NovelToon NovelToon
Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:51.7k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.

Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.

Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.

Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?

Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Sepuluh

“Kalau kamu melangkah keluar dari pintu itu, jangan pernah kembali lagi!”

Ancaman itu menggantung di udara … tapi tidak cukup kuat untuk menghentikan Hana. Tanpa menoleh, ia tetap pergi—meninggalkan rumah, cinta, dan empat tahun yang akhirnya ia sadari… tak pernah benar-benar menjadi miliknya.

Hana menutup resleting koper itu perlahan. Suara gesekannya terdengar begitu jelas di tengah sunyi kamar, seolah menjadi penanda bahwa semuanya benar-benar akan berakhir. Ia berdiri sejenak, menatap isi kamar yang selama ini ia rawat. Tidak ada air mata. Tidak ada lagi rasa ingin bertahan.

Ia mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih rapi. Bukan karena ingin terlihat baik di hadapan siapa pun, tapi karena ia ingin pergi dengan versi dirinya yang masih utuh—setidaknya di luar.

Setelah itu, tanpa ragu, Hana menarik koper keluar kamar. Roda koper itu berdecit pelan menyentuh lantai. Setiap langkahnya terasa berat, tapi pasti. Tidak ada lagi yang menahannya.

Begitu ia sampai di ruang keluarga, Farhan yang sebelumnya duduk langsung berdiri. Tatapannya terkejut melihat koper di tangan Hana.

“Hana … kamu mau ke mana?” tanyanya, suaranya terdengar tidak siap.

Hana berhenti sejenak. Ia menatap Farhan, lalu tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.

“Kemana saja,” jawabnya tenang. “Asal jauh dari tempat yang selama ini aku kira rumah.”

Farhan mengerutkan kening. “Maksud kamu apa?”

Hana menarik napas pelan. “Aku kira ini tempat aku pulang … tempat aku diterima. Tapi ternyata aku salah. Tempat ini cuma kasih aku luka.”

Kata-katanya tidak tinggi. Tidak juga penuh emosi. Justru itu yang membuatnya terasa lebih dalam. Lebih nyata.

Belum sempat Farhan menjawab, suara Mama Meri menyela dengan dingin.

“Bagus kalau memang kamu mau pergi,” ucapnya santai, tanpa sedikit pun rasa bersalah. “Biar Farhan bisa menikah dengan wanita yang subur. Bisa kasih aku keturunan.”

Hana diam. Tapi tangannya yang menggenggam koper sedikit mengeras.

“Aku tidak mau meninggal sebelum lihat cucu kandungku,” lanjut Mama Meri, seolah itu alasan yang paling benar di dunia.

“Ma, udahlah …,” potong Farhan, nada suaranya mulai terdengar tidak nyaman. “Jangan memperkeruh suasana.”

Mama Meri langsung menoleh tajam. “Siapa yang memperkeruh suasana?”

Farhan terdiam.

“Mama cuma bicara apa adanya,” lanjutnya, suaranya meninggi. “Dia memang mandul.”

Kata-kata itu terdengar begitu kejam. Hana menutup matanya sebentar. Menarik napas panjang. Menahan sesuatu yang hampir pecah. Ia membuka mata lagi. Menatap Farhan.

“Mas … Mama benar,” ucapnya pelan.

Farhan langsung menoleh cepat. “Hana—”

“Aku memang seharusnya sadar diri,” lanjut Hana, memotongnya dengan tenang. “Aku sudah seharusnya pergi dan mundur.”

Dadanya terasa sesak, tapi suaranya tetap stabil. “Aku doakan kamu dapat wanita seperti yang Mama inginkan,” tambahnya. “Yang bisa kasih kamu keturunan.”

Farhan menggeleng cepat. “Siapa yang bilang kamu harus pergi? Kamu nggak akan ninggalin rumah ini.” Ia melangkah mendekat. “Ini juga rumah kamu, Hana.”

Namun sebelum Hana sempat menjawab, Mama Meri berdiri dari duduknya.

“Kenapa kamu tahan dia?” ucapnya kesal. “Biar dia pergi!”

Farhan menatap ibunya. Wajahnya terlihat semakin tertekan.

