Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 - Rencana yang Gagal Total
Aga hanya bisa menatap lurus ke depan sambil mengunyah ayam goreng yang seharusnya lezat—renyah, gurih, sempurna—namun di lidahnya tak menyisakan rasa apa pun. Setiap gigitan terasa seperti bentuk penerimaan atas nasib yang jelas-jelas sedang mengejeknya malam ini. Di dalam kantong belanja, dua bungkus kondom itu seolah ikut menertawakan kebodohannya sendiri.
Pandji, yang sama sekali tidak merasa bersalah, masih duduk santai sambil menyantap burger. Sesekali pria itu melirik Aga dengan ekspresi polos yang justru makin menyebalkan.
“Kenapa muka lo kayak habis ditinggal kawin?” tanyanya santai.
Aga menoleh pelan, tatapannya datar. “Karena ada orang yang pulang nggak kenal waktu.”
Pandji terkekeh. “Lah, ini apartemen gue.”
“Sayangnya iya.”
Gwen yang duduk di ujung sofa langsung menahan tawa. Ia menunduk pura-pura fokus membuka saus sambal, padahal sudut bibirnya sudah terangkat. Semakin ia berusaha terlihat biasa, semakin jelas pula rasa geli yang tak sanggup ia sembunyikan.
Pandji menyeka tangan dengan tisu lalu bersandar nyaman. “Serius, lo kenapa sih? Gue cuma makan ayam sama burger. Bukan nyuri mobil lo.”
Aga melirik kantong belanja di meja.
Lalu melirik Gwen.
Lalu kembali menatap Pandji.
“Masalahnya bukan ayamnya.”
Pandji mengernyit. “Terus?”
Aga membuka mulut, tapi langsung menutupnya lagi. Tidak mungkin ia menjelaskan bahwa yang hancur malam ini bukan sekadar suasana makan, melainkan seluruh skenario romantis yang sudah dibangun susah payah sejak Gwen muncul dengan piyama satin merahnya itu.
Gwen yang tahu persis arah pikiran Aga mulai merasa wajahnya memanas sendiri. Ia buru-buru meraih gelas minuman dan meneguknya, padahal tenggorokannya tidak benar-benar kering.
“Udah, jangan berantem,” katanya pelan, berusaha terdengar netral.
Pandji langsung menoleh ke arahnya. “Siap, Mbak.”
Aga mendecak pelan. “Iya, iya. Nikmati aja ayam gratis lo itu.”
“Bukan gratis,” sahut Pandji cepat. “Ini namanya rezeki orang pulang tepat waktu.”
Aga mendengus. Gwen akhirnya tidak tahan dan tertawa kecil. Suara tawanya ringan, membuat Aga yang tadinya kesal justru sedikit melunak. Seperti biasa, kalau Gwen sudah tertawa, separuh emosinya otomatis turun.
Pandji memperhatikan perubahan ekspresi itu dan langsung menyeringai jahil. “Nah, gitu dong. Dari tadi tegang banget. Gue kira lo habis kalah tender.”
Aga mengusap wajah kasar. “Gue lagi kalah nasib.”
“Lebay.”
“Lo nggak akan ngerti.”
Pandji menunjuk kantong belanja dengan dagunya. “Sini, bagi chiki.”
Aga refleks menarik kantong itu sedikit mendekat dengan kakinya. Gerakan kecil itu justru membuat Pandji makin curiga.
“Oh...” gumamnya panjang, menatap tas belanja lalu Aga, lalu Gwen, lalu kembali ke Aga lagi. “Ohhh.”
Gwen mengangkat kepala. “Apa?”
“Enggak,” jawab Pandji cepat, tapi senyumnya terlalu licik untuk dipercaya. “Tiba-tiba aja aku merasa timingku bagus banget.”
Aga langsung melempar bantal ke arahnya. Pandji menangkis sambil tertawa keras. “Woi! Kena ayam gue nanti!”
“Biar sekalian nyangkut di tenggorokan lo,” gerutu Aga.
