NovelToon NovelToon
Douluo: Tongkat Besi Penghancur Langit

Douluo: Tongkat Besi Penghancur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32.Ketenangan, Kemajuan, dan Nama Besar

"Hmph, sungguh kau ini kaku sekali," gumam pemilik kedai mie sambil mengelus janggutnya yang tipis, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum penuh perhitungan.

"Kalau aku tak punya mata untuk melihat masa depan dan peluang, bagaimana mungkin aku bisa duduk di sini sebagai pemilik usaha, sementara kau—seorang Grandmaster Roh—hanya bisa kubayar untuk berjaga dan memotong daging di dapur?"

Zhu Tua terdiam. Tangan besarnya yang kasar dan masih berbau lemak serta darah babi meremas ujung celemek kotornya dengan canggung. Ia tahu betul bahwa meskipun ia lebih kuat secara kekuatan bela diri, lelaki gemuk di depannya ini jauh lebih tajam akalnya.

Tanpa menyanggah lagi, ia berbalik mengikuti pelayan ke ruang belakang untuk mengobati luka dalam di dadanya yang masih terasa nyeri luar biasa.

Tak lama setelah Xiao Xuan dan Paman Fang Xi pergi meninggalkan kedai, dua sosok baru melangkah masuk sambil tertawa dan berbincang akrab.

Seorang pemuda berpakaian biru langit berjalan di samping seorang gadis muda yang mengenakan gaun panjang berwarna merah muda cerah, wajahnya ceria dan penuh semangat.

Namun, begitu keduanya melihat kondisi di dalam kedai meja terbalik, kursi patah, dan noda darah di mana-mana wajah gadis itu seketika berubah merah padam menahan marah.

Setelah mengetahui kronologi kejadian dari seorang pelayan yang gemetar ketakutan, gadis itu mengepalkan tangannya di pinggang, matanya berkilat tajam.

"Tenang saja! Berani sekali ada orang yang menindas warga desa sampai begini. Kakak Xiao Wu yang adil ini pasti akan cari keadilan!" serunya dengan lantang, siap saja mengejar ke arah kepergian Xiao Xuan. Namun pemuda berbaju biru itu segera menahannya, sambil menggeleng pelan dan tersenyum paham.

Sementara itu, jauh di jalan berdebu menuju pinggiran kota, Xiao Xuan duduk santai di gerobak kayu milik Paman Fang Xi. Ia memegang buku tebal berjudul Rumput Perak Biru, sebuah buku catatan tentang tanaman dan makhluk roh yang ia baca berulang kali untuk memperdalam pengetahuannya.

Di sampingnya, Paman Fang Xi mengendarai gerobak dengan langkah santai namun hatinya bergolak penuh rasa haru dan kekaguman yang mendalam.

Setelah ragu cukup lama, Paman Fang Xi akhirnya membuka suara, memecah keheningan sore itu.

"Xiao Xuan... terima kasih banyak, Nak. Sungguh terima kasih. Kalau bukan karena kamu hari ini, aku tak tahu bagaimana nasib keluargaku ke depannya. Uang itu sangat berarti bagi kami... kalau hilang begitu saja, kami pasti kelaparan."

Mendengar itu, Xiao Xuan menutup bukunya perlahan, mengangkat kepala dan tersenyum lembut.

"Paman Fang Xi, jangan bicara begitu. Dulu saat aku masih kecil dan sulit makan, bukankah Bibi Yu sering mengirimkan makanan ke rumah kami? Bahkan aku pernah makan masakan beliau berhari-hari saat Kakek sakit.

Kita satu desa, keluarga sendiri. Kalau ada yang diperlakukan tidak adil di luar sana, dan aku punya kemampuan untuk menolong, mana mungkin aku diam saja?"

Ia berhenti sejenak, nada bicaranya berubah sedikit lebih tegas namun tetap ramah.

"Tapi ingat ya, Paman. Jangan sampai karena kejadian ini, Paman jadi bergantung padaku dan mencari-cari masalah hanya karena merasa punya dukungan. Kalau sampai begitu, aku terpaksa lapor Kakek Jack supaya beliau menghukum Paman."

Paman Fang Xi tertawa lebar, menepuk dadanya yang bidang.

"Haha! Dasar bocah nakal, berani mengancam orang tua! Tenang saja. Aku sudah menggali tanah dan bertani seumur hidup. Tak ada niat buruk di hatiku.

Cita-citaku sederhana saja: hidup damai, menua bahagia bersama Bibi Yu, melihat anak dan cucu tumbuh sehat, berkeluarga, lalu aku bisa duduk santai digendong cicitku nanti..."

