Seorang gadis polos kehilangan harta warisannya akibat kelicikan saudara tiri, ia dipaksa menikah dengan seorang pria dari keluarga perwira tinggi, namun pria tersebut pergi di hari pernikahan hingga akhirnya adik pria tersebut yang notabene seorang duda harus menyelamatkan nama besar keluarga dengan menyembunyikan identitas aslinya. Ayah gadis itu pun seorang tentara tapi seolah tak pernah menyayanginya.
Saat tau kabar kabur tentang identitas pria tersebut. Ibu tiri gadis itu menyesal dan iri setengah mati.
Kesakitan yang di alami gadis itu membuatnya trauma hingga sangat waspada dan sulit percaya. Kini pria tersebut harus berjuang sekuat tenaga untuk menembus tembok pertahanan hati istrinya yang selalu berpura-pura di balik tingkah randomnya, padahal ia tidak tau.. siapa pria yang bersamanya saat ini.
SKIP bagi yang tidak tahan dengan KONFLIK.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Kejutan.
Menurut apa kata Bang Reigar, Jilly pun beranjak dan mengikuti langkah suaminya. Namun, baru dua langkah berjalan, Bang Reigar menoleh.
Bang Reigar benar-benar kaget melihat Jill langsung terhuyung jatuh di dadanya. Sontak lapangan yang riuh, sejenak terhenti namun kembali semakin riuh melihat 'ibu Danki' yang baru mendadak tidak sadarkan diri.
"Kenapa Bang??" Bang Rakit yang tadi sedang berjoged diatas panggung sampai ikut melompat turun.
"Nggak tau, tiba-tiba saja oleng begini." Jawab Bang Reigar. "Mobil mana mobil????? Garooooo...!!!!" Teriaknya mencari Prada Garo.
...
Bang Reigar mondar-mandir di dalam ruang tindakan, hatinya resah mengingat perkataan sahabatnya, Putra. Saat itu Bang Putra mengatakan bahwa Jilly sulit hamil karena tragedi malam itu. Hal itu terasa begitu menyiksanya. Di satu sisi ia sudah mengikhlaskan semua yang terjadi, tapi di sisi lain ia tidak bisa menepis kenyataan bahwa ia sungguh menginginkan buah hatinya sendiri.
"Pak Reigar, hasil lab sample darahnya sudah keluar." Kata dokter lain, di belakangnya sudah ada Bang Putra memasang wajah cemas.
"Bagaimana dok??? Istri saya sakit apa?" Tanya Bang Reigar.
Dokter tersenyum melihat wajah panik dari seorang suami. "Nggak sakit, Pak. Ibu sedang mengandung. Masih kecil sekali, Pak. Kalau dari HPHT yang bapak jelaskan tadi, usianya masih lima minggu."
Seketika raut wajah tegang Bang Reigar berubah menjadi wajah bingung. Ia melihat Jilly yang sedang berusaha menahan rasa mual. Tangannya terangkat perlahan mengusap dada bidangnya.
"Apa tidak salah, dok?? Beberapa waktu yang lalu istri saya terkena benturan yang cukup keras, diagnosa atas kejadian tersebut menjelaskan kalau istri saya sangat sulit untuk hamil, tapi ini.........."
Dokter mengambil secarik kertas memo yang tersemat pada buku riwayat kesehatan medis Nyonya Reigar. "Saya dengar penjelasan itu dari Pak Putra, tapi dijelaskan disini tidak ada masalah yang serius, hanya memar biasa, pastinya tidak ada hubungannya dengan rahim." Kata dokter menjelaskan perlahan. "Obat yang tertera disini juga obat untuk membesarkan sel telur juga tambahan vitamin untuk suami istri. Oohh ini ada lagi, untuk stamina Pak Reigar juga. Apakah belum di konfirmasi?? Pak Putra ini sedang ambil jurusan kesehatan tertentu di sini, beliau meminta Pak Reigar sebagai partner praktek lapangannya."
Seketika ekor mata Bang Reigar mendelik, ia menatap Bang Putra dengan tatapan menghakimi. Jelas sekali Bang Reigar menyimpan rasa kesal tak terlukiskan pada sahabatnya itu.
"Tapi kan jadi to, Gar. Maaf lah." Ujarnya pelan.
Sesaat kemudian Jilly hendak duduk dari posisinya, tapi rasa kepalanya terlalu sakit untuk bergerak. "Abaaaang..!!!" Panggilnya.
"Urusan kita belum beres..!!" Ancam Bang Reigar pada Bang Putra. Tatap mata itu kemudian beralih pada Jilly, tatap yang kini berubah lembut dan sendu. "Iyaa cintaku.. Apa lagi yang sakit?"
"Nggak ada, Jill pusing aja." Kata Jilly.
...
