NovelToon NovelToon
Diam-diam Membalaskan Dendam

Diam-diam Membalaskan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: nita kinanti

Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.

Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.

Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.

Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.

Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Kencan

Alvaro mengajak Zivanna mampir ke rumahnya setelah menghadiri seminar. Zivanna belum sempat mengutarakan apa yang ingin di bicarakan jadi mereka akan bicara di rumah saja dan Zivanna tidak keberatan.

Alvaro membuat kopi untuk dirinya sendiri dan segelas susu untuk Zivanna. Dia tidak mengijinkan gadis itu minum kopi mengingat pola tidurnya yang kacau karena mimpi-mimpi itu.

"Apa yang ingin kamu bicarakan? Sepertinya penting sampai nyusul aku ke puskesmas tadi." Alvaro membuka percakapan.

"Kamu bisa bantu aku, Al?" tanya Zivanna langsung pada intinya.

"Bantu apa?" Alvaro tidak mengerti kenapa tiba-tiba gadis itu meminta bantuannya dan bantuan seperti apa yang dia inginkan. Kalau soal kesehatannya tanpa diminta pun Alvaro pasti akan membantunya.

Lalu Zivanna menceritakan soal ladang jagung neneknya yang baru saja terbakar serta hubungannya dengan Suci dan ibunya.

"Aku ingin membalas mereka," kata Zivanna setelah menutup ceritanya.

"Memangnya sudah pasti mereka yang membakar ladang jagung nenek? Bisa saja orang lain, kan?"

"Tidak. Aku yakin itu perbuatan mereka."

"Lalu aku bisa bantu apa?"

"Tolong kamu dekati Suci."

Alvaro hampir tersedak kopi yang sedang dia minum. "Kamu tidak salah bicara?" tanyanya disertai tatapan tidak percaya.

"Aku lihat dia suka kepadamu. Jadi tolong kamu dekati dia, pura-pura lah kalau kamu juga menyukainya."

"Minta tolong yang lain, apa saja asalkan jangan itu!" tolak Alvaro tegas. Membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik.

Zivanna diam saja.

Alvaro menghembuskan nafas panjang. "Jadi, apa yang harus aku lakukan?" tanyanya dengan nada pasrah. Mata bulat Zivanna yang terus menatap penuh harap membuat Alvaro tidak kuasa untuk menolak permintaannya, meskipun menurutnya sangat .... ihhh. Mau bagaimana lagi, Alvaro terlanjur menaruh hati pada gadis ini jadi apapun akan dia lakukan.

* * *

Suci berkali-kali dia memutar tubuhnya di depan cermin untuk memastikan jika tidak ada yang kurang dengan penampilannya. Dia merasa baju biru muda yang dia kenakan sangat pas membalut tubuhnya. Riasannya juga tidak terlalu menor, tapi juga tidak terlalu tipis. Parfum isi ulang yang dia beli di dekat puskesmas juga sudah dia semprotkan di beberapa bagian tubuhnya.

"Sempurna," gumam Suci ketika dia berputar untuk yang terakhir kalinya.

Suci melihat jam dinding bulat di kamarnya. "Baru pukul enam," gumamnya. "Tapi aku sudah tidak sabar," lanjutnya dengan mata berbinar.

Siang tadi ketika hendak pulang, Alvaro tiba-tiba mencegatnya. Laki-laki itu mengatakan jika dia ingin datang ke rumah karena ingin mengenal Suci lebih jauh.

Suci hampir berteriak ketika mendengar Alvaro mengatakannya tadi. Dia tidak bisa menahan rasa bahagianya hingga selama perjalanan pulang Suci tidak berhenti tersenyum. Hatinya meletup-letup seperti akan meledak karena terlalu bahagia. Dokter yang sudah dia puja-puja akhirnya melihatnya dan bahkan berusaha mendekatinya.

"Dokter itu benar-benar akan datang?" Ida muncul untuk melihat Suci.

"Iya, Bu. Dokter Alvaro sudah berjanji akan datang. Dia pasti datang."

"Nanti jaga sikap, jangan bikin malu. Buat dia jatuh cinta padamu. Kalau kamu sampai menikah dengan seorang dokter, hidup kita akan enak. Kita juga akan jadi orang terpandang dan tidak direndahkan lagi. Kalau itu terjadi, ibu akan membalas si tua Minah itu karena sudah semena-mena dengan ibu."

Suci tidak begitu mendengar kata-kata ibunya. Saat ini yang ada di pikirannya hanya Alvaro dan Alvaro. Tidak ada yang lain. Membayangkan akan berduaan dengan Alvaro membuat jantungnya berdebar-debar tidak karuan. Ini kencan, jadi rasanya pasti akan berbeda jika dibandingkan dengan ketika mereka sedang berdua di puskesmas.

Ngomong-ngomong soal Minah, Suci jadi teringat cucu perempuan tua itu. Suci tersenyum puas. Dia tidak sabar ingin menunjukkan kepada gadis manja itu jika ternyata Alvaro lebih memilih dirinya. Suci ingin menggandeng Alvaro mengelilingi desa Suka Makmur agar semua orang tahu jika dirinya kekasih dokter itu dan tidak ada seorangpun yang boleh menggoda Alvaro lagi.

"Ibu mau kemana?" tanya Suci ketika melihat penampilan ibunya yang juga sudah rapi. Tidak mungkin ibunya itu berpenampilan rapi karena ingin menyambut Alvaro. Suci tidak akan membiarkannya. Dia tidak mau kencan pertamanya dengan Alvaro hancur karena penampilan ibunya yang menurutnya meskipun rapi, entah bagaimana tetap terlihat kampungan ini.

