Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siang yang Terlalu Tenang
Siang perlahan menggantikan pagi di rumah besar milik Zayn. Cahaya matahari masuk lembut melalui jendela tinggi, menciptakan suasana hangat yang jarang terasa di tempat itu. Setelah malam penuh kekacauan dan pagi yang ramai, akhirnya keadaan mulai sedikit tenang. Namun di balik ketenangan tersebut, semua orang tahu satu hal—bahaya masih ada, hanya belum bergerak lagi.
Aurora duduk bersandar di atas ranjang sambil memeluk boneka kucing putihnya.
Tatapannya kosong menatap televisi yang menyala tanpa benar-benar ia perhatikan.
Sejak tadi Zayn terus menyuruhnya istirahat.
Dan sejak tadi pula Aurora terus menolak.
“Aku nggak ngantuk” protes Aurora untuk kesekian kalinya.
Zayn yang sedang duduk di sofa dekat jendela bahkan tidak mengalihkan pandangan dari laptopnya, “Tidur.”
“Aku udah tidur semalaman.”
“Itu karena pingsan.”
Aurora langsung menatap kesal, “Bapak jahat banget ngomongnya.”
Zayn tetap tenang mengetik sesuatu di laptopnya, “Kalau kepalamu pusing lagi jangan nangis.”
“Aku nggak pernah nangis.”
“Semalem hampir nangis.”
Aurora langsung terdiam malu sambil memeluk bonekanya lebih erat.
Beberapa detik kemudian ia kembali mencoba melawan, “Tapi aku beneran nggak bisa tidur siang.”
“Kamu bisa.”
“Nggak bisa.”
“Bisa.”
Aurora menghela napas frustrasi.
Zayn memang menyebalkan kalau sudah memaksa.
Sementara itu beberapa pelayan terlihat keluar masuk kamar dengan tenang sambil membereskan barang-barang Aurora yang tadi dibawa dari apartemennya.
Pakaian mulai digantung rapi di lemari kamar tamu itu.
Skincare Aurora disusun di meja dekat kamar mandi.
Buku-bukunya ditata di rak kecil dekat sofa.
Dan tanpa Aurora sadari, kamar dingin milik Zayn perlahan mulai terasa lebih hidup hanya karena barang-barangnya ada di sana.
Aurora memperhatikan semua itu sambil mengerucutkan bibir kecil, “Aneh…”
Zayn melirik sekilas, “Apa?”
“Barang aku jadi banyak banget di sini.”
“Memang.”
Aurora mendengus pelan.
Tak lama kemudian pintu kamar diketuk pelan.
Tok.
Tok.
“Masuk” ucap Zayn singkat.
Pintu terbuka pelan memperlihatkan Lynda yang masuk sambil membawa nampan kecil.
Di atasnya ada secangkir susu hangat dan beberapa biskuit.
Aurora sedikit terkejut.
Lynda berjalan mendekat dengan ekspresi setenang biasanya, “Dokter Hans bilang dia jangan sampai dehidrasi.”
Zayn mengangguk kecil.
Aurora menerima gelas itu pelan, “Makasih…”
Lynda hanya membalas dengan senyum tipis formal.
Namun tatapannya sempat berhenti beberapa detik pada boneka yang dipeluk Aurora.
Lalu ke arah Zayn.
Dan seperti biasa, ekspresinya kembali sulit ditebak.
“Kalau ada yang dibutuhkan panggil saja” ucap Lynda tenang sebelum akhirnya keluar lagi dari kamar.
Begitu pintu tertutup, Aurora meniup susu hangatnya pelan.
Suasana kembali hening.
Hanya suara ketikan laptop Zayn yang terdengar pelan memenuhi ruangan.
Aurora diam-diam melirik pria itu.
Zayn terlihat fokus bekerja. Kemeja hitamnya sedikit tergulung sampai siku. Wajahnya tetap dingin, tapi entah kenapa keberadaan pria itu justru membuat Aurora merasa aman.
Dan itu membuat Aurora bingung sendiri.
Aurora akhirnya meminum susu hangat itu perlahan.
Hangatnya membuat tubuhnya terasa lebih rileks.
Ditambah suasana kamar yang tenang, suara AC yang lembut, dan rasa lelah yang sebenarnya belum benar-benar hilang.
Pelan-pelan matanya mulai terasa berat.
Aurora masih mencoba melawan kantuk beberapa menit. Namun tak lama kemudian kepalanya mulai miring pelan ke samping.
Boneka kucing itu masih berada dalam pelukannya.
Zayn yang sejak tadi bekerja akhirnya mengangkat pandangan dari layar laptopnya. Tatapannya berhenti pada Aurora.
Gadis itu akhirnya tertidur.
