Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Butuh Kehangatan
Sean terkekeh melihat Christaly melepaskan pakaiannya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun dia ikut menanggalkan pakaiannya juga hingga nyaris telanjang bulat.
“Ini akan jadi malam yang sulit dilupakan dalam hidupku,” gumam Sean, “Untuk pertama kalinya aku akan bercinta di tempat seperti ini, di tengah hujan lebat dan petir yang bergemuruh.”
Christaly ikut terkikik. “Aku juga sama,” jawabnya sambil mengalungkan tangan ke leher Sean. “Semoga saja nggak ada warga yang memergoki kita di sini.”
“Aku yakin nggak ada orang yang masih berkeliaran di luar rumah di tengah cuaca yang seperti ini.” Sean membelai pipi Christaly dengan lembut. “Kalau pun ada, aku juga nggak peduli. Karena aku perlu kehangatan sekarang juga.”
Setelah menyelesaikan kata-katanya, tanpa banyak bicara lagi Sean langsung menarik Christaly dalam pelukannya lalu melumat bibirnya dengan ganas.
Di tengah suasana yang romantis dan misterius, kilauan kilat yang berpendar menyoroti Sean dan Christaly yang tak mampu menyembunyikan hasrat yang menyala-nyala.
Sentuhan tangan mereka seperti percikan api, menyalakan bara di antara keduanya. Air hujan yang terpercik mengalir di wajah mereka menambahkan elemen romantis dalam adegan ini.
Sean terus melumat bibir Christaly dengan rakus, tangannya yang bebas dengan aktif turun dari punggung Christaly ke bawah dan menangkup pinggul gadis itu,
“Emh ... Uh!” erang Christaly saat Sean meremas pinggulnya dengan keras.
Sean terus meremas-remas pinggul Christaly, lalu dia menariknya hingga tubuh Christaly secara otomatis roboh menindih tubuhnya. Dalam posisi itu, Sean masih sibuk melumat bibir Christaly dan tangannya masih sibuk dengan pinggul gadis itu.
Setelah puas berciuman, Sean kemudian berguling hingga dia dan Christaly bertukar posisi. Sekarang dia yang berada di atas tubuh Christaly, menciumi lehernya, telinganya, lalu kembali lagi ke leher sebelum akhirnya ke bagian dada.
Sean menggigit kecil pucak payudara Christaly yang sudah menegang akibat gairah yang meluap dan juga udara dingin yang menusuk. Sontak, dia pun mengerang keras.
“Uh! Sean. Oh, ya, ya. Emh ....”
Chrisataly merasakan ereksi Sean yang sudah mengeras di pangkal pahanya. Tanpa pikir pajang, dia pun langsung membuka celana dalam pria itu dan membebaskannya. Dalam genggaman tangan Christaly dan belaiannya, ereksi Sean terasa begitu tegang dan sudah sangat siap untuk menyatu ke dalam tubuhnya.
Hujan semakin lebat, gemuruh petir yang sesekali menyambar dengan kilatan cahaya yang membelah kegelapan. Sean tiba-tiba menarik tubuhnya, membuka paha Christaly agar lebih lebar lagi lalu dia melesakan ereksinya di sana.
Akan tetapi, dia tidak langsung menggerakan pinggul. Dia menunduk dan dengan bertopang pada siku lengannnya dia membenamkan wajahnya ke payudara Christaly. Setelah itu Sean baru mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, menyulut panas ke dalam tubuh Christaly dan tubuhnya sendiri agar menjadi lebih hangat.
“Ah!” Christaly berteriak saat Sean mulai bergerak karena dia merasa seperti baru saja di robek bagian tubuh di bawah pusarnya itu. Entah karena pengaruh udara dingin atau apa, tapi, sensasi bercinta dengan Sean kali ini terasa jauh lebih intens, lebih panas, dan lebih nikmat tentunya.
Sambil bergerak maju mundur Sean juga tidak melepaskan payudara Chistaly. Dia kembali melahap puncaknya yang menantang itu , bermain-main dengan lidahnya, lalu menghisap dan menariknya.
“Emh ... uh!” desah Christaly.
Sean mengentak lebih dalam lagi, gerakannya memang tidak cepat tapi lesakkannya cukup dalam. “Mengeranglah sekeras yang kamu mau, lepaskan saja. Tak akan ada yang mendengar suaramu di tengah gemuruh hujan seperti ini. Kecuali aku,” kata Sean sambil dia melepaskan sebentar payudara Christaly.
