NovelToon NovelToon
Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:793
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: BABAK BARU

Enam bulan telah berlalu sejak Soulrender tertancap di bukit pemakaman.

Musim semi datang ke Nivalen dengan kelembutan yang tidak pernah dirasakan selama bertahun-tahun. Bunga-bunga bermekaran di taman istana yang dulu hangus terbakar. Burung-burung kembali bersarang di atap-atap yang telah diperbaiki. Dan di pasar-pasar, tawa anak-anak mulai terdengar lagi—suara yang paling lama hilang, paling lama dirindukan.

Aldric berdiri di balkon istana, menatap kota di bawahnya. Dari ketinggian ini, ia bisa melihat kapal-kapal dagang berlabuh di sungai, para petani membawa hasil panen ke pasar, dan di kejauhan, tembok kota yang sedang diperbaiki. Nivalen tidak lagi semegah dulu, tapi ia hidup. Ia bernapas.

"Raja sedang melamun?"

Suara Elara dari belakang. Aldric tidak menoleh, tapi senyum muncul di wajahnya.

"Aku sedang menghitung," jawabnya.

"Menghitung apa?"

"Berapa banyak yang harus diperbaiki. Masih banyak."

Elara berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya. Enam bulan sebagai ratu telah mengubahnya—bukan menjadi kaku, tapi lebih percaya diri. Rambut merah apinya kini sering diikat rapi, mahkota kecil di kepalanya, tapi matanya tetap sama—hijau zamrud yang hangat.

"Kita punya waktu," katanya. "Tidak perlu semuanya selesai dalam sehari."

Aldric menghela napas. "Aku tahu. Tapi kadang aku merasa... tidak cukup cepat. Rakyat masih kelaparan di beberapa desa. Para prajurit yang cacat perang belum mendapat santunan. Dan di utara—"

"Di utara sedang baik-baik saja. Laporan terakhir dari utusan mengatakan salju sudah mencair, ladang mulai ditanami." Elara menatapnya. "Kau terlalu keras pada dirimu sendiri, Aldric."

Aldric ingin membantah, tapi dari dalam ruangan, suara Ren memotong.

"Om! Om! Varyn datang!"

Mereka berbalik. Ren berlari kecil keluar dari ruang tahta, diikuti Sera yang terengah-engah. Anak itu kini hampir enam tahun, tumbuh sehat meskipun agak kurus. Matanya masih sering berubah merah saat Varyn bicara, tapi itu sudah dianggap biasa.

Dari balik pintu, sesosok pria tinggi kurus dengan kulit abu-abu dan rambut putih panjang melangkah keluar—Varyn, dalam wujud manusianya. Ia tersenyum melihat Aldric.

"Raja muda," sapanya. "Kau terlihat lebih segar dari terakhir kali."

"Varyn." Aldric menyambutnya dengan hangat. "Apa kabar dunia bawah?"

"Berangsur pulih. Kael dan yang lain tidak hanya menghancurkan dunia atas." Varyn berjalan ke balkon, ikut menatap kota. "Tapi ada yang ingin kubicarakan."

Nada suaranya berubah. Aldric menajamkan pendengaran.

"Apa?"

"Master Elian mengirim utusan ke dunia bawah. Ia minta kita bertemu. Segera."

Ruang dewan istana telah diperbaiki, meskipun masih sederhana. Meja kayu jati panjang, kursi-kursi dari berbagai desa sumbangan, dan di dinding, peta kerajaan yang baru digambar. Di sinilah Aldric mengadakan pertemuan dengan para penasihatnya.

Kali ini, hanya sedikit yang hadir: Elara, Varyn, Mira yang kini menjadi kepala pelayan istana, dan Sera yang duduk di pojok bersama Ren. Master Elian datang dengan tongkatnya, jubah usang yang sama, tapi matanya—matanya tampak lebih serius dari biasanya.

"Terima kasih sudah datang, Master Elian," kata Aldric.

Elian duduk di kursi yang disediakan, menghela napas panjang. "Aku tidak akan datang jika tidak penting."

"Apa yang terjadi?"

Elian mengeluarkan sebuah benda dari balik jubahnya—sebuah fragmen batu hitam, seukuran telapak tangan, dengan ukiran rune kuno yang bersinar merah samar.

"Kau tahu ini?"

Aldric mengamati. "Batu ini... mirip dengan kristal pengikat Varyn."

"Lebih tua dari itu," potong Varyn, matanya menyipit. "Jauh lebih tua."

