NovelToon NovelToon
Toko Lorong Waktu

Toko Lorong Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pencarian di bandung

"Nur, kita tidak akan tinggal di kota ini lebih lama lagi," ujar Aris mantap.

"Baik, Tuanku!" sahut Nur dengan semangat yang meluap-luap. Ia mulai melakukan gerakan konyol di udara, seperti orang yang sedang mengayuh sepeda yang tidak terlihat. "Apakah kita akan ke sana dengan terbang? Aku bisa menggendong mu?"

Aris tertawa kecil. "Kita akan naik kendaraan manusia, Nur."

Mereka berdua berjalan menuju terminal bus terdekat. Aris menggunakan sebagian sisa uangnya untuk membeli tiket perjalanan menuju Bandung.

Sepanjang perjalanan di dalam bus malam, Aris duduk di dekat jendela, menatap lampu-lampu kota yang perlahan berganti menjadi kegelapan hutan dan jalanan pegunungan.

Bus yang mereka tumpangi melaju membelah kabut pegunungan. Aris mencoba memejamkan mata, namun telinga batinnya menangkap irama langkah yang tidak lazim di dalam bus. Seseorang bergerak dengan gerakan menyapu yang sangat halus—seorang copet yang sedang beraksi.

Aris melirik sekilas. Pria berpakaian jaket lusuh itu sedang mengincar saku seorang bapak tua yang tertidur pulas di barisan kursi belakang. Dengan keahlian yang terlatih, tangan pria itu merogoh saku si bapak dan berhasil menarik sebuah dompet kulit tebal.

Aris hendak bertindak, namun ia merasakan senggolan halus di lengannya. Itu Nur. Jin itu menatap Aris dengan mata berbinar-binar dan senyum jahil yang tertahan.

"Tuanku, lihat orang itu! Dia sedang bermain sulap," bisik Nur dengan nada polos yang sangat lucu. "Dia mengambil barang milik orang lain tanpa izin. Apakah dia sedang mencoba membantu bapak itu meringankan beban sakunya?"

Nur kemudian berbisik pelan, tangannya bergerak melakukan gerakan memutar di udara. Dalam sekejap, saat copet itu berbalik untuk melangkah menuju pintu depan bus, Nur melakukan pertukaran kilat. Dompet asli di tangan copet itu lenyap dan kembali ke saku pemiliknya, sementara di tangan copet itu kini hanya ada sebuah dompet butut berisi potongan koran bekas.

Aris menahan tawa saat melihat Nur kembali ke bahunya, menahan napas agar tidak tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi copet tersebut.

Ketika bus berhenti di sebuah halte kecil yang sepi, copet itu turun dengan terburu-buru. Begitu kakinya menapak tanah, ia segera membuka dompet curiannya untuk melihat hasil jarahannya. Pria itu ternganga. Wajahnya berubah dari ceria menjadi pucat pasi saat melihat tumpukan kertas koran di tangannya. Ia mengumpat keras-keras, menendang debu di pinggir jalan, sementara bus yang ditumpangi Aris mulai bergerak menjauh.

Di dalam bus, si bapak tua tetap tidur dengan tenang, dompet aslinya masih aman di sakunya.

Nur terkikik geli di samping Aris, menutup mulutnya dengan tangan kabutnya. "Tuanku, apa orang itu akan mencoba memakan koran itu? Kenapa dia marah sekali? Apakah dia tidak suka membaca berita hari ini?"

Aris menepuk pelan bahu Nur. "Itu namanya karma, Nur. Dan kau baru saja memberikan pelajaran yang sangat berharga untuknya."

Nur tampak puas sekali. "Wah, jadi aku bisa menjadi pesulap, ya? Besok kalau ada orang yang tidak jujur lagi, bolehkah aku mengganti uang mereka dengan daun kering yang sudah aku cat warna emas?"

Aris hanya tersenyum melihat kepolosan abdinya tersebut. Perjalanan menuju Bandung masih panjang, namun kini suasana hati Aris jauh lebih tenang. Ia tahu, dengan Nur di sisinya, perjalanan ini tidak hanya akan membawa mereka ke tujuan, tapi juga akan diwarnai oleh kejadian-kejadian tak terduga yang menguji sekaligus menghibur hatinya.

***

Udara sejuk khas Bandung menyambut kedatangan Aris saat ia menginjakkan kaki di Terminal Leuwipanjang. Kota ini terasa begitu berbeda; ada perpaduan antara keriuhan modern dan sisa-sisa keanggunan masa lalu di balik bangunan-bangunan kolonialnya. Aris berdiri sejenak, menghirup aroma aspal basah dan wangi kuliner yang terbawa angin, mencoba menyelaraskan frekuensi batinnya dengan denyut kota ini.

