NovelToon NovelToon
TERJERAT

TERJERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Mafia
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aris Tea

Di bawah rindangnya pohon randu angker di sudut kampung, seorang pemuda bernama Langit tumbuh dewasa tanpa mengenal siapa orang tua kandungnya. Setiap senja, ia merenung di sana, merasa namanya seluas langit namun tak punya pijakan. Ia tak tahu, takdirnya sudah "terjerat" sejak hari ia ditemukan sebagai bayi di bawah pohon keramat itu oleh Nenek Wati.

Sembilan belas tahun kemudian, rahasia kelam masa lalu mulai terkuak, menyeret Langit pada sebuah pencarian identitas yang tak hanya mengancam hidupnya, tapi juga menguji perasaannya. Ketika ia dihadapkan pada sosok Intan, wanita yang sudah "terjerat" pernikahan namun begitu "layak diperjuangkan", akankah Langit mampu melepaskan diri dari belenggu masa lalu dan menemukan tempat sejatinya? Atau justru semakin dalam "terjerat" dalam takdir yang tak pernah ia minta?

Ikuti perjalanan Langit menemukan jati diri, cinta, dan rahasia yang terkubur di dalam novel TERJERAT.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 8: NAMA ITU TERSEBUT... LANGIT

Udara dingin menyusup, mengiringi kabut tipis yang berarak di antara pepohonan. Bulan sabit menggantung malu, cahayanya hanya mampu menembus samar, menciptakan siluet-siluet aneh di sudut-sudut kampung. Ada desahan angin yang membawa bisikan masa lalu.

Seorang lelaki setengah tua dengan pengalaman hidup yang mumpuni, keluar dari kamar mandi setelah membersihkan seluruh badannya.

"Aneh pikirku..." gumamnya dalam hati.

Dua kejadian yang akan membuat rekeningnya gembul, namun pikirannya saat ini justru terus terbayang-bayang wajah dan tubuh istri sahabatnya sendiri.

Bukti video yang didapatkan Pardi, jelas memperlihatkan betapa aktifnya wanita beranak dua itu yang penuh gairah membara.

"AHHHHHHHH!"

Pardi frustrasi, ketika melihat tangan Intan mulai merayap turun ke arah "pusaka" selingkuhannya itu.

"Andai saja itu terjadi padaku, sudah aku terkam tuh wanita mungil nan cantik itu," geramnya.

"SIALAN!"

"Membayangkannya saja sudah bereaksi punyaku ini, apalagi sampai terjadi... uh, kayaknya puas dan nikmat betul," keluh Pardi sambil menghela napas kasar.

Pardi keluar dari kamar atas, melangkah turun menuju kamar istrinya.

"Ceklek!"

Pintu kamar terbuka. Terlihat sang istri tertidur lelap bersama anaknya yang masih kecil. Namun, gairah Pardi sudah memuncak di ubun-ubun, bayangan tubuh mungil nan semok "buruannya" itu terus menghantuinya.

"Mah... Mah...!"

"Bangun, Mah...!"

Pardi menepuk-nepuk pipi sang istri yang tidur memiring. Tak butuh lama, mata wanita itu mulai membuka perlahan-lahan. Pardi pun tersenyum bahagia, mencoba memancing simpati.

"Mah, burung Papi gak kuat nih... mau masuk sebentar ya..." Pardi tersenyum memelas meminta persetujuan pada istrinya yang terlihat sangat kelelahan.

"Tapi Pah, Mamah ngantuk berat... besok aja ya..." tolak istrinya dengan halus, suaranya terdengar berat dan mengantuk.

Ekspresi kecewa langsung menyelimuti wajah Pardi. Dengan langkah kesal, ia pun keluar dari kamar itu...

BRAAKK!!

Dengan emosi memuncak, Pardi membanting pintu kamar dengan keras.

Sang istri terlonjak kaget, matanya terbuka lebar karena kaget bukan main. Dalam hatinya ia bergumam penuh kesal:

"Dasar lelaki egois... hanya memikirkan nafsunya sendiri, tidak pernah peduli istri sudah capek seharian."

Matahari pagi mulai menyapa dengan hangatnya.

