Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.
Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.
Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.
Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.
Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
"Sebenarnya dulu alasan bang Arya nyuruh aku untuk pura-pura jadi pacarnya itu karena dia sakit. Dia nggak mau sisi rapuhnya di ketahui sama kamu. Kata bang Arya, kamu terlalu berharga untuk merasakan sakit—apalagi kalau harus merasakan kehilangan sekaligus. Dia waktu itu suruh aku yang notabenenya tinggal di luar kota untuk datang ke sini. Awalanya aku nggak tau tujuan dia apa, aku pikir dia cuman rindu dengan adiknya ini. Tapi ternyata justru hal lain lah yang menyambut ku." Mia mengambil napas dalam-dalam, sebelum akhirnya melanjutkan ceritanya.
"Awalanya aku menolak mentah-mentah rencana yang sudah di susun rapi sama bang Arya. Aku nggak mau buat bang Arya semakin sedih harus jauh dari kamu, apalagi aku sama mama, papa yang tinggal jauh dari bang Arya—membuat dia nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu di sini—"
"Tapi pada akhirnya Lo menyetujui itu, kan?" potong Natalie.
"Aku terpaksa. Aku nggak punya pilihan lain selain menyetujui itu semua. Aku juga nggak mau ikutin semua rencana yang sudah bang Arya buat. Tapi saat itu aku merasa di pojokkan, hingga mau tak mau aku ikutin semua rencananya. Sampai akhirnya setelah satu hari kalian putus, bang Arya di larikan ke rumah sakit karena penyakitnya kembali. Dia bahkan sampai nggak sadarkan diri selama tiga hari. Begitu bangun yang dia cari pertama kali adalah kamu, Natalie …. Dia bahkan nekat datang ke sekolah cuman ingin ketemu sama kamu. Tapi sesampainya di sana, justru kenyataan pahit lah yang harus ia terima. Bang Arya bilang sama aku kalau kamu berubah, kamu nggak seperti Natalie yang dia kenal. Karena merasa sedih dan kecewa, di tambah tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih—dia lagi-lagi tumbang. Sampai sekarang belum pernah menginjakkan kakinya sekali keluar dari tempat ini," jelas Mia panjang lebar tanpa ada yang di tutup-tutupi lagi.
Sepanjang cerita, Natalie menutup kedua mulutnya dengan tangan. Ia merasa syok sekaligus kecewa dengan keputusan yang di ambil Arya. Kalau memang sedari awal merasa sakit, kenapa tak pernah jujur kepadanya. Kenapa harus orang lain yang menyampaikan langsung padanya.
Ia bisa membayangkan betapa menderitanya kehidupan Arya selama ini tanpa dirinya. Ia merasa marah kepada dirinya sendiri. Kenapa saat orang yang ia cinta sedang menderita, ia tidak bis berada di sisinya.
"Arya, sakit apa …?" tanya Natalie dengan suara bergetar, pipinya sudah basah oleh air mata.
"Leukimia stadium akhir…."
"Sejak kapan …."
"Sejak dulu, waktu kita masih belum mengerti dengan semuanya yang terjadi. Bang Arya menghabiskan masa kecilnya di rumah sakit. Menjalani beberapa pengobatan agar bertahan hidup. Dan dia berhasil, meskipun nggak benar-benar pulih. Sampai akhirnya puncaknya waktu sebelum kalian putus. Penyakitnya tiba-tiba datang kembali, menyiksa tubuh bang Arya dengan begitu kejamnya." Mia memandang sendu ruang rawat kembarannya.
Dengan langkah tertatih, Natalie berjalan ke arah ruang rawat. Tangannya menyentuh kaca dengan perasaan yang sulit di ucap.
"Kenapa Lo harus bohong sama gue …." lirihnya dengan pilu. "Andai gue tahu keadaan Lo waktu itu, gue nggak akan pernah ninggalin Lo sendirian. Gue akan selalu temani Lo sampai sembuh."
Mia mengelus pelan bahu Natalie. Mencoba memberikan ketenangan, meskipun dirinya sendiri juga sama rapuhnya.
......................
Di sisi lain, Nathan mondar-mandir di dalam ruang rawat Fabian. Mengurut keningnya yang terasa pusing.
"Ini Nata ke mana, sih. Dari tadi nggak keliatan batang hidungnya. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu lagi di jalan," asumsinya yang membuat bulu kuduknya berdiri. "Ihh, amit-amit. Jangan sampai deh."
