Menerima laki-laki yang di kenalkan oleh sosok yang bernama Ayah itu seperti membuka pintu derita bagi Maura. Apakah Maura menderita karena perlakuan sang laki-laki atau perasaan bersalah pada keluarganya....
Yuk lanjut episode baru cerita aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu
Sampai di rumah Maura. Radit menyempatkan diri untuk berbicara dengan Pak Budi dan Bu Tias. Karena Radit tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan Maura. Radit ingin Maura bahagia dan Radit harap bahagianya Maura hanya dengan dirinya.
"Ayah, maaf Radit mengganggu malam-malam. Bila Ayah Mengijinkan Radit akan menikah dengan Lala besok." Radit.
"Besok?"
"Iya Yah. Rencananya Radit akan meminta Lala pada Ayah setelah pernikahan Lida. Karena Radit akan ada perjalanan ke luar bulan depan. Dan setelah Radit pulang Radit akan menikah dengan Lala. Tapi, tadi Lala menyampaikan jika Lala hanya ingin menikah di KUA tanpa pesta."
"Jika Ayah merestui. Radit akan daftarkan pernikahan Radit besok pagi. Jika pernikahan bisa di langsungkan besok juga maka Radit dan Maura akan menikah besok juga." Jelas Radit.
Pak Budi masih diam. Begitu juga dengan Bu Tias. Pak Budi menatap kesungguhan Radit dan Maura. Sebenarnya ada rasa ketakutan juga pada diri Pak Budi terhadap pernikahan putrinya. Dirinya takut salah langkah dan kembali menyakiti putrinya. Pak Budi pun menatap Putri sulungnya dalam.
Maulida yang ada di sana pun hanya menunggu jawaban dari sang Ayah perihal masa depan sang Kakak. Begitu juga dengan Bu Tias. Walaupun ada sedikit keraguan di hatinya. Wajar Pak Budi dan Bu Tias memiliki rasa khawatir yang besar terhadap masa depan Maura. Karena mereka pernah gagal dalam menyatukan Maura dan suaminya dulu.
Tapi, kali ini pria yang datang meminta putrinya adalah pria yang di pilih putrinya. Pak Budi menghela nafas panjang sebelum membuka suaranya.
"Bang, Ayah sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak-anak Ayah. Jika ini sudah menjadi keputusan kalian maka Ayah hanya bisa mendoakan saja." Pak Budi.
"Bagaimana dengan orang tua Abang?" Tanya Bu Tias.
"Kebetulan Abang belum bicarakan ini Bu. Dan Ayah masih di luar kota. Besok pagi Ayam kembali. Jika pernikahan bisa besok Abang akan minta waktu malam saja. Siang bisa di adakan lamaran dari keluarga Abang." Radit.
"Baiklah." Pak Budi.
"Terima kasih Ayah Ibu. Buat Lida Abang minta maaf menyalip acara Lida." Radit.
"Ngga Bang. Lida justru senang Kakak ada temen hidup." Maulida.
"Terima kasih." Radit.
"Mas," Maura.
"Kenapa?"
"Lala perlu cuti besok?" Maura.
"Kalo Lala ngga keberatan. Mas mau Lala resign. Mas mau Lala ikut kemana pun Mas pergi. Termasuk perjalanan ke luar bulan depan." Radit.
"Tapi Mas.."
Belum selesai Maura bicara Radit sudah menyela.
"Biar besok Mas yang urus surat pengunduran dirinya ya. Besok Lala ke kantor untuk pamitan saja sama bawa barang pribadi Lala. Setelah itu kita ke butik ya." Radit.
"Terima kasih Mas.
Setelah berbicara dengan Pak Budi dan Bu Tias Radit berpamitan setelah menerima segala persyaratan pernikahan dari Maura. Radit akan meminta Kiki mengurusnya di KUA sementara Radit menyiapkan yang lainnya.
Sampai di rumah sudah cukup larut akan tetapi Radit harus berbicara dengan Bunda Diana dan ternyata Bunda Diana masih berbincang dengan Pak Rudi via video call. Pak Rudi dan Bu Diana tak terima cara Radit menikahi Maura. Pak Rudi ingin yang terbaik tidak terkesan asal-asalan. Namun. setelah Radit menjelaskan alasannya akhirnya Pak Rudi dan Bu Diana setuju.
Dengan konsekuensi Bunda Diana akan di repotkan besok pagi. Tak menunggu besok pagi Bunda Diana langsung menghubungi Raya untuk meminta bantuannya menyiapkan perlengkapan seserahan. Sama hal nya dengan Pak Rudi dan Bunda Diana, Raya pun protes karena Radit begitu mendadak. Dan di buat kaget lagi ketika Radit akan melaksanakan pernikahan di KUA saja.
Sabar... Persiapan dulu ya...