NovelToon NovelToon
Skenario Rahasia Sang CEO

Skenario Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Shee Lyn

"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: (Dua Hati yang Tertahan dalam Sunyi)

Langkah kaki Marvel yang biasanya santai dan penuh percaya diri mendadak melambat begitu ia melintasi area meja sekretaris di depan pintu ruang kerja utamanya. Pria yang menjabat sebagai CEO di salah satu perusahaan properti papan atas Jakarta itu terpaku selama beberapa detik, mengerjapkan matanya seolah sedang memastikan bahwa ia tidak sedang salah lihat akibat sisa penat rapat di kantor Mike tadi pagi.

Di balik meja kayu ek yang tertata rapi, seorang wanita dengan kemeja blus berwarna salem sedang sibuk mengetik sesuatu di layar komputer. Rambutnya disanggul rapi ke atas, menampilkan leher jenjangnya yang anggun. Di jari manis tangan kanannya, sebuah cincin emas polos yang masih sangat baru berkilau diterpa cahaya lampu ruangan.

Dia adalah Viona. Sekretaris pribadi Marvel yang baru dua hari lalu melangsungkan akad pernikahan.

Marvel mengernyitkan dahi dalam-dalam. Sesuai dengan memo resmi yang ia tanda tangani minggu lalu, ia telah memberikan cuti pernikahan khusus selama sepuluh hari penuh untuk Viona. Tidak hanya itu, sebagai bos yang royal, Marvel bahkan merogoh kocek pribadinya sendiri untuk memberikan kado berupa paket bulan madu mewah di sebuah resor privat di Ubud, Bali, lengkap dengan tiket pesawat pulang-pergi kelas bisnis.

"Viona?" panggil Marvel, suaranya sarat akan nada keheranan yang amat besar.

Wanita itu tersentak pelan, buru-buru menghentikan ketikannya dan langsung berdiri dari kursi untuk membungkuk hormat. Wajah cantik Viona mendadak berubah menjadi agak kaku, dan ada gurat kegelisahan yang coba ia sembunyikan di balik senyuman formalnya.

"Selamat pagi, Pak Marvel. Ada yang bisa saya bantu untuk jadwal hari ini?" tanya Viona, suaranya terdengar sangat formal, seolah ingin menegaskan batasan profesional di antara mereka.

Marvel melangkah mendekati meja konter, melipat kedua tangannya di dada sembari menatap sekretarisnya lekat-lekat. "Viona, bukankah ini baru hari kedua setelah pernikahanmu? Dan seingatku, hari ini seharusnya kamu sudah berada di Bali untuk bulan madu. Kenapa kamu malah sudah duduk di sini memakai pakaian kantor?"

Viona meremas jemarinya sendiri di balik meja, menghindari tatapan mata Marvel yang menyelidik. "Maaf sebelumnya, Pak Marvel. Saya... saya memutuskan untuk membatalkan cuti saya dan kembali bekerja lebih awal."

"Alasannya?" kejar Marvel, tidak puas dengan jawaban yang menggantung.

"Suami saya... dia tiba-tiba mendapatkan proyek mendesak dari perusahaannya dan belum bisa mengambil cuti tahunan, Pak," jawab Viona dengan nada suara yang agak kaku, seolah kalimat itu sudah ia hafalkan sebelumnya. "Daripada saya berada di rumah sendirian, saya pikir lebih baik saya kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan keuangan kuartal kedua yang sempat tertunda."

Marvel hanya mengangguk pelan, meskipun di dalam hatinya, ia merasa ada sesuatu yang sangat janggal dari alasan tersebut. Pernikahan adalah momen besar, dan pembatalan bulan madu secara mendadak hanya karena urusan kantor rasanya terlalu tidak masuk akal untuk sepasang pengantin baru. Namun, menyadari batasan posisinya sebagai seorang atasan, Marvel memilih untuk tidak menginterogasi lebih jauh.

"Baiklah kalau itu keputusanmu. Tapi jika kamu merasa lelah, kamu bisa mengambil hak cutimu kapan saja," ucap Marvel datar sebelum melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya.

Begitu pintu jati ruang kerjanya tertutup rapat, Marvel tidak langsung menuju meja kerjanya. Ia berjalan mendekati dinding kaca besar yang menghadap ke arah lanskap kota, lalu mengembuskan napas panjang yang terasa begitu berat di dadanya. Pria yang biasanya selalu ceria dan menjadi pencair suasana di lingkaran sahabat Mike itu mendadak dilingkupi oleh rasa sepi yang pekat.

Marvel menyandarkan kepalanya di kaca yang dingin. Selama dua tahun terakhir ini, Viona adalah gadis yang diam-diam telah mengisi seluruh relung hatinya. Setiap senyuman, dedikasi kerja, dan perhatian kecil yang diberikan Viona dalam urusan pekerjaan telah menumbuhkan benih cinta yang amat dalam di dada Marvel. Namun, Marvel memilih untuk mengunci rapat perasaan itu dalam sunyi. Ia tahu diri. Sejak hari pertama bekerja, Viona sudah memiliki seorang kekasih yang telah mendampinginya sejak masa kuliah—seorang pria biasa yang akhirnya resmi menjadi suaminya dua hari lalu.

Melihat cincin pernikahan di jari Viona tadi membuat hati Marvel terasa seperti diremas tak kasat mata. Ada rasa perih yang nyata, namun di saat bersamaan, rasa aneh dan khawatir mulai merayap di pikirannya. Insting bisnisnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres di balik pernikahan instan sekretarisnya itu.

