Salsa sangat mencintai Arkan, tapi Arkan tidak sama sekali. Dia sudah punya kakasih sebelum menikahi Salsa karena perjodohan.
Ditambah, Salsa adalah wanita yang sombong, jahat, serakah, manja, namun cintanya sangat besar pada Arlan. Selama satu tahun pernikahan, Arlan tidak pernah menyentuh Salsa sama sekali, hingga Salsa menggunakan cara licik agar bisa tidur dengan Arkan.
Arkan semakin murka, dia semakin membenci Salsa karena menjebaknya dan membuat hubungannya dengan kekasihnya semakin berantakan. Hingga Arkan mengusir Salsa dari rumah.
Beberapa tahun berlalu, Arkan bertemu kembali dengan Salsa di jalanan dalam keadaan GILA, namum Salsa bersama dengan seorang gadis kecil yang begitu mirip dengannya.
Ternyata dulu saat dia mengusir Salsa, Salsa sedang hamil. Timbullah penyesalan yang tiada tara dari Arkan dan dalam keadaan gila, Salsa selalu mengatakan....
"Apa salahku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tabir yang tersingkap
"Anda siapa?" Tanya Arkan dengan kening berkerut dalam dan tatapan mata yang dipenuhi rasa penasaran yang teramat besar.
Pria itu mengabaikan kekeliruan kecil dalam hatinya yang berkecamuk, memfokuskan seluruh atensinya pada wanita paruh baya berseragam perawat usang di hadapannya.
Wanita paruh baya itu tidak langsung menjawab. Ia justru melempar pandangan cemas ke kanan dan ke kiri, memerhatikan beberapa perawat lain dan staf administrasi rumah sakit yang mulai berlalu-lalang di koridor lobi.
Tubuhnya tampak gemetar, seolah ketakutan jika pembicaraan mereka terpantau oleh kamera pengawas atau didengar oleh orang-orang suruhan manajemen rumah sakit.
"Bisa kita bicara Tuan? Tapi jangan di sini! Tempat ini terlalu berbahaya" Bisiknya dengan suara yang sengaja diredam, sarat akan permohonan.
Arkan mengerti situasi pelik tersebut. Tempat ini baru saja ia porak-porandakan, dan telinga dinding rumah sakit jiwa ini pasti dipenuhi oleh mata-mata.
"Ikut ke mobil saya!" Ajak Arkan tegas sembari memberikan isyarat kepada Gusti untuk membuka jalan.
Wanita paruh baya itu tampak kembali menoleh, memastikan tidak ada sepasang mata pun yang mengawasi pergerakannya secara mencurigakan.
Setelah merasa aman, ia melangkah dengan cepat, mengekor di belakang tubuh tegap Arkan menuju ke area parkir VIP.
Mereka masuk ke dalam mobil SUV hitam milik Arkan yang berukuran luas. Begitu pintu tertutup rapat dan menyisakan kesunyian yang kedap, Arkan langsung memberikan instruksi kepada sang sopir.
"Jauhkan mobilnya sedikit dari area rumah sakit jiwa ini. Cari tempat yang sepi di pinggir jalan utama!"
"Baik Tuan!" Patuh sang sopir, segera melajukan kendaraan membelah gerbang besi rumah sakit. Setelah menempuh jarak sekitar beberapa ratus meter, mobil berhenti dengan tenang di bawah naungan pohon peneduh yang rindang.
Arkan memutar tubuhnya di kursi tengah, menatap tajam wanita di sampingnya.
"Apa yang Anda ketahui tentang Salsa?" Todong Arkan tanpa ingin membuang waktu sepeser pun.
"Dan kalau boleh saya tahu, Anda siapanya Salsa?"
Wanita paruh baya itu menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya sebelum menjawab,
"Saya dulu bekerja di bangsal isolasi bawah tanah, Tuan. Sebelum saya bertanya lebih jauh, saya ingin memastikan satu hal, Anda siapanya Nyonya Salsa?"
"Saya mantan suaminya" Jawab Arkan dengan nada suara yang mendadak melirih, tersaput oleh kabut penyesalan yang mendalam.
Mendengar pengakuan dari mulut Arkan, wanita paruh baya itu seketika terperanjat. Matanya membelalak lebar, wajahnya memucat, dan tubuhnya refleks bergeser mundur hingga menyentuh pintu mobil.
Sorot matanya yang semula dipenuhi harap kini berubah menjadi kepanikan dan ketakutan yang luar biasa.
