NovelToon NovelToon
In Between Us

In Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:333
Nilai: 5
Nama Author: Hhj cute

Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.

Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.

Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.

Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.

Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30

Seseorang berpakaian hitam dengan masker menutupi wajahnya berjalan sambil menatap was-was di sekelilingnya. Derap langkah kakinya menggema di lorong rumah sakit yang sepi siang itu.

Ia memasuki salah satu ruangan, dengan membawa suntikan yang disimpan di saku jaket. Menyuntikkan cairan ke dalam selang infus. Selang beberapa detik kemudian, tubuh pasien yang masih tertidur di atas ranjang pesakitan mengejang hebat.

Mesin EKG yang awalnya menunjukkan adanya kehidupan, kini berubah menjadi garis lurus panjang—dengan suara yang memekakkan telinga.

Dengan langkah cepat, orang itu berjalan menuju jendela. Pergi tanpa meninggalkan jejak apapun.

Dua orang perawat yang kebetulan masuk untuk memeriksa pasien, berlari terpontang-panting memanggil dokter. Sedangkan yang lain mencoba melakukan pertolongan.

......................

Di ruangan Fabian, suasananya berbanding balik dengan ruangan sebelumnya. Di sini lebih tenang dan sunyi.

Di atas ranjang pesakitan, Fabian sudah sadar dari pingsannya. Ia menatap langit-langit ruangan dengan pandangan kosong. Pikirannya melayang pada kejadian yang membuatnya berakhir di sini. Semuanya masih terekam jelas dalam ingatannya.

Suara tangisan mamanya. Bentakan papanya yang menggema. Lemparan barang-barang dan vas bunga yang jatuh tepat di atas kepalanya. Semuanya berputar bagai kaset rusak di dalam benaknya.

"Dah sadar, Lo?" tanya Nathan yang baru saja bangun dari tidurnya.

Fabian tak menjawab, hanya diam.

"Mau gue panggilin dokter?" tanyanya sekali lagi.

Tetap sama, tak ada jawaban. Karena tak kunjung dapat jawaban, Nathan memposisikan kembali tubuhnya untuk tidur. Baru saja matanya tertutup, Fabian mengucapkan sepatah kata yang berhasil membuatnya terbangun kembali.

"Seharusnya Lo biarin gue mati …."

"Maksud, Lo?"

"Nggak seharusnya Lo bawa gue ke sini. Harusnya Lo biarin gue mati di sana, di depan kedua orang tua gue. Percuma Lo bawa gue ke sini kalau akhirnya gue masih hidup," lirihnya.

Nathan membelalakkan matanya tak terima. Masih untung di selamatkan malah minta mati, pikirnya.

Baru saja mulutnya terbuka, sebuah genggaman tangan membuatnya berhenti. Natalie yang semula tertidur di pangkuannya, terbangun akibat suara Nathan.

Natalie menggeleng pelan, sambil berkata. "Jangan …."

Tapi Nathan, tetaplah Nathan. Ia tetap menyahut dengan asal.

"Dilempar vas bunga nggak akan bikin Lo mati," ucapnya dengan santai, yang mendapatkan cubitan sayang dari Natalie.

"Ssshh, kok di cubit sih, Nata," protes Nathan dengan suara yang cukup kecil.

"Makanya jangan asal ngomong," bisik Natalie.

Fabian terkekeh kecil dibuatnya. "Terus cara cepet mati gimana?" tanyanya menanggapi ucapan Nathan.

"Lompat aja dari jembatan. Kalau nggak, gantung diri juga boleh. Tapi jangan deh, entar arwah Lo gentayangan lagi. Mending tabrakin aja diri Lo ke kereta, paling cuman remuk tuh badan," jawabnya asal, yang di tanggapi serius oleh Fabian.

"Boleh juga ide Lo," ujar Fabian.

Nathan gelagapan sendiri mendengarnya. Padahal dirinya hanya asal bicara, bukan bermaksud memberi masukan. Kan nggak lucu kalau tiba-tiba nanti Fabian beneran nabrakin dirinya sendiri ke kereta. Bisa-bisa arwahnya gentayangan di rumahnya.

"Woi, Ian. Gue cuman asal ngomong, sumpah. Lo jangan asal iya-iyain aja dong. Entar arwah Lo gentayangan lagi di rumah gue."

Natalie yang merasa percakapan mereka berdua semakin nyeleneh pun langsung turun tangan. Ia berjalan ke arah Fabian, duduk di kursi samping. Tangannya meraih tangan Fabian yang terbebas infus.

"Ian, dengerin gue. Seberat apapun masalah Lo, jangan pernah sekalipun terlintas di kepala Lo untuk bunuh diri. Lo cuma cukup berjuang, membuktikan pada dunia bahwa Lo bisa. Lo bisa ngembaliin keluarga Lo yang hancur, menjadi utuh kembali. Jangan nyerah oke. Ada gue sama Nathan yang selalu ada di sisi Lo," nasihat Natalie.