"Ibu mau ke rumah Minah. Katanya si tua itu ingin meminta maaf pada ibu karena telah memecat ibu seenaknya. Baguslah kalau dia sadar," tutur Minah dengan wajah kesal. "Katanya, ibu juga mau dikasih uang sebagai ganti rugi."

"Oh... " balas Suci pendek.

"Kamu sudah dengar kan tadi pagi ladang jagungnya terbakar? Itu pasti karma karena sudah berbuat semena-mena pada ibu!"

Suci mengangguk kaku. Tentu saja dia tahu soal ladang jagung yang terbakar itu karena itu adalah ulahnya. Suci sengaja membakar ladang itu tadi pagi ketika akan berangkat ke puskesmas. Ladang jagung Minah tidak dilalui jalan utama. Tempat itu sepi jadi Suci bisa melakukan aksinya dengan mudah.

"Sebenarnya ibu mau melihat dokter itu datang. Ibu ingin ketemu sama calon mantu ibu yang tampan itu. Apa ibu nunggu dia datang dulu setelah itu baru pergi ke rumah Minah? Kamu juga mau mengenalkan ibu kepadanya, kan?"

"Tidak perlu. Ibu pergi saja. Nanti kalau dia sudah jadi menantu ibu juga setiap hari ketemu. Lebih baik ibu segera ke rumah si tua itu dan ambil uangnya."

"Ya sudah, ibu berangkat sekarang. Jangan lupa pesan ibu. Jaga sikapmu, jangan bertingkah memalukan!"

"Justru ibu yang akan membuatku malu jika tetap berada di rumah," gumam Suci setelah ibunya pergi.

Suci terus mondar-mandir di ruang tamu yang tidak seberapa luas itu. Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh. Alvaro pasti sebentar lagi tiba. Suci meremas tangannya yang mulai basah karena terlalu gugup.

Suci membuka pintu. Sudah lebih lima menit tetapi Alvaro belum juga datang. Suci berusaha tenang. Telat lima menit itu hal biasa.

Suci kembali melirik jam dinding. Sekarang sudah lebih lima belas menit dan Alvaro belum juga datang. Suci mulai gelisah. Dia kembali mondar-mandir sambil melirik jam dinding, entah untuk yang keberapa kalinya.

"Dia pasti datang, dia pasti datang. Dia sangat sibuk, jadi wajar kalau terlambat," gumamnya meyakinkan diri.

Senyum Suci merekah ketika dia mendengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah. "Itu pasti dia!" Dengan tergesa-gesa Suci berjalan keluar.

Dia hampir memekik kegirangan melihat dokter tampan itu benar-benar berdiri di depan rumahnya. "Maaf terlambat," ucap laki-laki itu kaku.

"Tidak apa-apa. Silahkan masuk, Dok."

Alvaro mengangguk lalu melangkahkan kakinya memasuki teras. "Kita di sini saja. Kalau di dalam takutnya nanti orang-orang berpikiran yang tidak-tidak. Bisa panjang urusannya," kata Alvaro ketika Suci mengajaknya masuk ke dalam rumah.

"Oh... Iya. Benar. Silahkan duduk." Suci mempersilahkan Alvaro duduk di kursi plastik yang terlihat masih baru. "Sebentar, saya buatkan minum dulu," lanjutnya.

"Tidak usah, terima kasih. Ini aku bawa ini." Alvaro menyodorkan satu cup minuman susu kekinian kepada Suci.

Suci terlihat begitu bahagia. Dia melihat Alvaro menggenggam botol air mineral yang artinya minum kekinian itu memang sengaja dibeli hanya untuknya. "Terima kasih, Dok."

1
Ma Em
Balas perbuatan Suci buat Suci menyesal seumur hdp nya karena sdh merusak hdp Ayu , dan buat Suci merasakan nasibnya seperti Ayu agar Suci mengingat semua perbuatan nya pada Ayu .
Ma Em
Suci mau balas pada Bu Minah karena sdh pecat Bu Ida coba saja kalau berani , pasti Zivana langsung bertindak dan akan membalaskan dendam Ayu pada Bu Ida dan Suci .
Ma Em
Ayo Zivana balaskan dendam Ayu pada Suci juga pada Ida karena perbuatan mereka hdp Ayu jadi menderita .
Ma Em
Ayo Alvaro cari bukti yg kuat agar orang2 yg sdh jahat pada Ayu akan dapat hukuman yg setimpal ,terutama Bu Ida dan Suci hrs di beri pelajaran itu agar dia sadar dan sekalian masukan ke penjara .
Ds Phone
itu lah sebab nya
Ma Em
Semangat ga Alvaro segera membuka semua tabir yg Zivana hadapi dan Zivana bisa sehat kembali tdk diteror dgn mimpi mimpinya .
Ds Phone
dia jahat dengan ayu
Ds Phone
rasa mata tu dia punya
Ds Phone
cucu sorang memang susah hati
Ds Phone
dia ingat dia ayu
Ds Phone
cari kesepatan
Ds Phone
memang jahat perumpuan tu
Ds Phone
mimpi teruk lagi lah tu
Ds Phone
orang jahat dah cemburu
Ds Phone
dia melihat semus nya
Ds Phone
dia lihat apa perbuatan jahat meraka
Ds Phone
maaf sebab dah buat jahat
Ds Phone
muking dia kena rogol
Ds Phone
semua nya ada kaitan
Ds Phone
ada saja yang dengki
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!