Gwen kembali tertawa, kali ini lebih lepas. Matanya masih sembap, bekas tangisnya belum sepenuhnya hilang, tapi suasananya sudah jauh lebih ringan. Tadi ia memang sempat menangis sampai sesak, tapi sekarang, melihat Aga frustrasi gara-gara Pandji muncul di waktu yang salah, rasa itu perlahan berubah jadi geli.
“Udah makan dulu,” katanya pada Aga, mendorong salah satu kotak berisi burger ke arahnya. “Nanti keburu dingin.”
Aga menoleh ke Gwen. Nada suaranya refleks melembut. “Kamu udah kenyang?”
Gwen mengangguk. “Kenyang banget.”
Pandji langsung menyela, “Mbak makannya dikit. Yang banyak ya gue.”
“Gue tahu,” kata Aga datar. “Kelihatan.”
Pandji tertawa lagi. Mereka akhirnya makan dalam suasana yang jauh lebih santai, meski sesekali Aga masih tampak seperti orang yang belum rela berdamai dengan takdir. Gwen duduk di samping meja sambil memakan kentang goreng sedikit-sedikit. Pandji sibuk mengomentari rasa burger. Sementara Aga lebih banyak diam, tapi diamnya bukan lagi kesal penuh, melainkan jenis diam yang membuat Gwen merasa sedang diawasi terus-menerus. Setiap kali Gwen menoleh, Aga pasti sedang menatapnya. Bukan terang-terangan berlebihan.
Tapi cukup lama untuk membuat jantung Gwen berdebar lagi. Ia tahu betul apa yang sedang pria itu pikirkan—dan justru karena itu, ia tak berani menatap terlalu lama.
Pandji tampaknya menangkap arus aneh itu. Dengan mulut masih penuh makanan, ia berkata, “Gue jadi merasa numpang di drama orang.”
“Lo memang numpang,” jawab Aga.
“Di apartemen gue sendiri?”
“Makanya aneh.”
Gwen menunduk, menahan senyum. Setelah beberapa saat, makanan di meja mulai habis. Pandji berdiri lebih dulu sambil membawa sisa tisu dan kotak kosong.
“Udah lah, gue ngantuk,” katanya sambil berjalan ke arah kamar tamu. “Besok pagi gue urus teknisi.”
Aga menatapnya curiga. “Lo serius tidur di kamar tamu?”
Pandji balas menatap tak kalah heran. “Ya iyalah. Masa gue tidur di balkon?”
Aga mendecak. “Lo bisa tidur di kamar lo, kan? Ada kipas.”
“Ada. Tapi kipasnya bunyi kayak traktor,” ucap Pandji.
Aga mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggung ke sofa. “Jadi?”
“Jadi kita tidur di kamar tamu aja,” jawab Pandji enteng. “Cuma di situ yang masih dingin.”
Aga langsung menoleh. “Kita?”
Pandji mengangguk mantap. “Iya, kita. Bertiga.”
Gwen yang sejak tadi diam langsung ikut mengangkat wajah. “Bertiga?”
“Iya.” Pandji menunjuk ke arah kamar tamu dengan dagunya. “Kasurnya lumayan besar. Mbak tidur di ujung dekat dinding, aku di sisi luar. Nah, Aga...” Ia menoleh pelan ke bawah, lalu tersenyum puas. “Lo pakai kasur lipat.”
Aga menatap sahabatnya tanpa ekspresi.“Kenapa gue yang di kasur lipat?”
Pandji mengangkat bahu. “Karena lo paling muda. Tulang lo masih bagus.”
Gwen spontan menutup mulut menahan tawa. Aga menoleh ke arahnya.
“Kamu ketawa?”
Gwen buru-buru menggeleng, meski sudut bibirnya masih terangkat. “Enggak.”
“Bohong.”
Pandji menyambar bantal sofa lalu melemparkannya ke pangkuan Aga. “Udah, jangan drama. Kasur lipatnya ada di gudang. Ambil sana.”
Aga memejamkan mata sejenak, seolah sedang mengumpulkan sisa kesabaran yang masih ia punya. Malam yang beberapa waktu lalu terasa menjanjikan itu sekarang berubah jadi skenario penghinaan berjamaah.
