"Ibu mau kemana? " suara Rara kecil nyaris tak terdengar.
Ibu menoleh sekilas. Mata mereka bertemu sejenak, lalu ibu buru-buru membuang pandangan. Ia mendekat, memeluk Rara sekilas. cepat sekali, seperti orang yang terburu-buru ingin pergi dari mimpi buruk.
"Kamu di sini dulu ya sama ayah. Kalau ada rezeki, kamu dan Alisya ibu jemput," bisiknya pelan, sebelum berbalik.
Rara tak mengerti. Tapi hatinya nyeri, seperti ada yang hilang sebelum sempat digenggam. Ketika mobil itu perlahan menjauh, ia masih berdiri mematung. Air matanya jatuh, tapi tak ia sadari.
"Rara Alina Putri" Namanya terpanggil di podium.
Ia berhasil wisuda dengan peringkat cumlaude, matanya berkaca. kepada siapakah ini pantas di hadiahkan?
Jika hari ini ia berdiri sendiri di sini. Air bening mengalir tanpa terasa, Langkah Kecil Rara sudah sejauh ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lumpur Sawah
“Ini, Ra. Boleh dipegang dulu uangnya.”
Tangan Rara sedikit gemetar saat menerima amplop berisi uang yang jumlahnya terasa begitu besar baginya. Kepala sekolah baru saja menyerahkan beasiswa yang ia dapatkan. Untuk pertama kalinya, Rara memegang uang sebanyak ini.
Senyum haru mengembang di bibirnya. Matanya turun menatap sepatu lusuh yang kini ia kenakan—sepatu yang sama sejak dua kali kenaikan kelas. Dengan uang ini, ia akhirnya bisa menggantinya.
“Gunakan uangnya untuk keperluan sekolah, ya, Rara,” ucap Ibu Magdalena lembut.
Rara mengangguk cepat. Matanya berbinar. Uang itu terasa lebih berharga dari apa pun.
Setelah berpamitan, Rara kembali ke kelas.
Sepanjang langkahnya, ia terus memandangi amplop putih itu. Jantungnya berdebar karena terlalu senang. Sesekali, amplop itu ia tempelkan ke dadanya, seolah takut mimpi ini lenyap.
Ruang kelas tampak lengang. Meja guru kosong—Bu Atika rupanya sedang tidak ada.
“Ra!”
Arini melambaikan tangan dari bangku mereka. Rara mendekat setengah berlari.
“Sumringah amat mukamu,” goda Arini.
“Aku senang sekali, Rin.” Rara tersenyum lebar. “Eh, Bu Atika ke mana?”
“Izin sebentar. Katanya dipanggil ke ruang guru.”
Arini melirik amplop di tangan Rara. “Itu apa?”
Rara menoleh, senyumnya makin merekah. “Alhamdulillah, Rin. Aku dapat beasiswa!”
Ia refleks melonjak kecil karena senang. Tangannya dingin dan gemetar.
Bel pulang berbunyi. Rara segera mengemas peralatan sekolahnya, tak terkecuali amplop putih yang tadi diberikan kepala sekolah.
Amplop itu adalah harapan kecil Rara—sesuatu yang datang dari rasa mustahil dalam hidupnya.
“Ra, kira-kira uangnya mau kamu kasih ke ibumu?” tanya Arini, menatap Rara selidik.
Rara menggeleng kecil.
“Aku mau minta tolong Tante Mini buat nyimpen,” jawabnya pelan. “Tantenya Alea.”
“Kamu percaya?”
“Iya. Tante itu baik banget sama aku, Rin. Walaupun dia adik kandungnya ibu.”
Rara yakin dengan ucapannya. Tante Mini sangat lembut dan sering memperhatikan dirinya—satu-satunya orang dewasa yang bisa ia percaya saat ini. Sangat berbeda dengan ibu tirinya.
“Ya udah, kalau kamu yakin.”
Rara mengajak Arini keluar dari kelas.
Di depan gerbang sekolah, Alea sudah menunggu. Beberapa teman dekatnya ikut berdiri di sana.
“Cepat, Ra!” teriak Alea.
Rara tidak menyahut. Ia hanya mempercepat langkah.
“Lambat amat sih. Ikut nggak? Kita mau cari jangkrik dulu di pematang sawah.”
Rara dan Arini saling berpandangan, lalu mengangguk bersamaan.
Mereka berjalan bergerombolan. Sesekali terdengar celetuk nakal bersahutan di antara tawa kecil. Setelah melewati kebun warga, akhirnya mereka sampai di pematang sawah.
Di rerumputan kecil tampak jangkrik-jangkrik berwarna hijau beterbangan. Mata Rara berbinar. Senyum nakal merekah di bibirnya.
Ia berlarian ke sana kemari di atas pematang, berusaha menangkap jangkrik dengan tangan kosong. Sementara Alea dan teman-temannya menggunakan plastik bening untuk menjeratnya.
Bruk!
Rara kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terpeleset dan terhempas ke pematang. Kakinya menghantam lumpur dan padi yang tumbuh ranum.
“Aduh…”
Rara meringis. Arini yang melihatnya segera berlari mendekat.
“Ra, pegang tanganku,” ucap Arini sambil mengulurkan tangan.
Rara tak langsung menyambut. Ia memegangi pinggangnya yang nyeri. Sepatu lusuh yang ia kenakan kini berubah bentuk—penuh lumpur dan air sawah.
Saat mencoba bangkit, rasa sakit kembali menyeruak. Lututnya perih, tampak sedikit berdarah.
Tawa pecah.
Alea dan teman-temannya tertawa kompak.
“Makanya kalau nangkap jangkrik itu pakai alat, Ra. Bukan pakai badan,” ejek Alea, masih tertawa.
Rara menunduk. Dadanya terasa sesak.
Sepatu lusuh itu kini benar-benar berlumur lumpur.
Dengan bantuan Arini, Rara berusaha bangkit. Namun belum sempat ia berdiri tegak, suara keras mengagetkan mereka.
“Hei! Kalian ngapain di situ?!”
Mereka serentak menoleh. Seorang ibu pemilik sawah berdiri tak jauh dari mereka, wajahnya terlihat marah.
Jantung Rara berdebar tak karuan. Ia melirik Arini sekilas.
“Awas ya, jangan main sembarangan di sawah orang!”
“Kabur!” teriak Alea.
Tanpa menunggu yang lain, Alea dan teman-temannya langsung berlari meninggalkan mereka.
Rara tertegun sejenak.
“Ra, cepat!” bisik Arini panik.
Dengan langkah terseok dan lutut yang masih nyeri, Rara dan Arini akhirnya ikut berlari menjauh.