"Hentikan berbuat konyol untuk menarik perhatianku, segera tanda tangani surat cerai?!" kata pria itu sedikit arogan.
Lisa menatap pria itu, dan tidak mengenalinya sama sekali. Kecelakaan yang dialami membuatnya amnesia.
Lisa tak lagi memandang Jonathan penuh cinta, dan bahkan setuju untuk menandatangani surat cerai. Namun, sikap yang acuh malah membuat Jonathan kalang-kabut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Perlahan Lisa membuka matanya, sedikit silau dengan cahaya lampu yang redup, memberikan kesan menakutkan pada ruangan yang sudah gelap. Dia memicingkan mata, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya yang minim, tapi bayangan-bayangan di sekitarnya tampak seperti mengancam.
Saat dia melihat sekeliling, dia merasa ruangan itu dipenuhi dengan debu yang tebal, pengap, dan bau apek yang menusuk hidung. Minimnya cahaya alami membuat Lisa kesulitan mencari jalan keluar, dan setiap langkah yang dia coba ambil terasa seperti menuju ke dalam jurang ketakutan.
Tiba-tiba, dia mendengar suara tapak sepatu yang tidak jelas asalnya, membuat jantungnya berdegup kencang.
"Di mana aku?" gumamnya, mencoba mengingat bagaimana dia bisa berakhir di tempat ini, tapi ingatannya seperti diselimuti kabut tebal.
Ketakutan mulai menyergapnya, dan Lisa tahu dia harus mencari jalan keluar sebelum terlambat.
"Siapa kamu? Kenapa kamu menculik ku?" ucap Lisa dengan suara yang bergetar, mencoba untuk menembus kegelapan dan mencari jawaban.
Dia yakin ada seseorang yang mengawasinya di tempat itu, menyipitkan kedua mata untuk mempertajam penglihatan.
Tiba-tiba, seorang wanita cantik dengan wajah sinis dan mata yang dingin muncul dari bayangan. Wanita itu menghampiri Lisa dengan langkah yang santai, tapi tawa jahat yang keluar dari bibirnya membuat Lisa merasa bulu kuduknya berdiri.
"Tidurmu sangat nyenyak sekali," kata wanita itu dengan suara yang manis tapi beracun.
"Kamu akan tinggal di sini ... selamanya."
Wanita itu berhenti didepan Lisa, menatapnya dengan mata yang membara dengan niat jahat.
Lisa terkejut dan merasa jijik ketika dia menyadari bahwa wanita cantik yang berdiri di depannya adalah Arneta.
Dia tahu bahwa Arneta memiliki dendam kesumat padanya karena telah merebut Alex, cinta Arneta yang telah lama dipendam.
Namun, Lisa juga tahu bahwa bukan sepenuhnya kesalahannya. Alex telah memilihnya sebagai calon istrinya, dan Lisa tidak pernah berniat untuk merebut cinta Arneta. Tapi, dia juga sadar bahwa penjelasan tidak akan berguna sekarang, karena Arneta telah membawa dendamnya sampai sejauh ini.
"Arneta, apa yang kamu inginkan dari aku?" tanya Lisa, mencoba untuk tetap tenang meskipun ketakutan memenuhi hatinya.
"Apa yang kamu harapkan dengan menculikku?" Dia berharap bisa menemukan celah untuk melarikan diri atau setidaknya mengetahui rencana Arneta.
Arneta menampar pipi Lisa berulang kali, suara tamparan keras menggema di ruangan yang sunyi itu.
Pipi Lisa memerah dan terasa panas menyakitkan, sementara matanya mulai berkaca-kaca menahan air mata. Setiap tamparan terasa seperti pukulan yang tidak hanya menyakiti fisiknya, tetapi juga menghancurkan mentalnya.
"Apa yang kamu pikir, kamu bisa merebut Alex dariku?" Arneta memaki dengan nada yang keras dan penuh kebencian.
"Kamu pikir kamu lebih baik dariku?"
Setiap kata yang diucapkan Arneta dibarengi dengan tamparan yang semakin keras, membuat Lisa semakin tak berdaya.
Lisa mencoba melindungi wajahnya dengan tangan, tapi Arneta terus menyerangnya, menunjukkan betapa dalam dan besarnya kebencian yang disimpan selama ini.
"Kamu tidak akan pernah bisa melupakan hari ini," ancam Arneta, matanya membara dengan kemarahan.
Arneta mengambil jerigen dan mengguyur tubuh rivalnya dengan bensin, membuat Lisa terkejut dan panik.
Bau bensin menusuk hidungnya, dan Lisa menyadari bahwa dia berada dalam bahaya besar. Dia berusaha untuk melepaskan salah satu tangannya yang terikat, tapi ikatan itu terlalu kuat.
"Arneta, jangan lakukan ini!" seru Lisa, mencoba untuk berbicara dengan nada yang tenang meskipun ketakutan menguasai dirinya.
"Kita bisa berbicara tentang ini, ada jalan lain untuk menyelesaikan masalah."