"Pagi sudah menunjukkan wajahnya, Sayang. Anak-anak sudah bangun lho," ucap Jaji sambil sibuk mengaduk wajan berisi nasi goreng di dapur. Suaranya terdengar ceria, sangat berbeda dengan isi hatinya yang penuh curiga.

Intan yang baru saja bangun dari tidurnya tampak sedikit kaget, rambutnya masih berantakan.

"Ya sudah Pih... Iya sebentar ya, aku siapin yang lain dulu."

Namun, meski tubuhnya bergerak bersiap sarapan, pikiran Intan masih melayang tertinggal pada pertemuan semalam. Terbayang jelas wajah polos Langit yang sama sekali tidak menyadari hasrat membara yang ada dalam diri wanita itu, sementara suaminya di sisi lain sibuk dengan urusan dapur seolah dunia ini baik-baik saja.

 

Pagi di kampung sungguh memukau. Suara ayam berkokok bersahutan memecah keheningan. Embun pagi yang masih menempel di dedaunan berkilauan bak butiran mutiara. Asap putih tipis mengepul dari cerobong dapur rumah-rumah warga, bercampur dengan udara sejuk yang menusuk hidung.

Jembatan kayu yang basah oleh embun menyambut langkah kaki para petani yang beranjak ke sawah. Di atas dahan pohon rambutan, burung cucak ijo bernyanyi riang menyambut datangnya siang. Di warung-warung kecil tepi jalan, teh hangat mengepul siap menemani para tetangga yang duduk berbincang santai. Begitulah kehidupan desa, sederhana namun penuh dengan kehangatan dan makna.

Lelaki kurus yang usianya tinggal dua tahun lagi menginjak kepala empat itu menghirup udara pagi dalam-dalam. Kenikmatan seperti ini mustahil ia dapatkan di hiruk pikuk kota besar yang penuh polusi.

Usai menyantap sarapan bersama istri dan kedua buah hatinya, Jaji berpamitan. Ia mengenakan setelan olahraga santai.

"Pih mau lari-lari kecil dulu ya, sekalian menghirup udara segar."

Langkah kakinya membawa ia berjalan menyusuri jalan setapak.

"Pak Jaji... Mau kemana pagi-pagi begini?" sapa seorang ibu tetangga yang berpapasan dengannya.

"Iya Mbok, cuma jalan-jalan santai menikmati udara pagi ini. Kalau di kota mana sempat ya Mbok, sibuk kerja melulu," jawab Jaji ramah dengan senyum yang terlihat tulus.

"Oh iya juga ya Pak. Di kota kan mana ada sawah luas begini, udaranya juga pasti sudah tercemar asap kendaraan," sahut tetangga itu.

"Ya begitulah adanya. Mari Mbok, silahkan jalan-jalan dulu mumpung belum terik mataharinya," pamit Jaji.

"Silahkan Pak..."

Sebenarnya, alasan lari pagi itu hanyalah kedok semata. Tujuan utamanya hanya satu: menemui orang yang ia bayar untuk mengawasi setiap gerak-gerik istrinya.

 

Setengah jam berlalu, akhirnya Jaji sampai di sebuah rumah sederhana di kampung sebelah. Tampak seorang wanita berhijab sedang duduk di teras sambil menyuapi anaknya yang masih kecil.

"Permisi... Numpang tanya, apakah ini kediaman Bapak Pardi?" tanya Jaji dengan sopan santun.

Wanita itu tersenyum, matanya menelisik dari ujung kaki hingga ke kepala sosok pria di depannya.

"Iya betul Pak. Kalau boleh tahu Bapak siapa? Ada keperluan apa dengan suami saya?"

"Perkenalkan nama saya Jaji, dari kampung sebelah. Ada urusan penting yang ingin saya bicarakan dengan suami Ibu. Bolehkah saya meminta tolong untuk memanggilkannya sebentar?" pinta Jaji.

"Oh begitu... Silahkan duduk dulu Pak. Suami saya memang masih tidur, sebentar saya bangunkan dulu ya," ucap istri Pardi ramah seraya mempersilakan tamunya duduk di bangku kayu di pekarangan.

"Terima kasih banyak, Buk."

Jaji duduk dengan sikap yang sopan. Tak lama kemudian, wanita itu kembali membawa nampan berisi secangkir kopi hitam yang masih mengepul panas beserta sedikit gorengan sebagai teman ngobrol.