“Kamu ingat,” lanjut Mama Meri, “Chika itu nggak mau jadi istri kedua. Memang seharusnya Hana yang pergi.”

Nama itu kembali disebut. Dan suasana langsung berubah semakin tegang.

Farhan terlihat serba salah. Rahangnya mengeras. Ia ingin membantah, tapi tidak berani. Ia juga tidak ingin kehilangan Hana. Tapi sikapnya tetap sama, diam. Dan diamnya itu justru yang paling menyakitkan bagi Hana. Istrinya itu tersenyum kecil. Getir.

Hana kembali menarik kopernya. “Mas,” ucapnya pelan, tanpa menatap lagi. “Aku pergi.”

Langkahnya mulai bergerak. “Semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu sekarang,” lanjutnya. “Jangan sakiti dia … siapa pun dia nanti.”

Setiap katanya terasa seperti perpisahan yang sudah benar-benar final.

“Urus saja surat cerai kita,” ucapnya lagi. “Aku harap ke depannya kita nggak pernah ketemu lagi dalam keadaan apa pun.”

Farhan membeku di tempatnya.

“… dan dalam kesempatan apa pun.” Hana melangkah melewati mereka.

Namun tiba-tiba, Farhan meraih pergelangan tangannya. “Hana, tunggu!” suaranya terdengar panik.

Hana berhenti. Tapi tidak menoleh.

“Tidak ada yang mau ceraikan kamu,” lanjut Farhan, suaranya mulai goyah. “Kamu tetap di sini.”

Ia menggenggam tangan Hana lebih erat. “Maafkan Mama … kalau ucapannya menyinggung kamu.”

Hana perlahan menoleh. Menatap tangan Farhan yang masih menggenggamnya.

Lalu menatap wajahnya. “Mas,” ucapnya pelan, “kalau aku tetap di sini .…”

Ia berhenti sejenak. Menelan sesuatu di tenggorokannya. “Apakah kamu mau janji?”

Farhan langsung menjawab, “Janji apa?”

Hana menatapnya lurus. Untuk pertama kalinya, matanya terlihat benar-benar serius.

“Janji kamu nggak akan pernah berpikir untuk menikah lagi.”

Farhan terdiam.

“…apalagi dengan Chika.” Nama itu kembali menggema.

Dan seperti yang bisa diduga—

“Sudah cukup, Farhan!” bentak Mama Meri.

Ia melangkah maju, wajahnya penuh amarah. “Kenapa kamu masih tahan dia?” lanjutnya. “Bukankah ini pilihan dia sendiri?”

Ia menunjuk ke arah pintu. “Pergi saja! Kenapa masih berpikir?!”

Farhan menoleh ke arah ibunya. Lalu ke Hana. Wajahnya semakin sulit dibaca.

Dan di situlah Hana akhirnya mengerti. Tidak perlu jawaban. Karena diamnya Farhan sudah cukup menjawab semuanya.

Hana menarik tangannya perlahan dari genggaman Farhan. Tidak ada perlawanan. Tidak ada penahanan lagi. Ia berbalik. Dan berjalan.

“Hana!” panggil Farhan.

Namun kali ini, langkah Hana tidak berhenti. Ia terus berjalan menuju pintu.

“Hana, kalau kamu pergi .…” Suara Farhan berubah. Lebih keras. Lebih dingin.

“Jangan pernah harap bisa kembali lagi!”

Langkah Hana tetap tidak berhenti.

“Jangan pernah berharap aku akan menerima kamu lagi!” lanjut Farhan, kali ini seperti ancaman.

Ia berdiri di tempatnya. Menunggu Hana berhenti. Menunggu Hana menoleh dan kembali.

Namun, Hana tidak melakukan semua itu. Ia tetap berjalan. Pintu dibuka. Cahaya pagi menyambutnya. Dan tanpa ragu, ia melangkah keluar.

Farhan masih berdiri di tempatnya. Nafasnya berat. Dadanya naik turun. Ia menatap pintu itu, berharap sesuatu terjadi. Tapi tidak ada.

Sementara itu, di luar rumah, Hana berhenti sejenak di teras. Udara pagi terasa sejuk. Sisa hujan semalam masih menyisakan aroma tanah basah. Langit belum sepenuhnya cerah, tapi cukup terang untuk memperlihatkan jalan di depannya.

