Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Sang Resi dan Pelukan Pulang
Guntur berjalan gontai memasuki bar elit SCBD dengan jaket ojek yang sudah compang-camping sisa pertempuran lawan Mafia. Harusnya malam ini jadi malam kemenangan, tapi begitu masuk, Guntur justru melihat pemandangan yang menyakitkan. Kevin sedang asyik merangkul pinggang Vanesha Adeline sambil tertawa meremehkan di meja VVIP.
"Walah, lihat siapa yang datang! Pahlawan bau knalpot kita sudah sampai," ejek Kevin sambil menuangkan wiski ke lantai tepat di depan kaki Guntur. "Guntur, sadar diri sedikit. Kamu itu cuma otot, jangan mimpi bisa setara dengan kami di tempat mewah ini!"
Guntur menatap Vanesha dengan sisa napas lelahnya. Bukannya membela, Vanesha justru menatap Guntur dengan pandangan dingin karena terhasut Kevin. "Guntur, kamu memalukan! Lihat penampilanmu, kotor! Sana pergi, kembali ke selokanmu!"
Kevin tertawa semakin kencang dan sengaja mendorong bahu Guntur yang terluka hingga ia terhuyung.
Darah Guntur mendidih. Dia mulai merapalkan mantra keramat dalam batinnya.
"Ya Qowiyyu Ya Matiin... Ya Qowiyyu Ya Matiin... Ya Qowiyyu Ya Matiin..."
Seketika, hawa panas meledak dari tubuh Guntur. Tekanan energinya begitu dahsyat sampai gelas-gelas di atas meja pecah berantakan secara misterius.
BUGH!
Satu jotosan Brajamusti telak menghantam ulu hati Kevin.
KREEEKKKK!
Suara tulang rusuk yang patah terdengar sangat nyaring. Kevin terkapar di lantai sambil muntah darah segar.
"GUNTUR! CUKUP!" teriak Vanesha histeris.
PLAAAKKKKK!
Vanesha melayangkan tamparan keras ke pipi Guntur. Guntur terdiam, ia mengusap pipinya lalu mengaktifkan Aji Asmara Cipta.
Seketika, aroma melati mistis memenuhi ruangan. Tiga wanita kaya—Anastasya Putri, Salsabila Adiningrat, dan dr. Felicia Anggita—berjalan maju dan langsung memuja Guntur dengan mata penuh pemujaan.
Melihat Guntur yang kini dipuja-puja oleh tiga wanita paling berpengaruh di Jakarta, Vanesha Adeline baru sadar betapa bodohnya dia. Guntur melangkah pergi merangkul Anastasya, meninggalkan Vanesha yang jatuh terduduk menangis menyesal.
Vanesha mengejar Guntur sampai ke lobi hotel. Di depan mobil-mobil mewah, Vanesha langsung bersujud di kaki Guntur yang berdebu.
"Guntur, aku minta maaf! Aku khilaf, aku terhasut Kevin! Tolong jangan tinggalkan aku!" tangis Vanesha pecah sambil memegang ujung celana Guntur.
Ketiga wanita kaya itu tertawa sinis, "Minta maaf sekarang? Sudah terlambat, Vanesha!"
Guntur menarik napas panjang. Kekuatan Brajamusti di tangannya mereda. Dia membungkuk dan mengangkat Vanesha berdiri. "Mbak V, bangun. Aku sudah memaafkanmu, karena Sang Naga tidak dididik untuk menanam dendam pada wanita."
Vanesha menangis haru, ia memeluk Guntur dengan erat, tidak peduli lagi dengan bau keringat Guntur. Dia baru tahu, hanya Guntur yang tulus menjaganya selama ini.
Tiba-tiba, suara berat sang kakek Resi menggema di batin Guntur.
"Guntur Hidayat... ingatlah jati dirimu. Kekuatan sejatimu bukan pada wanita-wanita duniawi ini, tapi pada doa tulus orang tuamu. Pulanglah, Nak!"
Seketika, aura magis Aji Asmara Cipta luntur. Guntur kembali terlihat kucel dan biasa saja. Ketiga wanita kaya itu langsung merasa kehilangan minat dan pergi meninggalkan Guntur begitu saja.
Hanya Vanesha Adeline yang tetap setia memeluknya.
"Mbak V... aku capek. Aku kangen Sidoarjo. Aku kangen Ibuk dan Bapak," ucap Guntur dengan suara serak.
Malam itu juga, Guntur memacu motor matic-nya membonceng Vanesha menuju Desa Gedangan, Sidoarjo. Begitu sampai di depan rumah sederhana, Ibu Siti Khumairoh dan Bapak Suryo sudah menunggu dengan cemas di depan pintu.
"Ibuk... Bapak..." Guntur langsung bersujud di kaki Ibu Siti Khumairoh.
Tiba-tiba, dari dalam rumah terdengar teriakan kencang. "MAS GUNTURRR!"
Itu adalah Bagas, adiknya yang bandel, dan Nirmala Sari (Mala), adiknya yang cantik jelita. Mereka langsung menubruk kakaknya dengan rindu yang sangat dalam.