"Kenapa Anda terkejut seperti itu?" Arkan mengernyitkan dahi, merasa heran dengan reaksi dramatis yang ditunjukkan oleh perawat tersebut.
"Maaf Tuan, sepertinya saya sudah bicara pada orang yang salah. Saya permisi keluar sekarang!"
Dengan tangan yang gemetar hebat, wanita itu mencoba meraih tuas pembuka pintu mobil, berniat melarikan diri dari sana.
"Tunggu! Apa maksud Anda?!" Arkan dengan cekatan menahan pergelangan tangan wanita itu, mencegahnya pergi. Kebingungan di dalam kepala Arkan kian menumpuk, membuatnya merasa frustrasi.
"Saya datang jauh-jauh ke tempat terkutuk ini untuk mencari informasi akurat tentang mantan istri saya! Siapa yang membawanya ke sini, siapa yang membayarnya, dan apa saja yang terjadi selama dia disekap di dalam sana! Saya tidak sedang main-main dengan Anda, kenapa Anda justru mempermainkan saya seperti ini?!" Arkan tampak geram, urat-urat di lehernya menegang menahan amarah yang kembali tersulut.
Mendengar ketegasan sekaligus keputusasaan yang bergetar di dalam suara Arkan, wanita paruh baya itu menghentikan gerakannya. Ia membalikkan tubuh, lalu memberanikan diri menatap dalam-dalam ke sepasang mata merah milik Arkan, mencoba mencari secercah kejujuran atau kepalsuan di balik manik mata sang pengusaha kaya raya tersebut.
"Anda Tuan Arkan Ferdinan?" Tanyanya, memastikan identitas pria di hadapannya.
"Kalau apa yang Anda katakan itu benar, kenapa sekarang Anda terlihat begitu peduli dan mengkhawatirkan Salsa? Bukankah Anda sendiri yang dulu menandatangani dan menyetujui formulir hitam di atas putih untuk perawatan Salsa di rumah sakit ini? Bukankah Anda juga yang memerintahkan tim dokter untuk menyuntikkan obat-obatan itu agar membuatnya gila seumur hidup?!"
DEG....
Bagaikan dihantam oleh gada besi tepat di dadanya, Arkan terkejut bukan main. Matanya melebar, dan napasnya sempat tertahan selama beberapa detik.
"Siapa... siapa yang mengatakan kebohongan menjijikkan itu?!" Bentak Arkan dengan suara menggelegar, membuat kabin mobil bergetar.
"Aku tidak pernah menandatangani formulir apa pun! Aku tidak pernah memerintahkan orang atau dokter mana pun untuk melakukan kekejaman yang Anda tuduhkan itu! Bahkan saya baru bisa menemukan keberadaan Salsa kemarin, setelah saya dengan bodohnya mengusir dia dari rumah enam tahun yang lalu!"
"Dokter yang mengatakannya Tuan!" Potong wanita itu dengan air mata yang mulai menetes.
"Dokter kepala yang menangani kasusnya selalu mengatakan hal itu berulang kali di hadapan Salsa saat mereka menyiksanya. Mereka sengaja menekankan bahwa semua penderitaan, suntikan, dan kurungan yang diterima Salsa adalah atas perintah mutlak dari Anda, suaminya sendiri!"
BRAAKKK!!!
Arkan memukul sandaran kursi kulit di depannya dengan kepalan tangan yang teramat keras hingga menimbulkan bunyi dentuman yang nyaring.
"Brengsek!!! Nabila, wanita iblis itu ternyata menggunakan namaku untuk menghancurkan mental Salsa!" Raung Arkan dengan napas memburu. Ia meraup wajahnya dengan sangat kasar, mencengkeram rambutnya sendiri hingga berantakan.
Segala teka-teki yang membingungkannya sejak kemarin kini terjawab sudah.
"Pantas saja Salsa begitu histeris dan ketakutan setengah mati setiap kali melihat wajahku atau mendengar suaraku. Dia mengira aku yang telah mengirimnya ke neraka itu" Air mata Arkan kembali menetes, mengalir di sela-sela jarinya yang gemetar.
"Jadi, dulu Salsa menjalani semua siksaan itu dengan keyakinan bahwa aku yang menahannya di sini?"
"Betul, Tuan. Saya juga mendengar sendiri dengan telinga saya, dokter selalu mengatakan itu setiap kali Salsa menangis meminta pulang untuk menemui Anda. Dokter mengatakan kalau Tuan sudah membuangnya, Tuan tidak menginginkannya lagi, Tuan yang menginginkannya gila seumur hidup dan terjebak selamanya di ruang isolasi itu!" Jawab wanita itu, kini nadanya mulai melunak setelah melihat kepedihan yang nyata di wajah Arkan.
