Ditinggal pergi oleh suami tercinta tanpa kabar berita, Rania terpaksa memikul seluruh beban rumah tangga sendirian. Di tengah keterbatasan dan rasa sepi yang menghimpit, ia menemukan kekuatan yang tak pernah ia tahu dimilikinya. Demi masa depan Dika dan Naya, Rania belajar menjadi wanita yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, ketabahan, dan kebangkitan seorang ibu yang menolak menyerah pada nasib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan tak terduga ditengah keramaian
Pagi itu, suasana di rumah Rania terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada suara pengadukan bumbu, tidak ada bau minyak panas, dan tidak ada tumpahan tepung dimana-mana. Sehari sebelumnya, Rania sudah memutuskan bahwa warungnya akan libur total. Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu: mereka berempat—Rania, Dika, Naya, dan Mbak Siti—akan berangkat berlibur ke Yogyakarta sesuai janji yang diucapkan Rania kepada Dika.
Supaya perjalanan lebih nyaman dan aman, Rania memutuskan untuk menyewa mobil beserta sopirnya sekaligus. Alasannya sederhana: sejujurnya ia tidak terlalu hafal rute jalan menuju kota pelajar itu, apalagi harus sampai ke lokasi wisata. "Lebih baik begini, biar kita semua bisa santai dan tidak bingung di jalan," pikir Rania.
Perjalanan dimulai pagi-pagi sekali. Dari Solo menuju Yogyakarta, lalu melanjutkan perjalanan sekitar 1,5 hingga 2 jam lagi menuju Pantai Parangtritis. Total perjalanan memakan waktu sekitar 3-4 jam, namun tidak terasa melelahkan karena suasana di dalam mobil sangat ceria. Dika dan Naya sibuk melihat pemandangan di luar jendela, sesekali bertanya ini-itu, sementara Mbak Siti menemani mereka bercanda.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil berhenti di area parkir Pantai Parangtritis. Suara deburan ombak yang keras langsung menyapa telinga mereka, diikuti angin segar yang menerpa wajah.
Bagi Naya yang baru berusia tiga tahun dan pertama kali melihat laut, pemandangan itu sungguh luar biasa. Matanya yang bulat terbelalak lebar melihat hamparan pasir luas dan air laut yang membentang sampai ke ujung cakrawala.
Tanpa bisa menahan rasa penasarannya, Naya segera menarik tangan ibunya dengan kuat, langkahnya kecil namun cepat. "Ayo Bu! Ayo Bu! Cepetan!" serunya tidak sabar, lidahnya masih sedikit cadel khas anak seusianya.
Rania tersenyum melihat tingkah putrinya itu. "Iya, sayang. Kita ganti baju dulu ya, biar nyaman main airnya."
Mereka berjalan menuju kamar mandi yang tersedia. Rania menemani Naya berganti pakaian, sementara Dika juga berganti baju dengan bantuan Mbak Siti. Setelah semuanya siap, mereka berjalan menuju tepi pantai. Mbak Siti memilih untuk duduk di atas tikar yang dibentangkan di pinggir, mengawasi barang bawaan sambil sesekali tersenyum melihat kegembiraan mereka.
Begitu sampai di pinggir air, kegembiraan Dika dan Naya meledak. Mereka berlarian di atas pasir yang hangat, lalu segera mendekati air laut yang surut. Suara tawa renyah keduanya terdengar keras tertiup angin. Mereka saling mencipratkan air satu sama lain, terkadang berteriak kegirangan ketika ombak kecil menyapu kaki mereka. Dika berusaha memegang tangan adiknya agar tidak terbawa arus, sementara Naya tertawa lepas meski airnya kadang membasahi wajahnya.
Rania berdiri tidak jauh dari mereka, sesekali memanggil agar berhati-hati. Namun matanya tak lepas memandangi kedua anaknya. Di saat itulah ia merasa menjadi ibu paling bahagia di dunia. Semua beban berat, rasa lelah bekerja sendirian, dan rasa sakit hati karena kepergian suaminya seolah lenyap seketika hanya dengan melihat senyum dan tawa Dika serta Naya.
Mereka bermain selama beberapa jam sampai matahari mulai terasa semakin tinggi dan kulit mereka terasa sedikit perih. Dika mendekati ibunya sambil mengusap keringat di dahi. "Bu, haus. Mau minum air kelapa muda boleh?" pinta Dika.
"Boleh, Nak. Kita istirahat sebentar ya," jawab Rania.
Mereka pun kembali ke tempat duduk Mbak Siti. Seorang penjual kelapa muda lewat, dan Rania memesan empat buah. Kesegaran air kelapa terasa sangat nikmat melepas dahaga dan penat setelah bermain di bawah terik matahari.
