NovelToon NovelToon
TRAPPED

TRAPPED

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Single Mom / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: Ann Rhea

Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.

Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.

Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CANN I CALL YOU SOMETHING

Menurut hasil pemeriksaan, kandungan Luz baik. Berat badannya, gerakan dan detak jantungnya berkembang dengan baik. Tidak ada kelainan yang terdeteksi, jadi bisa di pastikan bayi itu akan lahir dengan tubuh normal. Karna sebentar lagi hari perkiraan lahir akan tiba. Luz di sarankan untuk melakukan beberapa metode agar persalinannya bisa normal dengan mudah. Perkiraan dokter, Luz juga bisa melahirkan normal.

“Harus juga sering HB ya biar persalinannya lancar,” kata dokter.

Ya kagetlah, mengingat kondisi rumah tangganya amburadul begini. “Sekte mana itu? Laki gue gak bisa berdiri nih gimana cuy,” gumamnya. Lalu cengengesan. “Emang ngaruh ya, Dok?”

“Iya, sering jenguk debay nya ya Mas.”

“Saya?” Karel menunjuk dirinya dengan wajah kaget lalu melirik Luz dan terkekeh ambigu. “Iya, sering kok Dok aman.”

Luz ikut nyengir. “Oke jawaban yang bagus,” batinnya agar dokter tidak kaget. “Makasih ya Dok, kalau gitu permisi.” Ia menarik Karel keluar ruangan.

Elena berdiri dengan perasaan bahagia. “Gimana hasil pemeriksaannya baikkan? Gak ada kelainan apapun.”

“Baik kok Ma, dokter cuman nyaranin kurangi aktivitas dan rajin olahraga ringan sama HB.” Luz menggaruk tangannya yang tak gatal agar tidak terlalu gugup.

Elena tersenyum dan menghampiri putranya. “Tuh dengerin apa kata Mama juga, pasti di suruh HB. Tapi jangan terlalu brutal ya.”

Karel mengerjapkan matanya. “Oh—haha—i-iya s-siap Ma.”

“Bener ya nanti malem?” bisik Luz sengaja menjahili Karel.

Biar mukanya memerah dan ketakutan, bener aja. Bikin Luz ketawa kenceng.

Elena barusan mendapatkan chat dari karyawannya. “Oh ya Mama gak bisa pulang bareng, kalian duluan aja. Mama mau ke butik dulu udah lama gak ke sana bye-bye sayangnya Mama.” Ia memeluk keduanya secara bergantian dan pergi dengan rempongnya.

“Sayang banget mama tuh sama lo,” celetuk Karel. “Lo boleh kurang ajar sama gue tapi jangan sama mama ya.”

Luz mengangguk. “Pasti. Tapi kalau suatu saat mama tau ini bukan anak kandung lo gimana?”

“Jangan sampe tau.”

“Kalo iya?”

“Lo lupa?”

Luz terdiam, iya lagi lupa. “Apa emang?”

“Yang jelas gue akuin dia anak dan sayang sama dia.”

“Jadi itu artinya?” Luz balik nanya dan diem pas Karel melihatnya kelihatan banget muak.

“Oke ngerti, yang penting lo udah tau gue gak boong apapun, lo nerima gak peduli anak siapa yang jelas sekarang udah jadi anak lo so gak masalah juga kalau nyokap lo tau, mau gimana pun lo tetep bakalan sayang sama anak gue?”

“Iyalah dih di pikir gue selama ini perhatian sama lo? Kaga anjir, gue perhatian sama bayi di perut lo doang.”

Tercengang, terguncang dan seakan semuanya runtuh. Jadi semua ini Karel lakukan untuk bayinya bukan untuk Luz? Tapi gapapa, setidaknya dia gak akan kehilangan peran ayah. Walau ayah kandungnya aja gak mau ngakuin dia, gapapa sih, anaknya juga pasti malu punya bapak tolol gitu.

Luz baru saja duduk di kursi samping kemudi. “Gue gak nyangka, lo beneran sayang sama anak gue?”

Karel memasang sabun pengaman dan menyalakan mesin. “Jelas, gausah di tanya. Ralat itu, anak gue juga. Soal bokap kandungnya gausah di anggep, apus aja dari hidupnya. Sekarang gue bapaknya oke?”

“Thank you,” kata Luz terharu sambil tersenyum. Karel memang tidak berbohong. “Semoga sampai nanti lo tetep sayang dia.”

“Oh tentu.”

Luz terkekeh, ia mengusap perutnya. “Kamu dengerkan?” Lalu ia menoleh melihat Karel. “Kalau sama gue sayang gak?”

