dendam."
Ia menarik napas pelan.
"Kalau dia tidak puas… biarkan saja."
Nada suaranya datar, tanpa emosi.
"Silakan tuntut aku."
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