Setelah merasa cukup istirahat dan melihat anak-anak mulai terlihat lelah, Rania memutuskan untuk segera berganti pakaian. Mereka berjalan kembali ke kamar mandi, membersihkan sisa pasir yang menempel di kulit dan rambut, lalu mengenakan pakaian yang lebih sopan dan nyaman untuk melanjutkan perjalanan.
Mereka kembali ke mobil, dan Rania berkata sopir dengan ramah, "Pak, boleh kita mampir sebentar ke Malioboro? Sekarang sudah hampir jam makan siang, kita mau cari tempat makan dan jalan-jalan sebentar di sana."
"Siap, Bu. Perjalanannya sekitar 45 menit dari sini," jawab sopir.
Sesampainya di kawasan Malioboro, suasana terasa sangat ramai. Jalanan dipenuhi pejalan kaki, pedagang, dan kendaraan. Mobil diparkirkan di area yang agak agak sepi, lalu mereka berjalan kaki mencari rumah makan yang bersih dan nyaman.
Di waktu yang hampir bersamaan, tidak jauh dari tempat mereka berjalan, terlihat sosok Bara. Pria itu berjalan santai berdampingan dengan seorang wanita yang tampak manja dan anggun, yaitu Ratih. Di depan mereka, digendong seorang balita berusia sekitar satu tahun.
Anak itu adalah buah hati mereka, sedangkan anak bawaan Ratih yang sebelumnya sempat tinggal bersama Bara, kini sudah memutuskan untuk kembali dan tinggal bersama ayah kandungnya sendiri.
Bara berjalan dengan santai, sesekali tersenyum mendengar ucapan Ratih, seolah tidak ada beban hidup yang membebani. Mereka tampak seperti keluarga bahagia yang sedang menikmati liburan.
Namun, langkah kaki mereka tiba-tiba terhenti. Mata Bara menangkap sosok yang tidak asing di keramaian itu. Rania. Wanita yang telah ia tinggalkan tanpa pesan dan kepastian, yang ia biarkan berjuang sendirian membesarkan anak-anak mereka.
Di samping Rania berdiri Dika yang sudah agak besar, Naya yang sedang digandeng tangan ibunya, dan juga Mbak Siti.
Di sisi lain, Rania juga melihat mereka. Pandangannya tertuju tepat pada sosok suaminya yang telah lama hilang, berjalan beriringan dengan wanita lain sambil menggendong seorang anak kecil. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
Tubuhnya terasa kaku, dan napasnya tertahan. Ini adalah pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan: suaminya yang pergi tanpa kabar, ternyata hidup bahagia bersama wanita lain dan memiliki anak.
Suasana di antara mereka seolah menjadi sunyi meski di tengah keramaian jalanan Malioboro. Mereka saling berpandangan. Mata Bara memancarkan rasa terkejut yang luar biasa, wajahnya memucat.
Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Rania dan anak-anaknya di tempat yang sama. Ia ingin berkata sesuatu, ingin mendekat, namun lidahnya terasa kelu.
Rania menatap Bara dengan tatapan yang sulit diartikan—bukan amarah yang meledak, bukan pula tangisan. Hanya tatapan datar, dingin, dan penuh ketegaran.
Ia juga melirik sekilas ke arah Ratih dan bayi yang digendongnya, namun tidak ada ekspresi yang tergambar jelas di wajahnya.
Beberapa detik berlalu yang terasa sangat lama. Kemudian, perlahan namun pasti, Rania memutuskan untuk memutus kontak matanya dengan Bara.
Ia menoleh kembali ke arah Dika yang menatapnya bingung, tidak mengerti kenapa ibunya tiba-tiba berhenti dan diam.
Dengan suara yang tenang dan stabil, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi, Rania bertanya kepada Dika, "Nak, apakah kamu sudah siap untuk makan? Atau mau mampir ke toko oleh-oleh sebentar dulu, atau kita langsung pulang saja?"
Suara itu terdengar wajar, seolah ia tidak melihat sosok Bara dan wanita yang bersamanya. Ia memilih untuk mengabaikan keberadaan mereka, memprioritaskan ketenangan anak-anaknya dan harga dirinya sendiri, daripada memulai keributan di tempat umum.
Dika yang merasa ada yang aneh namun tidak paham sepenuhnya, menjawab pelan, "Mau makan dulu, Bu. Lapar."
"Baiklah, ayo kita cari tempat makan yang nyaman," jawab Rania sambil kembali menggenggam tangan Naya erat-erat, lalu berjalan melanjutkan langkahnya melewati tempat berdiri Bara dan Ratih, seolah mereka hanyalah orang asing yang lewat di jalan.
Bara masih terpaku di tempatnya, menatap punggung Rania yang menjauh, diselimuti rasa bersalah dan kebingungan yang mendalam.