Sementara itu, di belahan Jakarta yang lain, sebuah mobil sedan hitam milik Kevin berhenti tepat di depan gedung berlantai empat yang menjadi kantor pusat dari firma hukum milik Anita. Pagi ini, Kevin datang dengan membawa beberapa draf berkas pengamanan berlapis untuk acara pernikahan Alvin dan Anita bulan depan yang perlu disinkronkan dengan tim hukum.

Namun, begitu Kevin melangkah melewati pintu masuk lobi firma, langkah kakinya seketika membeku. Atensinya langsung terkunci pada sosok wanita yang sedang berdiri di dekat meja resepsionis, sedang memberikan instruksi kepada beberapa staf magang.

Wanita itu mengenakan blazer formal berwarna navy yang dipadukan dengan celana kain senada. Wajahnya yang tegas namun menyimpan kelembutan alami tampak begitu familier di dalam ingatan Kevin. Dia adalah Rosse—seorang wanita yang hingga detik ini masih memegang kunci utama atas seluruh ruang di hati seorang Kevin.

Rosse adalah janda beranak satu, sekaligus mantan kekasih Kevin di masa kuliah dulu. Hubungan mereka yang begitu indah di masa lalu terpaksa kandas di tengah jalan karena Rosse dijodohkan oleh keluarganya dengan seorang putra dari rekan bisnis mendiang ayahnya. Namun takdir berkata lain, pernikahan Rosse tidak bertahan lama. Suaminya meninggal di usia muda akibat kecelakaan kapal tragis di perairan luar negeri dua tahun lalu. Tragisnya, jasad sang suami tidak pernah ditemukan sampai hari ini, menyisakan status yang menggantung secara emosional.

Rosse menoleh dan menyadari kehadiran Kevin. Sepasang mata jernihnya sempat melembut selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia memasang kembali topeng ketenangannya.

"Kevin," panggil Rosse dengan suara yang lembut, berjalan mendekat. "Kamu datang untuk menyerahkan berkas pernikahan Anita?"

"Iya, Rosse. Ada beberapa draf pengamanan yang harus ditandatangani oleh Anita secara legal pagi ini," jawab Kevin, nadanya terdengar jauh lebih lembut dibandingkan suara ketatnya saat berbicara dengan Mike di kantor.

Mereka berdua berjalan bersisian menuju ruang tunggu privat yang sunyi. Begitu pintu tertutup, keheningan yang sarat akan ketegangan emosional seketika menyergap mereka. Kevin menatap wajah Rosse, menyadari ada binar lelah di balik mata indah wanita itu.

"Bagaimana kabar Leo?" tanya Kevin, menanyakan kabar putra semata wayang Rosse yang kini baru berusia tiga tahun.

"Leo baik, Kev. Dia baru saja mulai masuk kelas *playgroup* minggu ini," Rosse tersenyum tipis, lalu menunduk, menatap jemarinya yang bertautan di atas meja. "Dia... terus menanyakan ayahnya belakangan ini."

Mendengar kalimat itu, dada Kevin terasa berdenyut sakit. Ia melangkah satu tapak lebih dekat. "Rosse... sampai kapan kamu akan terus mengurung dirimu dalam ketidakpastian ini? Ini sudah dua tahun sejak kecelakaan kapal itu. Tim SAR sudah menutup pencarian sejak lama."

Rosse mendongak, matanya mulai berkaca-kaca menahan emosi. Ia tahu betul bagaimana perasaan Kevin padanya. Pria di depannya ini tidak pernah berpaling ke wanita lain sejak mereka putus, selalu ada di sana sebagai pelindung rahasia saat ia terpuruk kehilangan suami. Rosse pun bohong jika mengatakan tidak ada lagi sisa cinta untuk Kevin di hatinya. Namun, ada sebuah dinding besar yang belum bisa ia runtuhkan.

"Aku tahu, Kevin. Aku tahu suamiku secara logika hukum sudah tiada," bisik Rosse parau, air matanya perlahan menetes. "Tapi kamu tahu sendiri bagaimana mertuaku. Mereka sangat menyayangiku dan Leo, dan mereka sampai hari ini masih bersikeras mempercayai bahwa putra mereka terdampar di suatu tempat dan masih selamat. Aku menghormati mereka, Kev. Aku tidak bisa egois melangkah maju membuka lembaran baru denganmu sementara mertuaku masih menangis setiap malam menanti mukjizat."

Kevin mengepalkan tangannya di samping tubuh, menahan diri dengan sangat kuat untuk tidak menarik Rosse ke dalam pelukannya. Rasa hormat Rosse yang terlampau tinggi pada keluarga mendiang suaminya kini menjadi belenggu tak kasat mata yang menahan cinta mereka untuk kembali bersatu.

"Aku akan menunggumu, Rosse," ucap Kevin dengan nada suara yang teramat mantap, jujur, dan penuh dengan pengorbanan seorang pria dewasa. "Jika dua tahun belum cukup untuk membuat mertuamu mengikhlaskannya, aku akan menunggu dua tahun lagi, atau bahkan sepuluh tahun lagi. Aku tidak akan pernah bergeser dari sampingmu."

Rosse menatap Kevin dengan pandangan yang sarat akan rasa haru sekaligus rasa bersalah yang teramat besar. Di dalam ruang tunggu yang sunyi pagi itu, dua hati yang saling mencintai kembali harus menahan diri dalam diam, terbelenggu oleh takdir masa lalu yang belum sepenuhnya selesai melepaskan cengkeramannya. Dan di luar sana, pusaran konflik baru yang dibawa oleh Rendy serta misteri di balik pernikahan sekretaris Marvel perlahan mulai menjalin benang-benang takdir mereka menuju sebuah badai baru yang tak terelakkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!