Xiao Xuan ikut tersenyum. Orang desa yang sederhana dan jujur...

Senja perlahan berubah menjadi malam. Di bawah cahaya bulan yang mulai bersinar, gerobak kayu itu masuk kembali ke wilayah Desa Roh Suci.

Paman Fang Xi mengantar Xiao Xuan sampai tepat di depan pintu rumah Kakek Jack. Sebagai tanda terima kasih, Xiao Xuan memberikan sebagian bungkusan mie yang dibelinya agar bisa dinikmati oleh keluarga Paman Fang Xi juga.

Meski menolak karena merasa berhutang budi lebih banyak, Paman Fang Xi akhirnya menerimanya dengan mata berkaca-kaca.

Sesampainya di dalam rumah, suasana makan malam yang tenang seketika berubah menjadi riuh penuh kegembiraan begitu melihat Xiao Xuan pulang selamat.

Sejak kabar sampai bahwa cucunya itu sudah mencapai tingkat sepuluh dan berani masuk ke Hutan Perburuan Roh sendirian, seluruh keluarga tak pernah tidur nyenyak. Kini, melihat pemuda itu kembali dengan selamat dan wajah ceria, beban berat di hati mereka pun lenyap seketika.

Xiao Xuan menyerahkan bungkusan mie yang tersisa kepada ibunya agar dipanaskan kembali. "Malam ini kita makan enak sedikit ya, Ibu. Ada tambahan lauk."

Saat Kakek Jack tahu bahwa satu mangkuk mie sederhana itu harganya satu keping perak jumlah yang bagi mereka dulu adalah uang jajan berbulan-bulan ia menepuk bahu cucunya dengan rasa sedih sekaligus bangga.

Ia menghela napas panjang, menyadari bahwa anak ini bukan lagi bocah kecil yang lemah dan miskin, melainkan pemuda hebat yang mampu berdiri tegak di dunia luar sana.

Sambil menyantap makanan hangat itu, Xiao Xuan menanyakan kabar Tang San dan gadis kecil yang selalu bersamanya, Xiao Wu.

Kakek Jack mengunyah makanannya pelan, lalu menceritakan apa yang ia ketahui.

"Kau pergi beberapa hari saja, Tang San pulang membawa gadis kecil yang lucu itu. Tapi begitu ia tahu ayahnya, Tang Hao, sudah pergi meninggalkan desa entah ke mana, ia tak betah lama-lama.

Ia tinggal dua hari saja di sini, mengajak gadis itu berkeliling desa, lalu berangkat lagi ke Kota Nuoding. Katanya mau kembali ke sisi gurunya. Sepertinya mereka berangkat tepat di hari kau pulang dari akademi..."

Xiao Xuan mengangguk pelan dalam hati. Ternyata kami berpapasan di jalan yang berbeda. Untung saja tidak bertemu... belum waktunya.

Setelah makan malam dan obrolan panjang, saat keluarga sedang duduk santai di beranda, Ibu Xiao Xuan bertanya dengan lembut.

"Xuan-er, kamu rencananya mau tinggal di desa saja atau kembali ke akademi? Liburan masih sekitar dua puluh hari lagi lho."

"Aku tinggal di sini saja," jawab Xiao Xuan tegas. "Tang San sudah pergi ikut gurunya. Di akademi, aku sudah tak ada lagi yang bisa dipelajari. Lagipula... aku sekarang sudah jadi Master Roh. Materi dasar di sana tak ada gunanya lagi bagiku."

Ia tersenyum sambil menatap bintang di langit.

"Aku mau manfaatkan waktu dua puluh hari ini untuk berkumpul sama kalian sekaligus berlatih keras di rumah. Sekarang kan Tang Hao, Tang San, dan Xiao Wu sedang tidak ada di desa... ini saat paling pas buat aku fokus mengasah kemampuan."

Dan begitulah waktu berlalu.

Dua puluh hari itu adalah masa ketenangan sekaligus masa lonjakan kekuatan yang luar biasa bagi Xiao Xuan. Ia menghabiskan hampir seluruh waktunya berlatih di tempat tersembunyi di dekat desa, mengerahkan seluruh energinya.

Ketika masa itu berakhir, tingkat kekuatan roh Xiao Xuan sudah menembus ambang batas, kini berada di tingkat tiga belas koma lima persen. Peningkatan yang sangat cepat dan stabil.

