NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Dalam Cengkeraman Monster

Aisha tidak pernah membayangkan akan bertemu muka dengan mertuanya dalam situasi seperti ini. Pria tua di hadapannya—yang dikenal sebagai Hartono Wiryawan, pengusaha properti terkemuka di Jakarta—berdiri dengan tenang, seolah ia sedang menghadiri acara sosial, bukan menyandera dua wanita di gudang kosong.

“Kau pasti bingung, Aisha,” kata Hartono sambil berjalan mendekat. “Mengapa aku melakukan semua ini?”

Aisha berdiri di depan Sari, berusaha melindungi wanita yang masih terikat di kursi itu. Tangannya gemetar, tapi ia berusaha tidak menunjukkan ketakutan.

“Kau monster,” bisik Aisha. “Kau menjual anak-anak, kau memperbudak Sari, kau membiarkan Cahaya mati. Kau bahkan tega pada anak kandungmu sendiri.”

Hartono tertawa. “Arka? Anak itu lemah. Dia tidak pernah punya nyali untuk melawan aku. Bahkan ketika aku bilang Mia sudah mati, dia percaya begitu saja. Anak yang baik, menurutu.”

“Dia tidak percaya. Dia mencari Mia bertahun-tahun.”

“Tapi tidak pernah menemukannya, bukan? Karena aku yang menyembunyikan Mia. Aku yang memastikan dia tidak pernah bisa dihubungi.”

Aisha terkejut. “Kau yang menyembunyikan Mia? Tapi Mia bilang dia dijual...”

“Dia dijual, ya. Tapi setelah dia melarikan diri, aku yang memastikan dia tidak pernah bisa kembali ke Jakarta. Aku yang mengirim orang untuk mengawasinya. Aku yang membuatnya paranoid. Aku yang membuatnya gila.”

“Mengapa? Mengapa kau tega pada anak kandungmu sendiri?”

Hartono berhenti tersenyum. Matanya menjadi dingin. “Karena dia adalah pengingat akan kesalahanku. Menikahi wanita miskin yang melahirkan anak cacat. Aib bagi keluarga Wiryawan.”

“Kau sakit, Hartono. Kau benar-benar sakit.”

“Mungkin. Tapi aku yang punya kekuatan di sini. Bukan kau.”

Hartono memberi isyarat pada anak buahnya. Mereka berjalan mendekat, mengikat tangan Aisha dengan tali plastik.

“Bawa mereka ke mobil. Kita pindah.”

---

Aisha dan Sari didorong masuk ke dalam mobil box. Pintu ditutup rapat, meninggalkan mereka dalam kegelapan. Aisha mendengar suara mesin menyala, mobil mulai bergerak.

“Sari, kau baik-baik saja?” bisik Aisha.

“Aku baik-baik saja. Maafkan aku, Aisha. Aku yang menyebabkan semua ini.”

“Bukan salahmu, Sari. Kau korban. Kita semua korban.”

“Tapi jika aku tidak kembali ke Jakarta, jika aku tidak mencoba membalas dendam, mungkin kau dan Mia tidak akan terlibat.”

“Kau tidak bisa menyalahkan diri sendiri karena ingin keadilan, Sari. Yang salah adalah mereka.”

Mereka berdua diam. Mobil melaju kencang, berguncang di jalanan yang tidak rata. Aisha tidak tahu ke mana mereka dibawa. Yang ia tahu, ia harus selamat. Untuk Baskara. Untuk Arka. Untuk Mia.

---

Setelah perjalanan yang terasa seperti berjam-jam, mobil berhenti. Pintu box terbuka. Cahaya matahari menyilaukan mata Aisha yang sudah terbiasa dengan kegelapan.

Mereka berada di sebuah vila besar di tengah perkebunan. Tidak ada tetangga, tidak ada rumah lain. Hanya vila megah dengan pagar besi tinggi dan satpam bersenjata di setiap sudut.

Hartono turun dari mobil di depan, berjalan ke pintu vila. “Bawa mereka ke ruang bawah tanah. Aku akan bicara dengan mereka nanti.”

---

Ruang bawah tanah itu dingin dan lembab. Dindingnya terbuat dari bata merah, lantainya semen kasar. Hanya ada satu lampu bohlam yang menggantung di langit-langit, memberikan cahaya temaram.

Aisha dan Sari duduk di lantai, punggung bersandar pada dinding yang dingin. Tangan mereka masih terikat, kaki mereka juga.

“Sari, kau tahu apa yang akan dia lakukan pada kita?” tanya Aisha.

“Dia akan membunuh kita. Tapi tidak sebelum dia menyiksa kita. Dia suka menyaksikan korbannya menderita.”

