Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Amplop Cokelat dan Kebenaran yang Tertunda
Aisha tidak membuka amplop itu di mobil. Tangannya masih gemetar terlalu hebat, dan pikirannya terlalu kacau untuk membaca apa pun. Ia meletakkan amplop cokelat itu di kursi samping, lalu menyalakan mobil dan melaju pulang dengan kecepatan yang tidak ia sadari melebihi batas.
Ren. Ren yang memberinya amplop itu. Ren yang selama ini menghilang, yang katanya pindah ke luar negeri, yang katanya sudah berubah. Ternyata ia masih di Indonesia. Ternyata ia masih terlibat dalam pusaran masalah keluarga ini.
Aisha tidak tahu apakah ia bisa mempercayai Ren. Pria itu telah berbohong berkali-kali, memanipulasi, menghancurkan. Tapi ada sesuatu di mata Ren ketika ia menyerahkan amplop itu. Bukan sindiran, bukan kebencian. Hanya kesungguhan yang membuat Aisha ragu untuk mengabaikannya.
Di rumah, Baskara sedang bermain di ruang tamu dengan Tante Ningsih. Aisha memeluk anaknya sebentar, lalu pamit ke kamar. “Ibu mau istirahat sebentar, Nak. Kepala Ibu pusing.”
“Ibu sakit, Bu?” tanya Baskara cemas.
“Tidak, Nak. Ibu hanya capek. Ibu tidur sebentar, ya.”
Aisha masuk ke kamar, mengunci pintu. Ia duduk di tepi tempat tidur, memandangi amplop cokelat di tangannya. Amplop itu tidak tertutup rapat. Sehelai benang tipis melingkar di sekelilingnya, seperti pengikat sederhana yang mudah dilepas.
Ia menarik benang itu perlahan. Amplop terbuka.
Di dalamnya, ada beberapa lembar foto, beberapa lembar surat tulisan tangan, dan secarik kertas catatan dengan tulisan Ren.
Aisha mengambil foto pertama. Foto seorang wanita muda dengan rambut panjang, senyum lebar, dan mata yang familiar. Sari. Wanita itu berdiri di depan sebuah rumah sederhana, menggendong seorang balita perempuan dengan pipi tembem. Cahaya.
Aisha menangis. Ia tidak tahu kenapa ia menangis. Mungkin karena ia membayangkan Sari yang berjuang sendirian, tanpa Arka, tanpa siapa pun. Mungkin karena ia membayangkan Cahaya yang tumbuh tanpa ayah, sakit-sakitan, dan mati muda.
Foto kedua. Sari dan seorang pria paruh baya dengan kemeja batik. Pria itu tidak asing bagi Aisha. Ia pernah melihatnya di foto-foto lama Arka. Pria itu adalah ayah kandung Arka—ayah yang meninggalkan Mia, yang menjual Mia, yang menjadi awal dari semua penderitaan.
Aisha membalik foto itu. Di belakangnya, ada tulisan tangan Sari.
*“Ini adalah orang yang membeli aku dari panti asuhan. Orang yang menjadikanku budaknya selama tiga tahun. Orang yang sama yang menjual Mia. Orang yang sama yang menjadi ayah Arka. Arka tidak tahu. Dia pikir ayahnya hanya menjual Mia. Tapi aku juga korban. Dan aku tidak bisa diam lagi.”*
Aisha menutup matanya. Dunia terasa berputar.
Foto ketiga. Sebuah surat keterangan kematian. Cahaya. Penyebab kematian: gagal jantung karena kelainan bawaan. Tidak ada yang aneh. Tapi di bawahnya, Sari menulis catatan kecil.
*“Dokter bilang Cahaya bisa selamat jika mendapat perawatan yang cukup. Aku tidak punya uang. Aku sudah minta tolong pada keluarga angkat Arka. Mereka menolak. Mereka bilang anak cacat tidak layak hidup. Biarkan dia mati. Itu kata mereka.”*
Aisha meremas foto itu. Kemarahan yang selama ini ia pendam, yang ia pikir sudah hilang, muncul kembali. Bukan pada Arka. Pada keluarga angkat Arka. Pada orang-orang kejam yang menghancurkan hidup Sari, Mia, dan Cahaya.
