Ketika banyak wanita yang membuangku sistem Harem ku aktiv dan siap untuk membuat mereka yang membuangku menyesal.. !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karensi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Gue berjalan santai kembali menuju meja makan di sudut restoran premium itu. Sisa aura ketegangan di lorong belakang tadi langsung hilang dari wajah gue. Begitu gue duduk di kursi sofa empuk depan Bu Diana, pesanan daging steak premium kami rupanya sudah tersaji rapi di atas meja. Aromanya beneran wangi banget memanjakan hidung.
"Kamu kok lama banget di toilet Raka. Aku sampai hampir mau nyusul kamu ke belakang tadi," ucap Bu Diana sambil memotong sedikit daging steak di piringnya. Tatapan matanya yang tadi dingin sekarang terlihat sangat teduh dan penuh perhatian ke arah gue.
"Maaf ya Diana. Perut gue agak kurang bersahabat tadi makanya jadi lumayan lama di dalam. Yuk kita langsung makan aja sekarang selagi dagingnya masih panas begini," jawab gue sambil tersenyum tenang menutupi kejadian penumpasan manajer mesum tadi.
"Iya ayo makan Raka. Kamu harus makan yang banyak ya hari ini biar stamina kamu cepat pulih total," balas Diana dengan nada suara yang sangat manja sambil menyuapkan sepotong daging kecil ke arah mulut gue.
Gue menyambut suapan mesra dari dosen cantik gue itu dengan senang hati. Rasa daging wagyunya beneran luar biasa empuk meleleh di dalam mulut. Kami menghabiskan waktu makan siang itu dengan penuh tawa dan obrolan romantis berdua saja. Efek Manipulasi Pikiran Level Dua membuat Diana benar benar melupakan status dosennya dan murni bertingkah seperti cewek kasmaran biasa yang sangat memuja kekasihnya.
Setelah selesai makan dan membayar semua tagihan yang angkanya cukup fantastis, Diana langsung menggandeng erat lengan kanan gue menuju pintu keluar restoran. Kami berjalan melewati lobby utama yang mewah itu dengan langkah tegap berwibawa. Namun, saat kami baru saja melangkah keluar menuju area parkiran mobil luar yang luas, tiba tiba terdengar suara panggilan cewek yang sangat lembut memanggil nama gue dari arah samping pos satpam.
"Kak Raka. Tunggu sebentar Kak," teriak suara cewek itu dengan nada agak terengah engah seperti habis berlari kecil.
Gue dan Bu Diana langsung menghentikan langkah kaki kami serentak. Kami menoleh ke arah sumber suara tersebut. Di sana berdiri Clara, pelayan imut yang baru saja gue selamatkan di lorong belakang tadi. Penampilannya sekarang sudah berubah drastis karena dia sudah berganti pakaian biasa setelah jam kerjanya selesai. Clara memakai kaos oversized warna merah muda dipadu celana kulot putih yang membuat tubuh mungilnya kelihatan sangat menggemaskan mirip karakter anime jepang.
Di kedua tangan mungilnya, Clara terlihat sedang memegang erat sebuah kotak bekal makanan plastik berwarna kuning yang diikat pita kain rapi. Wajah imutnya tampak memerah merona hebat karena malu dan gugup saat berjalan mendekat ke arah posisi kami berdua berdiri.
Langkah kaki Clara mendadak melambat ketika matanya melihat lengan kanan gue sedang digandeng sangat erat oleh Bu Diana. Ada raut wajah terkejut dan sedikit kecewa yang melintas di sepasang mata bulat indahnya yang polos itu.
"Clara. Lu ngapain ada di parkiran luar sini. Bukannya lu harusnya masih bertugas di dalam restoran tadi," tanya gue dengan nada ramah membuka percakapan agar suasana tidak mendadak kaku.
Clara meremas pelan kotak bekal di tangannya, berusaha mengumpulkan keberanian di depan tatapan mata tajam Bu Diana yang mulai menyelidik curiga.
"Shift kerja siang saya sudah selesai dua menit yang lalu Kak Raka. Saya sengaja buru buru lari ke parkiran sini karena takut Kak Raka sudah pulang duluan dari restoran ini," jawab Clara dengan suara yang agak bergetar pelan karena gugup luar biasa.
Bu Diana yang ada di sebelah gue langsung merapatkan posisi tubuh indahnya menempel pada lengan gue. Tatapan mata dosen galak ini mendadak berubah menjadi sangat dingin setajam silet menatap Clara dari atas sampai bawah. Aura kecemburuan seorang wanita dewasa langsung memancar kuat dari tubuh Diana.
