NovelToon NovelToon
Lentera Di Balik Luka

Lentera Di Balik Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Sinar matahari pagi mulai menembus tirai tipis apartemen mewah itu.

Bel pintu berbunyi pelan, namun cukup untuk membuat Jati yang tertidur di sofa tersentak bangun.

Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, ia membuka pintu dan terkejut melihat sosok Papa dan Mamanya berdiri di sana sambil menjinjing beberapa rantang makanan yang aromanya sangat menggugah selera.

"Pagi, Jati. Wah, anak Mama kok tidurnya di sofa?" tanya Mama Jati sambil melangkah masuk dengan santai, seolah itu rumahnya sendiri.

"Eh, Pa, Ma, selamat pagi. Tadi malam habis cari manisan mangga," jawab Jati sambil mengucek matanya dan berusaha merapikan kimono handuknya yang agak berantakan.

Papa Jati terkekeh, menepuk bahu putranya. "Sudah jadi suami siaga rupanya. Mana Lintang? Kami bawakan gudeg dan bubur ayam kesukaannya."

Jati menunjuk ke arah kamar dengan dagunya. "Lintang masih tidur, Ma. Tadi subuh dia mual terus, sepertinya kelelahan setelah kejadian kemarin. Kasihan, baru bisa lelap satu jam yang lalu."

Mama Jati langsung memasang wajah prihatin. "Oalah, kasihan sekali menantuku. Ya sudah, biarkan dia istirahat dulu. Kamu sekarang mandi, Papa dan Mama tunggu di ruang makan. Kita sarapan bareng."

Di ruang makan yang elegan, meja marmer itu kini penuh dengan hidangan tradisional.

Papa dan Mama Jati sudah duduk rapi, menyiapkan piring untuk putra mereka.

"Ayo, Jati. Duduk di sini. Ceritakan pada Papa, bagaimana perkembangan kesehatanmu dan rencana kalian ke depan?" tanya Papa Jati dengan nada kebapakan yang hangat.

Jati menarik kursi, aroma bubur ayam yang gurih mulai menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.

"Daerah senjata Jati sudah jauh lebih baik, Pa. Berkat Lintang yang telaten. Soal rencana Jati ingin segera meresmikan semuanya secara hukum. Jati tidak mau ada celah lagi untuk Mila atau Dery mengganggu Lintang."

Mama Jati mengangguk setuju sambil menuangkan teh hangat untuk Jati.

"Mama dukung, Jati. Lintang itu perempuan hebat. Meskipun dia sedang hamil dan sering mual, dia tetap memikirkan kesehatanmu. Jangan sampai kamu sia-siakan dia."

"Jati janji, Ma. Lintang adalah pusat hidup Jati sekarang," jawab Jati mantap.

Tepat saat mereka sedang berbincang hangat, terdengar suara langkah kaki pelan dari arah kamar.

Lintang muncul dengan wajah yang masih sedikit pucat dan rambut yang diikat asal, tampak terkejut melihat mertuanya sudah ada di sana.

"Mama... Papa, maaf, Lintang baru bangun," ucap Lintang dengan nada tidak enak hati, hendak menyalami tangan mereka.

"Sstt... tidak apa-apa, Sayang. Sini, duduk di samping Jati. Mama sudah siapkan bubur ayam hangat yang tidak bikin mual. Ayo, kita sarapan keluarga," ajak Mama Jati dengan penuh kasih sayang, membuat Lintang merasa benar-benar diterima di keluarga itu.

Suasana di ruang makan yang mewah itu mendadak berubah menjadi penuh haru.

Selesai menyantap bubur ayam hangat yang disiapkan, Mama Jati merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru merah marun yang tampak klasik dan sangat berharga.

"Lintang, Sayang, kemari sebentar," panggil Mama Jati dengan suara lembut.

Lintang mendekat dengan ragu, namun Jati segera menggenggam tangannya, memberinya kekuatan.

Saat kotak itu dibuka, sebuah kalung emas dengan liontin permata zamrud yang dikelilingi berlian kecil berkilau indah tertangkap cahaya lampu.