Foto terakhir. Sebuah foto Mia dan Sari berdua, masih muda, masih polos, sebelum semuanya hancur. Mereka tertawa, berpelukan, seolah tidak ada yang salah dengan dunia.
Aisha meletakkan foto-foto itu di sampingnya, lalu mengambil surat-surat tulisan tangan Sari.
*“Arka,*
*Jika kau membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada. Maafkan aku karena tidak pernah bisa memberitahumu semua ini secara langsung. Aku takut. Aku takut kau akan membenciku. Aku takut kau akan menganggapku berbohong.*
*Tapi ini yang sebenarnya terjadi. Keluarga angkatmu tidak hanya menjual Mia. Mereka juga menjualku. Aku dibeli oleh ayah kandungmu sendiri, Arka. Aku dijadikan pembantu, dijadikan... aku tidak sanggup menuliskan semuanya.*
*Cahaya adalah anakku. Bukan anakmu. Aku tidak pernah memberitahumu bahwa dia anakmu karena aku tidak ingin kau terikat padaku. Tapi aku tahu kau akan tetap menyayanginya jika kau tahu. Maafkan aku karena berbohong.*
*Cahaya mati karena aku tidak punya uang untuk berobat. Aku sudah minta tolong pada keluarga angkatmu. Mereka bilang, biarkan dia mati. Aku marah, aku melawan, aku mengancam akan melaporkan mereka ke polisi. Tapi mereka lebih kuat. Mereka mengancam akan membunuhku jika aku bicara.*
*Aku takut, Arka. Aku takut pada mereka. Jadi aku diam. Aku membiarkan Cahaya mati. Aku membiarkan mereka bebas.*
*Tapi sekarang, sebelum aku mati, aku ingin kau tahu. Bukan untuk membalas dendam, tapi agar kau waspada. Keluarga angkatmu adalah monster. Jangan pernah percaya pada mereka.*
*- Sari”*
Aisha meletakkan surat itu di pangkuannya. Tangannya gemetar hebat. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak tahu harus merasa apa.
Jadi Cahaya bukan anak Arka. Sari mengarang cerita itu karena takut? Atau karena alasan lain? Dan keluarga angkat Arka—mereka tidak hanya menjual Mia, tapi juga membeli Sari. Mereka adalah monster yang sama.
Pesan terakhir dari Ren, di secarik kertas kecil.
*“Aisha, aku menyimpan amplop ini selama bertahun-tahun. Sari memberikannya padaku sebelum dia meninggal. Dia bilang, berikan pada Arka jika suatu hari nanti dia siap. Tapi aku tidak pernah punya keberanian. Aku terlalu takut pada keluarga angkat Arka. Mereka punya koneksi, punya uang, punya kekuatan. Aku tidak ingin mati.*
*Tapi sekarang, setelah semua yang terjadi, setelah Mia hampir mati, setelah kau dan Arka hampir hancur, aku sadar bahwa aku tidak bisa diam lagi. Aku bukan pahlawan. Tapi setidaknya, aku bisa mengembalikan kebenaran pada pemiliknya.*
*Maafkan aku untuk semuanya. Aku pergi untuk selamanya kali ini. Jangan cari aku.*
*- Ren”*
Aisha memegang surat-surat itu, berkas-berkas kebenaran yang selama ini tertimbun. Ia tidak tahu apakah Arka siap mendengar semuanya. Tapi ia juga tidak bisa menyembunyikan ini dari Arka. Mereka sudah berjanji untuk tidak berbohong lagi.
---
Arka pulang malam itu. Wajahnya lelah, matanya sembab. Pencariannya di kantor polisi tidak membuahkan hasil. Rekaman CCTV dari tetangga Mia hanya memperlihatkan pria bertopi dan kacamata hitam—ciri-ciri yang terlalu umum untuk diidentifikasi.