"Raka. Siapa cewek pelayan ini. Dan ada urusan penting apa dia sampai nekat mengejar kamu sampai ke parkiran luar restoran seperti ini," tanya Bu Diana dengan nada suara yang sengaja ditinggikan, sangat ketus dan penuh dengan penekanan di setiap kata.
Gue menelan ludah pelan merasakan atmosfer udara di sekitar parkiran ini mendadak berubah menjadi sangat panas dan mencekam akibat persaingan dua cewek cantik ini.
"Oh ini namanya Clara Diana. Dia pelayan yang tadi kebetulan melayani area toilet belakang waktu gue ke sana. Tadi ada sedikit masalah teknis di lorong belakang dan gue cuma bantu menyelesaikan masalah itu saja kok," jelas gue mencoba bermain cantik memberikan alasan diplomatis agar Diana tidak cemburu berlebihan.
Clara tidak mempedulikan wajah ketus Bu Diana. Rasa utang budi besarnya kepada gue membuat dia mengabaikan rasa takutnya pada dosen berkharisma tinggi itu. Clara melangkah maju satu langkah tepat di depan gue lalu menyodorkan kotak bekal kuningnya ke arah dada gue.
"Kak Raka, ini ada sedikit kue kering buatan rumah yang saya bikin sendiri tadi malam di kosan. Tolong Kak Raka terima ya Kak. Ini murni sebagai bentuk rasa terima kasih saya yang sangat besar karena Kakak sudah menyelamatkan hidup dan harga diri saya di dalam lorong tadi," ucap Clara dengan pandangan mata yang sangat penuh damba menatap wajah gue. Pipi imutnya makin memerah merah padam menahan rasa malu yang luar biasa ganda.
Gue tersenyum ramah lalu menerima kotak bekal kuning itu dari tangan mungilnya. "Wah makasih banyak ya Clara. Lu repot repot banget sampai ngasih ginian segala ke gue. Pasti kue buatan lu ini rasanya enak banget."
"Sama sama Kak Raka. Saya senang sekali kalau Kak Raka suka sama kuenya," balas Clara langsung tersenyum sangat manis menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi bikin hati cowok mana pun pasti bergetar melihat keimutannya.
Clara kemudian merogoh kantong celana kulot putihnya dan mengeluarkan sebuah ponsel kecil miliknya. Dia menatap gue dengan tatapan memohon yang sangat manja.
"Anu, kalau boleh saya boleh minta nomor WhatsApp pribadi Kak Raka nggak Kak. Biar nanti kalau saya mau mengembalikan barang atau mau ngasih makanan buatan rumah lagi saya bisa gampang menghubungi nomor Kak Raka langsung," tanya Clara dengan nada suara yang sangat halus memohon penuh harap.
Belum sempat gue menjawab ucapan Clara, Bu Diana langsung memotong pembicaraan dengan sangat cepat dan tegas. Genggaman tangannya di lengan gue semakin mengencang kuat seolah ingin menegaskan status kepemilikannya atas diri gue di depan cewek imut itu.
"Maaf ya cewek kecil. Raka ini orangnya sangat sibuk sekali dengan urusan kuliah tingkat akhir di kampus. Dia tidak punya waktu luang buat melayani pesan teks tidak penting dari orang luar restoran seperti kamu. Jadi mending kamu simpan saja ponsel kamu itu dan pulang ke kosan kamu sekarang juga," ucap Bu Diana dengan nada ketus yang sangat menusuk hati, matanya melotot tajam mengusir Clara secara halus.
Clara langsung menundukkan wajah imutnya ke bawah dengan raut wajah yang sangat sedih dan kecewa mendengar ucapan ketat dari Bu Diana. Air matanya hampir saja menetes lagi karena merasa impiannya untuk dekat dengan sang pahlawan langsung dihancurkan begitu saja.
Gue yang melihat hal itu tentu saja tidak tinggal diam. Gue tidak boleh membiarkan poin kasih sayang Clara yang sudah di angka tujuh puluh lima persen drop jatuh begitu saja gara gara kecemburuan Diana. Gue harus mengambil kendali penuh permainan harem ini sekarang juga memakai kekuatan sistem gue.
