Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 2 -BAB 4 - KEMBALI (3)
Pelabuhan Firona terletak di sebuah kota kecil di tepi laut bernama Firona, yang masuk dalam wilayah kekuasaan Kekaisaran Aurellian. Kota ini jarang dikunjungi karena pelabuhannya tidak terhubung dengan kota-kota besar manapun. Kapasitas pelabuhannya sangat terbatas, hanya bisa menampung puluhan kapal yang mayoritasnya adalah kapal kapal kayu milik nelayan setempat.
Kapal terbang yang ditumpangi oleh Arta dan timnya memutuskan untuk mendarat di sana. Namun, karena kota Firona tidak memiliki landasan pacu khusus untuk kapal terbang, mereka terpaksa mendarat di sebuah tanah lapang luas yang letaknya cukup dekat dengan pinggiran kota.
Para penjaga kota yang telah mengamati kedatangan mereka dari kejauhan segera bergerak mendekat. Mereka menunggangi seekor kadal rawa raksasa yang ukurannya jauh lebih besar daripada kuda biasa.
Armor tipis yang mereka kenakan terlihat rapuh dan seadanya, namun hal itu bukan masalah besar bagi mereka yang berasal dari ras Lizardman. Fisik mereka sudah sangat tangguh berkat lapisan sisik tebal yang menyelimuti seluruh tubuh. Setibanya di dekat kapal, para penjaga itu langsung berbaris dengan rapi dan teratur.
Setelah Kapten kapal turun dan berbicara singkat untuk memberikan penjelasan, mereka akhirnya diizinkan masuk ke dalam kota. Para penjaga memberikan akses penuh setelah mengonfirmasi bahwa penumpang di dalam kapal adalah Elian beserta anggota timnya.
Saat melangkah menyusuri jalanan setelah melewati gerbang kota, Arta memperhatikan raut wajah para penduduk. Kerutan di dahi dan pandangan gelisah orang-orang itu menyiratkan kecemasan yang mendalam. Mereka sepertinya sudah mulai mengendus kabar buruk yang sedang terjadi di luar wilayah mereka.
Rombongan pun tiba di sebuah vila yang menjadi kediaman penguasa kota. Seorang Count muda bernama Cassian Varnos menyambut kedatangan mereka dengan langkah terburu-buru.
"Selamat datang di Kota Firona, Elian Solarith, Arta Valerion, dan tamu-tamu lainnya. Silakan masuk. Mohon maaf kami tidak bisa menyambut kalian dengan lebih layak karena situasi saat ini sedang tidak menentu," ucap Cassian dengan nada sungkan.
"Tidak apa-apa, Tuan. Kamilah yang datang secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Kami hanya menumpang singgah selama setengah hari untuk mengisi kembali persediaan logistik kami," jawab Elian sopan.
"Terima kasih atas pengertiannya," balas Cassian, tampak sedikit lega.
Setelah itu, mereka diantarkan ke kamar tamu masing-masing. Terkecuali bagi Grom, Lilia, Reldia, dan Raylen yang berstatus sebagai petualang; mereka ditempatkan di sebuah rumah terpisah yang memang biasa disediakan khusus untuk tempat bermalam para kesatria dan pengawal bangsawan.
Ketika waktu makan malam tiba, Elian dan Arta diundang untuk menghadiri jamuan formal yang telah disediakan. Sebagian besar hidangan yang tersaji di atas meja adalah makanan laut segar hasil tangkapan lokal.
Sepanjang acara, suasana terasa cukup menegangkan bagi Cassian yang nampak gelisah. Arta, yang sepanjang hari hampir tidak berbicara dengan siapa pun, akhirnya membuka suara dengan nada serius.
"Tuan Cassian, apakah kalian mendengar kabar terbaru dari luar kota baru-baru ini?" tanya Arta.
Cassian menghentikan makannya sejenak. "Apakah yang Anda maksud adalah tentang serangan besar-besaran yang menghancurkan ibu kota kita sebulan yang lalu? saya turut berdukacita untuk para korban."
"Bukan, maksudku beberapa hari yang lalu," ucap Arta menegaskan.
Cassian mengerutkan kening, mencoba mengingat sesuatu. "Ah... aku memang sempat mendengar cerita yang terdengar tidak masuk akal dari beberapa pedagang keliling. Mereka bilang, seluruh ibu kota dari semua kerajaan di benua ini telah hancur lebur menjadi tanah karena sesuatu yang jatuh dari langit. hal yang sama seperti yang terjadi di ibu kota kita."
"Jadi benar seperti itu, ya. Aku hanya ingin memastikannya saja," ucap Arta pelan dengan wajah yang seketika berubah muram.
Jamuan makan malam itu pun ditutup dengan hidangan penutup yang sederhana dalam keheningan.
Setelah kembali ke dalam kamar, Arta berdiri menatap ke luar jendela sebelum akhirnya berbalik menatap Unit-09. "Hei... apakah mereka memang sekejam itu?" tanya Arta dengan suara bergetar.
"Kamu menanyakannya lagi? Aku sudah pernah menjawabnya, bukan? Mereka tidak memiliki simpati atau perasaan seperti yang kamu rasakan saat ini. Bahkan, aku dan Nebula juga tidak mempunyainya," jawab Unit-09 dengan suara mesinnya yang datar.
"Begitu, ya... Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?" gumam Arta sangat pelan. Ia membalikkan badannya di atas kasur, menarik selimut dan memunggungi Unit-09 untuk menyembunyikan kerapuhannya.
Unit-09 terdiam beberapa saat di tempatnya mengapung. Perlahan, kubus AI itu bergerak keluar kamar melalui celah jendela yang tidak tertutup rapat. Di atas atap vila yang sunyi, Unit-09 memancarkan sebuah sinyal kode frekuensi tertentu ke arah langit, berusaha mencari sesuatu. Itu adalah rutinitas yang selalu ia lakukan setiap kali berpindah ke lokasi baru yang jaraknya berjauhan.
"Objek belum ditemukan," ucap Unit-09 pada dirinya sendiri setelah pemindaian selesai tanpa hasil.
Pagi hari pun tiba dengan cepat. Seluruh bahan makanan dan persediaan darurat telah selesai dimuat ke dalam lambung kapal.
Namun, tepat saat mereka sedang berada di pelataran untuk berpisah dengan Cassian, sebuah suara raungan mesin yang sangat keras bergeming membelah langit. Sebuah objek logam seukuran monster Wyvern melesat dengan kecepatan yang tidak masuk akal di atas kota.
Arta yang saat itu sudah berada di dalam dan melihatnya dari balik kaca jendela kapal langsung merasakan dadanya berdegup kencang. Ia tahu betul bentuk teknologi itu. Sambil mengepalkan tangannya, Arta menyadari satu hal: itu bukanlah pertanda yang baik.
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat