Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Belum Usai
Perjalanan dari bandara menuju rumah terasa singkat, meskipun Aurora tahu jaraknya tidak dekat. Mungkin karena pikirannya yang masih sibuk mencoba mengejar perasaan yang tertinggal di tempat lain. Ia duduk di kursi belakang, sesekali melirik keluar jendela. Jalanan Swiss terlihat rapi, tenang, dan hampir terlalu damai dibandingkan dengan hiruk-pikuk yang ia tinggalkan.
Lampu-lampu kota mulai menyala, menciptakan suasana hangat di tengah udara dingin yang menyelimuti. Aurora menyandarkan kepalanya perlahan. Ada rasa asing, tapi juga nyaman. Seolah tempat ini tidak menuntut apa pun darinya.
Sesampainya di rumah, Aurora turun dari mobil. Rumah itu berdiri dengan megah namun tidak berlebihan. Desainnya elegan, dengan jendela besar yang memancarkan cahaya hangat dari dalam. Rina membuka pintu lebih dulu, mempersilakan Aurora masuk.
“Masuk, Nak.”
Aurora melangkah masuk, dan seketika aroma rumah yang bersih dan familiar menyambutnya. Ia menatap sekeliling. Semuanya tertata rapi, hangat, dan terasa hidup. Berbeda dengan kamar di Indonesia yang beberapa hari terakhir terasa kosong.
Arman membawa koper Aurora ke dalam, “Kamar kamu masih sama. Mama kamu nggak pernah ubah.”
Aurora menoleh ke arah ayahnya, lalu tersenyum kecil. Ada rasa haru yang tidak ia ucapkan.
Mereka berjalan menuju ruang makan. Di atas meja sudah tersaji beberapa makanan hangat.
Aurora sedikit terkejut, “Mama masak?” tanyanya.
Rina tersenyum tipis, “Kamu datang, masa Mama nggak masak.”
Aurora duduk perlahan. Ia tidak terlalu lapar, tapi melihat makanan itu membuat hatinya terasa lebih ringan. Mereka mulai makan bersama. Awalnya hanya obrolan ringan. Tentang perjalanan, tentang cuaca, tentang hal-hal kecil yang terasa aman untuk dibicarakan.
Namun seperti biasa, Rina tidak butuh waktu lama untuk membaca anaknya sendiri.
“Kamu capek?” tanyanya lembut.
Aurora menggeleng kecil, “Nggak terlalu.”
Arman ikut menimpali, “Kalau capek, istirahat aja. Nggak usah dipaksain ngobrol.”
Aurora mengangguk, tapi ia tetap duduk. Ia tidak ingin masuk kamar terlalu cepat. Entah kenapa, ia merasa kalau sendirian sekarang bukan ide yang baik.
Rina memperhatikannya sejenak, lalu berkata pelan, “Masih kepikiran?”
Aurora terdiam.
Sendok di tangannya berhenti bergerak. Pertanyaan itu sederhana, tapi langsung mengenai titik yang ia hindari.
Ia menunduk sedikit, “Masih, Ma.”
Tidak ada penyangkalan kali ini.
Rina tidak terlihat terkejut. Ia hanya mengangguk pelan, “Wajar.”
Aurora menarik napas panjang. Untuk beberapa detik, ia tidak tahu harus berkata apa. Tapi entah kenapa, berada di sini membuatnya lebih mudah jujur.
“Aku kira kalau pergi, bakal langsung hilang” ucap Aurora pelan.
Arman menatapnya dengan lembut, tapi tidak memotong.
“Tapi ternyata nggak” lanjut Aurora, suaranya lebih lirih.
Rina tersenyum tipis, “Perasaan nggak bisa hilang cuma karena pindah tempat.”
Aurora tersenyum kecil pahit.
“Kalau bisa, semua orang udah lari sejauh mungkin setiap kali sakit hati” tambah Rina.