Arkan menurunkan tangannya dari wajah, mencoba menguasai diri kembali.
"Lalu, siapa sebenarnya Anda?"
"Saya Weni, Tuan. Saya adalah perawat yang ditugaskan khusus oleh manajemen rumah sakit untuk menjaga, merawat, dan mengawasi Salsa di dalam sel isolasi selama enam bulan waktu itu" Jawab Suster Weni memperkenalkan diri.
"Jadi, Anda tahu persis apa saja yang dialami oleh mantan istri saya selama berada di dalam tempat terkutuk itu?" Tanya Arkan dengan suara yang tercekat di tenggorokan.
"Tentu saja, Tuan. Saya tahu segalanya karena saya yang berada di sana setiap hari. Saya melihat bagaimana dia disiksa secara fisik, dipaksa menelan obat-obatan dosis tinggi yang merusak saraf, dan setiap hari jiwanya dihancurkan dengan selalu ditanamkan kebencian mendalam pada Anda" Cerita Suster Weni dengan suara parau menahan tangis mengingat penderitaan pasien kesayangannya.
Suster Weni menarik napas sedalam-dalamnya sebelum melanjutkan rahasia terbesar yang ia simpan sendiri selama enam tahun ini.
"Bukan hanya itu Tuan, saya juga yang mati-matian menyembunyikan kehamilan Salsa waktu itu dari pemeriksaan rutin. Saya memalsukan data medisnya agar dokter-dokter keji itu tidak mengetahui keberadaan janin di rahimnya. Karena saya sangat yakin, jika sampai mereka tahu Salsa sedang mengandung, mereka pasti akan mencelakai dan membunuh anak di dalam kandungan Salsa atas perintah wanita bernama Nabila itu"
Mendengar penuturan jujur dari Suster Weni, hati Arkan seketika terenyuh hebat. Rasa haru, sedih, dan bersyukur bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya.
Ia menatap Suster Weni dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa terima kasih yang begitu besar, seolah wanita paruh baya di hadapannya ini adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk memperpanjang napas keturunannya.
"Terima kasih banyak, terima kasih banyak, Suster Weni" Ucap Arkan dengan suara bergetar hebat, ia bahkan menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan sang perawat.
"Terima kasih karena Anda sudah sudi menjaga, merawat, dan melindungi Salsa, juga anak kami yang berada di dalam kandungannya saat itu. Jika bukan karena kebaikan hati Anda, saya mungkin tidak akan pernah bisa melihat darah daging saya di dunia ini"
Suster Weni menggelengkan kepala, air matanya kian deras membasahi pipi. Rasa penasarannya yang dipendam selama enam tahun kini membuncah.
"Lalu, bagaimana kabar anak kalian sekarang, Tuan? Dia terlahir sebagai anak laki-laki atau perempuan? Apa dia tumbuh dengan sehat? Dia tidak mengalami cacat fisik atau mental, kan? Mengingat zat kimia dari obat-obatan yang sempat masuk ke tubuh Salsa...." Suster Weni mencecar Arkan dengan rentetan pertanyaan, mencerminkan ketulusan hatinya yang begitu mengkhawatirkan nasib janin yang dulu ia lindungi.
"Dia sehat, sangat sehat Suster" Cerita Arkan, sebuah senyuman getir namun penuh kebanggaan terukir di bibirnya, sementara air mata yang setia membasahi pipinya belum juga mengering.
"Dia sekarang sudah berusia lima tahun. Dia tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang sangat cantik, manis, dan begitu kuat. Jiwanya sekeras batu karang. Dia bukan hanya sehat, tapi dia juga tumbuh menjadi sosok malaikat pelindung yang sesungguhnya bagi ibunya"
Arkan kemudian merogoh saku jasnya, mengambil ponsel miliknya dan membuka menu galeri foto. Ia menunjukkan sebuah foto yang diambilnya secara diam-diam kemarin sore dari balik celah pintu kamar, sebuah foto yang menampilkan Salsa dan seorang anak perempuan yang sedang duduk berdampingan dengan rambut basah sehabis mandi, keduanya mengenakan pakaian yang bersih.
"Namanya Ayu" Kata Arkan dengan suara parau yang sarat akan rasa cinta.
Suster Weni yang melihat foto tersebut seketika tak kuasa menahan tangis kebahagiaannya. Ia membekap mulutnya sendiri, menatap wajah mungil Ayu yang tampak begitu jelita dan utuh tanpa kekurangan suatu apa pun.
