NovelToon NovelToon
Sisi Misterius Salsa

Sisi Misterius Salsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1.Serigala gila datang ke desa.

Matahari pagi bersinar terik menyinari Desa Wood, sebuah desa kecil yang asri dan tenang yang terletak di kaki bukit, sebelah utara kota River moor. Namun, ketenangan itu buyar seketika saat suara deru mesin mobil yang keras memecah keheningan.

BRUMMM... BRUMMM!!!

Sebuah mobil Jeep hitam tangguh melaju kencang membelah jalanan desa yang masih berupa tanah merah. Debu beterbangan ke mana-mana saat mobil itu berhenti mendadak tepat di tengah kerumunan warga yang sedang ramai-ramai berkumpul.

Pintu mobil terbuka. Keluarlah seorang pria muda dengan postur tubuh yang tinggi tegap dan atletis. Dia mengenakan jaket kulit hitam yang menempel rapat di tubuhnya, celana jeans biru tua, dan sepatu boots kulit yang mengkilap. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas, namun kesan itu tertutup rapat oleh kacamata hitam besar yang ia pakai.

Aura yang dipancarkannya dingin, tajam, dan sangat berbahaya.

Itu Rian Wijaya.

Seorang perwira polisi muda berbakat dari Divisi Kriminal di kota River moor. Julukan "Serigala Gila" melekat padanya bukan tanpa alasan. Dia dikenal galak, cerdas, bekerja dengan logika dingin, dan tidak kenal ampun pada penjahat. Namun pagi ini, dia tidak sedang dalam misi pengejaran. Dia datang karena desakan orang tuanya yaitu menjemput calon istrinya.

'Pergilah ke Desa Wood, Rian. Jemput calon istrimu. Dia sendirian tinggal disana bawa kemari!,' begitu kata ayahnya.

Rian mendengus kesal dalam hati. Menikah? Dengan gadis desa? Apa aku tidak punya pekerjaan lain?

Namun, saat dia baru saja melangkah turun, pemandangan di depannya membuat alisnya terangkat tinggi.

Di hadapannya, sekelompok warga desa terlihat sangat emosional. Mereka berteriak-teriak marah sambil mengepung seorang pria bertubuh kurus yang sedang duduk tersungkur di tanah. Wajah pria itu sudah babak belur, lebam di sana-sini, hidungnya berdarah, dan pakaiannya compang-camping sehabis dihajar habis-habisan.

"Dasar maling! Tidak tahu malu! Berani-beraninya mencuri di rumah Pak Kades!" teriak salah satu warga sambil mengacungkan gagang sapu.

"Bunuh saja orang macam ini! Biar kapok!" seru yang lain.

Rian langsung bergerak refleks. Insting profesionalnya mengambil alih. Tanpa peduli lingkungan, dia langsung melangkah lebar mendekati kerumunan itu dengan langkah yang berat dan mengintimidasi.

"HEY!! BERHENTI!!"

Terikan Rian yang lantang dan berwibawa membuat semua orang terdiam seketika. Warga desa menoleh kaget melihat pria asing dengan aura garang itu.

Rian langsung mendorong pelan beberapa warga yang menghalangi jalan, lalu berjongkok di depan pria yang babak belur itu, melindunginya dari amukan massa.

"Apa yang kalian lakukan?!" bentak Rian sambil menatap tajam satu per satu wajah warga. Suaranya berat dan dingin, membuat bulu kuduk siapa saja yang mendengarnya meremang. "Ini negara hukum! Kalian mau main hakim sendiri? Kalian tahu tidak, menghajar orang seperti ini bisa dipidana?"

Warga desa menjadi hening, sedikit takut dengan kedatangan orang asing yang berani meneriaki mereka.

Pria yang dihajar itu melihat ada pelindung, dia langsung mengadu dengan suara serak dan penuh kepura-puraan. "T-Tuan... tolong saya... mereka fitnah... saya, saya tidak mencuri apa-apa... mereka main hakim sendiri tanpa bukti! Saya mau lapor! Saya mau tuntut balas!"

Rian menoleh ke arah pria itu, lalu berdiri dan menghadap warga. Dia melepaskan kacamata hitamnya sedikit, menampakkan mata tajamnya.

"Saya Rian Wijaya, dari Kepolisian Kota River moor," perkenalkannya singkat dengan penuh wibawa. Warga desa terkejut dan mulai respek, tapi tetap geram. "Saya mengerti kalian marah, tapi sebagai penegak hukum, saya tidak bisa membiarkan kekerasan. Kalau kalian bilang dia mencuri, mana barang buktinya? Kalau tidak ada barang bukti, kalian yang salah karena sudah melukai dia."

Pria maling itu tersenyum licik di balik luka lebamnya. "Dengar kan?! Saya bilang tidak ada buktinya! Saya tidak tahu apa-apa soal tas atau barang Pak Kades!"

Mendengar itu Rian menghela napas panjang. Dia siap memproses ini sesuai prosedur. "Baiklah, bawa dia ke pos terdekat dulu, kita cari barangnya bareng-bareng. Kalau tidak ketemu, kalian harus minta maaf dan bayar ganti rugi."

Warga desa menjadi gaduh lagi, protes tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena logika polisi itu benar. Suasana menjadi tegang dan buntu.

Tiba-tiba...

BYUR! BYUR!

