Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.
“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”
Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.
Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Tapi Dianggap Tidak Ada
Riyani lebih dulu berjalan ke dapur untuk menyiapkan kue yang suaminya minta. Sedangkan, neneknya mengobrol dengan Hanif pada bangku toko yang masih kosong.
"Nenek udah tahu kan?" tanya Hanif.
Nek Aminah mengangguk. Masalah cucunya dia sudah mengetahuinya dari Seyila, apalagi anaknya sendiri yang kini berbaring di rumah sakit.
"Nenek mau jenguk bapak?" tanya Hanif.
Wanita tua itu nampak bingung. Di satu sisi, memang ia tidak dekat dengan anaknya setelah menikah dengan Bu Sinta. Apalagi setelah adanya masalah dengan Riyani.
Sekalipun sudah berbaikan sewaktu pernikahan Riyani dan Hanif kemarin, tapi nyatanya sikap Pak Adam masih saja tidak bisa dirubah.
Riyani membawa sepotong kue lemon dengan hiasan stroberi di atasnya. Terlihat masam tapi rasa yang Hanif suka, tidak terlalu manis dibanding dengan kue-kue yang lainnya.
Nenek pergi ke dapur, ia juga harus mulai menyiapkan kue yang lainnya dan mulai membuka toko kue setelah beberapa hari berlibur.
Riyani menemani suaminya memakan kue. Namun, dipertengahan obrolan itu—Riyani tiba-tiba merasa mual. Wanita itu langsung pergi ke dapur, disusul Hanif yang cemas.
"Loh Neng kenapa?" tanya Nek Aminah bingung.
Hanif memijat leher istrinya, "gak tau, Nek. Dia barusan tiba-tiba muntah begitu."
Beberapa kali muntah membuat Riyani merasa lemas. Hanif mengangkat tubuh mungilnya, untuk beristirahat di kamar rumah Nek Aminah.
Hanif sedikit menekan perut atas istrinya, sontak ringisan terdengar dari Riyani. "Perutnya sakit dari kapan?" Tatapannya terlihat tegas dan dingin, sampai Riyani tidak berani untuk menatapnya. "Sayang!?"
"Dari semalem," jawab Riyani.
"Karena Aa?" tanya Hanif.
Riyani mendecak. "Bukan lah. Emangnya kita baru pertama kali ngelakuinnya."
"Terus?"
"Pas tengah malem, kita pergi ke rumah sakit. Neng mulai ngerasa sakit, tapi waktu itu Neng mikir mungkin karena sebelumnya kita begituan makanya agak sakit perutnya tapi ditahan sampe pagi gak mendingan,"
"Kenapa gak bilang?"
"Neng kira kan bakal sembuh gitu aja," jawab Riyani.
"Mana ada yang sakit bakal sembuh gitu aja. Kalaupun sembuh bakal butuh waktu lama, ai kamu ihh!" kelakar Hanif.
Riyani menggenggam tangan suaminya. Seolah memohon untuk tidak marah. "Neng minta maaf! Gak lagi-lagi deh diem kalau sakit."
"Kalau sakit harus apa?" tanya Hanif.
"Harus diobati, harus bilang sama suami," jawab Riyani.
"Nah begitu... Bukan malah diem, kayak yang gak dikasih makan tau gak," omel Hanif.
Riyani mengerucutkan bibirnya. "Udah dong jangan ngomel terus!"
"Giliran diomelin aja gak terima. Kamu tau sendiri Aa paniknya tadi gimana,"
"Iya maaf!!... udah jangan ngomel lagi, perut neng masih sakit," pinta Riyani membujuk suaminya untuk melembut kembali.
Hanif keluar dari kamarnya, membawa air hangat dan lap untuk mengompres perut istrinya.
Perlahan rasa nyerinya mulai mereda, Riyani kini tertidur dalam rasa nyamannya.
Hanif mengulas senyuman. Ia genggam tangan istrinya sembari ikut berbaring di sampingnya.
...----------------...
Jam menunjukkan pukul 1 siang, Riyani terbangun karena panggilan masuk pada ponselnya.
Dengan mata buramnya, ia langsung menyambungkan begitu saja.
"Assalamualaikum!"
(Kamu kurang ajar atau gak tau diri, Neng?)
Riyani yang awalnya masih setengah mengantuk itu langsung melihat nama kontak di layar ponselnya.
Bang Ardi yang menghubunginya.
"Maaf Bang, kurang ajar apa? Neng gak tau apa-apa."
(Alah gak usah pura-pura deh. Kamu pasti udah tau bapak celaka kan? Kok gak ada ke sini?)
