Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.
Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25:Keseharian Yang Tenang Dan Sederhana
Chen Lin duduk bersandar pada dinding kayu yang kasar, diselimuti oleh selembar kain tenun yang telah pudar warnanya namun terasa hangat. Langkah kaki yang ringan terdengar mendekat, disusul oleh derit pintu bambu yang terbuka perlahan.
Xiao Yu melangkah masuk sambil membawa sebuah mangkuk tanah liat yang mengepulkan asap tipis. Di dalam mangkuk itu, terdapat bubur beras putih bersih dengan taburan sedikit daun bawang dan beberapa potong umbi manis.
"Tuan Muda Chen Lin, kau sudah mendingan? " sapa Xiao Yu dengan senyuman. Ia berjalan mendekat dan meletakkan mangkuk itu di atas meja kecil di samping tempat tidur.
"Kakek bilang, perut yang telah kosong selama dua puluh hari tidak boleh langsung menerima makanan yang berat. Ini bubur hangat yang kumasak sejak petang tadi. Kuharap bisa membantu menghangatkanmu."
Chen Lin menatap mangkuk bubur itu, lalu mengalihkan pandangannya pada wajah tulus gadis remaja di hadapannya.
"Xiao Yu, kau tidak perlu memanggilku Tuan Muda. Panggil saja aku Chen Lin. Di tempat ini, aku hanyalah orang biasa yang nyawanya terselamatkan oleh belas kasihan kalian."
Xiao Yu terkekeh pelan, menyembunyikan senyumnya di balik lengannya yang kasar akibat kerja ladang.
"Baiklah, Chen... Lin. Cobalah makan selagi hangat. Tanganmu masih bergetar seperti itu, apakah kau perlu kubantu?"
"Tidak, aku bisa sendiri. Terima kasih," ucap Chen Lin dengan nada suara yang rendah.
Dengan usaha yang cukup keras, ia menggerakkan lengan kanannya yang terasa seberat lempengan besi. Ketika jarinya menyentuh sendok kayu, getaran halus tidak dapat disembunyikan dari otot-ototnya yang melemah.
Namun, dengan keteguhan hati yang keras, ia berhasil menyendok bubur hangat itu dan memasukkannya ke dalam mulut. Rasa hangat yang murni segera mengalir dari kerongkongannya, menyebar ke lambung, dan memberikan sedikit stimulasi kehidupan pada fisiknya yang layu.
Namun, di balik kehangatan makanan tersebut, sebuah kenyataan pahit tengah menanti di dalam tubuhnya.
Sembari mengunyah perlahan, Chen Lin secara diam-diam membagi sebagian kecil kesadarannya untuk menembus ke dalam lubuk batinnya, melakukan inspeksi internal terhadap dantian dan jalur-jalur meridian spiritualnya.
Begitu kesadarannya memasuki ruang batin, hati Chen Lin seketika mencelos, menyisakan kekosongan yang dingin dan hampa.
Lautan energi di dalam dantiannya yang semula luas dan bergejolak penuh vitalitas, kini tampak bagaikan sebuah telaga yang dilanda kemarau panjang. Esensi spiritualnya menyusut drastis, menyisakan kerak-kerak energi yang kering.
Jalur-jalur meridian utama yang dulu kuat kini tampak melemah, dipenuhi oleh retakan-retakan kecil berwarna ungu tua—sisa-sisa dari energi distorsi ruang yang berhasil menyelinap masuk sebelum Universe Star Body miliknya bangkit sepenuhnya.
"Tingkat satu Marrow Purification..." batin Chen Lin bergetar, setetes air mata batin seolah jatuh di dalam kegelapan dilaun jiwanya.
"Fondasi kultivasiku... hancur hingga ke titik ini."
Sebelum malapetaka di celah gunung Negara Bai Xue terjadi, Chen Lin adalah seorang jenius muda yang telah dengan kokoh memijakkan kakinya di ranah Marrow Purification tingkat 5.