Elian mengangguk. "Batu ini ditemukan di reruntuhan kuil kuno di pegunungan timur. Seorang arkeolog menemukannya, lalu membawanya padaku karena khawatir dengan aurnya." Ia meletakkan batu itu di atas meja. "Aku telah menelitinya selama berminggu-minggu. Dan aku menemukan sesuatu yang mengkhawatirkan."

Ia menekan batu itu dengan jarinya. Rune-runenya bersinar lebih terang, dan dari dalam batu, suara-suara bergema—bukan suara manusia, tapi bisikan-bisikan aneh, suara yang membuat bulu kuduk merinding.

"Ini... ini bahasa kuno," gumam Varyn. "Bahasa sebelum iblis ada."

"Sebelum iblis ada?" Aldric mengerutkan dahi. "Maksudmu... ini dari para dewa?"

"Bukan dewa." Elian menggeleng. "Dari sesuatu yang lebih tua. Yang disebut oleh leluhurmu sebagai The Primordial Darkness—Kegelapan Purba. Entitas yang ada sebelum dunia diciptakan, sebelum dewa-dewa lahir, sebelum cahaya dan gelap terpisah."

Suasana ruangan berubah tegang.

"Aku pikir Four Horsemen adalah ancaman terbesar," kata Elara pelan.

"Four Horsemen adalah anak-anaknya," jawab Elian. "Mereka adalah manifestasi dari dendam, korupsi, penodaan, dan godaan—empat aspek Kegelapan Purba. Tapi aspek-aspek itu hanya bagian kecil. Yang asli... masih ada. Tertidur. Tapi mulai bangun."

Aldric menatap batu hitam itu. "Dan batu ini?"

"Batu ini adalah pecahan dari The Heart of Darkness—jantung Kegelapan Purba. Ia tidak bisa dihancurkan. Tapi ia bisa digunakan untuk melacak di mana jantung itu berada." Elian menatap Aldric serius. "Kita harus menemukannya sebelum ia bangun sepenuhnya."

Pertemuan berlangsung berjam-jam.

Elian menjelaskan tentang sejarah kuno yang tidak pernah tercatat dalam buku-buku kerajaan. Tentang perang pertama antara cahaya dan gelap, tentang pengorbanan para dewa untuk mengurung Kegelapan Purba, tentang bagaimana Four Horsemen lahir dari pecahan-pecahan yang lolos.

Varyn mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk. "Aku ingat cerita ini. Waktu aku masih muda—ribuan tahun lalu—para iblis tua sering mendongeng tentang 'Yang Tidur di Dasar Dunia'. Kami pikir itu hanya dongeng."

"Bukan dongeng," kata Elian. "Dan dia mulai bangun. Aku merasakannya sejak dua bulan lalu. Getaran kecil di leyak—garis-garis kekuatan magis dunia. Awalnya aku pikir itu sisa-sisa kebangkitan Four Horsemen. Tapi getarannya tidak berkurang. Justru semakin kuat."

Aldric memandang sekeliling ruangan. Elara tampak cemas, Mira gelisah, Sera memeluk Ren erat. Hanya Ren yang tampak tenang—matanya sayu, mungkin sedang berkomunikasi dengan Varyn.

"Om," anak itu tiba-tiba bicara. "Varyn bilang... kita harus pergi ke timur."

Elian mengangkat alis. "Varyn benar. Jantung Kegelapan Purba berada di timur, di bawah reruntuhan kota kuno Aeloria."

"Aeloria?" Aldric belum pernah mendengar nama itu.

"Kota yang hancur dalam Perang Seribu Tahun. Kini hanya tinggal puing-puing di tengah gurun pasir. Tidak ada yang berani mendekati sana selama berabad-abad."

Mira bersuara, "Yang Mulia, kau baru saja menjadi raja. Kerajaan masih pulih. Apakah bijaksana meninggalkan Nivalen sekarang?"

Aldric memikirkannya. Mira benar. Kerajaan masih rapuh. Jika ia pergi, siapa yang akan memimpin?

Elara meraih tangannya. "Aku bisa tinggal. Mengurus kerajaan sementara kau pergi."

"Aku tidak bisa meninggalkanmu—"

"Kau tidak meninggalkanku. Kau pergi untuk menyelamatkan kita semua." Elara tersenyum tipis. "Aku sudah cukup kuat sekarang. Mira akan membantu. Para penasihat setia padamu."

Aldric menatapnya lama. Di matanya, ia melihat keteguhan yang tidak bisa digoyahkan.