Hening sejenak.
Aurora memainkan ujung sendoknya, “Aku cuma capek, Ma.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Jujur. Tanpa ditahan.
Rina menatapnya lebih dalam, “Capek karena dia, atau capek karena kamu terus maksa diri kamu kuat?”
Aurora tidak langsung menjawab.
Pertanyaan itu membuatnya berpikir. Selama ini, ia memang terus mencoba terlihat baik-baik saja. Terus mencoba menerima, meskipun belum benar-benar siap.
“Mungkin dua-duanya” jawab Aurora akhirnya.
Arman mengangguk pelan, “Kalau capek, ya istirahat. Nggak semua harus diselesaikan sekarang.”
Aurora menatap ayahnya. Kalimat itu sederhana, tapi terasa menenangkan.
Rina melanjutkan dengan suara yang lebih lembut, “Di sini kamu nggak harus jadi kuat. Kamu boleh lelah.”
Aurora menunduk. Matanya mulai terasa panas, tapi ia menahannya.
Untuk pertama kalinya setelah semua yang terjadi, ia merasa tidak perlu pura-pura.
Makan malam itu tidak berlangsung lama. Setelah selesai, Aurora membantu merapikan sedikit, meskipun Rina berkali-kali menyuruhnya istirahat.
“Aku nggak papa, Ma.”
Rina hanya menggeleng kecil, tapi tidak memaksa.
Beberapa menit kemudian, Aurora akhirnya masuk ke kamarnya.
Kamar itu masih sama seperti yang ia ingat. Tempat tidur rapi, meja kerja di sudut ruangan, dan jendela besar yang menghadap ke luar.
Aurora berjalan perlahan ke arah jendela.
Ia membuka sedikit tirainya.
Di luar, kota Swiss terlihat tenang. Lampu-lampu kecil berpendar di kejauhan, seperti bintang yang jatuh ke bumi. Tidak ada suara bising, tidak ada keramaian yang mengganggu.
Aurora menyandarkan tubuhnya di dekat jendela.
Sunyi.
Tapi bukan sunyi yang menyakitkan.
Ia memejamkan mata sejenak.
Bayangan Rayden masih muncul. Suara terakhir di telepon itu masih jelas. Kata “cukup” yang begitu singkat, tapi menghentikan semuanya.
Aurora membuka matanya kembali.
Dadanya masih terasa sesak, tapi tidak seberat sebelumnya.
“Mungkin, ini prosesnya” batinnya.
Ia menghela napas panjang, lalu berbisik pelan, hampir tidak terdengar, “Mungkin aku memang butuh pergi sejauh ini…”
Ia menatap ke luar lagi, “Buat berhenti berharap.”
Angin malam yang dingin masuk perlahan dari celah jendela. Aurora tidak menutupnya. Ia membiarkan udara itu menyentuh wajahnya, seolah membawa sesuatu yang baru.
Ia berjalan menuju tempat tidur, lalu duduk di tepinya.
Tangannya meraih ponsel. Layar menyala, tapi tidak ada pesan baru.
Aurora menatapnya beberapa detik, lalu mengunci layar kembali.
Kali ini, tidak ada rasa menunggu.
Ia berbaring perlahan.
Langit-langit kamar terasa berbeda dari yang biasa ia lihat. Tapi entah kenapa, ia tidak merasa asing.
Matanya mulai terpejam.
Pikirannya tidak lagi berisik seperti sebelumnya. Masih ada sisa-sisa kenangan, masih ada rasa yang belum selesai. Tapi semuanya terasa lebih jauh.
Malam itu, Aurora tidak menangis.
Ia hanya memejamkan mata, membiarkan lelahnya mengambil alih.
Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya berubah, ia benar-benar beristirahat.
Malam di Swiss itu tidak menyembuhkan segalanya. Tapi setidaknya, untuk malam ini, Aurora tidak lagi merasa sendirian.