Lisa berharap bisa mengalihkan perhatian Arneta, mengulur waktu dan mencari kesempatan untuk melarikan diri. Tapi, Arneta hanya tertawa, menunjukkan bahwa dia sudah tidak bisa diajak berbicara lagi.
"Sudah terlambat untuk berbicara," kata Arneta dengan nada dingin, sambil mengeluarkan korek api dari kantongnya.
Lisa meraba celananya dengan tangan yang masih terikat, dan dia merasa lega ketika menemukan ponsel di saku celana. Diam-diam, dia mengambil ponsel dan mencoba menekan tombol untuk mengaktifkan layar.
Dengan hati-hati, Lisa menelpon Alex, berharap bahwa dia akan menjawab dan bisa memberikan informasi tentang keberadaannya.
Lisa menahan napas sambil menunggu Alex menjawab, berharap bahwa dia bisa diselamatkan sebelum terlambat.
"Di mana kamu membawaku?" tanya Lisa, berusaha untuk tetap tenang meskipun ketakutan mulai menguasai dirinya.
Arneta tertawa mengerikan, sembari memainkan korek api di tangannya, membuat Lisa merasa semakin tidak tenang.
"Tidak akan ada siapapun yang bisa tahu kamu di sini, di gudang bawah tanah rumahku," ungkap Arneta dengan nada yang dingin dan menakutkan.
"Tempat ini sangat terpencil, dan tidak ada yang berani masuk tanpa izinku."
Arneta menatap Lisa dengan mata yang membara dengan kebencian.
"Kamu akan menjadi milikku selamanya, dan tidak ada yang bisa menyelamatkanmu.”
Arneta tertawa dengan gembira, menikmati penderitaan Lisa yang terlihat tak berdaya dan ketakutan.
"Kamu terlihat sangat cantik ketika takut," ujar Arneta yang mengejek, sambil memainkan korek api di dekat wajah Lisa.
"Aku sangat menikmati momen ini, ketika kamu sepenuhnya berada di bawah genggamanku."
Arneta merasa puas melihat Lisa dalam kondisi seperti itu, seolah-olah dia telah mencapai puncak kebahagiaan dengan menyiksa musuhnya.
"Kamu tidak tahu, aku mencintai Alex sejak dulu, tapi kamu malah merebutnya dariku," kata Arneta dengan nada yang penuh kebencian dan kesedihan.
"Apa yang dia sukai darimu, hah? Apakah karena kamu cantik? Atau karena kamu lemah dan membutuhkan perlindungan?" Arneta meninggikan intonasi suaranya, menunjukkan betapa sakit hatinya dia karena Alex menolaknya berulang kali.
Air mata mengalir di wajah Arneta, tapi dia tidak peduli. Dia hanya ingin melampiaskan semua kekecewaan dan kebenciannya kepada Lisa.
Lisa berhasil mengelabui Arneta, dan ikatan di tangannya terlepas secara diam-diam. Dengan gerakan cepat, merebut korek api dari tangan wanita itu dan melemparkannya jauh ke sudut ruangan.
Arneta terkejut dan marah, tapi Lisa sudah siap untuk melawan.
“Jangan jadi pengecut, ayo lawan aku!” Lisa menantang Arneta dan langsung memulai serangan menendang tubuh lawannya.
Arneta marah, mencoba untuk menyerang, tapi Lisa sudah siap dan berhasil menghindar.
Sekarang, Lisa memiliki keunggulan, dan dia berniat untuk menggunakannya untuk melarikan diri.
"Kamu tidak akan bisa kabur!" Arneta tertawa dengan gembira, sambil bertepuk tangan sebanyak tiga kali.
Sontak, Lisa terkejut melihat dua orang preman berbadan tegap dan kekar berjalan menghampiri dia, wajah mereka terlihat keras dan tidak punya belas kasihan.
"Sepertinya kamu perlu sedikit bantuan untuk menghadapi musuhmu," kata Arneta dengan senyum sinis, sambil menunjuk ke arah preman-preman itu.
"Kalian, tangkap dia dan pastikan dia tidak bisa melarikan diri lagi."
Preman-preman itu mengangguk dan langsung bergerak untuk menangkap Lisa, membuat dia merasa terjepit dan tidak punya banyak pilihan lagi.
Lisa mencoba untuk meloloskan diri, tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk menghadapi dua orang pria yang besar dan kuat.
Mereka dengan mudah menangkapnya dan menahannya, membuat Lisa merasa tidak berdaya.
"Kamu seharusnya tidak melawan," kata salah satu preman dengan nada kasar, sambil menahan Lisa dengan erat.
Arneta tertawa lagi, merasa puas karena rencananya berhasil.
"Sekarang, kamu tidak akan bisa melarikan diri lagi," kata Arneta, sambil mendekati Lisa dengan mata yang membara dengan kebencian.
Arneta yang kesal merebut pisau di saku salah satu preman, berhasil melukai kaki Lisa.
“Kamu tidak bisa kabur, dan mati kehabisan darah.”
cinta nanti dulu biarakam si Alex membuktikan jangan cuma ngomong doang