Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditantang Edwin
"Kalian disuruh Dave?" tuduh Edwin kesal ketika dia dibawa paksa Baim pergi padahal.dia masih mau mengobrol dengan Rhea.
Serentak para laki laki itu menggeleng.
Edwin berkacak pinggang dan menatap teman temannya yang terkenal solid ini.
"Jadi apa tujuan kalian? Kalian melarang aku dekat dekat dengan Rhea, kan?" cibirnya.
"Ya," jawab Abiyan tegas.
Alis Edwin menyatu.
"Kenapa? Jangan bilang kalo kalian mau nambah istri."
Ngga ada dengusan marah dari kelima laki laki itu. Malah tawa keras mereka yang terdengar.
Edwin malah yang mendengus. Dia lupa, kelima laki laki di sepannya ini sama brengseknya dengan dia dulu, sebelum mereka menemukan bidadari mereka.
"Rhea itu anak titipan teman mami. Jadi kita akan menyeleksi siapa saja yang pantas dekat dengan dia. Kalo kamu sudah jelas dicoret," ejek Baim dan tawanya makin lepas aja setelahnya.
Keempat laki laki yang lain-Ferdi, Abiyan, Jayden, Ferdi, dan Milan- juga makin tergelak.
Oooh..... Edwin baru tau tentang status Rhea. Tapi tetap saja dia curiga dengan tujuan mereka yang tampak begitu memprotek Rhea.
"Jangan bilang kalo kalian ingin Dave bersama Rhea," tuduh Edwin yakin.
"Kebaca, ya. Begitulah." Jayden menyahut santai.
"Si-@lan!" maki Edwin yang hanya direspon dengan tawa mengejek mereka lagi. Terpingkal pingkal hingga membuat Edwin tambah emosi.
Dari jauh Rhea hanya memperhatikan sebentar interaksi anaknya Tante Puspa bersama beberapa yang lainnya.
Dalam hati dia merasa lega ketika Edwin dijauhkan darinya. Dia meraaa tidak nyaman saja.
Tapi saat dia melangkah meninggalkan parkiran, teman teman baru yang menurutnya julid memperhatikannya dengan beragam ekspresi.
"Pak Baim itu udah punya istri, Rhea. Cantik, kaya dan berkelas, lho," ungkap Yana yang memaksakan langkahnya agar bisa menjejeri Rhea.
Rhea ingin menyemprot temannya itu, tapi dia tahan agar suara hatinya tidak sampai keluar.
"Kamu ngga niat, kan jadi istri siri atau simpanan Pak Baim?" tanya Yana lagi. To the point banget. Ngga ada basa basinya.
Rhea menghentikan langkahnya. Tatapnya tajam menusuk, tapi Yana terlihat cuek aja, ngga peduli dengan ketersinggungannya.
"Aku hanya mengingatkan agar kamu ngga terjerumus dengan hal hal buruk. Kamu baru, kan, di Jakarta?" tambahnya lagi.
Hampir Rhea meledakkan tawanya mendengar ucapan si paling lama tinggal di Jakarta. Tapi dia menahannya dengan memberikan seringai tipisnya.
"Thank's." Rhea langsung melangkah pergi meninggalkan Yana yang sekarang tidak mengikutinya lagi.
Sabar Rhea. Sabar. Sambil melangkah pergi Rhea menghembuskan nafas sangat panjang, seolah membuang semua perasaan kesal dan amarahnya yang menggumpal do dalam dadanya.
*
*
*
Edwin memutuskan untuk menemui Dave. Dia harus bicarakan masalah ini. Kalo memang Dave juga suka dengan Rhea, mereka harus bersaing secara sehat.
Perasaan Edwin sangat menggebu gebu umtuk memiliki Rhea. Baru kali ini dia begitu tertarik oada seorang perempuan. Adrenalinnya terasa terpacu karena harus bersaing demgan Dave yang punya banyak pendukung.
Walaupun mereka temannya tapi keberpihakkan mereka tetap.pada kerabatnya yang tinggal satu satunya yang belum menikah. Si Dave.
Sekretaris Dave memasuki ruangannya.
"Pak, ada Pak Edwin yang mau ketemu," lapor Temi sopan. Sebagai sekretaris, penampilan Temi juga tidak terlalu terbuka.
"Biarkan dia masuk.' Dalam hatinya Dave bertanya tanya, maksud dan tujuan Edwin datang sesore ini. Seingatnya belum ada lagi kerja sama baru antara perusahaan mereka.
Atau tentang Rhea?
Anehnya dadanya berdesir dan detak jantungnya mendadak cepat saat menebak begitu.
Tapi kemudian Dave menepis dugaan yang belum pasti kebenarannya.
"Belum pulang?" tanya Edwin saat melangkah memasuki ruangan Dave.
"Kamu bisa lihat sendiri," sahut Dave acuh.
Edwin tidak berkata apa pun lagi. Dia melangkah makin mendekat dan akhirnya duduk di depan Dave.
Edwin memperhatikan wajah Dave yang mengacuhkannya. Temannya sepertinya sedang sangat sibuk dengan setumpuk pekerjaannya.
"Tadi aku ke kindergarten untuk nemui Rhea." Edwin mengamati wajah temannya penuh selidik. Tapi ngga ada reaksi yang berarti yang Dave tampakkan.
"Aku ketemu Baim dan yang lainnya," lanjutnya lagi ketika tidak ada respon dari Dave.
