NovelToon NovelToon
Sistem Pilihan Takdir

Sistem Pilihan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Sinopsis
​Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
​Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1 pilihan di ujung jurang Penyesalan

Angin malam berhembus membawa bau tanah basah dan aroma karat darah. Di Hutan Pinus Berbisik, pinggiran wilayah Sekte Pedang Awan, suara napas tersengal-sengal memecah kesunyian.

Lin Chen mencengkeram erat sisi perutnya yang robek. Darah segar merembes melewati celah jari-jarinya, menetes ke atas dedaunan kering. Pakaian abu-abu usangnya, lambang status rendahnya sebagai murid pelataran luar, kini basah oleh keringat dan darah. Mata pemuda berusia enam belas tahun itu memancarkan kilat kelelahan yang luar biasa, berpadu dengan keengganan untuk menyerah.

Tiga langkah di belakangnya, suara ranting patah terdengar lambat dan sengaja.

"Kau lari seperti anjing liar, Lin Chen. Menyerahlah. Serahkan Rumput Roh Darah itu padaku. Kau tahu persis barang tingkat itu tidak pantas dikonsumsi oleh sampah di Tahap Kondensasi Qi tingkat pertama sepertimu."

Suara itu milik Zhao Feng, murid luar yang telah mencapai Tahap Kondensasi Qi tingkat ketiga. Di Alam Fana ini, perbedaan dua tingkat kultivasi adalah jurang pemisah antara pemburu dan mangsa. Zhao Feng melangkah santai, senyum dingin tersungging di bibirnya. Sebuah pedang besi biasa di tangannya masih meneteskan darah—darah Lin Chen.

Lin Chen terus memaksakan kakinya bergerak mundur hingga tumitnya menyentuh ruang hampa. Dia menoleh ke belakang sekilas. Jurang Penyesalan menganga gelap di bawah sana, diselimuti kabut tebal yang berputar misterius. Konon, bahkan tetua sekte tidak berani turun ke dasar jurang tersebut. Jalur pelariannya telah terputus sepenuhnya.

Tangan kanannya merogoh saku pakaian, merasakan tekstur kasar dari Rumput Roh Darah yang berhasil dia petik setelah mempertaruhkan nyawa melawan Ular Sisik Besi seharian penuh. Tanaman ini adalah satu-satunya harapannya untuk menembus kemacetan kultivasinya selama dua tahun terakhir. Mengurungkan niat untuk menyerahkannya, rahang Lin Chen mengeras.

"Barang ini milikku. Aku yang membunuh ular penjaganya," suara Lin Chen serak, menahan rasa sakit yang membakar dari luka sayatan di perutnya.

Zhao Feng tertawa meremehkan. "Milikmu? Di dunia kultivasi, sesuatu menjadi milikmu hanya jika kau memiliki kekuatan untuk melindunginya." Pria itu mengangkat pedangnya, bersiap memberikan serangan mematikan. Qi berwarna putih pudar mulai berkumpul di bilah pedang besi tersebut, menandakan niat membunuh yang nyata.

Pada detik yang menentukan itu, saat aura kematian menyelimuti ujung kepala Lin Chen, waktu terasa melambat. Suara angin menghilang. Deru napasnya sendiri menjadi senyap.

Sebuah layar cahaya berwarna biru redup, transparan, tiba-tiba memproyeksikan dirinya tepat di depan pupil mata Lin Chen. Deretan aksara asing berkedip sesaat sebelum berubah menjadi bahasa yang dia pahami.

**[Situasi Kritis Terdeteksi. Sistem Pilihan Takdir Aktif.]**

**[Silakan tentukan jalan hidup Anda:]**

**[Pilihan 1: Berlutut, memohon ampun, dan menyerahkan Rumput Roh Darah kepada Zhao Feng.

Hadiah: Anda diampuni hari ini. Kehilangan harapan kultivasi, hidup sebagai manusia biasa selama 60 tahun sebelum meninggal karena penyakit.]**

**[Pilihan 2: Menggunakan sisa tenaga untuk melawan Zhao Feng secara langsung.

Hadiah: Kematian tragis terpotong menjadi dua bagian. Tidak ada hadiah tambahan.]**

**[Pilihan 3: Melemparkan Rumput Roh Darah ke wajah Zhao Feng sebagai pengalih perhatian, lalu menjatuhkan diri ke celah tebing sempit di sisi kiri jurang.

Hadiah: Kesempatan bertahan hidup 40%. Gulungan Teknik Pernapasan 'Napas Karang Esensi'.]**

Pupil mata Lin Chen menyusut. Anomali macam apa ini? Layar ini muncul langsung di dalam kesadarannya. Tulisan tersebut memancarkan aura dingin yang sama sekali tidak memiliki emosi. Tidak ada waktu untuk terkejut. Mata pedang Zhao Feng sudah mulai menebas membelah udara.