"Neng—"
(Mentang-mentang udah punya suami kamu ya! Kamu gak anggap bapak kamu masih ada? Dia waktu pernikahan kamu aja kemarin masih datang loh. Kamu gimana? Dia kecelakaan kamu gak ada)
Hanif merebut ponselnya dari Riyani.
"Abang tanya sama bapak, siapa yang awal sadar dia temuin? Siapa yang jagain dia dari tengah malem pas awal masuk IGD sampai Abang dan mamah sebelum datang tadi? Tanya bang, baru marah sama istri Hanif."
Lelaki itu langsung memutus panggilannya.
Riyani tersenyum tipis. "Maaf ya!! Aa jadi emosi karena kelakuan keluarga aku."
"Sayang, Aa emosi karena Aa gak suka istri aa ditindas gitu aja. Padahal jelas-jelas semuanya kamu lakuin, tapi di mata mereka kamu tetep gak ada. Aa benci!!"
Riyani malah terkekeh. Ia mencubit pipi suaminya lalu memeluknya dengan erat. "Makasih ya!"
"Buat?"
"Karena udah mau jadi rumah buat Neng. Sekarang Neng punya rumah yang lain buat pulang selain nenek dan kakek."
Hanif tersenyum. Ia belai lembut rambut istrinya.
"Pulang yuk! Ibu sama ayah pasti nyari,"
Riyani mengangguk mengiyakan.
...----------------...
Sesampainya di rumah, ibu dan ayah sudah menunggu kedatangan pasang suami istri itu. Ibu langsung memeluk Riyani dengan lembut, sebelumnya ia sudah tahu masalah besannya yang kecelakaan dari anak sulungnya.
"Kalian buat ibu cemas tau gak. Pas pagi tiba-tiba gak ada, dikira kabur," ucap Bu Nur.
Riyani dan Hanif terkekeh mendengarnya.
"Maaf ya bu buat ibu khawatir," ucap Riyani diangguki mertuanya dengan senyuman.
...----------------...
Beberapa hari berlalu,
pagi ini, Hanif mengajak Riyani untuk pindah ke rumah pribadinya. Dimana hanya milik mereka berdua tanpa ada orang lain di dalamnya.
Keduanya memang sudah merencanakan untuk hidup mandiri, sekalipun lokasinya tidak begitu jauh dari rumah nenek dan orang tua hanif tapi setidaknya mereka mencoba untuk menata rumah tangganya berdua.
Riyani tersenyum melihat penataan furniture yang dibeli Hanif lebih awal. Seperti sofa di ruang tengah, televisi, kasur, dan beberapa peralatan dapur serta kulkas dan mesin cuci.
"Aa so tau aja sih duluan beli ini. Menurut Aa, ini masih bisa diterima sama kamu. Masih selera kamu lah," ucap Hanif.
Riyani terkekeh. Ia mengangguk setuju. Pasalnya, semua warna yang dipilih Hanif terkesan soft—dimana memang Riyani tidak menyukai warna yang terlalu terang apalagi dominan.
Pasangan itu membenahi semuanya. Dari mulai pakaian yang dibenahi dari koper yang dibawanya, serta barang-barang lainnya termasuk buku-buku Hanif yang sudah menggunung di rumah orang tuanya.
Ada ruangan tersendiri juga yang disediakan Hanif, khusus untuk dirinya bekerja dan membaca buku-bukunya.
Riyani tersenyum saat melihat oven yang selama ini dia impikan ada di dapur miliknya sendiri. "Aa yang beli ini?"
Hanif mengangguk.
"Kenapa?"
"Kan istri aa suka buat kue. Jadi kalau lagi gak di rumah nenek, kamu juga kalau lagi bosen bisa buat kue di rumah," jawab Hanif sembari memeluk istrinya dari belakang.
"Ih makasih!!" ucap Riyani senang.
Hanif mengecup samping kening istrinya, "sama-sama Sayang."
...----------------...
Besok paginya, pasutri itu berjalan pagi. Sembari pergi ke pedagang sayur di depan komplek perumahannya. Cukup ramai ibu-ibu hingga beberapa pandangan menoleh pada keduanya.
"Neng, baru nikah ya?" tanya salah satu ibunya.
Riyani mengangguk.
"Baru seminggu yang lalu, Bu."
"Oh pantesan masih kayak yang pacaran, masih manis-manisnya," timpal ibunya itu.
Riyani hanya menoleh pada suaminya lalu tersenyum tipis.
Di perjalanan pulang, Riyani mendongak pada Hanif yang menggenggam tangannya sembari membawa barang belanjaan. "Aa emang manisnya sampe berapa lama?"
"Manis apa, Sayang?" tanya Hanif kebingungan.