Namun kini, dampak destruktif dari erosi spasial telah mengoyak fondasinya.
Penurunan lima tingkat besar ini adalah bencana yang lebih kejam daripada kematian bagi seorang kultivator.
"Hukum kosmis... benar-benar tidak mengenal ampun," desah Chen Lin dalam hati, pandangannya menatap kosong pada dasar mangkuk buburnya yang kini telah kosong.
Meskipun Universe Star Body telah menyelamatkan nyawanya dari kehancuran total, tubuh khusus itu kini kembali tertidur di dalam sel-sel darahnya, membutuhkan energi spiritual dalam jumlah raksasa yang tidak mungkin ia dapatkan di desa terpencil ini untuk bisa bangkit kembali.
Tanpa bantuan Lin XingYu yang masih terlelap dalam koma spiritual, Chen Lin tahu bahwa hanya meratapi nasib tak ada gunanya.
"Kau melamun, Chen Lin? Apakah buburnya tidak enak?" tanya Xiao Yu dengan dahi sedikit berkerut, membuyarkan lamunan pahit pemuda itu.
Chen Lin segera menghapus ekspresi mendung dari wajahnya, digantikan oleh senyuman tipis yang dipaksakan namun tulus.
"Tidak, Xiao Yu. Ini adalah bubur terbaik yang pernah kurasakan dalam hidupku. Terima kasih banyak."
Tiga hari setelah kesadarannya pulih, Chen Lin menolak untuk terus berbaring di atas ranjang kayu. Meskipun Kakek Gu dan Xiao Yu telah melarangnya berkali-kali, mengingatkan bahwa luka dalamnya belum sepenuhnya menutup, Chen Lin memiliki harga diri seorang kultivator yang tidak membiarkannya hidup sebagai benalu di atas keringat orang tua dan gadis remaja.
Pagi itu, dengan menggunakan sebatang kayu panjang sebagai penopang tubuhnya yang masih ringkih, Chen Lin melangkah keluar dari pondok.
Langkah kakinya tak seimbang, dan napasnya memburuk setiap kali ia berjalan lebih dari sepuluh tindak. Namun, pemandangan ladang jerami yang luas di hadapannya memberikan semacam tujuan baru.
Di ujung ladang, Kakek Gu tengah membungkuk memotong rumput liar yang mengganggu tanaman padi kering, sementara Xiao Yu memikul dua buah ember kayu berisi air dari sumur bawah bukit untuk menyiram petak-petak sayuran.
Keringat membasahi dahi mereka, namun tidak ada keluhan yang keluar dari mulut mereka. Chen Lin berjalan mendekati Kakek Gu dengan langkah yang dipaksakan teguh.
"Kakek Gu, berikan arit atau cangkul itu kepadaku. Biarkan aku membantu pekerjaan di ladang ini."
Kakek Gu menghentikan aktivitasnya, menegakkan punggungnya yang bungkuk dengan perlahan, lalu menatap Chen Lin dari atas ke bawah. Pria tua itu menghela napas panjang, menancapkan tongkat aritnya ke tanah.
"Anak muda, tubuhmu baru saja lolos maut. Lukamu mungkin sudah menutup, tapi Kakek bisa melihat dari matamu bahwa bagian dalam tubuhmu masih rapuh. Pergilah duduk di bawah pohon rindang itu, biarkan orang tua ini yang menyelesaikan sisa pekerjaan."
"Kakek Gu," potong Chen Lin, suaranya membawa ketegasan yang lahir dari jiwa seorang pendekar, meskipun fisiknya melemah.
"Kalian telah merawatku selama dua puluh hari, membagikan persediaan makanan dan ramuan obat yang berharga di saat kalian sendiri hidup dalam keterbatasan. Tolong, biarkan aku bekerja. Ini bukan hanya tentang membantu kalian, ini adalah caraku untuk membalas budi ku kepada kalian yang telah menyelamatkanku."