"Ini adalah perhiasan turun-temurun keluarga kami. Dulu, ini diberikan oleh nenek Jati kepada Mama saat Mama baru menikah. Sekarang, perhiasan ini adalah milikmu," ucap Mama Jati sambil menyematkan kalung itu ke leher Lintang.

"Ini tanda bahwa kamu sudah resmi menjadi bagian dari kami. Kamu bukan lagi orang luar, Lintang."

Lintang menyentuh liontin dingin itu di dadanya, matanya berkaca-kaca.

"Mama, ini terlalu berharga untuk saya. Terima kasih banyak."

Papa Jati yang sejak tadi memperhatikan dengan bangga, berdehem pelan.

"Jati, Papa ingin bicara serius. Pernikahan kalian kemarin di KUA memang sah, tapi sebagai keluarga besar, Papa ingin ada perayaan yang layak. Kita harus mengadakan resepsi."

Jati terdiam sejenak, ia menatap Lintang yang wajahnya masih terlihat sedikit lelah karena mual pagi tadi. Ia mengusap jemari istrinya dengan protektif.

"Papa, Jati bukannya tidak mau. Tapi Jati tidak ingin Lintang kelelahan. Dia sedang mengandung, dan kondisinya masih belum stabil," jawab Jati tegas namun sopan.

"Jati punya rencana sendiri. Kita adakan acara yang hangat saja. Mengundang beberapa teman dekat dan mengundang anak-anak yatim untuk berbagi kebahagiaan. Jati rasa itu jauh lebih berkah daripada pesta yang terlalu megah."

Papa Jati mengangguk, menghargai pemikiran putranya.

"Baiklah, ide berbagi dengan anak yatim itu sangat bagus. Tapi biarkan Papa dan Mama yang mengatur detailnya agar tetap elegan dan berkesan. Kamu fokus saja menjaga Lintang dan kesehatanmu sendiri."

Selesai sarapan, Papa dan Mama Jati tampak sangat bersemangat. Mereka tidak mau membuang waktu.

"Kami berangkat sekarang ya. Ada beberapa vendor langganan Papa yang harus kami hubungi untuk menyiapkan dekorasi dan kateringnya. Kalian istirahat saja di sini," pamit Papa Jati sambil bangkit berdiri.

Setelah orang tuanya pergi, suasana apartemen kembali sunyi. Jati menarik Lintang ke dalam pelukannya.

"Kamu dengar itu? Papa dan Mama sangat menyayangimu. Sekarang, tidak ada lagi alasan untuk merasa minder atau takut, ya?"

Lintang hanya bisa mengangguk pelan, menyembunyikan wajahnya di dada Jati, merasa sangat bersyukur karena setelah badai besar yang ia lalui bersama Dery, Tuhan mengirimkan keluarga yang begitu tulus menerimanya.

Suasana di rumah orang tua Dery yang sempit itu mendadak panas, jauh lebih menyesakkan daripada udara siang yang terik.

Di ruang tamu yang berdebu, Ibu Dery menatap tas plastik berisi uang pemberian Jati dengan mata yang berkilat penuh keserakahan.

"Ria, sini uangnya! Kamu jangan egois. Kita ini sedang susah, Dery dipenjara, kakakmu juga butuh uang untuk urus pengacara lagi. Bagikan sedikit untuk makan kita sehari-hari," bentak Ibu Dery sambil mencoba meraih tas yang didekap erat oleh Ria.

Ria mundur selangkah, tangannya gemetar hebat menahan amarah dan tangis.

Ia menatap ibu mertuanya dengan tatapan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya—tatapan seorang ibu yang siap melakukan apa pun demi anaknya.

"Tidak, Bu! Ini uang persalinanku!" teriak Ria dengan suara serak.

"Ini pemberian Mbak Lintang dan Pak Jati khusus untuk bayi ini. Ibu dan Mbak sudah sering memeras Lintang dulu, sekarang jangan lakukan hal yang sama pada anakku!"