"Gue capek, Nata …," keluhnya.

"Gue tau. Gue ngerti apa yang Lo rasain sekarang. Kalau Lo emang capek, istirahat. Jangan paksain tubuh Lo buat ngadepin ini semua. Istirahat nggak akan bikin Lo lemah. Justru dengan istirahat Lo bisa kembali berjuang untuk mendapatkan kembali hak Lo sebagai manusia," kata Natalie lembut.

Fabian terdiam mencerna kata demi kata yang Natalie lontarkan. Apa yang di katakan Natalie benar. Yang dirinya butuhkan sekarang hanyalah istirahat dari kehidupan yang melelahkan.

Sesekali tak apa bukan untuk istirahat? Nggak perlu memaksa kalau memang benar-benar lelah. Karena tubuh juga perlu ruang untuk mengembalikan staminanya.

"Nata …," panggil Fabian.

"Iya."

"Gue boleh tidur …?"

"Tentu saja."

"Jangan pergi …."

"Gue di sini. Gue akan nemenin Lo sampai benar-benar tidur," sahut Natalie dengan lembut.

Tangannya mengusap-usap punggung tangan Fabian dengan lembut. Sedangkan tangan sebelahnya lagi mengusap rambut Fabian dengan sayang.

"Cih, manja …," cibir Nathan.

Natalie melirik tajam Nathan dari ekor matanya, yang membuat Nathan mengalihkan pandangannya ke arah tembok—menghindari lirikan tajam Natalie.

beberapa menit kemudian, setelah di rasa benar-benar tertidur lelap, Natalie beranjak dari duduknya. beralih ke arah Nathan yang asyik duduk santai di sofa.

Ia menarik cuping Nathan dengan pelan, membuat sang empu meringis kesakitan.

"Nata, sakit tau."

"Kalau ngomong tuh di jaga mulutnya, jangan langsung ngomong tanpa di filter dulu. Bukannya nenangin malah manas-manasin," omel Natalie.

"Ya sorry. Tapi bener kan? Kalau emang mau mati ya tinggal bunuh diri, bereskan. Ngapain harus repot-repot ngemis kasih sayang," ucap Nathan santai.

Natalie mengangkat kedua tangannya sambil mengepal erat. Gemas dengan ucapan Nathan yang semakin nyeleneh.

"Aish, untung sayang. Kalau nggak udah gue lempar Lo ke empang," kesalnya.

"Ciee, ceritanya mau buang gue tapi masih sayang nih yee …," ledek Nathan yang membuat Natalie semakin gedeg dibuatnya.

"Udah ya, stop. Habis tenaga gue lama-lama ngadepin Lo."

Nathan menepuk sofa di sampingnya, masih dengan wajah jahilnya. Tak ayal Natalie nurut dengan perintah Nathan.

"Sini gue pijitin kaki Lo. Pasti capek kan jalan-jalan terus dari tadi," ujar Nathan lembut.

Natalie duduk menikmati pijatan di kakinya. Rasa pegal-pegal dan linu yang beberapa hari terakhir ini selalu datang sedikit mendingan.

"Nata."

"Hmm."

"Gue kira Lo tadi pagi masih di rumah sakit. Kok Lo udah keluar? Emang udah mendingan," tanya Nathan.

"Gue nggak apa-apa kok, cuman kecapean aja. Lagian sebenarnya gue mau di bawa pergi tau sama Tante Dewi," curhatnya.

"Ke mana?"

"Entah. Gue juga nggak tau. Pokoknya tadi subuh-subuh Tante Dewi udah bawa gue pulang ke rumahnya. Terus barang-barang gue udah di kemasi semua, tinggal bawa aja tuh ke mobil. Kayaknya Tante Dewi mau bawa gue ke tempat yang jauh. Tempat di mana gue nggak akan pernah di temui Lo ataupun yang lain," ceritanya panjang lebar.

Nathan menghentikan pijatannya, membuat Natalie yang semula memejamkan matanya mengernyitkan keningnya. "Kok berhenti?"

"Lo nggak bakalan pergi, kan setelah ini?" tanya Nathan balik.

"Nggak. Gue akan tetap di sini, kok."

"Janji?" Nathan mengangkat jari kelingkingnya, yang di balas oleh Natalie.

"Janji."

"Oke. Kalau gitu mending kita ke kantin, yuk. Lo pasti lapar, kan?" ajak Nathan.

Nathan menggandeng tangan Natalie dengan lembut. Keduanya berjalan dengan beriringan di lorong rumah sakit.

Baru beberapa meter dari ruangan, pandangan Natalie terkunci pada seseorang yang sedang bersimpuh di depan sana. Dengan perasaan tak karuan, Natalie melepaskan tautan keduanya. Berjalan mendahului Nathan, yang di ikuti olehnya di belakang.

"Nata, tungguin elah," protes Nathan.

.

.

.

1
Adiknya Hyunjin
Huwaaa, aku baru sadar nama bundanya Nathan sama kayak tantenya Natalie
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!