"Apa gue susul aja, ya? Iya deh, mending gue susul dari pada kenapa-napa anak orang. Kan nggak lucu kalau nanti ada berita kayak gini, seorang pangeran yang tampan dan baik hati menelantarkan anak orang di pinggir jalan sampai tersesat. Bisa-bisa hilang nama baik gue sebagai pemimpin kerajaan."
Baru saja kakinya menginjakkan pintu keluar, dari kejauhan sudah terlihat Natalie yang berdiri sambil menangis di ruangan yang tak jauh dari tempatnya. Ia menyipitkan matanya kala melihat seseorang yang tak asing di samping Natalie. Dengan langkah tergesa-gesa, ia menghampiri keduanya.
"Nata!" panggilnya.
Natalie menoleh ke arah Nathan, berlari ke arahnya. Ia menubruk tubuh Nathan dengan kencang. Mengeratkan pelukannya pada sahabatnya itu.
Untung saja Nathan menahan tubuhnya, kalau tidak pasti keduanya akan jatuh di atas lantai yang dingin itu.
"Princess, Lo ngapain nangis-nangis di sini? Lo salah ruangan princess, ruangan Fabian ada di sebelah sana," ucap Nathan.
"Gue jahat. Gue udah ninggalin dia sendirian. Gue nggak bisa ada di sampingnya saat dia butuh gue …," ujar Natalie sambil sesenggukan.
Nathan melihat ke arah perempuan di depannya. "Sahabat gue kenapa?" tanyanya tanpa suara.
Mia hanya mengkode Nathan lewat lirikan mata, yang membuat Nathan tak paham. Pada dasarnya Nathan benar-benar nggak peka dengan keadaan yang terjadi saat ini.
Mia menepuk jidatnya melihat Nathan yang hanya diam saja seperti orang bodoh. Dengan geram Mia mengangkat jari telunjuknya, menunjuk Arya yang ada di dalam. Tapi tetap saja Nathan tak paham.
"Princess, ayo kita ke ruangan Ian. Dia nungguin Lo dari tadi," ujar Nathan.
"Nggak mau. Gue masih mau di sini," tolaknya yang masih enggan melepaskan pelukannya.
Nathan hanya bisa pasrah dibuatnya. Tangannya terulur untuk menepuk pelan rambut Natalie. Tak jarang ia juga mencuri kesempatan untuk menghirup aroma rambut Natalie yang wangi.
Setelah cukup lama keduanya berdiri, Nathan merasakan tubuh Natalie yang secara perlahan mengendorkan pelukan mereka.
"Lah, tidur," gumamnya.
Nathan mengangkat Natalie ala bridal style, membawanya ke ruang rawat Fabian. Ia menidurkan tubuh Natalie di atas sofa dengan berbantalkan pahanya.
Tangannya mengelus surai Natalie dengan lembut. Memandangi wajah Natalie yang begitu tenang saat tertidur. Ia mengulurkan tangannya, mengusap sisa-sisa air mata yang masih basah di pipinya dengan ibu jari.
Nathan menghela napas berat. Menyandarkan kepalanya pada sofa, memejamkan matanya saat rasa pusing menjalar di kepalanya. Tangannya tetap tak berhenti mengusap-usap rambut Natalie.
......................
Di tempat lain, di rumah mewah tempat Natalie tinggal, Nisa berdiri menatap pantulan wajahnya di kaca. Ekspresi wajahnya menunjukkan amarah.
Tangannya menggenggam erat sebuah foto yang ada di tangannya. Itu adalah foto Natalie dan kedua sahabatnya di taman bunga. Ketiganya tersenyum lebar dengan Natalie yang memegang bunga di tengah-tengah Nathan dan Fabian.
"Kamu sudah merebut apa yang aku punya Natalie. Aku nggak akan pernah biarin kamu bahagia. Aku akan merebut kembali apa yang seharusnya jadi milikku," gumamnya dengan mata tajam.
"Lihat saja, aku akan membawa keduanya dalam pelukanku. Aku akan memisahkan kalian apapun caranya. Meski dengan hal kotor sekalipun."
Nisa tersenyum sinis, dengan mata mengkilat. Ia merobek foto itu kecil-kecil. Membakar foto Natalie, meninggalkan foto Nathan dan Fabian yang ia tempelkan di dinding.
"Let's play the game, Natalie …."
.
.
.