NovelToon NovelToon
GUMIHO

GUMIHO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Steven ---seorang Gumiho yang telah tertidur selama 1000 Tahun demi untuk naik tingkat menjadi seorang dewa. Namun di hari terakhirnya, seorang manusia mengacaukan pengorbanan nya.

Setengah kekuatan yang di miliki Steven berpindah pada manusia itu. Membuat dirinya harus tertunda menjadi dewa.

Zoelva Erlangga---- gadis lemah yang selalu di bully oleh ketiga Kakak dan ibu tirinya setiap kali Ayah nya tidak ada. Namun segalanya berubah saat kekuatan asing melindungi nya dan menjadikan nya sangat kuat.

Steven yang menginginkan kekuatan nya kembali. Namun Zoe yang merasa bisa melawan ibu tiri serta ketiga Kakak tirinya dengan kekuatan itu. Justru menolak untuk mengembalikan kekuatan tersebut.

Sementara Rahasia lain telah menantinya.

Bagaimana kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panik

Zoe berdiri mematung. Pandangannya menyapu sendu ke setiap sudut---- lampu kristal yang hancur berkeping-keping di atas permadani Persia, dinding marmer yang kini dihiasi retakan menganga, hingga pecahan vas antik peninggalan neneknya yang berserakan tak berbentuk.

Ruangan itu lebih mirip kapal pecah yang baru saja dihantam badai besar daripada sebuah hunian mewah.

Sementara itu, sang pelaku utama—Steven—justru duduk bersandar dengan gestur yang sangat santai di atas sofa beludru yang entah bagaimana masih berdiri tegak. Ia menyilangkan kaki, menatap kuku-kukunya seolah kekacauan kolosal di sekitarnya hanyalah angin lalu.

Zoe memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menghalau sesak yang menghimpit dadanya. "Bagaimana sekarang?" lirihnya, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan yang mencekam.

Nindi mencoba melangkah mendekat dengan hati-hati, meski ia harus berulang kali berjingkat menghindari serpihan kaca.

Wajahnya pucat pasi, menatap ngeri ke arah pilar yang retak. "Zoe... apa perlu... apa perlu kita panggil seseorang sekarang juga untuk kembali merenovasi rumah ini?" tanya Nindi dengan nada gemetar.

Zoe tidak menjawab Nindi. Alih-alih, ia mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang sedari tadi ia tahan akhirnya meluap.

Jari telunjuknya terangkat tajam, menunjuk tepat ke arah wajah Steven yang tampak tanpa dosa. "Kau—tanggung jawab! Kau yang merusak semua ini dengan kekuatan mu itu, Steven! Lihat apa yang sudah kau perbuat pada rumahku!" teriak Zoe dengan napas memburu.

Steven hanya melirik sekilas, tatapannya dingin dan datar. "Jangan menyalahkan aku sepenuhnya, Zoe. Jika sejak awal kau bersedia mengembalikan kekuatanku—maka semua ini tidak akan pernah terjadi. Kau sendiri yang memancing singa untuk mengamuk di dalam kandangnya," sahut Steven dengan nada bariton yang tenang namun menusuk.

Zoe melangkah maju, amarahnya sudah di ujung kepala. "Kau benar-benar—" Kata-katanya terhenti seketika. Jarak yang mengikis di antara mereka membuat fokus Zoe teralihkan secara tidak sengaja.

Matanya terpaku pada bibir Steven—garis bibir yang tegas, yang beberapa saat lalu baru saja mencuri sesuatu yang sangat berharga darinya.

Bayangan ciuman paksa namun intens itu berputar kembali di otaknya seperti kaset rusak. Ciuman pertama yang ia jaga, kini telah direnggut oleh pria yang baru saja menghancurkan rumahnya.

"Bibirmu... kau—" Zoe memejamkan mata lagi, menggelengkan kepala dengan kuat seolah sedang berusaha mengontrol emosi yang bercampur aduk antara marah, malu, dan debar jantung yang tak masuk akal.