Zayn memperhatikan beberapa detik sebelum akhirnya bangkit dari sofa pelan.
Ia berjalan mendekat ke ranjang lalu menarik selimut Aurora sedikit lebih tinggi agar tidak kedinginan.
Aurora bergerak kecil dalam tidurnya. Namun tidak bangun.
Zayn terdiam sesaat memperhatikan wajah gadis itu.
Jauh lebih tenang dibanding biasanya, tidak cerewet, tidak membantah, dan anehnya, rumah itu terasa lebih hidup sejak Aurora ada di sana.
Tok.
Tok.
Pintu kembali diketuk pelan.
Zayn langsung berdiri tegak lagi sebelum membuka pintu sedikit.
Rakha berdiri di luar sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana trainingnya.
Luka di wajahnya masih jelas terlihat, meski sekarang sudah lebih bersih.
“Dia tidur?” tanya Rakha pelan.
Zayn mengangguk singkat.
Rakha melirik ke dalam kamar sekilas lalu berkata, “Keluar bentar.”
Zayn sempat menoleh ke arah Aurora sebentar sebelum akhirnya keluar kamar dan menutup pintu pelan agar tidak membangunkannya.
Lorong lantai dua terasa jauh lebih sunyi dibanding pagi tadi.
Rakha bersandar santai di dekat dinding sambil menatap Zayn beberapa detik, “Ngurusin kerjaan di samping cewek tidur,” gumamnya kecil.
“Romantis juga lo ternyata.”
Zayn langsung menatap datar, “Kalau mau ngomong nggak penting gue tinggal.”
Rakha tertawa kecil, “Santai.”
Mereka akhirnya berjalan menuju balkon kecil di ujung lorong.
Angin siang berhembus pelan.
Untuk beberapa detik suasana terasa tenang.
Rakha bersandar di pagar balkon sambil menatap halaman rumah Zayn di bawah, “Jadi?” tanyanya tiba-tiba.
Zayn mengernyit tipis, “Jadi apa?”
Rakha menoleh sambil menyeringai kecil, “Lo suka sama Aurora kan?”
Zayn diam.
Rakha malah tertawa kecil melihat reaksi itu, “Kalau diam berarti iya.”
“Bukan urusan lo.”
“Sepuluh tahun gue kenal lo” balas Rakha santai.
“Dan gue belum pernah liat lo segitunya sama orang” lanjut Rakha.
Zayn tidak langsung menjawab. Tatapannya justru mengarah ke langit siang yang cerah.
“Aurora beda” ucapnya akhirnya pelan.
Rakha langsung mengangkat alis.
Itu mungkin pertama kalinya Zayn mengakui sesuatu seperti itu secara langsung.
“Dari awal dia muncul hidup gue jadi berisik” lanjut Zayn datar.
“Tapi anehnya, gue nggak terganggu.”
Rakha tersenyum kecil sambil menggeleng pelan, “Gila. Bos dingin akhirnya kena juga.”
Zayn malas menanggapi. Namun ekspresinya terlihat jauh lebih tenang dibanding biasanya.
Rakha kemudian kembali serius, “Kalau soal Retno?”
Tatapan Zayn langsung berubah dingin lagi, “Gue nggak bakal gerak gegabah dulu.”
Rakha mengangguk kecil.
“Dia udah kehilangan banyak anak buah. Sekarang dia pasti lebih hati-hati” ucap Zayn.
“Dan itu justru bahaya” lanjut Zayn tenang.
Rakha menghela napas pelan sambil mengusap tengkuknya, “Jujur aja, gue masih kesel.”
“Sepuluh tahun hidup gue habis buat benci sama lo.”
Zayn menatap Rakha beberapa detik sebelum akhirnya berkata singkat, “Gue juga.”
Rakha tertawa kecil mendengar jawaban itu. Namun kali ini tawanya jauh lebih ringan. Tidak ada lagi kebencian sebesar dulu.
“Minimal sekarang kita nggak saling bunuh” gumam Rakha santai.
“Belum tentu” balas Zayn dingin.
Rakha langsung tertawa lagi, “Nah itu Zayn yang gue kenal.”
Angin kembali berhembus pelan.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mereka bisa berdiri di tempat yang sama tanpa saling menyimpan dendam.
Namun tanpa mereka sadari, dari ujung lorong lantai bawah, seseorang sedang memperhatikan ke arah balkon itu dalam diam.
Lynda berdiri sambil membawa map tipis di tangannya.
Tatapannya naik perlahan ke arah Zayn. Lalu ke pintu kamar Aurora yang tertutup rapat.
Sorot matanya berubah samar. Sulit ditebak.
Karena semakin lama, semuanya mulai berubah.
Dan perubahan itu perlahan keluar dari kendali yang selama ini ia percaya bisa ia pegang.