“Apakah tidak ada jalan keluar?”

“Aku sudah mencoba melarikan diri berkali-kali. Setiap kali, aku tertangkap. Setiap kali, hukumannya lebih berat.”

“Tapi kau berhasil melarikan diri terakhir kali. Itu sebabnya kau bisa sampai di Jakarta.”

Sari mengangguk. “Aku punya teman di dalam. Seorang satpam yang kasihan padaku. Dia membantuku kabur. Tapi dia dibunuh setelah ketahuan.”

Aisha menutup matanya. “Kita tidak akan menyerah, Sari. Kita akan cari jalan keluar.”

“Kau optimis, Aisha. Aku suka itu.”

Mereka berdua tersenyum tipis, berusaha menguatkan satu sama lain.

---

Dua jam kemudian, pintu ruang bawah tanah terbuka. Hartono masuk dengan dua orang anak buahnya. Ia tersenyum melihat Aisha dan Sari yang terikat.

“Apa kalian sudah merasa nyaman?” tanyanya sinis.

“Lepaskan kami, Hartono. Kau tidak akan lolos. Arka sudah melaporkanmu ke polisi.”

Hartono tertawa. “Polisi? Mereka sudah lama menjadi bayaranku. Laporan Arka tidak akan ke mana-mana.”

“Kau meremehkan Arka. Dia tidak akan menyerah.”

“Arka adalah anak pengecut. Seperti ibunya. Dia tidak akan berbuat apa-apa tanpa kau, Aisha. Dan kau sekarang ada di tanganku.”

Hartono berjalan mendekat, mengangkat dagu Aisha dengan jarinya. “Kau cantik, Aisha. Aku mengerti mengapa Arka rela menikahimu lagi meskipun kau sudah berselingkuh.”

Aisha meludahi wajahnya.

Hartono tidak marah. Ia hanya menyeka ludah itu dengan sapu tangan, lalu tersenyum. “Sempurna. Aku suka wanita yang pemberani.”

Ia memberi isyarat pada anak buahnya. “Bawa Sari ke ruangan sebelah. Aku akan bicara dengan menantuku sebentar.”

---

Sari dibawa keluar, meskipun ia berontak. Aisha sendirian dengan Hartono dan dua orang anak buahnya.

“Aisha, aku bisa membuat hidupmu mudah atau sulit. Terserah kau. Aku hanya ingin satu hal.”

“Apa?”

“Bujuk Arka untuk menarik laporannya. Katakan bahwa semuanya hanya kesalahpahaman. Bahwa Mia tidak pernah dijual. Bahwa Sari tidak pernah diperbudak. Lakukan itu, dan kau akan bebas. Baskara akan aman.”

“Kau mengancam Baskara?”

“Bukan ancaman. Fakta. Aku punya orang di mana-mana, Aisha. Di sekolah Baskara, di rumahmu, di kantor Arka. Jika kau tidak menurut, Baskara bisa celaka. Kecelakaan, misalnya. Atau sakit mendadak. Banyak cara.”

Aisha merasakan amarah yang membakar. Ia ingin menjerit, ingin menendang, ingin membunuh Hartono dengan tangannya sendiri. Tapi ia tahu itu tidak akan berguna.

“Jangan sentuh Baskara. Aku akan lakukan apa pun yang kau minta.”

“Bagus. Aku knew kau akan berpikir rasional.”

Hartono berdiri, berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh. “Oh ya, Aisha. Satu lagi. Jangan coba-coba kabur. Jika kau kabur, Baskara yang akan membayar.”

Pintu tertutup. Aisha duduk di lantai, menangis dalam diam.

---

Sementara itu, di Jakarta, Arka semakin panik. Aisha tidak pulang setelah pergi menemui Sari. Ponselnya tidak aktif. Mia juga tidak bisa dihubungi.

Arka sudah melapor ke polisi, tapi mereka tidak serius menangani. Seperti kata Hartono, polisi sudah menjadi bayarannya.

“Aku harus cari Aisha sendiri,” kata Arka pada Mia yang duduk di ruang tamu, wajahnya pucat.

“Kau tahu di mana Sari bersembunyi? Ren membawa Sari ke suatu tempat.”

“Ren pengkhianat. Dia tidak bisa dipercaya. Tapi mungkin dia meninggalkan jejak.”

Arka membuka laptopnya, mencoba melacak lokasi terakhir ponsel Aisha. Tidak mudah, karena ponsel Aisha sudah dimatikan. Tapi ada satu aplikasi yang pernah Aisha pasang untuk melacak Baskara—aplikasi yang sama yang dulu membawa mereka menemukan Baskara di rumah lama.