“Tidak ada yang tahu siapa pria itu,” kata Arka sambil duduk di sofa.
Aisha duduk di hadapannya. Ia memegang amplop cokelat itu erat-erat.
“Arka, aku harus memberitahumu sesuatu. Tapi kau harus berjanji akan tenang.”
Arka mengerutkan kening. “Apa? Ada apa?”
“Pria yang mendatangi Mia... aku tahu siapa dia.”
“Siapa?”
Aisha menarik napas panjang. “Ren.”
Arka terdiam. Wajahnya berubah—dari lelah menjadi marah. “Ren? Ren yang datang ke rumah Mia? Ren yang memerasnya?”
“Dia tidak memeras Mia, Arka. Dia datang untuk memberikan ini.” Aisha mengulurkan amplop cokelat itu. “Ini peninggalan Sari. Dia titipkan pada Ren sebelum dia meninggal.”
Arka mengambil amplop itu, membukanya, dan membaca satu per satu. Foto-foto, surat-surat, catatan Ren. Wajahnya berubah dari marah menjadi terkejut, dari terkejut menjadi pucat, dari pucat menjadi hancur.
“Cahaya... bukan anakku?” bisik Arka.
“Tidak, Arka. Sari menulis surat itu. Dia bilang dia tidak ingin kau terikat padanya. Dia bilang dia takut.”
“Dan ayahku... ayah kandungku... dia yang membeli Sari? Dia yang menjadikannya...”
Arka tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Ia menjatuhkan surat itu, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar.
Aisha duduk di sampingnya, memeluknya. “Aku di sini, Arka. Kau tidak sendirian.”
“Aku tidak tahu, Aisha. Aku tidak tahu ayahku sejahat itu. Aku tahu dia jahat pada Mia, tapi pada Sari juga? Pada orang lain juga?”
“Dia monster, Arka. Dan kau tidak perlu menanggung dosanya.”
“Tapi aku diam, Aisha. Aku diam selama bertahun-tahun. Aku membiarkan semuanya terjadi.”
“Kau tidak tahu, Arka. Kau tidak mungkin tahu.”
“Aku seharusnya tahu! Aku seharusnya mencari tahu!”
Arka melepaskan pelukan Aisha, berdiri, dan berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Tangannya menarik-narik rambutnya sendiri, tanda ia sedang stres.
“Arka, tenanglah.”
“Aku tidak bisa tenang, Aisha! Ayahku membeli Sari! Dia menjadikannya budak! Dia membiarkan Cahaya mati! Dan aku? Aku sibuk dengan hidupku yang nyaman! Aku sibuk dengan pekerjaan, dengan pernikahan kita, dengan Baskara! Aku tidak pernah bertanya apa yang terjadi pada Sari setelah aku meninggalkannya!”
“Arka—”
“Aku bahkan tidak tahu Sari meninggal sampai Mia memberitahuku! Aku tidak datang ke pemakamannya! Aku tidak pernah mengirim bunga! Aku tidak pernah!”
Arka jatuh berlutut di lantai, tangisnya pecah. Aisha menghampiri, berlutut di hadapannya, dan memeluknya erat-erat.
“Kita tidak bisa mengubah masa lalu, Arka. Tapi kita bisa memperbaiki masa depan. Kita bisa membantu Mia. Kita bisa memastikan keluarga angkatmu tidak berbuat jahat lagi.”
“Bagaimana? Mereka punya segalanya, Aisha. Uang, koneksi, kekuatan. Aku tidak punya apa-apa.”
“Kau punya kebenaran, Arka. Kau punya bukti. Kau punya aku. Kau punya Baskara. Kau punya Mia. Kita lawan mereka bersama.”
Arka mengangkat wajahnya, menatap Aisha dengan mata merah. “Kau yakin?”
