Rivera Briar Edwina seorang siswa yang mengalami kecelakaan akibat tertabrak mobil dan jiwanya berpindah ke tubuh Aluna Effie Alfred seorang istri yang sangat dibenci oleh suaminya aiden Cristian edgar karena adiknya kecelakaan akibat tertabrak oleh mobil yang ditumpangi aluna. Tidak hanya itu aluna bahkan anak yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari keluarga kandungnya dan menyalahkan aluna yang menyebabkan kecelakaan dan meninggal ibu aluna semenjak ayahnya menikah lagi dan membawa anak tirinya hubungannya dengan keluarga tidak pernah baik. Akankah vera yang menjadi aluna bisa melewatinya, atau memilih untuk menyerah atau akankah aluna akan mencari kasus kecelakaannya?
episode 31
Dengkuran halus dari nafas aluna terdengar oleh aiden, sebenarnya aiden tidak benar benar tidur kini aiden menatap aluna yang sudah tertidur nyenyak, lama aiden menatap aluna seolah olah dia sedang merekam wajah tidur aluna sambil sesekali tersenyum, wajah aiden turun dan mencium keningnya aluna lama. Setelah itu dirinya pun ikut tertidur dan memeluk aluna erat. Aiden menghirup aroma aluna.
❛ ━━━━━━・❪ ❁ ❫ ・━━━━━━ ❜
Pagi kini mereka sudah berkumpul di meja makan, kini aluna kembali menatap aiden yang sibuk dengan Machbook hal itu disadari oleh lucas yang duduk didepan aluna.
"Ptess.." panggil lucas aluna menoleh, lucas menggerakkan alisnya seolah bertanya ada apa dengan aiden. Aluna menggeleng
"Ada apa? " tanya aiden yang masih memperhatikan Machbooknya tanpa melihat kearah aluna.
"Ehm.. Anu.. " aluna binggung.
"biasa saja" jawab aiden dan diangguki lucas.
"Itu...apa lo udah punya anak dengan lalu? "tanya aluna sempontan lucas tersedak air saat minum air aiden langsung menatap tajam kearah aluna.
Uhuk
Uhuk..
" lun... "Kaget lucas, menatap aluna.
" gue cuman penasaran aja"jawab aluna membenarkan diri.
"Karena aiden pernah begitu begituan didepan gue" lirih aluna kini giliran lucas melihat kearah aiden.
"Parah lo den, bisa bisa lo main begituan didepan istri sendiri, lo tidak menghargai aluna den" ucap lucas nadanya naik satu oktaf, kini aiden menatap lucas, lucas tidak peduli jika dia dicaci maki. Lucas cuman tidak habis pikir dengan tindakan aiden.
"Kenapa lo bentak gue? " ucap balik aiden dengan nada naik satu oktaf.
"Gue cuman tidak habis pikir sama tindakan lo, nyakitin aluna sampai segitunya lo itu suami den, dia istri lo kalian bukan orang asing yang hanya tinggal satu rumah" sesal lucas.
"Gue mau apa itu terserah gue dan tidak usah ikut campur" bentak aiden.
"Tapi cara lo salah" bentak lucas baru kali ini lucas membentak aiden dengan keras biasanya lucas hanya diam saja.
"Gue tidak butuh cara dari lo" bentak aiden.
"Gue cuma mau lo itu hargai aluna sebagai istri lo bukan sebagai simpanan lo, gue tahu gue tidak berhak ikut campur tapi gue cuma mau lo sebagai sahabat gue tidak menyakiti hati seorang wanita karena gue tahu bagaimana rasanya dan itu sudah pernah dialami oleh ibu gue sendiri" ucap lucas langsung pergi dari sana. perdebatan itu membuat suasana yang seharusnya tentram dan damai kini menjadi penuh dengan emosi. Kini aiden melihat kearah aluna yang lebih tampak tenang dari pada meraka berdua tadi.
"Puas lo dibelain sama pria lain, didepan suami lo sendiri" bentak aiden menggebrak meja dan ikutan pergi. Hal itu membuat aluna terkejut bukan main. Aluna menatap tajam kearah aiden yang mulai menghilang.
Brak...
Kini aluna juga ikutan menggebrak meja. Moodnya benar benar hancur gara gara tingkah dua pria.
"Ha.. Mood gue benar-benar hancur gara mereka berdua, bicara salah tidak bicara juga salah dasar dua manusia yang aneh sama sama aneh" aluna greget sendiri dia mengambil tisu diatas meja mengelap mulutnya dengan kasar lalu membuang tisu itu diatas meja dan mengambil tasnya dan berangkat. sampai di depan vila dirinya baru teringat dirinya harus naik apa?
Lama aluna berdiri sambil bersedekap dada disana sampai seorang pelayan menghampirinya.
"Maaf nyonya anda mau kemana?" tanya pelayan.