Gue memegang lembut tangan kanan Bu Diana yang sedang menggenggam lengan gue, mengusap punggung tangannya pelan untuk menurunkan emosi cemburunya memakai sedikit sisa energi Keahlian Mata Pemikat Level Satu secara pasif.
"Diana, lu jangan ketus begitu dong sama anak orang. Clara ini cuma mau berteman dan ngasih bentuk terima kasih yang tulus sama gue kok. Nggak ada salahnya juga kan kalau gue kasih nomor ponsel gue buat jaga hubungan pertemanan yang baik," ucap gue dengan nada suara bariton rendah yang sangat tenang namun penuh dengan ketegasan seorang pria sejati yang tidak bisa dibantah.
Bu Diana langsung terbungkam kaku merasakan getaran kharisma tinggi dari ucapan gue. Wajah ketusnya perlahan melunak kembali, egonya yang tinggi langsung tunduk patuh di bawah kendali pesona gue. Dia cuma bisa cemberut manja sambil membuang muka ke arah lain menahan rasa cemburu gengsinya yang luar biasa besar.
Gue beralih menatap Clara yang masih menunduk sedih. Gue mengambil ponsel kecil dari tangan mungilnya dengan lembut, membuat Clara langsung mendongak kaget menatap wajah gue dengan mata bulat indahnya yang berkaca kaca.
"Sini ponsel lu Clara. Biar gue sendiri yang ketik nomor WhatsApp pribadi gue di dalam sini," ucap gue tersenyum sangat ramah menenangkan hatinya yang sempat hancur tadi.
Gue mengetik dengan cepat nomor ponsel gue di aplikasi kontak miliknya lalu mengembalikan ponsel itu ke dalam genggaman tangan hangat Clara. "Nah itu nomor pribadi gue udah masuk di dalam ponsel lu Clara. Nanti malam kalau lu udah santai di kosan lu boleh langsung kirim pesan teks ke gue ya. Gue pasti bakal balas pesan dari lu kok."
Wajah Clara yang tadinya sedih langsung berubah drastis menjadi sangat gembira cerah benderang dalam sekejap mata. Senyum manisnya kembali mengembang lebar merajai wajah imutnya. Tingkat kasih sayang di layar hologram atas kepalanya langsung berkedip cepat naik lagi lima persen menembus angka delapan puluh persen genap siang ini.
"Terima kasih banyak ya Kak Raka. Kakak beneran pria paling baik dan paling hebat yang pernah saya temui seumur hidup saya. Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya Kak Raka. Sampai ketemu lagi nanti malam di WhatsApp Kak," ucap Clara dengan suara yang sangat ceria penuh nada manja gembira. Dia membungkukkan badannya sopan ke arah gue lalu berjalan pergi dengan langkah riang melambaikan tangannya berulang kali menuju halte bus terdekat.
Gue melambaikan tangan balas lambaiannya sambil terus tersenyum puas melihat keberhasilan gue mengamankan target harem ketiga gue siang ini. Setelah sosok Clara hilang di balik tikungan jalan luar, gue kembali menoleh menatap Bu Diana yang sekarang sedang berdiri melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah cemberut dipasang seketat mungkin menuntut penjelasan lebih dari gue.
"Raka. Kamu jahat banget ya. Kamu sengaja kan mau bikin aku cemburu setengah mati di depan cewek pelayan imut itu tadi," ucap Bu Diana dengan nada suara yang sangat manja sekaligus kesal menatap mata gue dengan tatapan menuduh.
Gue langsung tertawa pelan melihat tingkat keimutan dosen galak ini kalau lagi mode cemburu buta seperti ini. Gue merangkul pinggang rampingnya dengan tangan kiri gue menarik tubuh indahnya merapat tanpa peduli situasi parkiran restoran yang mulai ramai orang lewat.
"Lu cemburu ya Diana. Padahal lu tahu persis kalau hati gue siang ini udah lu kuasai penuh di dalam ruang kerja lu tadi. Cewek imut kayak Clara itu nggak bakal bisa menggeser posisi anggun lu di mata gue kok," bisik gue tepat di depan bibir merahnya membuat seluruh pertahanan cemburu Diana langsung lebur hancur tak berbekas dalam hitungan detik.
Wajah Diana kembali merona merah padam luar biasa senang mendengar gombalan maut gue. Dia langsung memeluk dada tegap gue erat erat menyembunyikan wajah malunya di sana. Kerajaan harem gue hari ini beneran berjalan sangat seru penuh dengan kemenangan mutlak di tangan gue.