“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: CIUMAN DI TRASTEVERE
Gema tepuk tangan dari runway masih terngiang di telinga Alesha saat mobil sedan hitam yang membawanya membelah kemacetan Roma.
Namun, alih-alih kembali ke Villa Al-Ricci yang kaku, Matteo memberikan instruksi berbeda kepada Marcello.
Mobil itu berbelok menuju Trastevere, sebuah distrik tua yang detak jantungnya berasal dari gang-gang sempit berbatu, dinding-dinding yang ditumbuhi tanaman merambat, dan cahaya lampu jalan berwarna amber yang temaram.
"Kita tidak pulang?" tanya Alesha, melirik Matteo yang duduk di sampingnya.
Pria itu sudah menanggalkan dasinya, membuka kancing teratas kemejanya, memberikan kesan yang jauh lebih santai daripada biasanya.
"Malam ini bukan milik keluarga Al-Ricci," sahut Matteo tanpa menoleh.
"Malam ini milik perancang busana yang baru saja menaklukkan Roma."
Mereka berhenti di depan sebuah restoran kecil tersembunyi yang tidak memiliki papan nama besar.
Hanya sebuah pintu kayu tua dengan tirai renda putih. Marcello membantu Matteo pindah ke kursi roda, lalu dengan isyarat mata, ia membiarkan mereka berdua masuk sendirian sementara para pengawal berpencar dalam bayang-bayang.
Di dalam, suasana begitu hangat. Suara denting gelas dan tawa dari meja-meja kayu tua menciptakan melodi yang nyaman.
Pemilik restoran, seorang pria tua dengan celemek berlumuran tepung, menyapa Matteo seolah-olah ia adalah anggota keluarga sendiri.
Mereka ditempatkan di sebuah meja kecil di sudut teras belakang yang menghadap ke sebuah air mancur kecil yang tenang.
"Aku tidak menyangka kau tahu tempat seperti ini," ucap Alesha setelah menyesap red wine dari gelas kristalnya.
Rasa anggur yang kuat dan sedikit asam membakar kerongkongannya, namun memberikan rasa tenang yang luar biasa.
Matteo memutar-mutar gelasnya, menatap pantulan cahaya lampu di permukaan cairan merah itu.
"Aku sering datang ke sini saat masih kecil... sebelum semuanya berubah. Tempat ini tidak peduli siapa namamu atau berapa banyak uang di rekening bankmu. Mereka hanya peduli jika kau menghabiskan pasta di piringmu."
Untuk pertama kalinya, mereka tertawa bersama. Bukan tawa sinis atau tawa yang dipaksakan untuk konsumsi publik, melainkan tawa tulus.
Alesha menceritakan betapa paniknya ia saat mencoba memakai gaun itu dalam waktu lima menit, sementara Matteo menceritakan ekspresi wajah Signor Moretti saat melihat pakaian dalam hitam Alesha tempo hari.
"Kau benar-benar tidak memiliki sopan santun, Alesha," gumam Matteo, bibirnya melengkung membentuk senyuman yang kali ini mencapai matanya.
Mata kelabu itu tidak lagi terasa seperti badai, melainkan seperti telaga yang tenang di bawah sinar rembulan.
Alesha meletakkan gelasnya, menatap Matteo dengan saksama.
Efek alkohol mulai membuatnya lebih berani. Kehangatan malam Roma dan keberhasilan mereka hari ini meruntuhkan dinding pertahanan yang selama ini ia bangun.
"Matteo," panggil Alesha pelan.
"Hmm?"
"Aku sudah melihatmu di studio. Aku sudah melihat bagaimana kau melihat dunia. Dan aku sudah merasakannya saat kau memegang tanganku di malam itu." Alesha mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya merendah menjadi bisikan yang sangat jujur.
"Katakan padaku yang sebenarnya... apakah kau benar-benar tidak bisa berjalan, atau kau hanya sudah menyerah untuk mencoba karena pengkhianatan itu?"
Suasana di meja itu langsung berubah. Keheningan jatuh seperti tirai berat. Matteo tidak langsung menjawab. Ia menatap kakinya yang tertutup kain celana tuksedo, lalu kembali menatap Alesha.
Ada rasa sakit, amarah, dan keraguan yang berperang di dalam matanya.
"Apakah itu penting?" tanya Matteo dingin, meski suaranya sedikit bergetar.
"Sangat penting bagiku," sahut Alesha.