Tidak di jawab. Ekspresi Luz seketika datar, sejak itulah senyumnya berubah jadi saldo rekening yang melimpah. Karna Karel ngebujuk dia kalo cemberut pake duit.

“Udah gausah marah lagi dong. Duit yang gue kasih kurang apa?” Karel tuh males ngebujuk, biasanya di bujuk. Kalau gak di bujuk nanti dia tantrum lagi.

Sebenarnya alasan Luz diem karna sariawan juga sih. Tapi di lain sisi lagi mikir, kalau James udah ninggalin Mireya itu tandanya dia beneran sayang sama Karel. Bagus sih berarti dia takut sama ancaman Luz.

Luz melirik Karel dan memperhatikannya. Gimana ya kalau dia tahu, orang yang dia sayang selama ini mendua. Harusnya kalau memang James sayang sama Karel, jadiin dia satu-satunya bukan cari yang lain. Kalau udah terlanjur, mending pilih yang kedua, karna gak mungkin kalau sayang sama yang pertama milih mendua. Apalagi alasannya klise, mending gausah di tanggepin, hempaskan saja bagaikan debu tidak berguna. Bahkan sampah sekalipun masih bisa berguna jika di olah.

Baru saja Luz mau tenang, Mireya ngechat.

Mireya: oh my good, gue di lamar Jeremiah James!

T*lol!

Luz menghela nafas. “Emang gila si kutukupret, yang namanya Jeremiah James harus gue musnahin,” batinnya gedek.

Luz: terus lo terima? Dari bau-baunya sih gue tebak di terima dan lo lagi jingkrak kesenengan

Mireya: hehe sorry

Luz; tuhkan apa gue bilang pasti ngejilat

ludah sendiri kayak biasa, gausah seneng dulu, itu gak memastikan kalau dia beneran sayang

Luz: yang nikah aja bisa cerai kan? Siapa tau dia bercandanya gitu kelewatan

Mireya: iya juga tapi kenapa sih lo keliatan gak suka banget sama James?

Jelas gak suka lah, orang dia punya pacar dua. Cewek sama cowok, mana keduanya Luz kenal deket lagi. Siapa coba yang gak marah? Sekarang gak bisa terus di biarin, yang ada ntar Mireya makin sakit hati kalau semuanya terlanjur terjadi. Pasti James gak jujur yang sebenarnya ke Mireya. Karna alasan Mireya apa coba? Gak mungkin dia sebuta itu karna cinta.

Ada bagusnya sih, mungkin Karel akan sadar kalau James memilih menikah dengan orang lain dan kebenaran terungkap. Semoga saja dia akan menerima Luz di hatinya. Mungkin tapi sulit, harapan itu nyaris tidak ada celah sedikitpun.

“Sayang kok gue sama lo, sebagai adik tapi,” ucap Karel tiba-tiba memecah keheningan.

“Gapapakan setidaknya gue masih di sayang, gak di buang kek baju rombeng.”

Luz terdiam, ia mencari cara biar bisa mempertemukan mereka secara gak langsung. Greget pengen kebenaran terungkap dan boom waktu meledak begitu hebatnya. Ingin tahu reaksi James gimana, Karel juga Mireya. Apa yang akan mereka lakukan, keputusan apa yang akan di terima.

Luz langsung menelepon Mireya sama biar cepat. Jantungnya berdetak kencang, ada rasa gugup untuk melancarkan aksinya. Karna ini waktu yang tepat.

“Lo dimana Mir?”

“Lagi sama Jer di kafe biasa. Sini dong itung-itung double date. Gue abis di lamar juga, mau gue traktir nih sesekali.”

Luz melirik Karel. “Oh oke tunggu dulu gue bakalan ke sana. Sendirian kok, soalnya Karel sibuk.”

“Karel anterin gue pengen ke kafe sama Mireya. Temenin juga.”

“Oke kalo anter, tapi kalo temenin lah katanya---“

Luz meletakkan telunjuknya. Demi misi ia harus main rapih. “Gausah banyak tanya, biar kejutan. Dia nyuruh kita double date, abis di lamar kegirangan tuh anak. Itung-itung surprise aja.”

Tanpa curiga apapun, Karel mengangguk. “Yaudah oke. Temen lo si Mirae itu ya?”

Maka dengan ini, pertemuan itu akan terjadi. Luz gak sabar bangat mau liat semeledak apa nantinya. Tapi ternyata kata Mireya James pulang duluan secara mendadak katanya ada urusan penting, walah gadis itu terlihat murung dan kecewa.

“Sendiri.”