Mala menyalami tangan Vanesha dengan takzim. "Mas Guntur, ini siapa? Cantik banget kayak bidadari!"
Guntur tersenyum bangga sambil mengusap kepala adiknya. "Ini Mbak Vanesha Adeline, calon kakak iparmu yang paling galak. Ayo masuk, Mas kangen sambal teri Ibuk!"
Di bawah atap rumah yang sederhana itu, Guntur merasa kekuatannya kembali penuh. Bukan karena ilmu mistis, tapi karena cinta keluarga dan kesetiaan Vanesha.
Suasana di dalam rumah kecil itu mendadak ramai. Vanesha Adeline, yang biasanya duduk di kursi kerja mewah seharga puluhan juta, kini harus duduk bersila di atas tikar pandan yang aromanya khas pedesaan. Di depannya, sudah tersaji nasi hangat, sambal teri pete, sayur lodeh, dan tempe goreng garing hasil masakan Ibu Siti Khumairoh.
Bapak Suryo berdehem pelan sambil membetulkan letak sarungnya. "Maaf ya, Mbak Vanesha. Rumahnya sempit, makanannya juga cuma begini. Orang desa nggak punya makanan mewah kayak di Jakarta," ucap Bapak Suryo dengan suara rendah namun penuh keramahan.
Vanesha tersenyum tulus, sesuatu yang jarang ia lakukan di kantor. "Nggak apa-apa, Pak. Justru saya senang sekali. Di Jakarta saya sering makan enak, tapi rasanya nggak sehangat di sini," jawab Vanesha sambil melirik Guntur yang sudah lahap menyikat nasi sambalnya.
Bagas yang duduk di sebelah Vanesha tiba-tiba nyeletuk dengan gaya sengkleknya. "Mbak V, jangan kaget ya kalau Mas Guntur makannya kayak orang nggak ketemu nasi setahun. Di Jakarta dia pasti cuma makan asap knalpot, makanya pas ketemu sambal Ibuk langsung kesurupan!" canda Bagas yang langsung dihadiahi jitakan sayang oleh Guntur.
"Diem kamu, Gas! Kamu itu kerjanya tawuran terus, kasihan Nirmala Sari yang harus jagain Ibuk sendirian di rumah," balas Guntur sambil tertawa kecil.
Nirmala Sari (Mala) yang duduk di dekat Ibunya hanya tersenyum manis. Dia menatap Vanesha dengan penuh kekaguman. "Mbak Vanesha cantik banget. Kayak bidadari yang jatuh dari mobil sport. Pasti di Jakarta banyak yang ngejar-ngejar Mbak, ya?" tanya Mala dengan polosnya.
Vanesha terdiam sejenak, lalu ia menatap Guntur dengan lembut. "Banyak yang ngejar, Mala... tapi nggak ada yang senekat kakakmu. Dia satu-satunya pria yang berani ngatain aku Mak Lampir di hari pertama ketemu," jawab Vanesha yang membuat seluruh ruangan itu pecah dalam tawa.
Ibu Siti Khumairoh mengusap air mata bahagianya melihat anak sulungnya kembali ceria. "Guntur itu memang nakal, Mbak. Tapi hatinya lurus. Dia merantau ke Jakarta cuma buat nyekolahin Mala dan Bagas. Dia nggak pernah cerita kalau hidupnya susah di sana, selalu bilangnya sukses terus," bisik Ibu Siti dengan nada haru.
Mendengar ucapan Ibunya, Guntur terhenti makannya. Dia menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. Dia teringat betapa kerasnya dia harus memeras keringat menjadi ojek online, menahan hinaan Kevin, dan hampir mati di tangan Mafia, semuanya demi melihat senyum keluarganya malam ini.
Tiba-tiba, sebuah tangan halus menyentuh jemari Guntur di bawah meja. Itu tangan Vanesha Adeline. Tanpa berkata-kata, Vanesha memberikan kekuatan lewat genggaman itu, seolah berjanji bahwa mulai sekarang, Guntur tidak akan berjuang sendirian lagi.
"Nggeh pun (Ya sudah), habis ini istirahat. Mbak Vanesha tidur bareng Mala di kamar depan ya, maaf kalau panas nggak ada AC-nya," ucap Bapak Suryo sambil menutup makan malam itu dengan doa.
Vanesha mengangguk mantap. "Nggak apa-apa, Pak. Ada kipas angin kecil saja sudah cukup bagi saya. Malam ini, saya cuma mau ngerasain jadi warga Sidoarjo," ucap Vanesha yang disambut tawa senang oleh Bagas dan Mala.
Malam semakin larut di Desa Gedangan. Guntur berdiri di teras rumah, menatap langit malam yang bertabur bintang. Meskipun kekuatannya tadi sempat luntur, tapi berada di rumah ini memberinya energi baru yang jauh lebih dahsyat dari mantra apa pun. Guntur tahu, perang di Jakarta belum usai, tapi malam ini, dia hanya ingin menjadi Guntur Hidayat, seorang kakak dan anak yang bahagia.