Belum sempat Zoe mengeluarkan makian selanjutnya, suara deru mesin mobil yang sangat ia kenali memecah kesunyian malam, bergema hingga ke dalam mansion. Jantung Zoe seolah berhenti berdetak sesaat. "Papa!" lirihnya dengan wajah yang mendadak pias.

Tanpa memedulikan Steven lagi, Zoe berlari keluar mansion dengan sisa-sisa tenaga dan kepanikan yang luar biasa.

Benar saja, di bawah temaram lampu taman, ia melihat mobil sedan hitam milik ayahnya perlahan memasuki garasi. Otak Zoe bekerja secepat kilat---- jika ayahnya melangkah masuk dan melihat ruang tamu yang hancur seperti medan perang, tamatlah riwayatnya.

Joe keluar dari mobil dan merapikan setelan jasnya. Ia mendongak dan mendapati putrinya berdiri di teras dengan wajah pucat dan napas yang tersengal. "Zoe? Ngapain kamu di sini malam-malam, Nak? Wajahmu kenapa keringatan begitu?" tanya Joe heran sembari melangkah mendekat.

"I—itu... eemm. Papa tumben sudah pulang? Bukannya tadi Papa bilang lewat telepon kalau bakal lembur di kantor sampai tengah malam?" tanya Zoe, suaranya bergetar hebat. Ia sengaja berdiri di depan pintu utama, mencoba menghalangi jalan masuk ayahnya sebisa mungkin.

"Pekerjaan Papa selesai lebih cepat dari dugaan, dan Papa pikir istirahat di rumah adalah ide terbaik. Ayo, kita masuk, Papa sudah sangat mengantuk," ajak Joe sambil mencoba menggeser posisi Zoe.

"Eh, tunggu Pa! Jangan masuk dulu!" Zoe segera merentangkan tangannya, menahan dada sang Ayah. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya sementara otaknya berputar gila mencari alasan. "Gimana kalau kita... kita dinner berdua sekarang? Ayo Pa, sudah lama sekali kita tidak punya waktu berkualitas berdua saja. Aku tahu tempat steak baru yang buka 24 jam!"

Joe mengerutkan keningnya, menatap Zoe dengan tatapan menyelidik. Ia merasa ada yang tidak beres dengan perilaku putrinya yang mendadak manja. "Zoe, Papa sangat lelah hari ini. Tulang Papa rasanya mau copot. Bagaimana jika besok saja? Sekarang biarkan Papa masuk dan menyeduh teh hangat," kata Joe dengan nada tegas namun lembut, tetap berusaha melangkah maju.

Melihat Joe kembali melangkah masuk ke dalam mansion, jantung Zoe serasa merosot ke perut. Ia membayangkan kekacauan di dalam sana akan meledakkan amarah ayahnya. “Pa, aku bisa jelas—” Kalimat Zoe terhenti seketika saat kakinya menginjak lantai ruang tamu.

Matanya membelalak tak percaya. Ruangan yang beberapa saat lalu tampak seperti kapal pecah setelah dihantam badai peperangan, kini kembali tertata rapi. Semuanya kembali ke posisi semula seolah-olah kehancuran hebat itu hanyalah ilusi semata.

Namun, langkah Joe mendadak terkunci. Sorot matanya yang tajam langsung bertabrakan dengan sosok Nindi yang berdiri kaku di sudut ruangan. “Kamu—sedang apa kamu di sini?” desis Joe, suaranya naik satu oktav penuh ancaman. “Belum puas kamu merundung anak saya? Atau perlu saya sendiri yang turun tangan memberi kamu pelajaran lagi? Pergi dari sini!”

Seketika Zoe tersadar dari keterpakuannya. Ia segera pasang badan di depan Nindi. “Eh, jangan Pa! Aku yang meminta Nindi datang ke sini,” potong Zoe cepat.