Dua bungkus kondom dalam kantong belanjaan itu mendadak terasa seperti simbol kebodohan paling mahal yang pernah ia beli.
“Gue pulang aja,” gumam Aga.
“Jangan lebay,” kata Pandji santai. “Udah malam.”
Aga mendecak pelan.
Gwen menatapnya sesaat, lalu berkata lebih lembut, “Nggak apa-apa. Cuma semalam.”
Nada suara Gwen yang begitu pelan otomatis menurunkan setengah kekesalan Aga. Ia menatap wanita itu beberapa detik, lalu mengembuskan napas pasrah.
“Iya, cuma semalam,” ulangnya lirih, meski nadanya terdengar seperti orang yang sedang menelan nasib.
Pandji langsung bangkit berdiri. "Nah, gitu dong. Biar cepat, gue ambil kasur lipatnya."
Beberapa menit kemudian, mereka bertiga sudah berada di kamar tamu. Lampu utama dimatikan, menyisakan lampu tidur kecil yang cahayanya temaram kekuningan. Kasur utama di kamar itu cukup besar, sementara satu kasur lipat tipis dibentangkan di lantai dekat sisi tempat tidur. Pandji langsung merebahkan diri di sisi luar kasur, dekat tepi.
Gwen naik pelan ke atas ranjang dan mengambil tempat di ujung dekat dinding, memeluk bantal di dada.
Sedangkan Aga berdiri di samping kasur lipatnya dengan ekspresi datar. Ia menatap kasur utama, lalu beralih ke kasur lipat di sampingnya, sebelum akhirnya menoleh ke arah Pandji.
“Serius, gue di sini?”
Pandji yang sudah setengah rebah hanya mengangguk santai. “Iya. Mau gue bikinin prasasti juga?”
Gwen menggigit bibir, jelas sedang menahan tawa lagi.
Aga mengusap wajahnya kasar. “Sumpah, hidup gue lagi lucu banget.”
“Bukan hidup lo,” sahut Pandji. “Nasib lo.”
“Bisa diem nggak?”
“Bisa. Kalau lampunya dimatiin total.”
“Jangan,” sela Gwen cepat. “Lampu tidur aja.”
Pandji menoleh sekilas, lalu mengangguk kecil. “Iya, iya. Lampu tidur aja. Mbak emang nggak suka gelap.”
Aga yang sejak tadi masih berdiri langsung bergerak mematikan lampu utama dan membiarkan lampu tidur tetap menyala. Setelah itu ia duduk pelan di kasur lipatnya.
"Gini aja, biar kamu bisa istirahat," katanya singkat.
Gwen menoleh ke arahnya. Sorot matanya sedikit melembut. “Makasih.”
Aga hanya mengangguk pelan, lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur tipis itu. Begitu punggungnya menyentuh permukaan, satu penyesalan langsung menghantam kepalanya telak.
Kalau saja tadi ia tidak merusak AC kamar Pandji.
Kalau saja ia tidak sok pintar menciptakan alasan supaya bisa tidur dekat Gwen.
Kalau saja ia sedikit lebih waras.
Mungkin malam ini ia bisa tidur berdua dengan Gwen tanpa gangguan. Bukannya malah terdampar di lantai kamar tamu, sementara Gwen tidur di atas ranjang bersama Pandji... Benar-benar bodoh.
Dari atas kasur, Pandji menarik selimut sampai ke dada lalu menoleh ke arah Gwen.
“Mbak, kalau kedinginan bilang aja, ya.”
Gwen mengangguk kecil. “Iya.”
Aga menutup mata sebentar.
Ya, itu adiknya.
Tentu saja wajar.
Sangat wajar. Tapi suara itu—perhatian yang terlalu ringan, terlalu mudah—entah kenapa membuat dadanya terasa sempit. Rahangnya mengeras pelan, sementara ia berpura-pura tidak peduli pada hal yang jelas-jelas mengusiknya—menyebalkan.
inilah inti perjalanan ke depan
good job thor
lanjuttt
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