"Kurang ajar kamu ya! Kamu itu menantu di sini, harus patuh!" Kakak Dery ikut keluar dari kamar, wajahnya sinis.

"Kalau bukan karena kami yang kasih ide minta tolong ke Lintang, kamu tidak akan dapat uang itu!"

Ria menggelengkan kepala, air matanya luruh. Ia menyadari bahwa keluarga ini tidak akan pernah berubah.

Mereka adalah parasit yang akan terus menghisap siapa pun, bahkan darah daging mereka sendiri yang belum lahir.

Tanpa membalas sepatah kata pun, Ria berbalik masuk ke kamar.

Dengan gerakan cepat yang didorong oleh rasa muak, ia meraup semua pakaiannya dari lemari kayu yang sudah reyot dan memasukkannya ke dalam satu tas besar. Ia tidak peduli jika baju-bajunya berantakan.

"Ria! Mau ke mana kamu?!" teriak Ibu Dery saat melihat menantunya keluar kamar sambil menjinjing tas besar dan menggendong tas berisi uang itu.

"Aku pergi, Bu," jawab Ria tegas, sambil mengusap perut buncitnya.

"Aku tidak mau anakku lahir di lingkungan penuh kebencian dan keserakahan seperti ini. Aku lebih baik hidup susah sendirian daripada harus melihat uang persalinan anakku habis dipakai untuk berjudi atau menyuap orang!"

Ria melangkah keluar pintu rumah tanpa menoleh lagi.

Ia mengabaikan teriakan makian dari ibu dan kakak Dery yang terus mengumpat di belakangnya.

Di bawah terik matahari, Ria berjalan menuju pangkalan ojek, bertekad mencari tempat kos kecil yang jauh dari jangkauan keluarga Dery.

Ia memegang perutnya yang terasa kencang. “Sabar ya, Nak. Ibu akan jagamu. Terima kasih, Lintang, uang ini benar-benar menyelamatkan nyawa kita,” batin Ria penuh syukur.

1
tiara
udah Mila urus saja hidupmu jangan mengganggu Jati kalau ga mau dipenjarain sama dia tau rasa kamu
tiara
nah kan Mila sepertinya kali ini nasibmu lebih buruk lagi ya
tiara
apakah akan berhasil Mila mila kirain udah insyaf eh tetap saja ga betubah.aoa kamu mau lebih hancur lagi karena rasa iri dengki mu itu
tiara
berbahagialah Lintang sekarang dikelilingi orang tulus menyayangimu
tiara
bagus Ria tinggalin aja keluarga derry yang ga punya hati nurani.biar mereka usaha sendiri kalau mau hidup enak
tiara
lanjuut thor semangat upnya
tiara
semoga keluarga Deri tidak datang lagi mengganggu ketenangan Lintang dan keluarganya
tiara
Karyawan butik yang ga berakhlak akhirnya menyesal sudah berlaku meremehkan orang lain hanya karena penampilanya.ga salah juga sih kadang juga ada yang datang cuma buat foto juga jadi bingung juga ya
tiara
sabar papa Jati demi si buah hati 🤭🤭🤭
tiara
selamat pa Jati dan Lintang atas kehamilan Lintang sehat selalu bumil
my name is pho: 🥰🥰 terima kasih kak
total 1 replies
tiara
nikmatilah hasilnya Mila, menyesal pun sudah tiada arti semua orang meninggalkanmu termasuk pacarmu
tiara
ceriitanya menarik tidak terlalu menguras emosi
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
tiara
rasain kamu Mila gatau diri sih, masih syukur dikasih uang masih aja kurang
Dessy Lisberita
bukan emas tpi logam mas kawinya
tiara
lanjuut thor
Dessy Lisberita
kenapa masih nungu unk membuang baju kotor
Dessy Lisberita
semoga normal kembali kejantanan jati
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sweat/ "dramanya pasti akan semakin intens"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Hey/ "cowok sejati emang harus berani untuk bertanggungjawab"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Scare/ "tanda-tandanya nih..."
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!