Otak Lin Chen bekerja dengan kecepatan maksimal. Pilihan pertama adalah penghinaan dan akhir dari mimpinya. Pilihan kedua adalah bunuh diri konyol. Pilihan ketiga memintanya membuang hasil jerih payahnya, mengorbankan harta berharganya demi peluang hidup yang bahkan tidak mencapai setengah.

Tangan kanannya bergerak lebih cepat dari pikirannya.

"Ambil ini!" teriak Lin Chen mengerahkan sisa tenaga terakhirnya.

Bukan batu yang dia lempar, melainkan Rumput Roh Darah yang bercahaya merah redup. Tanaman berharga itu melayang tepat ke arah wajah Zhao Feng.

Melihat harta yang diincarnya melayang di udara, konsentrasi Zhao Feng seketika buyar. Niat membunuhnya tertahan. Secara refleks, dia menarik kembali pedangnya dan mengulurkan tangan kiri untuk menangkap rumput tersebut dengan hati-hati agar akarnya tidak rusak.

Satu detik gangguan itu adalah semua yang dibutuhkan Lin Chen.

Tanpa ragu sedikit pun, Lin Chen menghempaskan tubuhnya ke sisi kiri tebing. Dia membiarkan gravitasi menariknya jatuh ke dalam kabut Jurang Penyesalan. Angin menderu memekakkan telinga. Tubuhnya meluncur deras ke bawah. Matanya dengan cepat mencari celah tebing yang disebutkan oleh layar misterius tadi.

*Bruk!*

Bahu kirinya menghantam permukaan batu yang keras, menimbulkan suara retakan tulang yang mengerikan. Rasa sakit luar biasa meledak di kepalanya, membuat pandangannya memutih. Dia berhasil mengulurkan tangan kanannya yang masih utuh, mencengkeram akar pohon tua yang mencuat dari celah sempit di dinding jurang. Tubuhnya berayun liar menahan beban, tergantung ratusan kaki di atas dasar jurang yang tidak terlihat.

Di atas sana, samar-samar terdengar raungan marah Zhao Feng yang menyadari mangsanya telah memilih melompat.

Napas Lin Chen putus-putus. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Dia berhasil menarik tubuhnya perlahan ke dalam celah tebing yang lembap dan berlumut tersebut. Ruangannya sangat sempit, hanya seukuran setengah tubuh manusia dewasa, memaksanya meringkuk seperti janin.

Saat kesadarannya hampir pudar karena kehilangan darah, layar biru itu kembali muncul di kegelapan celah tebing.

**[Pilihan 3 diselesaikan.]**

**[Hadiah didistribusikan: Panduan 'Napas Karang Esensi'.]**

Seketika, gelombang informasi asing menyerbu masuk ke dalam lautan spiritual pikirannya. Aksara-aksara kuno menyala di dalam kepalanya, menyusun sebuah metode kultivasi dasar. Tidak ada energi misterius yang mengalir masuk untuk menyembuhkan lukanya. Tidak ada lonjakan kekuatan yang membuatnya langsung menerobos ke tingkat berikutnya.

Yang dia dapatkan murni hanyalah sebuah *pengetahuan*.

Lin Chen menggertakkan gigi, berusaha menahan erangan sakit. Dia memeriksa informasi tersebut dengan sisa kewarasannya. 'Napas Karang Esensi' bukanlah teknik tingkat dewa penghancur bumi. Ini adalah metode penguatan fondasi kuno yang meniru ketahanan batu karang menahan terjangan ombak lautan selama ribuan tahun. Teknik ini sangat sulit dipraktikkan, membutuhkan kesabaran ekstrem, dan prosesnya menimbulkan rasa sakit pada meridian layaknya dikikis oleh pasir kasar.

"Sistem macam apa ini..." gumam Lin Chen lirih, suaranya parau. "Mengorbankan harta demi sebuah teknik menyiksa diri."

Dia tidak memiliki kemewahan untuk mengeluh. Lukanya masih berdarah. Jika dia pingsan di tempat ini, udara dingin dan kehilangan darah akan membunuhnya sebelum fajar menyingsing. Tanpa Rumput Roh Darah, dia hanya memiliki teknik baru ini untuk mencoba menyerap energi spiritual alami di sekitarnya demi menutup luka.

Menyingkirkan segala keraguan, Lin Chen memaksakan tubuhnya duduk bersila di dalam celah yang sempit. Dia memejamkan mata, memfokuskan pikiran sepenuhnya pada panduan 'Napas Karang Esensi'.

Langkah pertama mengharuskannya menarik napas panjang, menahannya di dada, lalu secara paksa memutar sejumlah kecil Qi miliknya yang tersisa melalui jalur meridian yang selama ini tertutup rapat.