"Maaf ya Pak... Suami bilang tunggu sebentar, mau ke kamar mandi dulu basuh muka biar seger. Silahkan diminum kopinya Pak, mumpung masih panas."

"Aduh... Jadi repot-repot nih Buk, makasih ya," sahut Jaji merasa tidak enak hati.

"Ah cuma kopi biasa kok Pak, nggak repot sama sekali. Silahkan diminum ya Pak, saya masuk dulu masih ada urusan sama anak," pamit wanita itu lalu masuk kembali ke dalam rumah.

"Silahkan Buk, santai saja jangan merasa terbeban."

Setelah memastikan istri Pardi sudah masuk dan pintu tertutup, Jaji pun mengeluarkan bungkus rokok dari saku celananya.

'Kopi tanpa rokok itu ibarat sayur tanpa garam... hambar rasanya,' batinnya terkekeh pelan.

Ia pun menikmati kepulan asap tembakaunya yang bercampur dengan aroma kopi robusta yang khas.

Belum lama ia menikmati kesendiriannya, terdengar langkah kaki mendekat. Seorang pria keluar membawa cangkir kopi dan sebatang rokok Djarum Coklat di mulutnya.

"BROOO...!!" panggil pria itu keras-keras.

Jaji yang sedang asyik melamun kaget setengah mati.

"Woy... Sialan lo! Ngagetin aja! Ganggu gak sih?"

"Hadeh... Pagi-pagi udah melamun doang! Awas kesambet jin ipit tau rasa lo!" ledek Pardi sambil tertawa lebar lalu duduk bersila di hadapan temannya itu.

"Sialan lo... Gue bukan melamun, tapi lagi menikmati nikmatnya kopi plus rokok! Bedanya tipis tau!" bantah Jaji berusaha terlihat gagah.

"Hehehehe... Oke oke terserah deh." Pardi terkekeh. "Terus lo kapan balik lagi ke kota?"

"Malam ini jam 7 an kayaknya nyampe rumah. Gak usah bahas itu dulu," suara Jaji tiba-tiba berubah serius dan rendah. "Gimana hasil penyelidikan lo? Ada yang patut dicurigai gak?"

Pardi pun ikut merubah wajahnya menjadi lebih serius. Ia menekan nadanya agar tidak terlalu keras, takut terdengar oleh istrinya di dalam atau tetangga sekitar.

"Ada... Tapi buktinya belum kuat banget. Lo sabar ya, tunggu dua minggu atau sebulan lagi paling lama. Pasti gue kasih bukti yang sempurna. Untuk saat ini sih kayaknya mereka lagi masa pendekatan, belum terlihat jelas menjurus ke perselingkuhan yang nyata-nyata."

Jaji menelan ludah. Amarah mulai memuncak di dadanya meski ditahan-tahan.

"SIAPA...?! Siapa nama cowok sialan itu?!" tanyanya gemetar.

Pardi mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap mata Jaji tajam, lalu mengucapkan satu nama dengan jelas dan pelan:

"LANGIT... Cucu dari Nenek Wati, janda pensiunan yang rumahnya sebelahan sama rumah lo!"

CATATAN PEMBACA:

SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!

SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.

JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!

SALAM DARI ANAK KAMPUNG,

ARIS.

Bersambung.

1
Ramdan
lagi atuh Thor
Ramdan
bahaya ini mah
Ramdan
😭😭😭😭😭
Ruhjan
kalau aku sudah terkam tuh🤣🤣
Ramdan
Aduhhh thor mana langit sedang sakit 😭
Ramdan
keren thor, ayo gass
Ramdan
mantap kak, sebentar lagi akan terungkap
Neng
wkwkwk
Kar
😭😭😭😭😭😭
Ramdan
lagi thor yang banyak up nya
Ramdan
😭😭😭😭😭😭
Ramdan
😄😄😄😄😄😄😄
Ramdan
aduhh bahaya thor mode panas
Yoyo
parah Thor 🤣🤣🤣🤣
man
aku dukung penuh Thor semangat
Akang
lanjut Thor
Akang
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Akang
waduhh
Akang
/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
Akang
gasss kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!