cinta pertama jaman aku SMP sulit sekali aku lupakan... kenangan manis nya masih sama dan luka semasa SMA juga yang sulit aku lupa.. hingga suatu hari sahabat terdekat yang dari lahir udah barengan sama aku! kenalkan aku sama dia.. Tutor nakal ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
...
sore di parkiran Fakultas Ekonomi mendadak terasa lebih berat. Langit bersandar di pintu Porsche hitamnya, kacamata hitamnya tetap terpasang meski matahari sudah mulai malu-malu. Matanya yang tajam langsung menangkap sosok Jelita yang berjalan keluar dari lobi dengan wajah yang... tidak biasa. Ada jejak kelelahan, tapi juga ada sisa-sisa kegugupan yang tidak bisa ditutupi.
"Sayang, sini!" seru Langit, suaranya yang bariton memecah kerumunan mahasiswa.
Jelita mempercepat langkahnya, hampir berlari masuk ke dalam mobil. Dia merasa seperti buronan yang baru saja menemukan pintu keluar dari penjara. Namun, sebelum pintu tertutup, Felicia sempat memberikan kedipan penuh kode sambil menyembunyikan kotak cokelat dari Yayan di balik tasnya. Felicia tahu, kalau Langit melihat kotak itu sekarang, kampus ini akan berubah jadi medan perang dalam hitungan detik.
"Lama banget sih, Tembok Beton gue? nggak tahu apa tutor lo ini udah lumutan nunggu di sini?" ledek Langit sambil menyalakan mesin.
"Maaf, sayang. Tadi kelasnya agak molor," bohong Jelita, tangannya masih terasa dingin.
Langit tidak langsung menjalankan mobilnya. Dia menoleh, menatap Jelita dengan tatapan selidik. Pria itu melepas kacamata hitamnya, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Jelita hingga hidung mereka bersentuhan "kenapa kayak bau parfum cowo? udah mulai nakal ya sayang."
Jelita membeku. Saraf-sarafnya mendadak lumpuh. Dia lupa kalau Yayan baru saja mendekapnya di dalam Aston Martin tadi siang. "Eh... itu... tadi ada temen sekelas yang lewat, kayaknya parfumnya nyenggol gue pas di koridor."
Langit menyipitkan mata. Seringai dingin muncul di wajahnya. " Gila ya, tuh cowok bener-bener butuh diajarin cara jaga jarak satu meter." Langit tidak bicara lagi, dia langsung menginjak gas dengan beringas. Porsche itu melesat keluar gerbang, bukan ke arah kosan Jelita, tapi ke arah yang sangat berbeda.
"Lang, ini bukan jalan ke kosan!" seru Jelita saat melihat mereka masuk ke gerbang tol arah luar kota.
"Kita ke tempat rahasia sayang. Sesi 'Healing Berdua' atau anggap aja ini bulan madu pre wedding." ucap langit ketawa kecil
Jelita menelan ludah. "Bulan madu?! Langit, gue ada tugas besok!"
"iya sayang, tapi kali ini kelas kita lebih penting. Gue yang bakal jadi dosen penguji lo malam ini," balas Langit sambil melirik Jelita dengan tatapan nakal yang biasa,
Mereka berhenti di sebuah resort mewah yang terletak di puncak bukit daerah Sukabumi, jauh dari hiruk pikuk Jakarta dan Lembang yang sudah terlalu biasa. Resort itu hanya memiliki satu villa eksklusif di titik tertingginya, dengan kolam renang air hangat yang menghadap langsung ke arah hamparan kebun teh dan awan yang seolah bisa disentuh.
"Wow... Lang, ini..." Jelita terpaku melihat kemewahan di depannya.
"Ini cuma buat gue dan lo, Jee. Nggak ada Windi yang bakal gedor pintu, nggak ada Haikel yang bakal nanyain skripsi. Cuma ada kita," Langit menarik Jelita masuk, langsung mengunci pintu villa itu dengan bunyi klik yang sangat memuaskan di telinganya.
Malam pun turun, menyelimuti puncak bukit itu dengan udara yang sangat dingin. Langit sudah menyiapkan perapian dan sebotol minuman hangat. Dia duduk di sofa besar yang menghadap langsung ke arah dinding kaca yang menampakkan kerlip lampu kota di kejauhan.