"Karena aku ingin tahu apakah pria yang aku... yang aku nikahi ini adalah seorang pejuang yang sedang beristirahat, atau seseorang yang membiarkan musuhnya menang dengan tetap duduk di kursi itu."
Matteo mencengkeram pegangan kursi rodanya.
"Ada hal-hal yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan kemauan, Alesha. Beberapa luka terlalu dalam. Beberapa pengkhianatan melumpuhkan lebih dari sekadar saraf."
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Alesha dengan intensitas yang membuat napas wanita itu tertahan.
"Tapi jika kau bertanya apakah aku merasa lumpuh saat bersamamu... jawabannya adalah tidak."
Matteo menggerakkan kursi rodanya mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga lutut mereka bersentuhan.
Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang hangat menyentuh rahang Alesha, menarik wajah wanita itu agar menatapnya tepat di mata.
"Kau adalah satu-satunya hal yang membuatku ingin berdiri lagi, hanya untuk memastikan tidak ada orang lain yang bisa menyentuhmu," bisik Matteo.
Di bawah lampu jalan Roma yang temaram, di tengah aroma masakan Italia dan sejarah yang tertanam di setiap batu bata Trastevere, Matteo menarik wajah Alesha lebih dekat.
Dan kali ini, Alesha tidak menolak. Ia justru menyambutnya.
Bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman yang haus, sebuah pengakuan emosional yang selama ini terpendam di balik kontrak dan sandiwara.
Ciuman itu terasa seperti hujan setelah kemarau panjang, penuh dengan rasa syukur, gairah, dan sedikit keputusasaan.
Untuk sejenak, kursi roda itu tidak ada. Pengkhianatan itu menghilang. Yang ada hanyalah Alesha dan Matteo, dua jiwa yang hancur namun menemukan harmoni dalam retakan mereka masing-masing.
Tangan Alesha merayap ke leher Matteo, menariknya lebih erat, seolah-olah ia bisa memberikan seluruh kekuatannya pada pria itu melalui sentuhan tersebut.
Namun, romansa itu hancur dalam sekejap.
DOR!
Suara letusan senjata api yang nyaring membelah kesunyian malam Trastevere.
Alesha tersentak saat merasakan sesuatu yang panas melesat sangat dekat di samping kepalanya. Matteo mengerang kesakitan, tubuhnya terhuyung ke samping.
Sebuah lubang kecil muncul di bahu tuksedonya, dan warna merah mulai merembes dengan cepat ke kain putih kemejanya.
"Matteo!" teriak Alesha, matanya melebar melihat darah suaminya.
"Tunduk!" bentak Matteo, meski ia sedang menahan nyeri yang luar biasa. Ia menggunakan seluruh tenaganya untuk menarik Alesha jatuh ke lantai teras di balik perlindungan meja kayu yang tebal.
Dalam hitungan detik, suasana Trastevere yang romantis berubah menjadi zona perang. Marcello dan para pengawal Al-Ricci muncul dari bayang-bayang dengan senjata terhunus, membentuk barikade manusia yang mengepung Matteo dan Alesha.
"Mereka di atap sebelah utara!" teriak Marcello.
Suara tembakan lain terdengar, menghancurkan botol anggur dan gelas-gelas di atas meja mereka. Pecahan kaca beterbangan ke mana-mana. Alesha meringkuk di samping kursi roda Matteo, tangannya gemetar saat ia menekan luka di bahu suaminya untuk menghentikan pendarahan.
"Jangan tutup matamu, Matteo! Tetap bersamaku!" isak Alesha, sifat bar-barnya kini berubah menjadi insting perlindungan yang liar.
Matteo, meskipun wajahnya pucat karena kehilangan darah, mencengkeram tangan Alesha yang berlumuran darah. Ia menatap ke arah kegelapan gang, matanya berkilat dengan kemarahan monster yang telah terbangun kembali.
"Sudah kubilang..." rintih Matteo di tengah deru peluru yang beterbangan di atas mereka.
"Roma tidak pernah membiarkanmu merasa nyaman terlalu lama."
Di kejauhan, suara sirene polisi mulai terdengar, namun Alesha tahu bahwa serangan ini hanyalah awal. Musuh Matteo telah menemukan mereka di titik terlemah mereka, di saat mereka membiarkan hati mereka terbuka.
Dan malam yang seharusnya menjadi perayaan kemenangan itu, kini berubah menjadi malam di mana mereka harus bertaruh nyawa untuk keluar hidup-hidup dari sana.