“Uh! Kalau kamu lambat begini, bagaimana mungkin aku berteriak lebih keras lagi?” sahut Christaly dengan nada setengah mengejek. “Aku masih kedinginan, kamu harus membuatku lebih panas lagi agar aku terbakar dan berteriak keras mencapai puncak.”
“Sialan! Kamu terlalu sempit. Aku takut kamu terluka, tahu!” balas Sean. “Selain itu kamu juga lebih kering dari biasanya. Aku nggak tahu apakah ini karena kita sangat kedinginan atau kenapa. Yang jelas, kalau aku bergerak lebih cepat seperti biasanya, aku takut kamu terluka.”
“Justru karena aku menyempit kamu harus melebarkan aku, Sean,” jawab christaly sambil terengah-engah. “Bergeraklah lebih cepat, nggak apa-apa, aku baik-baik saja, kok.”
“Tapi ....”
“Sudah, jangan banyak berpikir. Lakukan saja, bergerak lebih cepat agar kamu dan aku sama-sama tetap panas.”
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Christaly, Sean kemudian menggerakan pinggulnya lebih cepat sesuai dengan permintaan Christaly. Hasilnya Christaly benar-benar berteriak keras.
“Uh, ya! Terus, Sean. Lebih cepat lagi. Ya, begitu. Emh ....”
Sebenarnya Sean agak sedikit khawatir dengan kondisi Christaly. Karena dia dapat merasakan jika erangan dan desahan gadis itu terdengar jelas menahan rasa sakit. Akan tetapi, saat gelombang panas itu menjalar ke seluruh tubuh Sean dan Christaly yang terus menyuruhnya untuk bergerak lebih cepat, akhirnya Sean hanya bisa menurut.
Apalagi saat itu hujan masih sangat lebat dan udara menjadi jauh lebih dingin lagi. Bahkan siku tangan Sean yang menahan berat tubuhnya nyaris mati rasa karena dingin yang begitu teramat sangat. Dan satu-satunya sumber kehangatan yang mereka berdua miliki adalah dari bercinta.
“Lebih cepat lagi, Sean. Kita harus lebih panas lagi. Kakiku terasa mulai mati rasa,” kata Christaly dengan napas tersengal-sengal. “Aku tahu ini akan sulit buat kita mencapai klimaks, tapi, setidaknya kita harus tetap hangat agar bisa bertahan.”
“Yang kamu katakan itu benar,” sahut Sean. “Sekarang yang terpenting bukanlah kenikmatannya, tapi, bertahan hidup.”
“Tapi rasanya tetap nikmat, kok. Kamu selalu nikmat, Sean,” hibur Christaly sambil tersenyum ke arah pria itu. Bibirnya yang sudah pucat masai bergetar karena kedinginan. “Seperti yang kamu bilang di awal, ini akan menjadi pengalaman bercinta kita yang paling tak terlupakan. Dan memang begitu adanya. Kita sangat beruntung mengalami momen ini.”
Sean tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya sebagai tanda kalau dia mengerti apa maksud perkataan Christaly. Kemudian dia memegang wajah Christaly dengan kedua tangan dan melumat bibirnya yang bergetar kedinginan dengan ganas untuk memberikan panas.
Sontak Christaly mengerang di dalam tenggorokan. Ketika Sean menambahkan kecepatannya jauh lebih cepat lagi, sensasi panas itu langsung menyebar ke sekujur tubuhnya. Seperti aliran listrik yang menyengat.
Hal yang serupa juga dirasakan oleh Sean. Aliran gelombang panas itu pelan tapi pasti menyebar ke seluruh tubuhnya. Gairah yang bercampur semangat untuk bertahan hidup.
Sean terus melumat bibir Christaly, menghangatkannya dengan lidah dan bibirnya. Dia juga terus bergerak maju mundur menjaga irama dan panasnya. Selama itu tidak ada satu patah kata yang perlu diucapkan. Bahasa tubuh mereka sudah cukup untuk mengungkapkan segala hasrat yang terpendam. Sisi liar pada diri masing-masing yang selama ini tidak mereka sadari. Lalu, tiba-tiba ....