Nur, yang kini tampil sebagai kabut tipis di samping Aris, tampak sangat terpukau. Ia menatap lampu-lampu jalan dan reklame besar dengan mata bulatnya yang polos.

"Tuanku, lihat! Di sini rumah-rumahnya sangat tinggi dan mereka memakai lampu warna-warni seperti pesta di kayangan," bisik Nur dengan suara pelan agar tidak didengar orang lain. "Dan kenapa manusia di sini berjalan begitu cepat? Apakah mereka takut ketinggalan waktu atau takut kerupuk di rumah mereka melempem?"

Aris hanya tersenyum tipis, tidak menanggapi celoteh Nur karena ia sedang memusatkan pendengarannya. Ia mengingat pesan Nenek di gang sempit itu. Bandung adalah kota yang luas, namun ia yakin ada satu titik spesifik yang menjadi tempat Putri berada.

Tiba-tiba, telinga batin Aris menangkap sebuah suara—bukan suara manusia, melainkan denting lonceng kecil yang berirama sangat tenang. Suara itu berasal dari arah utara, daerah yang lebih tinggi dan dingin. Denting itu terasa sangat murni, seolah-olah mengajak jiwanya untuk mendaki lebih jauh.

"Nur, kita ke arah sana," tunjuk Aris ke arah perbukitan Dago yang mulai tertutup kabut malam.

"Siap, Tuanku! Tapi bolehkah aku bertanya satu hal?" Nur mendekat dengan wajah serius. "Tadi aku melihat kotak besi berjalan yang bunyinya 'tin-tin' berkali-kali. Apakah itu cara mereka menyapa atau kotak itu sedang mengalami cegukan yang parah?"

Aris terkekeh sambil mulai melangkah mencari angkutan umum. "Itu klakson, Nur. Itu tanda agar orang lain berhati-hati."

"Ooh, klakson..." Nur manggut-manggut. "Aku kira itu nyanyian kebangsaan kotak besi."

Mereka pun membelah kemacetan Bandung, menuju wilayah utara yang lebih sunyi. Di tengah perjalanan, Aris melihat sebuah papan nama tua di pinggir jalan yang sedikit tertutup tanaman merambat. Di sana tertulis: "Panti Asuhan Kasih Puteri".

Jantung Aris berdegup kencang. Nama itu seolah menyentak batinnya. Apakah ini sebuah kebetulan, ataukah Bandung memang menyimpan rahasia tentang Putri di balik gedung-gedung tua yang sunyi ini? Aris memutuskan untuk turun dan mendekati gerbang tua tersebut, sementara Nur sudah melesat lebih dulu untuk mengintip ke dalam dengan rasa penasaran yang meluap-luap.

Bus terus melaju, membawa Aris semakin dekat dengan kota tujuan, di mana misteri mengenai Putri mungkin akhirnya akan terpecahkan.

Aris berdiri di depan gerbang besi tua yang berkarat itu. Jantungnya berdegup kencang, namun ada sesuatu yang janggal. Ketika ia menyentuh pagar tersebut, telinga batinnya tidak menangkap getaran kehangatan yang biasa terpancar dari sosok Putri. Yang ada hanyalah kesunyian yang dingin dan hampa.

"Tuanku, kenapa kau berhenti?" Nur muncul dari balik pilar gerbang, wajahnya terlihat sedikit kecewa. "Di dalam sana banyak sekali anak kecil yang sedang berebut benda bulat yang ditendang-tendang, tapi aku tidak melihat wanita yang kau cari. Malah, aku melihat seorang bapak tua yang sedang sibuk membersihkan kaca dengan air sabun."

Aris menarik napas panjang dan melangkah masuk. Ia menemui pria tua yang dimaksud Nur.

"Maaf, Pak. Saya mencari seseorang bernama Putri. Apakah dia ada di sini?" tanya Aris dengan nada penuh harap.

1
Adi Rbg
berguna banyak pelajaran tentang hidup!
SANTRI MBELING: makasih kak
total 2 replies
Ariasa Sinta
bahasan nya udah berat ya, meskipun q kurang ngerti sama istilah²nya v lanjutkan saja, penasaran
Ariasa Sinta
hmmm...
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
SANTRI MBELING: ia kak. makasih
total 1 replies
SANTRI MBELING
makasih kak 👍👍👍👍🙏🙏😍😍
Ariasa Sinta
aku kasih kopi thor biar semangat update nya 💪
SANTRI MBELING: jangan lupa baca yang novel saya yg cinta zaenab
total 2 replies
Ariasa Sinta
banyak bgt kata2 d kepala ku thor buat komen tapi q bingung ngerangkai nya,
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
Ariasa Sinta
aduhhh banyak wow nya ini
Ariasa Sinta
aku merinding loh ...
Ariasa Sinta
aku mampir thor,
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!