Luz pun duduk. “Dia ikut di belakang gue tapi mana ya.” Ia celingukan pura-pura mencari Karel padahal lagi nyari James. Dia begitu terlihat mencurigakan, yakin deh dia sengaja pulang duluan karna tahu Luz bakalan dateng.

Padahal memang iya, James sudah bisa menebaknya. Apalagi melihat ada Karel. Ia langsung pergi, tapi bukan untuk kabur melainkan menemuinya untuk menjelaskan.

Kalau James sudah melamar seseorang untuk menutupi penyimpangannya, melakukan hal yang sama seperti Karel, bedanya tanpa ceweknya ketahui.

Karel kaget awalnya. Merasa tidak terima. “Tapi kenapa baru bilang setelah semuanya terjadi. Kenapa gak bilang dari awal? Jujur aku gak suka.”

“Itu gak penting, yang jelas kamu harus terima. Biar tau rasanya jadi aku, inget dia gak tau aku gay. Aku cuman pura-pura sayang sama dia,” kata James berusaha meyakinkan Karel di toilet umum.

“Tapi belum tentu kamu konsisten kayak aku, belum tentu kamu bisa nahan---“ Karel begitu khawatir dan takut sampai hampir ingin menangis.

James menggeleng. “Percaya sama aku, aku bisa. Kami aja bisa masa aku enggak. Okey? Dia bakalan akting jago banget.”

“Siapa sih? Jangan bilang ini yang di maksud Luz, k-kamu lamar sahabatnya?” Mata Karel membulat tidak menyangka.

James mengangguk, walau detak jantungnya sudah tidak karuan. “Iya, karna aku rasa, ini pilihan yang terbaik. Mereka sahabatan dan kita juga bisa bersahabat, Luz kan udah tau. Mirae enggak, jadi kalau kita sering bareng mungkin sebagai sahabat baginya dan suami dari temennya.”

“Oke masuk akal. Tapi bener ya boongan?”

James mengangguk. “Bener, udah gih kamu ke sana duluan. Nanti aku nyusul, jangan sampe ada yang curiga ya. Kalau Luz nanya, gausah di jawab detail.”

Setelah Karel berlalu, James langsung mengirimkan chat ke Luz.

James: lo pasti rencanain semua ini!

Kebetulan dia lagi main handphone dan gak lama langsung di bales.

Luz: engga, Karel pengen ikut nemenin gue doang, emang lo kemana? Takut ketauan ya haha

James: B*ngsat emang lo, gue bakalan kesana liat aja

Benar, dia muncul tak lama setelah Karel dateng. Membuat Mireya kaget.

“Eh honey kamu ke sini lagi?”

Eneg anjir liatnya pengen muntah, Luz langsung tutul mata. Tapi tunggu, kok Karel bereaksi biasa saja? Apa yang telah terjadi. Tak mungkin juga ia bertanya mendadak disini, malah ketauan secara terang-terangan bisa mampus dirinya.

Harusnya Luz seneng rencananya berjalan lancar. Tapi kok aneh, malah pada keliatan gak kenal. Terus kenalan dulu, Mireya antusias mereka bisa temenan. Padahal mereka punya hubungan lebih dari itu yang pasti Mireya gak akan duga nantinya.

Aka yang telah terjadi? Kenapa Luz malah ngenes dan gak nyangka bisa terjadi. Ia pikir pertemuan ini akan memicu keributan taunya akur.

“Luz kenapa diem aja?” tanya Mireya dia paling sumringah disini.

Beda sama James yang keliatan puas. Karel keliatan suntuk. Luz keliatan bingung.

Tak tahan di situasi ini, Luz cari alasan untuk segera pulang. Alasannya perut kram lalu gandeng Karel pergi, membuat James memegang sendok erat-erat.

“Mampir lu kebakaran api cemburu, siapa suruh bertingkah anjir,” gumam Luz, ia di papah Karel ke mobil, sempat di tanya apa mau ke rumah sakit.

Di dalem mobil Luz langsung segar, bilangnya sih perutnya udah gak sakit dan cuman pengen rebahan. Terus mikir kok bisa akur gitu? Apa ia kalah satu langkah dari James sampe udah bisa setting mereka begitu cepat?

Ternyata James bilangnya itu pacar sewaan awalnya dan Mireya gatau soal kebenaran, karna ia merasa lebih aman di bandingkan mengetahuinya. Usai melihat Luz bertindak seperti sebelumnya.

Luz langsung mengumpat kesal. “Anjir temen gue di jadiin mainan sama kalian gila.”

“Gue gatau, gue taunya barusan lho. Gue juga kaget.”

Karel emang gak bohong, Luz bisa melihat kaget dan bingung dari mukanya.