Selain peningkatan level, hal terpenting adalah penyempurnaan teknik-teknik yang ia miliki:

- Sutra Hati Agung yang Mendalam: Kini sudah dikuasai hingga 40% kekuatan lapisan pertama. Ia menyadari bahwa untuk menembus ke lapisan kedua, ia harus mencapai tingkat dua puluh dan menjadi Grandmaster Roh.

Berkat teknik ini, kandungan energi rohnya jauh lebih padat dibandingkan orang lain. Satu poin energinya setara dua kali lipat energi orang biasa; artinya, ia lebih awet, lebih kuat, dan lebih hemat saat bertarung.

- Langkah Awan Tangga, Kekuatan Tai Chi, dan Tubuh Roh Mistik: Ketiga teknik fisik dan bela diri ini telah menembus lapisan pertama sepenuhnya. Khusus Tubuh Roh Mistik, kekuatan pertahanan dan serangan ajaibnya kini sudah menyatu sempurna ke kedua lengan Xiao Xuan, membuat pukulannya berat dan sulit diblokir.

- Mata Spiritual Xuan Qing: Masih dalam proses pengembangan, belum mencapai tingkat tertinggi karena kekuatan roh yang belum cukup besar.

- Pembuatan Jimat: Masih harus menunggu hingga tingkat lima belas sebelum ia bisa mulai menggambar dan menggunakan Jimat Lima Elemen yang ia pelajari dari ingatan masa lalu.

- Seni Tongkat Sembilan Bentuk: Berkat sudah memiliki cincin roh sendiri, Xiao Xuan akhirnya bisa menggerakkan dan menampilkan seluruh sembilan bentuk jurus tongkat itu secara lengkap. Penguasaan dan penyatuan teknik ini dengan energi roh masih berjalan, namun hasilnya sudah sangat mengerikan.

Namun, dampak keberhasilan Xiao Xuan tak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri. Nama Kakek Jack dan keluarganya kini menjadi sangat dihormati di seluruh wilayah.

Berita tentang kejadian di kedai mie, tentang bagaimana Xiao Xuan menegakkan keadilan dan membuat pedagang kaya raya itu tunduk, menyebar bagai api kemana-mana.

Tak hanya di Desa Roh Suci, desa-desa tetangga pun mendengar kisah itu. Banyak desa lain yang juga sering diperlakukan buruk atau ditunda pembayarannya oleh pedagang kota merasa sangat iri. Mereka berharap memiliki cucu atau anak muda sehebat Xiao Xuan.

Sejak hari itu, nasib penduduk Desa Roh Suci berubah drastis. Setiap kali mereka berbisnis ke kota, tidak ada lagi yang berani menunda pembayaran, tidak ada lagi penghinaan, tidak ada lagi kekerasan.

Semua pedagang, pemilik toko, dan pengusaha kota secara diam-diam mendapat perintah untuk memperlakukan penduduk Desa Roh Suci dengan sebaik-baiknya, memberikan hak mereka sepenuhnya, bahkan sedikit lebih baik.

Tentu saja, keistimewaan ini hanya berlaku untuk desa mereka. Desa lain tetap diperlakukan seperti biasa, hutang tetap ditagih, dan ketidakadilan masih terjadi.

Penduduk desa sangat paham dan sadar: perubahan besar ini bukan karena kebaikan hati orang kota, melainkan semata-mata karena ada Xiao Xuan, Master Roh muda yang berani melindungi desanya.

Akibatnya, Kakek Jack kini menjadi orang paling beruntung dan paling dibanggakan di desa. Ke mana pun ia pergi, ia selalu disambut senyum lebar, disapa ramah, dan dihormati layaknya tetua besar.

Setiap hari wajahnya berseri-seri, senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya, dan rasa bangga memiliki cucu sehebat Xiao Xuan memenuhi seluruh hatinya.

Desa Roh Suci yang tenang itu kini memiliki pelindung sejati. Dan di balik ketenangan itu, kekuatan Xiao Xuan terus tumbuh, menanti saat yang tepat untuk terbang lebih tinggi lagi ke langit dunia roh yang luas dan penuh tantangan.

1
Aisyah Suyuti
good
aldo
lanjut author
ag noja
sejak kapan ada binatang tingkat tiga bukanya jenis dan usianya dari binatang jiwa🤔
ag noja
tunggu sejak kapan di dunia soul land mengenal kata mantra 🤔
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Rusf
semangat terus.
aldo
wah bagus banget author Dan lanjut Kan author 🙏🙏🙏🙏
aldo
waw lanjut author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!