"Ya Tuhan, syukurlah mereka berdua baik-baik saja dan selamat. Saya sempat berpikir dan dihantui ketakutan selama bertahun-tahun ini bahwa Salsa dan bayinya tidak akan pernah bisa bertahan hidup di dunia luar yang kejam dalam keadaan mental yang hancur seperti itu..."
"Mereka berdua sangat kuat, Suster. Mereka bisa bertahan hidup melawan kerasnya jalanan sampai akhirnya kemarin Tuhan berbaik hati mempertemukan saya kembali dengan mereka di pinggir jalan" Sahut Arkan, suaranya kembali memberat oleh rasa bersalah yang tak berkesudahan.
Suster Weni menghapus air matanya, lalu menatap Arkan dengan tatapan penuh penyesalan yang mendalam.
"Andai saja dulu saya memiliki keberanian yang lebih besar untuk membantu Salsa pergi dan melarikan diri lebih cepat dari tempat itu, tanpa harus menunggu sampai enam bulan lamanya, saya yakin, pasti keadaan mental dan saraf Salsa tidak akan separah dan sehancur sekarang ini Tuan"
Mendengar penuturan kalimat terakhir dari Suster Weni, pandangan mata Arkan seketika menajam. Kalimat itu bagaikan sebuah kunci pembuka dari misteri kebakaran yang sempat disebutkan oleh dokter di dalam ruang interogasi tadi.
"Jadi, Suster yang membantu salsa keluar dari sana?"
Arkan memajukan tubuhnya, menatap lekat-lekat ke arah sepasang mata Suster Weni yang masih basah.
Arkan tambah menyesal dan merasa bersalah, semua penderitaan salsa arkan penyebabnya...akhirnya kebenarannya terungkap semua...
arkan dulu gak mau mendengarkan ayahnya mau menjelaskan kebenarannya, hidupmu penuh penyesalan dan merasa bersalah sama salsa dan ayu, wajar salsa dan ayu membencimu arkan...
ayu menatap arkan penuh kebencian dan selalu waspada, itu resiko yg harus kamu terima arkan....
kedua orgtuamu aja sangat marah dan kecewa, arkan jadi penyebab salsa gangguan mental...
sebaiknya jangan saling menyalahkan semua sudah terjadi sudah takdir, cari solusi dan jalan keluarnya carikan dokter terbaik, agar salsa biar sembuh dan pulih lagi...
pasti masih ada harapan salsa sembuh, salsa dan ayu tinggal aja sama orgtuanya arkan...
salsa dan ayu tinggal sama arkan kurang nyaman dan salsa selalu ketakutan sama arkan....
mampus kau arkan...rasain kan, ngaku pintar tapi oooooonnnnnnnnnnn, setelah tau rahasia sebenarnya makin dalamlah itu penyesalanmu, makanya jangan jadi orang bucin....bucin sich boleh tapi jangan 100 % ma manusia. rasain lah kau arkan....
pusing pusinglah kau sendiri bagaimana cara mencari cara menyembuhkan salsa...sekarang tugasmu lagi itu. mbake update lagi dong 🤣🤣
apakah aku aja, atau kalian juga gak? kalo udah suka sama suatu cerita aku pasti terus penasaran sampe kepikiran pengen terus lanjut sampai endnya
wajar ayu sangat membencimu arkan, karena kamu penyebab ibunya sangat menderita sampai gangguan jiwa dan depresi, salsa dan ayu sangat menderita hidupnya...
Arkan sabar meluluhkan hatinya ayu, gercap arkan cari dokter yg terbaik menyembuhkan salsa, dan dibantu suster weni merawat dan menjaga salsa...
Kamu jangan samapai kelihatan lemah arkan didepan salsa dan ayu berusaha kuat, tunjukan ketulusanmu dan niat baik pasti salsa dan ayu akan luluh hatinya dan menerimamu kembali....
semua butuh proses arkan pelan-pelan dekat salsa dan ayu, ditolak terus
jangan sampai menyerah pasti salsa dan ayu memaafkanmu lama-lama arkan....
salsa sangat tulus mencintaimu arkan, mungkin caranya salah ingin memilikimu sampai menjebakmu pake obat perangsang sampai tidur bareng...
kamu sangat kasar tega sekali mengusir salsa, semua penderitaan salsa dimulai...
kamu lebih percaya wanita rubah itu arkan, penuh tipu daya nabila sok polos dan lugu....