Luz semakin kasihan, Karel dan Mireya jadi korban permainan James yang begitu keji. Apa salah mereka sehingga hati mereka yang jadi sasaran. “Gue gak habis pikir, lo sebelum milih nikah sama gue, lo izin ke dia kan? Tapi dia kok gak izin sama sekali dengan dalih mepet? Maksudnya mendadak?”

“Pantes Mirae seneng banget ngabarin lo, ternyata dia gatau,” balas Karel terlihat tidak semangat.

Ini sih gila bagi Luz. Karel tinggal dikit lagi aja dia bakalan tahu semuanya. Kalau Mireya udah burem sama cinta gak bisa liat apa-apa lagi emang licik si James. Kira-kira gimana sama hubungan mereka ke depannya? Luz beneran gak bisa menyangka apalagi menebak nanti bakalan sekacau apa.

“Udah gausah di pikirin soal ini, gue yakin James pasti udah mikirin mateng-mateng ini jalan terbaiknya kan? Biar kita gak di curigai terus, gue aman, nah sekarang dia gak aman,” katanya enteng banget.

Luz gatau harus mikir apalagi, pusing banget ngadepin nya. “Tapi lo tetep harus waspada, dia kan seme. Itu tandanya bisa berdiri sama cewek, bisa aja dia lupa kan? Bukan gue nakut-nakutin tapi emang takut sih.”

“Jangan bikin overthinking gak jelas deh males.

“Siapa tau kan berpeluang selingkuh? Yang penting ada lubangnya gak peduli siapa. Beda sama lo, mau gue gimanain juga lo tetep kokoh sama pendirian lo, buktinya lo gak bisa berdiri sama gue, lah dia? Tau deh.”

Please Karel ngeh dong sama ucapan Luz barusan dia lagi ngasih kode, jangan planga-plongo berlagak pikun gitu.

Karel menghela nafas, keliatannya berat banget sih. “James gak akan selingkuh. Dia ngelakuin hal sama kayak gue, bedanya tuh cewek gak tahu soal dia gay, mereka cuman pura-pura juga kok, kata James dia juga di jodohin, tapi kenapa harus sama Mirae sahabat lo dan orang yang pernah di jodohin sama gue juga. Se-gak laku itu kah dia sampe harus di jodohin segala?”

“Heh jaga ya mulut lo? Mirae banyak yang suka tapi emang orang tuanya pemilih banget, kalian terpilih karna emang terpandang.” Jadi sewot Luz dengernya keliatan banget dia kesal sama Mireya. Mau sampai kapan ini berlangsung? Aneh banget, James cemburu sama Luz, Karel cemburu sama Mireya. Kocak emang.

Luz masih tak terima Mireya di tuduh gak laku sama Karel. “Gini deh kurang lebih kayak lo, lo juga gak mau di jodohkan terus. Karena ngerasa gak laku, kan? Padahal yang suka lo banyak tapi lo doyannya yang kekar juga. Mungkin aja Mirae di jodohkan karna singgle terus padahal dia lagi nunggu atau cinta sama seseorang yang dia gapai sebagai pembalasannya dia memilih sendiri sampe harus di cariin. Jangan menghakimi orang dengan satu sudut pandang.”

Keduanya diam. Berperang dengan pikiran masing-masing. Hingga sunyi melanda. Hanya suara kendaraan berlalu lalang.

Karel lagi mikir. “Dulu pas James tahu gue di jodohin sama Mirae dia ngelarang. Gue bilang mah sama lo boleh, kenapa sekarang jadi enggak?”

Luz menoleh dengan dahi mengerut. “James emang posesif banget ya? Tapi tunggu deh, dia gak mungkin ngelarang tanpa sebab. Apa dia tau gue suka godain lo?”

“Enggak kok, gue gak cerita kalo soal itu karna nyangkut privasi lo.”

Luz terenyuh, masih punya akal sehat dia ternyata. “Oke deh bagus makasih.” Dirinya membuang pandangan, melihat ke jendela.

Andai saja bisa mengatakan yang sebenarnya.

“Semua ini karna James mencintai Mirae juga, sekarang dia ngelarang lo sama gue karna gue tau rahasianya. Dia merasa terancam dan takut kehilangan semuanya. Apalagi gue bukan cuman kenal, gue istrinya Karel, gue juga sahabatnya Mirae. Terlebih ia tau Mirae cuman cinta sama James dari dulu bukan berarti dia gak laku,” batinnya.

Padahal ini bisa jadi mudah, andai tadi Luz rekam percakapan dengan Karel. Tinggal puter di depan Mireya selesai. T-tapi, dirinya terancam.

...--To Be Continued--

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!