"Baik," katanya akhirnya. "Aku akan pergi. Tapi tidak sendirian."

Ia menatap Varyn, lalu Ren.

"Aku akan bawa Varyn. Dan Ren—" ia menatap Sera, "—jika kau mengizinkan."

Sera terkejut. "Ren? Tapi dia masih kecil—"

"Ren adalah kunci," potong Varyn. "Aku sudah bilang sejak awal. Anak ini punya koneksi dengan dunia bawah yang tidak dimiliki siapa pun. Ia bisa menjadi jembatan antara kita dan kegelapan itu. Tanpanya, kita buta."

Sera menangis. "Tapi dia anakku..."

Ren meraih tangan ibunya. "Bu, Ren mau bantu Om. Varyn jagain Ren. Om jagain Ren. Ren nggak takut."

Sera memeluknya erat, menangis lama. Tapi akhirnya ia melepaskan, mengusap air matanya.

"Jaga dia," bisiknya pada Aldric. "Bawa dia pulang."

"Janji," kata Aldric.

Malam itu, Aldric mengemas perlengkapan perjalanan. Peta dari Elian, bekal dari Mira, pedang baru—karena Soulrender masih tertancap di bukit pemakaman—dan sebuah belati pemberian Varyn.

Elara membantunya, diam-diam menyisipkan surat kecil di saku jubahnya.

"Apa itu?" tanya Aldric.

"Surat untukku. Agar kau ingat aku." Ia tersenyum. "Aku tahu kau akan sibuk di jalan. Tapi setidaknya baca sekali-sekali."

Aldric memeluknya. "Aku akan kembali. Aku janji."

"Kau selalu bilang begitu." Elara membalas pelukannya. "Dan kau selalu kembali."

Mereka berpelukan di kamar yang sunyi, di bawah cahaya lilin yang berkedip.

Di luar, bulan purnama bersinar terang.

Pagi harinya, Aldric, Varyn, dan Ren bersiap berangkat.

Mereka tidak membawa rombongan besar—hanya tiga ekor kuda, perbekalan secukupnya, dan tekad yang membara. Sera menangis di gerbang istana, Mira menyerahkan kantong berisi makanan tambahan, dan para penjaga memberi hormat terakhir.

Elara berdiri di tangga istana, gaun birunya berkibar ditiup angin pagi. Ia tersenyum—senyum yang sama seperti dulu, saat Aldric pertama kali jatuh cinta padanya.

"Ayo cepat pulang," katanya.

Aldric tersenyum balik. "Aku akan cepat."

Ia menaiki kuda, memeluk Ren yang duduk di depannya. Varyn—dalam wujud manusianya—menaiki kuda di sampingnya.

Mereka melesat meninggalkan Nivalen, meninggalkan istana, meninggalkan kehidupan baru yang mulai dibangun.

Di kejauhan, di timur, gurun pasir menanti. Di bawah gurun, reruntuhan Aeloria terbaring sunyi. Dan di bawah reruntuhan itu, sesuatu yang lebih tua dari dewa mulai terbangun dari tidur panjangnya.

"Kau yakin ini yang harus dilakukan?" tanya Varyn di tengah perjalanan.

Aldric menatap jalan di depan. "Aku tidak yakin. Tapi aku tidak bisa diam."

"Kau berubah, Nak. Dulu kau hanya ingin balas dendam. Sekarang kau memikirkan orang lain."

"Mungkin karena sekarang aku punya sesuatu yang pantas dilindungi."

Ren tertidur di pelukannya, wajah kecilnya tenang. Aldric memeluknya lebih erat.

Perjalanan baru dimulai.

Tiga hari perjalanan ke timur membawa mereka melewati desa-desa yang mulai pulih, ladang-ladang yang mulai menghijau, dan perbukitan yang diselimuti kabut pagi. Tapi semakin jauh mereka dari Nivalen, semakin terasa perubahan—udara menjadi lebih berat, langit lebih kelabu, dan di malam hari, bintang-bintang tampak redup, seolah ditelan oleh sesuatu yang tak terlihat.

Ren sering bermimpi aneh. Dalam mimpinya, ia melihat kota terbakar, manusia berlarian, dan di tengah semua itu, sesosok bayangan raksasa dengan mata putih tanpa pupil menatapnya.

"Dia tahu kita datang," bisik Ren pada Aldric suatu malam. "Dia sudah menunggu."

Aldric menatap ke timur, ke arah gurun yang belum terlihat.

"Biarkan dia menunggu," katanya. "Kita akan datang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!