"Mereka menjemput anak anaknya, kan," ucap Dave tanpa mengalihkan tatapnya dari layar monitor laptopnya. Tangannya masih sibuk menandatangani kertas kertas yang ada di depannya.
Hanya saja saat ini Dave berusaha setenang mungkin agar Edwin tidak menemukan ekspresi kesalnya saat mendengar temannya itu mengatakan menemui Rhea.
"Iya. Tapi mereka memberikan peringatan padaku," ucap Edwin yang kali ini tatap penuh selidik matanya bertemu dengan mata elang Dave.
"Sekarang aku mau nanya. Jawab yang serius," tukas Edwin lagi setelah memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak.
Dave tetap tenang membalas tatapan Edwin. Tangannya yang menandatangani kertas di depannya jadi berhenti, seolah menunggu yang akan dikatakan buaya itu.
"Kata Baim, mereka akan menjodohkan Rhea dengan kamu. Kamu mau?"
Sudut bibir Dave sedikit berkedut mendengar ulah Baim cs. Walaupun tak bisa dipungkiri, hatinya cukup merasa terhibur juga karena Edwin jadi terintimidasi karenanya.
"Dave, kalo kamu naksir Rhea juga, bagaimana kalo kita fair fair aja. Kalo Rhea milih kamu, aku mundur. Sebaliknya juga begitu, kalo Rhea mau jadi pacarku, kamu, Baim dan yang lainnya jangan menghalangi," tegas Edwin bernegoisasi.
Dave hampir tertawa mendengarnya. Ngga nyangka temannya seserius itu pada Rhea.
"Aku ngga bisa menghalangi Baim atau yang lainnya. Tapi kalo kamu mau mendekati Rhea, itu hak kamu," sahut Dave tenang.
Seringai tipis tercipta di wajah Edwin. Bodoh amat dengan Baim cs. Yang penting Dave tidak mempermasalahkannya.
"Oke. Ucapkan selamat padaku kalo aku berhasil menjadikan Rhea pacarku," ucap Edwin sombong.
Dave hanya tersenyum miring. Dalam hatinya mulai terjadi perdebatan, apakah dia akan membiarkan saja si gampang hanyut itu jatuh ke pelukan si buaya Edwin atau mulai mendekati Rhea juga demi keinginan opanya.
*
*
*
"Kamu mau ke Jakarta sore ini?" Talisha agak heran mendengarnya, karena tidak biasanya Baskara mengambil cuti mendadak. Di tambah lagi jadwal kerjanya yang sedang hetic banget.
Baskara mengangguk.
"Aku.akan cuti beberapa hari. Tolong mundurkan semua jadwal meetingku."
"Berapa hari?"
Baskara ngga langsung menjawab, karena dia juga tidak bisa langsung memprediksi berapa lama dia akan berada di Jakarta.
"Sebaiknya dua hari saja kamu cutinya. Karena besoknya Mr Thomson dari LA akan datang menemui kamu," tukas Talisha mengingatkan.
Baskara menghela nafas pelan. Baru saja dia mendapatkan telpon dari Tante Nara kalo Rhea kemungkinan besar berada di Jakarta.
Tante Nara mengharap dia ke Jakarta, ikut membantu mencari keberadaan Rhea.
"Oke." Baskara menatap ke arah luar jendela dari ruangannya yang berada di lantai belasan gedung miliknya. Kedua tangannya diletakkan di saku celananya. Posisi berdirinya memunggungi Talisha.
"Kamu ada urusan apa ke Jakarta? Kerjaan juga? Atau ada klien penting yang mendadak datang?" cecar Talisha yang ngga bisa menyembunyikan keingintahuannya. Sebagai sekretaris dia harus tau kegiatan bosnya.
Baskara menoleh sebentar pada Talisha yang sedang serius menatapnya. Dia tersenyum membuat Talisha merasa aneh dengan sikapnya barusan.
"Aku mau mencari Rhea di Jakarta."
DEG DEG
Jantung Talisha berdebar kencang.
"Okelah. Dua hari mungkin cukup. Kalo belum ketemu juga, nanti aku akan cuti lagi," putus Baskara sambil memunggungi Talisha lagi. Dia menatap langit dengan penuh harapan.
Baskara tidak memperhatikan wajah pias Talisha. Dia sudah telanjur senang karena sudah tau di mana keberadaan Rhea.
gimana yah.. rasanya tuh kaya digerogoti rayap hari ke hari yg hidupnya berkoloni utk menumbangkan kayu yg kokoh menunggu kayu itu keropos sampai tumbang..
kalau rayapnya sendirian mah gak ngeri. Yg ngeri itu kalau udah 1 koloni.
sama kayak orang toxic yg ngegennk..
Mereka tuh kuat karena rame.
Satu jd kompor, yg lain kipas-kipas. Targetnya ya "kayu kokoh" = orang yg kerja bener/jujur/gak ikut arus mereka...
Abaikan aja Rhe, anggep aja angin lalu, dia belum tau aja siapa kamu sebenernya..
faktanya kalau mereka tau kamu dr keluarga mana, mungkin mereka seperti kucing basah kena air hujan "Menggigil"
😂🤣
belum tau aja di jidat Rhea itu sudah ada marker nya "Belong to Dave" dan hanya org beriman aja yg bs liat mark itu wkwkkk