“Aku yakin. Kita sudah melewati yang lebih sulit dari ini, Arka. Kita bisa melewati ini juga.”
---
Malam itu, setelah Arka tenang, mereka duduk di teras belakang. Langit malam gelap tanpa bintang. Awan mendung menutupi semuanya.
“Aisha, aku harus melapor ke polisi. Tentang ayahku, tentang keluarga angkatku.”
“Kau siap? Mereka akan melawan.”
“Aku siap. Aku tidak akan diam lagi. Aku sudah terlalu lama diam.”
“Aku akan mendampingimu. Apa pun yang terjadi.”
Arka meraih tangan Aisha. “Aku mencintaimu, Aisha. Terima kasih karena masih ada di sini.”
“Aku juga mencintaimu, Arka. Kita hadapi ini bersama.”
---
Keesokan paginya, Arka pergi ke kantor polisi dengan membawa amplop cokelat itu. Aisha ikut, menemani. Mereka memberikan semua bukti—foto, surat, catatan Ren—dan membuat laporan resmi tentang keluarga angkat Arka.
Polisi menerima laporan itu dengan serius. Mereka akan memanggil keluarga angkat Arka untuk dimintai keterangan. Mereka juga akan membuka penyelidikan tentang kasus perdagangan orang yang melibatkan Sari dan Mia.
“Prosesnya mungkin lama, Pak,” kata petugas. “Tapi kami akan berusaha sebaik mungkin.”
“Tidak apa-apa, asal ada keadilan,” jawab Arka.
---
Di luar kantor polisi, Aisha dan Arka berdiri di bawah langit yang mulai cerah. Matahari muncul dari balik awan, menyapa mereka dengan hangat.
“Arka, apa kau takut?”
“Aku takut, Aisha. Tapi aku tidak akan mundur.”
“Bagus. Karena aku juga tidak akan mundur.”
Mereka berdua tersenyum, saling menggenggam tangan.
Di kejauhan, Burung-burung terbang bebas di langit yang biru.
Badai baru akan datang. Tapi mereka tidak akan lari. Mereka akan hadapi bersama.
---
Pukul dua siang, ponsel Aisha berdering. Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa.
“Bu Aisha, Mia meminta bertemu dengan Ibu. Dia bilang ada yang ingin ia sampaikan. Sesuatu yang penting.”
Aisha menatap Arka. “Kita berdua akan ke sana.”
“Dia hanya minta Ibu, Bu. Mia bilang, jika Bapak Arka ikut, dia tidak akan bicara.”
Aisha bingung. “Mengapa?”
“Mia tidak menjelaskan. Tapi dia bersikeras hanya Ibu yang boleh datang.”
Aisha menghela napas. “Baik. Saya akan ke sana.”
Arka meraih tangannya. “Hati-hati, Aisha. Jika ada sesuatu yang tidak beres, segera keluar.”
“Aku akan hati-hati.”
---
Aisha tiba di rumah sakit sore itu. Mia sudah dipindahkan dari ruang isolasi ke ruang perawatan biasa. Kondisinya lebih baik, katanya. Mia mau makan, mau minum, dan mau berbicara.
Suster Dewi mengantar Aisha ke pintu ruang Mia. “Ibu bisa masuk. Tapi jangan lama-lama, ya. Pasien masih butuh istirahat.”
Aisha masuk. Mia duduk di tepi tempat tidur, rambutnya disisir rapi, wajahnya lebih cerah dari terakhir. Ia tersenyum tipis ketika melihat Aisha.
“Aisha, terima kasih sudah datang.”
“Ada apa, Mia? Kenapa kau hanya ingin bicara denganku?”
Mia menunduk. Tangannya memainkan ujung selimut.
“Aisha, aku mau mengaku sesuatu. Sesuatu yang selama ini aku sembunyikan.”
Jantung Aisha berdegup kencang. “Apa?”
Mia mengangkat wajahnya. Matanya basah. “Cahaya tidak mati karena sakit. Aku... aku yang membunuhnya.”