Lin Chen mencoba menarik aliran Qi-nya. Saat energi tipis itu menyentuh meridian yang ditunjuk oleh teknik tersebut, tubuhnya langsung mengejang hebat.

*Argh!*

Sensasi terbakar luar biasa menjalar dari dada hingga ke ujung jari-jarinya. Rasanya seperti ada ribuan jarum tajam yang dipaksa masuk menembus pembuluh darahnya. Otot-otot wajahnya berkedut menahan sakit. Keringat bercucuran seolah dia baru saja diguyur hujan.

Gagal. Tarikan napas pertamanya buyar. Qi-nya bubar kembali ke pusar perutnya.

Layar biru tidak muncul untuk membantunya. Kesunyian jurang seakan mengejek usahanya yang sia-sia.

"Lagi," desis Lin Chen menguatkan tekad. Matanya memerah. Di Alam Fana ini, yang terlemah akan diinjak. Zhao Feng bisa menindasnya karena dia lemah. Dia hampir mati hari ini murni karena ketidakberdayaannya.

Dia mengatur napasnya kembali. Tarik. Tahan. Putar energi.

Rasa sakit jarum itu kembali menyengat. Kali ini, Lin Chen menggigit bibir bawahnya keras-keras hingga berdarah, membiarkan rasa amis darah di mulutnya menjadi pengalih perhatian. Dia memaksa aliran Qi itu terus maju perlahan, inci demi inci, melewati jalur meridian yang asing.

Tiga jam berlalu. Udara malam di dalam tebing semakin menusuk tulang.

Tubuh pemuda itu terus gemetar, pakaian abu-abunya kini lengket oleh campuran darah kering dan keringat dingin. Berkali-kali dia gagal. Berkali-kali jalur energinya runtuh karena dia tidak tahan dengan rasa sakitnya. Setiap kegagalan membuat tubuhnya semakin melemah.

Menjelang jam keempat, setetes Qi kemerahan akhirnya berhasil menyelesaikan satu putaran penuh melalui jalur 'Napas Karang Esensi'.

Seketika, pori-pori di kulit Lin Chen terbuka perlahan. Energi spiritual alam yang tipis di udara jurang mulai tersedot masuk, mengalir mengikuti jalur yang baru saja terbentuk tersebut. Energi itu bekerja sangat lambat, melapisi dinding meridiannya, lalu bergerak menuju luka robek di perutnya. Rasa gatal yang menyengat mulai menggantikan rasa sakit yang tajam, pertanda sel-sel kulitnya perlahan merajut diri secara mandiri.

Pagi harinya, cahaya matahari pertama menembus kabut tebal jurang, menyinari celah tebing tempat Lin Chen bersembunyi.

Pemuda itu perlahan membuka matanya. Tidak ada kilatan cahaya ilahi di pupil matanya. Dia tidak tiba-tiba berubah menjadi master yang mampu membelah gunung. Wajahnya masih sangat pucat, kantung matanya menghitam, dan tubuhnya berbau menyengat.

Lin Chen melihat ke arah perutnya. Lukanya belum sepenuhnya sembuh, baru menutup menjadi keropeng yang tebal. Bahu kirinya masih terasa ngilu dan kaku. Qi di dalam tubuhnya hanya bertambah sedikit, masih berada kokoh di Tahap Kondensasi Qi tingkat pertama, belum menunjukkan tanda-tanda terobosan.

Meskipun keadaannya menyedihkan, senyum tipis mengembang di bibir keringnya.

Sebuah pondasi yang sangat kokoh kini bersemayam di dalam tubuhnya. 'Napas Karang Esensi' telah memberinya kepadatan Qi dua kali lipat lebih murni dari sebelumnya. Kecepatannya memulihkan luka dan menyerap energi jauh lebih baik daripada panduan napas standar milik pelataran luar sekte. Dia memang belum membalas dendam pada Zhao Feng, jalan di depannya masih panjang dan gelap.

Untuk pertama kalinya dalam enam belas tahun hidupnya, Lin Chen merasa memegang kendali atas takdirnya sendiri. Sistem misterius itu memberinya alat dan peluang. Sisanya—keringat, rasa sakit, dan waktu—adalah harga yang harus dia bayar sendiri.

Dia merangkak perlahan mendekati mulut tebing, menatap ke arah atas, ke arah wilayah Sekte Pedang Awan.

"Dunia Tengah... Alam Dewa..." gumamnya pelan, membiarkan angin pagi membawa suaranya. "Langkah pertama selalu yang paling berdarah."

Membawa tubuhnya yang penuh memar, Lin Chen mulai memanjat tebing ke atas, mempersiapkan diri untuk kembali ke sekte. Latihan sesungguhnya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!