Arka membuka aplikasi itu. Terlihat titik hijau kecil di daerah Puncak, lalu bergerak ke arah timur, lalu berhenti di suatu tempat di tengah perkebunan.

“Dia di sini,” kata Arka, menunjukkan layar pada Mia.

“Apa itu?”

“Aisha mengaktifkan aplikasi pelacak di ponselnya sebelum dia dimatikan. Aku bisa lihat lokasi terakhirnya. Dia di vila keluarga angkatku. Vila itu milik ayahku.”

Mia merinding. “Kita harus ke sana. Kita harus selamatkan Aisha.”

“Kita tidak bisa sendirian. Kita butuh bantuan.”

“Siapa yang bisa membantu? Polisi tidak bisa dipercaya.”

Arka berpikir sejenak. “Tono. Tono mantan polisi. Dia punya koneksi. Dia juga punya senjata.”

“Kau tahu di mana Tono?”

“Aku tahu.”

---

Arka dan Mia pergi ke rumah Tono. Pria itu terkejut melihat mereka, tapi langsung serius setelah mendengar cerita Arka.

“Keluarga angkatmu benar-benar monster,” kata Tono sambil mengambil pistol dari lemari besi. “Aku akan bantu. Tapi kita butuh rencana.”

“Rencana apa?”

“Kita tidak bisa masuk ke vila itu dengan paksa. Terlalu banyak satpam. Kita harus menyusup, mencari Aisha dan Sari, dan keluar sebelum mereka sadar.”

“Kau punya pengalaman menyusup?”

“Aku mantan polisi. Aku sudah melakukan ini berkali-kali. Tapi tidak pernah semarah ini.”

Mia menggenggam tangan Arka. “Kita akan selamatkan Aisha. Aku yakin.”

---

Malam harinya, Arka, Mia, dan Tono berangkat ke Puncak. Mereka membawa mobil berbeda agar tidak mencurigakan. Tono membawa perlengkapan penyusupan—tali, senter, pisau, dan pistol.

Mereka tiba di perkebunan sekitar pukul sepuluh malam. Langit gelap tanpa bintang, angin berhembus kencang. Mereka berjalan kaki menyusuri perkebunan teh menuju vila.

“Ada empat satpam di depan,” bisik Tono, mengintip dari balik semak. “Dua di belakang. Kita masuk dari samping.”

Mereka merayap di kegelapan, berusaha tidak bersuara. Tono memimpin, Arka di tengah, Mia di belakang.

Tiba-tiba, Mia menginjak dahan kering.

“Krak!”

Para satpam menoleh. “Ada apa?”

Tono memberi isyarat untuk diam. Mereka berhenti bergerak, berusaha menahan napas.

“Tidak ada. Mungkin kucing hutan,” kata seorang satpam.

Mereka melanjutkan penyusupan. Kali ini lebih hati-hati.

---

Di ruang bawah tanah, Aisha terjaga. Ia mendengar suara-suara aneh dari luar. Suara langkah kaki, suara bisikan, suara benda bergesekan.

“Sari, kau dengar itu?” bisik Aisha.

Sari mengangguk. “Mungkin tikus.”

“Tikus tidak berbicara.”

Mereka berdua diam, mendengarkan. Suara itu semakin dekat.

Pintu ruang bawah tanah terbuka perlahan.

“Aisha,” bisik Arka.

Aisha hampir berteriak kegirangan. Arka! Arka datang!

“Diam,” bisik Tono. “Kita keluar lewat belakang. Ada lorong rahasia.”

Tono memotong ikatan Aisha dan Sari dengan pisau. Mereka berlima berjalan menyusuri lorong sempit di belakang ruang bawah tanah. Lorong itu gelap dan berbau tanah basah.

“Lorong ini menuju ke kebun belakang,” bisik Tono. “Setelah itu, kita lari ke mobil.”

Mereka berjalan cepat, sesekali berhenti untuk mendengarkan apakah ada yang mengejar.

Di ujung lorong, Tono mendorong pintu kayu yang rapuh. Pintu itu terbuka, memperlihatkan kebun belakang vila yang gelap.

“Cepat!”

Mereka berlari ke arah mobil. Aisha memegang tangan Sari, membantunya berlari meski kakinya kram karena terikat lama.

Tapi sebelum mereka mencapai mobil, lampu sorot menyala dari segala arah.

Hartono berdiri di beranda vila, tersenyum. “Aku tahu kau akan datang, Arka. Aku sudah menunggu.”

1
Nesya
kapok aisha
M F91: hai ka makasih sudah meramaikan komen dari hasil karyaku yang masih pemula
total 1 replies
Agus Tina
Tetap semangat thor ..
M F91: siap kaka
terimakasih untuk suportnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!