Bang Reigar berkacak pinggang berhadapan dengan Bang Putra. Di dalam ruangan itu sudah ada Bang Huda, Bang Marshall, Bang Rakit dan tentunya Pak Rinto.
"Bisa-bisanya kamu menipu saya. Satu bulan saya stress perkara ini saja. Kamu..............."
"Kalau aku bilang pasti kamu nolak, kan??" Kata Bang Putra.
"Ya tapi nggak begini juga caranya. Kalau Jilly menyangka dia nggak bisa punya anak betulan bagaimana??? Mikir sampai kesana nggak kepalamu itu????" Bentak Bang Reigar.
"Sudah Gar..!! Yang penting sekarang Jill baik-baik saja." Bujuk Bang Huda.
"Segampang itu?? Setelah dia melemahkan mental karena urusan pribadinya sendiri???" Omel Bang Reigar.
"Aku salah, maaf aku nggak mikir panjang." Bang Putra memilih menunduk tanpa menatap wajah Reigar karena tau bagaimana sifat pria tersebut.
Bang Reigar menarik nafas panjang kemudian membuangnya perlahan. "Tapi terima kasih, karena informasi sesatmu, saya berusaha keras untuk... menjadi seorang ayah."
"Alhamdulillah, nanti adik dan keponakanku bisa lahir dalam waktu dekat." Kata Bang Rakit.
Seisi ruangan langsung ikut panik, pasalnya hingga saat ini Bang Reigar masih belum bisa menerima kehamilan Mama Niken, apalagi lirikan mata itu sudah tertuju pada Pak Rinto.
Tapi seketika suasana canggung itu menghilang saat Reina mengetuk pintu ruangan.
"Maaf, Reina ganggu. Bagaimana keadaan Jilly??" Sapanya lembut.
Bang Huda tau, adiknya masih kesal melihat istrinya. Ia tersenyum lalu mengulurkan tangan menyambut istrinya.
"Sini..!! Jill sudah di rawat dan sudah baikan. Kamu darimana, kenapa bisa kesini?" Tanyanya menyambut Reina.
"Baru dari dokter kandungan."
"Oohh.. Kenapa?? Ada masalah dengan haidmu?" Bang Huda mengusap punggung Reina dan mengajaknya duduk.
"Reina hamil, Bang."
Seluruh pandangan tertuju pada Reina. Namun Bang Reigar yang menatapnya paling tajam. "Masalah macam apa lagi ini??? Apakah status hubungan kalian sudah jelas?? Kenapa bisa sampai hamil???"
"Sabar, Reigar. Biar Abang jelaskan..!!" Bang Huda mengarahkan Reina di belakang punggungnya.
:
"Jadi begitu. Malam setelah pertemuan kita, saya sudah mengirim orang ke desa pelosok tempat Reina di lahirkan. Disana memang ada seorang pria yang hidup bersama ibu Mauria. Pria tersebut adalah pimpinan kelompok adat, dan dari pemeriksaan DNA singkat yang saya minta, tidak ada kecocokan antara Papa dan Reina. Dengan kata lain, pernikahan kami dan kehamilan Reina juga sah." Kata Bang Huda.
"Tapi, gugatan yang sampai ke saya itu.. Ada kata bahwa ada ketidak stabilan hubungan suami istri. Abang dan Reina selalu menggunakan pengaman yang membuat Abang tidak nyaman." Sambar Bang Rakit yang menerima surat gugatan Abangnya untuk Reina sebelum naik ke meja komandan.
"Itu benar. Hanya saja harus kalian pahami, sebagai seorang laki-laki.. Tidak mungkin kan, kalau saya tidak memaksa." Jawab Bang Huda.
Bang Reigar menggeleng seraya tersenyum tipis. Baginya sama saja, tiada beda jika laki-laki sudah kalap. Semua akan 'buta dan tuli' pada waktunya.
"Abang harap, adik-adik bisa memaafkan segala kekhilafan yang sudah istri Abang lakukan. Atas nama Reina, Abang mohon maaf..!!" Bang Huda menekuk lututnya di hadapan semuanya.
Reina yang melihat segala perlakuan Bang Huda akhirnya ikut menekuk lutut. Ia syok, tidak percaya suaminya mampu melakukan hal sampai sejauh ini hanya demi dirinya.
"Nggak, Bang. Abang nggak salah. Reina yang salah. Reina masuk dalam keluarga ini hanya untuk mempermainkan perasaan Abang dan Bang Reigar demi dendam yang tidak jelas. Tapi sekarang Reina sadar, Reina mengaku salah. Jika ada yang harus di hukum, Reina lah orangnya." Pekik Reina panik.
.
.
.
.
lanjut mba Nara💪💪
lanjut mba Nara
semoga reina anak org lain....Amin🙏
Bang Huda sabar yaaa...