Jelita baru saja selesai mandi, mengenakan kaos putih milik Langit yang sengaja pria itu siapkan—kaos kebesaran yang hanya menutupi paha atas Jelita, memperlihatkan jenjang kakinya yang mulus. Langit yang melihat pemandangan itu langsung merasa "laporan skripsinya" mendadak terlupakan sepenuhnya.
"Sini, Sayang," panggil Langit dengan suara yang rendah dan serak.
Jelita mendekat, duduk di samping Langit. Tapi Langit punya rencana lain. Dia menarik Jelita agar duduk di atas pangkuannya, mengunci pinggang Jelita dengan kedua lengannya yang kokoh.
"ishhh.... katanya mau healing," bisik Jelita, wajahnya sudah merona hebat.
"Ini namanya healing batin, sayang. Lo tau nggak gimana tersiksanya gue seminggu ini? Gue gak bisa jauh jauh dari tembok beton gue" Langit menatap Jelita tepat di bola mata, menuntut kejujuran namun juga penuh pemujaan.
Jelita terdiam. Dia merasa sangat kecil di hadapan Langit. "Gue nggak kemana-mana, Lang. Gue kan udah janji."
"Kalau gitu, buktiin," gumam Langit tepat di depan bibir Jelita. "Buktiin kalau cuma gue yang ada di otak lo sekarang. Buktiin kalau 'tembok beton' lo ini bener-bener udah cair cuma buat tutor sesat lo."
Langit tidak menunggu jawaban. Dia langsung menyambar bibir Jelita dengan ciuman yang sangat dalam, menuntut, dan penuh dengan rasa haus yang luar biasa. Ciuman kali ini jauh lebih intens daripada di Bandung. Ada rasa takut kehilangan yang Langit tuangkan di setiap tautan bibir mereka.
Tangannya mulai nakal, merayap masuk ke balik kaos tipis itu, mengusap punggung polos Jelita yang gemetar. Langit bener-bener "menghukum" Jelita atas ketidakhadirannya seminggu ini. Dia menandai leher Jelita, bahu Jelita, seolah-olah dia sedang menuliskan namanya di seluruh tubuh gadis itu.
"Lang... ahh... pelan-pelan," desah Jelita pecah saat Langit mulai memberikan "pelajaran tambahan" di area sensitifnya.
" nggak bisa pelan, sayang. Gue mau lo bener-bener inget kalau malam ini lo adalah milik Langit. Lahir, batin, dan selamanya," bisik Langit di sela-sela desah napasnya yang memburu.
Malam itu, di atas awan Sukabumi, Langit benar-benar menjalankan misi "Bulan Madu Pre-Wedding"-nya. Tidak ada pengaman, tidak ada batasan. Dia ingin "menanamkan" dirinya sedalam mungkin di hidup Jelita. Dia ingin membuat Jelita terikat secara permanen sehingga tidak ada ruang lagi untuk masa lalu mana pun
Setelah badai gairah itu mereda, mereka berbaring di depan perapian dengan satu selimut besar. Jelita meringkuk di pelukan Langit, mendengarkan detak jantung pria itu yang mulai stabil.
"Lang... kalau nanti tiba-tiba ada masalah besar, lo bakal tetep peluk gue kayak gini?" tanya Jelita tiba-tiba, matanya menatap api yang mulai mengecil.
Langit mengeratkan pelukannya, mengecup puncak kepala Jelita. "Masalah apa pun, Jee. Mau kiamat sekalipun, tempat lo di sini. Tapi inget satu hal... jangan pernah pergi dari gue. Karena kalau itu terjadi, gue nggak tau apa yang bakal gue lakuin"
Jelita terdiam. Dia merasa sangat bahagia, tapi juga sangat takut. Dia bahagia karena memiliki pria sehebat Langit yang mau memberikan segalanya untuknya. Tapi dia takut, karena dia tahu, Yayan sedang menunggu dengan rencana yang sama gilanya.
"Gue sayang banget sama lo, Langit," bisik Jelita tulus.
"Gue lebih sayang sama lo, Tembok Beton gue. Sekarang tidur, besok kita lanjutin sesi 'bulan madu' jilid dua," Langit tertawa sengklek, kembali ke sifat aslinya setelah momen serius tadi.
susah jadi dirimu Jee. mana sodaraan pula. 🤦♀️
hohoho jawbanya ada di tangan kk author tercinta ini 🤣🤣🤣