Kakek Gu menatap mata Chen Lin yang jernih dan penuh tekad. Sebagai pria yang telah makan banyak garam kehidupan, ia tahu bahwa pemuda di hadapannya ini bukan berasal dari kalangan masyarakat biasa.
"Baiklah," ucap Kakek Gu akhirnya, menyerahkan sebuah garu kecil yang biasa digunakan untuk menggemburkan tanah di sekitar tanaman sayur.
"Jangan memaksakan diri. Jika dadamu terasa sesak, segera berhenti. Tanah ladang ini cukup lebar."
Chen Lin menerima garu itu. Beratnya tidak seberapa, bahkan tidak sampai seperseribu dari berat senjata spiritual yang biasa ia ayunkan di masa lalu.
Namun, ketika ia mulai membungkuk dan mengayunkan alat itu ke atas tanah humus, tubuhnya langsung kelelahan.
Rasa nyeri yang tumpul segera menjalar dari pinggang hingga ke bahunya. Napas Chen Lin seketika terengah-engah hanya dalam tiga kali ayunan. Keringat dingin mulai bercucuran dari pori-pori kulitnya, membasahi jubah kain kasar yang dipinjamkan oleh Kakek Gu. Namun, Chen Lin tidak menyerah. Setiap kali rasa sakit itu datang menghantam, ia akan menggigit bibirnya.
"Jika aku bahkan tidak bisa menaklukkan segumpal tanah di ladang ini... bagaimana bisa aku menanggung amanat yang dipercayakan senior kepadaku! " bisik Chen Lin pada dirinya sendiri, suaranya berpadu dengan angin siang.
Ia terus mengayunkan garu kayu itu dengan ritme yang lambat namun konsisten. Dari petak pertama, beralih ke petak kedua.
Di seberang ladang, Xiao Yu yang sedang menyiram sayuran sering kali mencuri pandang ke arah Chen Lin.
Ada rasa kagum yang samar tumbuh di hatinya melihat bagaimana pemuda yang tadinya sekarat itu kini bertarung dengan rasa sakitnya sendiri di atas tanah berlumpur. Setiap kali Chen Lin tampak hampir tumbang, gadis itu akan berjalan mendekat, membawakannya sebatang bambu yang berisi air minum segar.
"Istirahatlah sejenak, Chen Lin," ucap Xiao Yu lembut pada suatu siang, menyodorkan air bambu itu saat mereka berdua duduk di bawah naungan pohon dedalu tua di tepi ladang.
"Matahari hari ini terlalu terik. Lihatlah wajahmu, sudah merah padam seperti kepiting rebus."
Chen Lin menerima bambu itu, meminum airnya dengan rakus, membiarkan kesejukan alami membasahi kerongkongannya.
"Aku tidak apa-apa, Xiao Yu. Bekerja di bawah matahari ternyata memiliki keindahan tersendiri yang tidak pernah kusadari sebelumnya."
Xiao Yu memiringkan kepalanya, menatap Chen Lin dengan mata bulatnya yang jernih.
"Keindahan? Bekerja di ladang ini melelahkan dan kotor, Chen Lin. Setiap hari tangan kita penuh dengan lumpur dan punggung kita pegal-pegal. Di mana letak keindahannya?"
Chen Lin tersenyum tipis, matanya menatap hamparan tanaman padi yang melambai ditiup angin sepoi-sepoi.
"Di masa laluku, aku terlalu sering menatap langit tinggi, mengejar sesuatu yang tak pernah bisa kucapai dan melupakan tanah tempat kakiku berpijak. Di sini, di ladang ini... aku belajar bahwa setiap butir beras yang tumbuh membutuhkan proses kegelapan di dalam tanah sebelum ia bisa menyapa matahari. Hidupku saat ini... mungkin sedang berada di fase kegelapan di dalam tanah itu. Aku sedang belajar menanam kembali akarku."
