Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Bayang-Bayang dari Masa Lalu
Ruang perjamuan yang megah mendadak sunyi saat pintu besar terbuka. Di sana, berdiri seorang wanita yang seolah-olah baru keluar dari bingkai foto lama milik keluarga Atala. Tinggi, semampai, dengan wajah yang 99% mirip dengan almarhumah Arumi.
"Dewa... lihat siapa yang datang," suara Ibu Dewa (Mertua) terdengar sangat gembira, matanya berbinar menatap Gisel dengan tatapan meremehkan. "Ini Bianca. Kembaran Arumi yang dulu diadopsi ke Jerman. Inilah calon yang mama cari untukmu, bukan gadis... entah siapa ini."
Dewa (35 thn) mematung. Mata tajamnya di balik kacamata baca tampak bergetar hebat. Untuk beberapa detik, Dewa seolah kehilangan pijakan, melihat "Arumi"-nya seakan hidup kembali dalam diri Bianca.
Aroma white tea dari tubuh Gisel yang biasanya menenangkan, kini seolah terhalang oleh aroma parfum mawar yang elegan dari Bianca—parfum yang dulu juga dipakai oleh almarhumah istrinya.
"Hai, Dewa. Lama tidak bertemu," ucap Bianca dengan suara yang persis sekali dengan Arumi.
Raka (17 thn) dan Alya (16 thn) juga ternganga. Mereka seakan melihat hantu ibu mereka berdiri di depan mata. Keadaan menjadi sangat canggung. Keluarga besar mulai berbisik, membandingkan Gisel yang "hanya gadis biasa" dengan Bianca yang memiliki status dan wajah yang sangat dicintai keluarga ini.
Ibu Dewa menghampiri Bianca, menggandengnya mendekat ke arah Dewa. "Nah, Dewa. Bukankah Bianca jauh lebih pantas mendampingimu? Dia punya segalanya yang Arumi miliki. Bukan gadis yang hanya tahu cara menghabiskan uang 200 juta untuk panti tanpa izin suaminya."
Hati Gisel mencelos. Ia merasa seperti orang asing di tengah kebahagiaan keluarga itu atas kembalinya "bayangan" masa lalu. Namun, Gisel tetaplah Gisel. Meskipun dadanya terasa sesak dan matanya mulai memanas, ia tetap berdiri tegak dengan poni yang rapi.
"Duh, Tante... eh, Mama Mertua," sela Gisel dengan nada ceplas-ceplosnya yang sedikit gemetar namun tetap berani. "Meskipun wajahnya mirip, tapi kan dia bukan Mbak Arumi. Dan soal uang 200 juta itu... Mas Dewa sendiri kok yang bilang kalau dia bangga sama aku karena udah jaga warisan istrinya."
"Diam kamu!" bentak Ibu Dewa. "Kamu tidak punya hak bicara di sini!"
Gisel menatap Dewa, berharap suaminya itu akan pasang badan untuknya. Namun, Dewa masih tampak terhipnotis oleh kehadiran Bianca. Ia hanya diam, menatap Bianca dengan tatapan rindu yang sangat dalam, seolah melupakan keberadaan Gisel di sampingnya.
Raka yang melihat itu mendadak merasa tidak nyaman. Ia melihat Gisel yang mulai pucat namun tetap berusaha tersenyum demi menjaga martabat keluarga Atala.
"Mas Dewa..." bisik Gisel pelan, menarik ujung jas Dewa. "Mas... aku masih di sini."
Dewa tersentak, ia menoleh ke arah Gisel, namun matanya masih menyiratkan kebingungan yang besar antara kenyataan dan masa lalu
Gisel merasakan genggaman tangan Dewa di pinggangnya perlahan terlepas. Pria itu kini melangkah satu tapak menuju Bianca, seolah ditarik magnet yang tak terlihat. Tatapan Dewa yang biasanya dingin kini tampak rapuh dan penuh kerinduan.
Keluarga besar Atala mulai berbisik puas. Ibu Dewa menatap Gisel dengan senyum kemenangan yang kejam. Gisel yang merasa tidak dianggap lagi, perlahan mundur. Ia terhempas oleh kerumunan keluarga yang kini mengerumuni Bianca seperti melihat keajaiban.
Gisel menepi ke sudut ruangan, di dekat meja minuman yang elegan. Ia menyambar segelas champagne, lalu meneguknya dengan cepat hingga kerongkongannya terasa panas. Matanya yang bulat mulai memanas, namun ia menolak untuk menangis di depan orang-orang yang membencinya.
"Hah... oke. Toh ini cuma pernikahan kontrak," gumam Gisel pelan pada dirinya sendiri, suaranya sedikit bergetar. "Dapet uang sudah, renovasi panti jalan terus. Kalau diceraikan ya tinggal angkat koper. Cari lagi yang lebih muda dan nggak kaku kayak es batu juga gampang, kan?"
Gisel mencoba tertawa kecil, berusaha memanggil kembali jiwa positive vibes-nya, namun aroma white tea-nya kini terasa hambar tertutup wangi mawar Bianca yang menyesakkan.
Tiba-tiba, sebuah tangan besar menarik gelas dari tangan Gisel. Itu Raka (17 thn). Wajah tampannya terlihat sangat marah, tapi bukan pada Gisel, melainkan pada ayahnya.
"Mbak Cantik, jangan minum terus. Ayo pulang," suara Raka rendah dan tegas.
"Pulang? Papa kamu lagi reuni sama 'hantu' masa lalunya, Raka. Mana mungkin mau pulang," jawab Gisel ceplas-ceplos, meski matanya menatap sedih ke arah Dewa yang kini sedang diajak bicara oleh Bianca.
"Gue nggak peduli," Raka menarik tangan Gisel. "Alya sama Digo udah di mobil. Kita pulang sekarang. Gue nggak butuh 'kembaran' siapa pun buat jadi Ibu gue. Gue cuma butuh lo."
Gisel tertegun. Kata-kata Raka barusan adalah pengakuan 100% kalau Raka sudah menerimanya. Gisel menatap Dewa sekali lagi dari kejauhan. Dewa tampak tersentak sadar saat melihat Raka menarik Gisel pergi, namun Ibu Dewa menahan lengan putranya itu.
"Biarkan dia pergi, Dewa! Kamu punya Bianca sekarang!" teriak Ibunya.
Gisel berbalik, melangkah mantap mengikuti Raka tanpa menoleh lagi. Di dalam hatinya, ia sudah membuat keputusan: Jika Dewa tidak bisa memilih antara masa lalu dan masa depan, maka Gisel-lah yang akan memilih untuk pergi.