Suara langkah kaki berlarian dan cipratan air lumpur terdengar dari arah jalan setapak sawah.

"TUNGGUUUU!!"

Sebuah suara gadis yang lantang namun terdengar manja memecah keributan.

Semua kepala menoleh serentak.

Terlihat seorang gadis muda berlari kencang. Dia masih mengenakan seragam sekolah putih abu-abu yang sudah tidak terlihat bentuknya lagi. Baju itu kotor sekali, penuh noda cokelat pekat dan lumpur basah. Roknya juga kotor, bahkan sepatu ketsnya pun penuh dengan tanah liat.

Rambut panjangnya berantakan, terikat asal dengan pita yang sudah lepas, dan yang paling lucu namun menggemaskan, ada noda lumpur yang menempel di pipi putihnya, membuat wajahnya terlihat seperti anak kucing yang habis bermain di got.

Namun, di tangannya, dia menggenggam erat sebuah tas ransel tua yang basah kuyup dan penuh lumpur, dan dia mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara agar semua orang bisa melihat.

"AKU MENEMUKANNYA!!" teriak gadis itu sambil berlari mendekati kerumunan, napasnya terengah-engah namun matanya berbinar penuh semangat. "Tasnya ketemu! Tas si maling ini ketemu!"

Gadis itu berhenti tepat di depan Rian dan pria yang babak belur itu. Dia tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang bersih, kontras dengan wajahnya yang belepotan.

Itu Salsa.

Rian menatap gadis di hadapannya itu dari atas ke bawah dengan tatapan takjub, bingung, dan sedikit... geli. Gadis ini siapa? Kenapa penampilannya seperti habis perang dunia?

"S-Siapa kau? Jangan asal tuduh!" bentak pria maling itu panik, wajahnya berubah pucat.

Salsa menatap pria itu dengan tatapan tajam, lalu melempar tas itu ke tanah tepat di depan kaki pria itu dengan suara brak yang keras.

"Masih mau menyangkal? Ini kan tas kamu? Aku menemukannya di dalam parit berlumpur di balik pohon bambu," kata Salsa dengan polos namun tegas.

Dia lalu membuka resleting tas itu dengan ujung kuku jarinya karena tangannya kotor, dan memperlihatkan isinya kepada semua orang.

"Cek saja sendiri! Ada dompet Ibu Kades, perhiasan, dan uang tunai semuanya utuh di dalam sini!" seru Salsa.

Hening sejenak.

Warga desa ternganga, lalu meledak menjadi keributan lagi. "BENERAN! ITU BARANGNYA! DASAR JAHAT KAU BERANI BOHONG!"

"I... Itu... Itu bukan milikku" Jawabnya gugup.

"Benarkah, memang barang itu bukan milikmu tapi kenapa ponselmu, dan barang pribadimu ada didalam sini bersama barang curian"

Pria maling itu langsung lemas, wajahnya pucat pasi, mulutnya terkunci rapat tidak bisa membantah lagi.

Rian yang melihat kejadian itu dari dekat hanya bisa membelalakkan mata. Dia menatap tas itu, lalu menatap gadis berlumuran lumpur itu. Logika kerjanya bekerja cepat.

Cepat, tepat, dan akurat.

Dia mendekati Salsa, menatap wajah gadis itu yang masih tersenyum bangga. Mata mereka bertemu. Mata Rian yang tajam dan dingin, bertemu dengan mata Salsa yang jernih, polos, namun menyimpan sesuatu yang misterius.

"Kau... bagaimana bisa tahu di mana dia menyembunyikan tas itu?" tanya Rian pelan, suaranya rendah, penuh selidik. "Tempat itu tertutup semak belukar, tidak mungkin orang biasa bisa melihat dari kejauhan."

Salsa tersentak sedikit, jantungnya berdegup kencang melihat ketampanan dan kewibawaan pria di depannya ini. Dia jadi salah tingkah, wajahnya yang sudah kotor lumpur malah terlihat semakin merah padam.

"E-eh... itu... aku... aku kebetulan lewat... dan... dan aku hanya beruntung saja menemukannya!" jawab Salsa terbata-bata sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Dia tidak bisa bilang kalau sebenarnya ada arwah seorang kakek yang sudah meninggal bertahun-tahun lalu yang menepuk pundaknya dan menunjuk ke arah parit itu sambil berkata, 'Nak, barangnya ada di situ, tolong ambilkan ya...'

Dan kakek itu adalah ayah dari pak Kades yang meninggal sebulan yang lalu.

Rian mengerutkan kening, masih merasa curiga. Tapi dia tidak sempat bertanya lebih jauh karena warga sudah mulai menyerbu kembali si maling dengan penuh kemenangan.

Rian menghela napas, lalu menatap gadis itu sekali lagi.

'Gadis aneh... Aku tidak percaya didunia ini ada namanya keberuntungan.' batin Rian.

Tanpa Salsa sadari, pria yang berdiri di hadapannya dengan jaket kulit hitam itu adalah Rian Wijaya. Polisi yang ditakuti banyak orang, dan juga... calon suami yang datang menjemputnya hari ini.

1
💝F&N💝
lanjut.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
💝F&N💝
ini kapan up lagi
paijo londo
thor mampir kyaknya seru nih🤭🤭
💝F&N💝
up lagi
💝F&N💝
good👍👍👍👍👍 aku suka alurnya.
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍
Sahabat Oleng
aku mampir thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!