"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"
Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.
"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"
baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Esok Pagi
Udara pagi di rumah besar itu terasa segar, disapu aroma roti panggang dan kopi hangat yang memenuhi ruang makan. Citra mengenakan blus biru muda dan apron putih, sibuk menata meja dengan senyum ringan di wajah. Rambutnya diikat rapi ke belakang, tapi beberapa helai sengaja ia biarkan jatuh, memberi kesan lembut sekaligus menawan.
Rama duduk di kursi, membaca koran dengan kacamata di ujung hidung. “Wah, hari ini menunya spesial banget,” ucapnya saat melihat omelet, sosis, dan jus jeruk tersaji rapi. “Sederhana tapi spesial kayaknya.”
“Masa? Ini sengaja Citra pilih yang simpel aja,” jawab Citra tanpa ragu, menggoda dengan nada manja.
"Boleh request buat menu next morning?"
"Boleh, apa sih yang enggak buat Pak Rama," jawab Citra dengan senyum menggoda.
Rama tertawa lebar, melipat koran dan meletakkannya di meja. “Baiklah, aku kayaknya udah lama banget enggak makan mangut lele.”
"Itu terlalu berat buat sarapan, Pak. Gimana kalau Citra rekomendasiin yang lebih seger. Soto, atau sop jagung misalnya."
"Boleh juga. Sop jagung aja."
Citra tersenyum, lalu mengambil sendok kecil dan menyuapi Rama sepotong omelet. “Coba, enak nggak? Aku masak sendiri loh.”
Rama membuka mulut, menatap istrinya penuh sayang. “Hmm… enak banget. Lebih enak dari sarapan hotel mana pun.”
Tawa mereka pecah pelan di udara. Suasana terasa hangat dan lembut—tapi tidak bagi seseorang yang sedang berdiri di ambang pintu.
Rava.
Ia terpaku memandangi pemandangan itu.
"Pagi, Pah..."
"Pagi... Baru bangun, Va?"
"Enggak, udah dari tadi. Tapi, di kamar aja," jawab Rava. lalu berganti melirik Citra. "Pagi... Ci..."
"Mama," sela Citra cepat. "Saya Mama kamu sekarang, Va. Walau umur kita tak beda jauh. Tapi, saya udah nikah sama Mas Rama. Jadi... Panggil saya Mama." Suara Citra tegas.
Rava menunduk, jelas batas yang Citra tunjukkan.
"Pagi, Ma," ucapnya akhirnya menegakan kepala.
"Duduklah, kalau mau ikut sarapan. Saya akan minta Bi Narti buat siapin sarapanmu dan istrimu. Saya cuma buat untuk Mas Rama dan untukku sendiri."
"Iya, Ma. Makasih," ucap Rava kikuk.
Ia duduk di kursinya. Tongkatnya bersandar di dinding, tangannya mengepal di pangkuan. Tatapannya kosong, tapi dalam hatinya ada sesuatu yang bergolak.
"Aaaa~" Citra menyuapi Rama lagi. Pria itu hanya tersenyum, lalu membuka mulutnya.
Adegan itu seperti potongan masa lalu yang kembali hidup.
Dalam ingatan Rava, Citra pernah duduk di depannya, di sebuah restoran kecil. Senyumnya sama cerahnya.
“Coba ini, Va. Aku pesen steak saus jamur, kamu pasti suka.”
Rava tertawa waktu itu, menatap manja wanita di hadapannya. “Kamu tuh nggak capek nyuapin aku terus?”
Citra menjulurkan lidah. “Enggaklah, kamu udah bosan aku suapi?!”
Kenangan itu menamparnya keras. Sekarang wanita yang sama menyuapi ayahnya—dengan tatapan yang sama, senyum yang sama, tapi untuk pria yang berbeda.
Untuk ayahnya.
Ia menunduk, berusaha menahan napas berat yang mulai tersengal.
Cantika datang belakangan, mengenakan daster sutra warna krem. Wajahnya masih sembab karena bangun kesiangan, dan begitu melihat pemandangan di meja makan, matanya langsung menajam.
Dalam hati, ia mengumpat. "Setiap hari beginian terus. Mual rasanya lihat kemesraan yang ditontonkan begini, enggak tau malu banget."
Namun, Cantika tak berani bersuara. Ia hanya duduk di sebelah Rava dan menatap dingin ke arah meja.
"Makanlah apa yang ada."
Rama tidak memperpanjang. Ia hanya mengangguk dan melanjutkan makannya, sementara Citra sibuk memindahkan omelette ke piring suaminya, seolah tak terganggu sama sekali.
Setelah selesai, Rama berdiri dan mengenakan jas kerjanya. “Cit, aku berangkat dulu, ya. Ada rapat pagi ini.”
Citra segera menghampiri, merapikan dasi Rama dengan lembut. “Jangan lupa makan siang. Kalau sempat, kabarin aku, ya. Aku masakin makan malam sepesial buat Mas Rama.”
Rama tersenyum, lalu mencium kening istrinya. “Siap, Nyonya Rama.”
Citra tertawa kecil dan memeluknya. “Hati-hati di jalan.”
Pemandangan itu—pelukan, ciuman, dan tawa lembut—membuat dada Rava kembali sesak. Ia berpura-pura menatap piring kosong, padahal matanya sudah mulai basah.
Begitu Rama pergi, suasana rumah seketika berubah. Keheningan menggantung. Citra menghela napas panjang, menatap ke arah tangga. Ia ingin ke kamar, tapi langkahnya tertahan oleh suara Cantika.
"Wah, nyonya yang sok banget, ya?"
kalo dah ditinggal pegi..
gigit jari bakalan lani
klao kehilangan 2 suami
meninggal Juni 2012
😭😭