“Tapi Zoe, bukankah dia yang selama ini—”

“Sebenarnya apa yang terjadi selama ini hanya kesalahpahaman besar, Pa. Nindi tidak pernah menyakitiku sedikit pun. Aku yang salah paham padanya dan malah menuduhnya yang bukan-bukan. Aku benar-benar minta maaf,” tutur Zoe dengan nada memohon yang tulus.

Joe terdiam, berusaha mencerna perubahan sikap putrinya yang drastis. Ia menghela napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa emosinya. “Benar dia tidak menyakitimu? Kamu tidak sedang diancam, kan?” tanyanya memastikan sekali lagi.

Zoe mengangguk mantap, sebuah senyum tipis dipaksakan muncul di wajahnya. “Nindi sangat baik padaku, Pa. Dia bahkan membantuku hari ini.”

Joe memijat pelipisnya yang berdenyut. “Baiklah kalau begitu. Papa sangat lelah dan ingin segera istirahat. Jangan begadang terlalu lama.” Tanpa menoleh lagi, Joe berlalu menaiki tangga menuju kamarnya.

Begitu sosok ayahnya menghilang, Zoe langsung mendekat ke arah Nindi. “Di mana Steven?” bisiknya dengan suara nyaris tak terdengar.

Nindi mengangkat bahu, wajahnya juga tampak bingung. “Aku tidak tahu. Dia tiba-tiba menghilang begitu saja setelah memperbaiki semuanya dengan kecepatan yang tidak masuk akal,” jawab Nindi lirih. Ia kemudian merapikan tasnya. “Ya sudah, ini sudah malam. Aku pulang dulu ya, Zoe.”

“Perlu aku antar? Sopir bisa menyiapkan mobil sekarang,” tawar Zoe merasa tidak enak.

Nindi menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. “Tidak usah, aku bawa motor sendiri. Kamu istirahatlah."

Sepeninggal Nindi, suasana mansion kembali senyap. Zoe melangkah menuju kamarnya dengan pikiran yang masih berkecamuk. Ia bahkan tidak memedulikan keberadaan ibu tiri serta ketiga saudara tirinya yang belum juga menampakkan batang hidungnya di rumah itu.

BERSAMBUNG

1
Amelya Rahmadhani
up..........up......💪💪💪💪
falea sezi
papa nya goblok uda cerai lah np masih dipertahankan ne ular apa bapak nya g bs move on dr vevek jalang
Kusii Yaati
adegan romantis di suasana yang menegangkan🤭... secara tidak langsung stev mengklaim Zoe adalah miliknya.lanjut Thor 💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
si rubah belum nyerah ternyata, semangat ya stev jangan sampai kamu yang bertekuk lutut sama Zoe ya!😁
Kusii Yaati
ternyata Zoe adalah masa lalunya Steven,wah tambah seru nih... lanjut Thor 💪😁😘
Kusii Yaati
ya ampun stev bikin aq ngakak aja sih🤣🤣🤣
tapi semoga stev adalah jodoh Zoe dan nanti anak" mereka mewarisi kekuatan orang tuanya, pasti seru tuh...ayo Thor tambah semangat, buat ceritanya tambah menarik dan seru 💪💪💪💪😘😘😘😘
Rosmawaty Limbong
penyampaian cerita sangat menarik membuat pembaca ingin terus membaca kelanjutan ceritanya sampai selesai.
Kusii Yaati
alamak gimana selanjutnya, berhasil kah Steven mengambil kekuatannya kembali... lanjut Thor seru banget ini💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
waduh Steven sudah datang aja, gimana nasibnya zoe😱
Kusii Yaati
keputusan bagus Zoe,buat apa pertahankan hubungan yang hanya kamu saja yang mencintai.lanjut Thor 💪💪💪😘
falea sezi
lanjut donk
Kusii Yaati
lanjut Thor ceritanya bagus banget lho...💪💪💪
Kusii Yaati
bagus Zoe sudah saatnya kau menunjukkan taring mu biar para benalu itu sadar diri
Kusii Yaati
sadar diri woyyy ibu tiri laknat, yang benalu di sini tu kamu dan buntut mu/Curse/...lah dah miskin nggak tahu diri pula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!