"Nah pertanyaan bagus saya juga tidak tahu harus kemana" seru aluna melihat kearah pelayan yang membuat pelayan itu mengerutkan keningnya. aluna pun menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Sudahlah aku mau jalan jalan karena tidak tahu harus kemana yang penting jalan." jawab aluna.
"tapi nyonya... " belum siap pelayan itu berbicara aluna pergi begitu saja hingga membuat pelayan itu geleng geleng kepala.
Sudah lama aluna keluar kini dia sudah sampai di sebuah gedung yang masih dibangun setengah jadi. Dan secara tiba-tiba bahu aluna ada yang senggol yang membuat secara reflek aluna mencengkeram dan melintir tangan itu
"mampus lo, mati lo, patah tulang lo kan? " geram aluna makin mengeratkan cengkeramannya.
"Ah.. Ah.. Sakit" aluna yang mendengar suara itu pun terkejut. dia melihat orang itu
𝙢𝙖𝙢𝙥𝙪𝙨 𝙜𝙪𝙚 batin aluna
"Pak ramen" kaget aluna karena yang menepuk bahunya adalah reymond dan disana juga ada Lincoln sang asisten, aluna masih mencengkram reymond melihat itu sang asisten merasa linu linu lengannya.
"Ah.. I-iya" jawab reymond yang menahan rasa sakit pada lengannya.
"Ah.. Maaf aduh lupa mau lepaskan" jawab cepat aluna segera melepaskan tangan reymond, dan reymond membalas dengan senyuman. Reymond memutar lengannya yang terasa sakit, hal itu membuat aluna melihat kearah reymond dengan tatap bersalah.
"Sakit ya.. " seru aluna, reymond melihat kearah aluna yang menatap seperti orang yang bersalah sebenarnya emang bersalah sih?
"Tidak ini nanti juga baikan" geleng reymond.
"ah, kenapa ke sini, apa tidak bareng dengan pak lucas dan pak aiden? "Tanya reymond karena baru aluna.
" itu, tadi saya ketiduran karena terlalu lelah jadi ditinggal deh sama mereka berdua "jawab aluna sambil menggaruk garuk kepada yang tidak gatal. Dan reymond percaya percaya saja. Aluna melihat kearah Lincoln
"Apa kabar tuan silikon? " sapa aluna yang membuat Lincoln melotot menurutnya namanya itu nama yang sangat bagus dan jadi jelek ketika aluna menyebutkan silikon. Masa iya dirinya harus disamakan sama silikon?
Lincoln menatap aluna lalu tersenyum lebar selebarnya. Hal itu membuat aluna heran bahkan dia memiringkan wajahnya yang membuat aluna imut bak anak remaja
"Maaf nona aluna nama saya Lincoln bukan silikon ingat LINCOLN" ucap Lincoln sampai menyebut huruf namanya satu persatu.
"Ah tuan lin coln" jawab aluna memisahkan lin dan colnnya bahkan yang membuat Lincoln harus menahan diri. Dirinya hanya tersenyum paksa itu lebih baik dari pada dibilang silikon.
"Ternyata nona aluna punya kekuatan yang luar biasa ya" Lincoln berusaha mengalihkan topik agar tidak terbawa bawa lagi namannya.
"Ah biasa saja" jawab aluna malu malu.
"Oh, apa nona aluna mau survei tempat ini? " tanya reymond.
"Tidak saya hanya jalan jalan saja, saya bukan tipe orang yang pekerja keras ya... Bisa dibilang walaupun orang tua saya pekerja keras dan suami saya yang gila kerja itu. tapi saya tidak termasuk dalam golongan itu. saya golongan orang pemalas " jawab aluna jujur, yang membuat reymond terkekeh, lucu, melihatnya belum ada orang yang berbicara terang terangan membicarakan soal jati dirinya.
"Baiklah kalau begitu bagaimana kita makan siang? " tawar reymond, aluna mendengar itu menggaruk tekuknya lalu tersenyum cengir.
"Maaf yang pak ramen.. "
"Ptss.. " Lincoln menahan tawanya saat mendengar nama bosnya itu, hal itu membuat aluna berhenti bicara.
"Ah, maaf lanjutkan" ucap Lincoln yang baru saja tersadar.
"Anu.. Itu... Bukan saya nolak ajakan bapak tapi saya tidak punya uang untuk makan diluar lagi hemat soalnya, jadi saya merasa tidak enak" jawab aluna ragu ragu.
"Ah, soal itu kamu tenang saja saya yang terakhir hari ini" seru reymond yang membuat aluna senang.
"Haha...baik saya terima niat baik bapak tidak baik juga menolak rejeki yang baru datang" jawab aluna.
"Ayo kita berangkat"ucap reymond diangguki oleh Lincoln dan aluna.
Mereka bertiga pun berangkat menuju restoran untuk makan siang bersama, entahlah ini sekertaris siapa dan aluna pun ikut siapa, benar benar aneh.