Xiao Yu tidak sepenuhnya memahami makna di balik kata-kata Chen Lin, namun ia bisa merasakan ketulusan dan kedalaman rasa yang ada di dalamnya.
Gadis itu tersenyum lembut, memetik sehelai daun rumput kelabu yang memancarkan pendaran kuning redup di sampingnya.
"Kakek selalu bilang, tanah tidak pernah berbohong. Apa yang kau tanam dengan keringat dan ketulusan, itulah yang akan kau panen di kemudian hari. Jika kau menganggap tempat ini sebagai tempat menanam akarmu, maka ladang kami akan selalu terbuka untuk menjagamu."
Kata-kata sederhana dari seorang gadis fana itu entah mengapa menggetarkan sesuatu yang beku di dalam dada Chen Lin. Di dunia kultivasi yang lama, hubungan antar-manusia selalu didasari oleh keuntungan, kekuatan, dan status.
Namun di sini, di desa terpencil ini, ia menemukan ketulusan murni yang tidak meminta balasan apa pun kecuali rasa saling menghormati.
Keseharian Chen Lin pun berubah menjadi sebuah rutinitas kultivasi bentuk baru. Ia tidak lagi duduk bersila selama berhari-hari mengunci diri di dalam kamar, melainkan menyatu dengan alam melalui kerja fisik yang melelahkan.
Setiap pagi, rutinitasnya diawali dengan membantu Kakek Gu memikul tumpukan jerami kering dari tempat penyimpanan menuju kandang lembu jantan tua milik desa.
Di awal minggu pertama, Chen Lin hanya mampu memikul satu ikat jerami kecil dengan napas yang tersedak-sedak. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, sumsum tulangnya yang berada di tingkat 1 Marrow Purification perlahan-lahan mulai beradaptasi.
Proses pembersihan sumsum yang biasanya dilakukan dengan meditasi ekstrem, kini terjadi secara alami melalui sirkulasi darah yang dipompa oleh aktivitas fisik yang berat.
Kotoran-kotoran hitam sisa erosi spasial yang mengendap di dalam jaringan tulangnya secara perlahan keluar bersama aliran keringatnya setiap hari.
Setelah urusan kandang selesai, Chen Lin akan bergabung dengan Xiao Yu di ladang sayur. Mereka bekerja berdampingan di bawah terik matahari maupun di bawah rintik gerimis musim gugur yang dingin.
"Chen Lin, cara memegang cangkulmu masih salah," ujar Xiao Yu pada suatu pagi, mendekati Chen Lin yang sedang mencoba membuka saluran air baru di pinggir petak sayur.
Gadis itu tanpa ragu memegang tangan Chen Lin, membetulkan posisi jemarinya di atas gagang kayu.
"Jangan gunakan seluruh kekuatan lenganmu secara kaku seperti itu. Biarkan berat cangkul itu yang bekerja, dan gunakan dorongan dari pinggangmu. Seperti ini..."
Xiao Yu memberikan contoh, mengayunkan cangkul dengan gerakan yang sangat luwes dan efisien, membelah tanah berlumpur tanpa mengeluarkan tenaga yang berlebihan.
Chen Lin menatap gerakan itu dengan saksama. Sebagai seorang kultivator, ia segera menyadari sebuah kebenaran universal, bahkan dalam hal mencangkul tanah sekalipun, terdapat aliran Dao yang tersembunyi.
Gerakan Xiao Yu yang efisien adalah bentuk penyelarasan diri dengan gravitasi dan struktur tanah, sebuah prinsip yang tidak berbeda dengan bagaimana seorang pendekar pedang menyelaraskan senjatanya dengan aliran angin.
"Begitu rupanya... menggunakan kelembutan untuk mengendalikan kekerasan," gumam Chen Lin, matanya berkilat cerah.