Hana menarik napas panjang. Ia merasa dadanya sedikit lebih ringan. Bukan karena rasa sakitnya hilang. Tapi karena ia akhirnya memilih dirinya sendiri.

Hana menuruni anak tangga perlahan. Menarik kopernya menuju halaman. Tidak ada yang mengejar. Tidak ada yang memanggil lagi. Dan kali ini ia tidak menunggu. Segera melangkah keluar. Berjalan tanpa menoleh. Karena ia tahu kalau ia menoleh sekali saja, mungkin ia akan ragu.

Dan ia tidak ingin ragu lagi. Langkahnya mantap. Meski hatinya masih penuh luka. Meski masa depannya belum jelas. Tapi satu hal yang pasti, ia sudah selesai bertahan di tempat yang salah.

Dan sekarang, ia memilih untuk pergi. Memilih untuk mengakhiri semuanya. Bukan karena ia lemah. Tapi karena ia akhirnya cukup kuat untuk berhenti.

1
Enny Suhartini
lanjut kak ditunggu 👍
Radya Arynda
semangaat hana,, semogah cepat nikah sama arsaka
🌷💚SITI.R💚🌷
benar ga benar hana..tp smg setekah ini ada status kejelasan buat kamu..kamu msh istriy farhan atau istriya arsaka..smg yg trbaik
Eka ELissa
bner Hana dia ayah dri ank mu...
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....
Sugiharti Rusli
entah lha ya laki" bisa sangat picik pikirannya seperti Farhan dan ibunya yang mengaanggap mereka Tuhan yang bisa menentukan segala sesuatu,,,
Sugiharti Rusli
karena sejatinya urusan rahim itu adalah ranahnya Allah Sang Pemilik segalanya, bukan si Hana atau si Chika yah,,,
Sugiharti Rusli
dan si Farhan maupun ibunya percaya diri gitu kalo dia menikahi si Chika akan langsung dikaruniai anak🙄🙄🙄
Sugiharti Rusli
apa sebelum mendiang ayah Farhan wafat, dia terpaksa menerima Hana yah karena atas ijin mendiang suaminya si Farhan menikahi Hana🤔🤔🤔
Sugiharti Rusli
bahkan ketika ada peringatan wafatnya sang suami, si bu Meri juga ga segan" mempermalukan menantunya di hadapan orang banyak kan,,,
Sugiharti Rusli
sedari awal ibu mertuanya memang tidak menerima si Hana sebagai menantu sepertinya sih,,,
Sugiharti Rusli
dan belum" sudah menyodorkan calon istri baru buat putranya tanpa memikirkan perasaan Hana nanti seperti apa,,,
Sugiharti Rusli
apalagi si Farhan juga belum pernah dicek kesuburannya selama ini kan, kenapa langsung vonis Hana yang bermasalah,,,
Sugiharti Rusli
kenapa yah vonis selalu datang dari ibu mertua ke menantu perempuan langsung,,
ken darsihk
Tenang Hana kamu aman ikut dngn Arsaka , ini juga untuk kebaikan baby mu 💪💪
guest1053527528
akhirx di pertemukan thor
Ida Nur Hidayati
keputusan Arsaka udah yang terbaik ikut saja Hana
vania larasati
lanjut kak
Vie
akhirnya lanjut juga.... makasih kak aku kira cerita ini bakalan gak lanjut lagi..... mudah2an ceritanya lanjut sampai tamat ya kak, jangan digantung, karena digantung itu sangatlah gak enak, ga ada kepastian... 🤭🤭👍👍
Vie: ok kak.. aku selalu menunggu..... ceritanya seru... makin penasaran nunggu lanjutnya... 👍👍👍👍👍
total 2 replies
Ilfa Yarni
pasti yg terbaik hana arsaka orang baik dan bertanggung jawab km ga usah ragu dan khawatir semua akan baik2 saja buat km dan calon ank kalian
yumna
han km kira"d hukum ga ya 🤣🤣🤣🤣🤣.....lasng bos mu yg trun tangan bjuk hana🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!