Ia mencoba meniru gerakan Xiao Yu. Mengendurkan otot lengannya yang kaku, menarik napas seirama dengan ayunan, dan membiarkan dorongan energi dari pinggangnya mengalir ke ujung cangkul.
Mata cangkul itu masuk ke dalam tanah dengan jauh lebih dalam dan ringan daripada sebelumnya. Chen Lin tidak lagi merasa dadanya sesak setelah melakukan beberapa kali ayunan.
"Wah! Kau cepat sekali belajar!" seru Xiao Yu sambil bertepuk tangan gembira, matanya menyipit membentuk bulan sabit yang indah.
"Kakek! Lihatlah Chen Lin, dia sudah bisa mencangkul dengan benar sekarang!"
Kakek Gu yang sedang membetulkan pagar bambu di kejauhan hanya menoleh dan tertawa terkekeh-kekeh, janggut putihnya bergoyang ditiup angin.
"Bagus, bagus! Anak muda memang harus memiliki otot yang tangguh. Jika tidak, bagaimana kau bisa memikat hati gadis-gadis di desa ini kelak?"
Mendengar godaan kakeknya, wajah Xiao Yu seketika memerah padam. Ia segera berbalik membelakangi Chen Lin, pura-pura sibuk menyiangi rumput liar dengan tergesa-gesa.
"Kakek tua nakal! Bicara apa kau ini! Urus saja pagarmu yang rusak itu!"
Chen Lin hanya bisa tersenyum simpul melihat interaksi hangat di antara kakek dan cucu tersebut. Di dalam hatinya, sebuah kedamaian yang mendalam perlahan-lahan mulai mengikis rasa frustrasi akibat penurunan basis kultivasinya.
Meskipun ia berada di tingkat paling bawah, ia merasa fondasi fisik kasarnya saat ini jauh lebih padat, bersih, dan kokoh daripada saat ia pertama kali mencapai ranah Marrow Purification di masa lalunya yang penuh ketergesaan.
Sore harinya, ketika senja mulai menutupi langit biru, tugas mereka belum sepenuhnya usai. Chen Lin akan menemani Xiao Yu berjalan ke sumur tua yang terletak di kaki bukit berbatu untuk mengambil persediaan air minum esok hari.
Perjalanan menanjak sambil memikul dua ember air penuh adalah ujian terberat bagi fisik Chen Lin. Setiap sore, otot paha dan betisnya akan gemetar hebat menahan beban air yang bergoncang. Namun, ia menolak untuk mengurangi volume air di dalam embernya.
"Apakah beban itu terlalu berat, Chen Lin? Kita bisa membaginya ke emberku jika kau mau," tanya Xiao Yu, berjalan di sampingnya sambil memikul satu ember yang sedikit lebih kecil dengan santai.
"Tidak perlu, Xiao Yu," jawab Chen Lin, napasnya teratur namun berat.
"Beban ini adalah pengingat bagiku... bahwa untuk mencapai puncak bukit, seseorang tidak boleh mengeluhkan beratnya bekal yang ia bawa."
Xiao Yu menatap profil samping wajah Chen Lin yang tegas di bawah siraman cahaya senja yang keemasan. Rambut hitam pemuda itu yang agak panjang berkibar ditiup angin bukit, dan meskipun pakaiannya hanyalah kain kasar yang penuh noda lumpur, ada aura keteguhan dan keanggunan abadi yang memancar dari dirinya, membuat gadis desa itu sering kali terpesona tanpa sadar.
"Kau selalu berbicara dengan cara yang aneh dan puitis, Chen Lin," bisik Xiao Yu pelan, matanya menatap jalan setapak di depan mereka.
"Terkadang aku merasa... kau seperti seseorang yang berasal dari dunia yang sangat jauh, dunia di atas awan yang tidak akan pernah bisa kujangkau."
Mendengar kalimat itu, Chen Lin berhenti sejenak dan bernafas pelan, sebelum akhirnya kembali berjalan di belakang Xiao Yu.