Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.
Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.
Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.
Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.
Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:
Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?
- Believe in magic -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Rasa bersalah
" Martin! " Pekik Quenza yang barusaja sadar dari siumannya, ia begitu merasakan nyeri yang luar biasa dari perutnya matanya terbelalak kala melihat perutnya yang begitu membesar
" Ma, mama kenapa bisa seperti ini? " Tanya Martin yang terdiam beberapa saat Quenza menggeleng kan kepalanya. " Mama ngga tahu, mama tiba-tiba seperti ini Martin perut mama perut mama membuncit! " Pekik Quenza
Membuat Martin menggeleng kan kepalanya, ia tidak. Mengerti karena di penglihatan nya perut mamanya rata seperti biasanya.
" Ma, mama halusinasi perut mama ngga buncit malah rata " Sahut Martin dengan suara datar membuat Quenza melotot penuh kemarahan " Kamu itu bodoh sekali!, kamu liat perut mama mu ini membuncit!.. Mama mau operasi! " Maki Quenza memukul-mukul perutnya
" Ma, mama ngga. Kenapa-kenapa! "
" Mama ngga peduli mama. Mau di operasi siapkan dokter terbaik! " Desaknya
Martin menghela napas panjang, ia segera menghubungi dokter kepercayaan mamanya. sementara Quenza tetap meraung memukul-mukul Perutnya yang dilihatnya itu membuncit namun di mata semua orang dia baik-baik saja,
" Ini pasti gara-gara si penyihir kurang ajar itu!. Dia pasti! " Tuding Quenza ia dengan susah payah beranjak dari duduknya.
" Ma, mama ngapain? " Tanya Martin yang muncul di ambang pintu bersama dokter kepercayaan mamanya itu,
" Martin, mama mau temuin si Penyihir itu dia yang buat mama seperti ini pasti!! " Tuding Quenza membuat Martin mengepal tangannya,
" Ma bisa ngga sih, ngga usah melibatkan Evelyn? " Kata Martin dengan suara tegas
" Kamu bela dia??, kamu itu udah di bohongi dia Martin! " Pekik Quenza ia menarik kuat kerah baju sang anak, membuat Martin hampir tercekik.
" Ma cukup!, Evelyn bukan seorang yang seperti itu! " Pungkas Martin ia menepis tangan sang mama,
" Martin kamu berani, menentang mama hanya karena Penyihir itu!. Ingat siapa yang sudah buat kamu seperti ini nak! " Ucap Quenza penuh kemarahan
Martin, menatap lekat kedua bola mata mamanya dengan tatapan tegas. Penuh kebencian
" Mama yang buat aku seperti ini! " Sahut Martin dengan suara penuh penekanan
" Apa maksud kamu? " tanya Quenza tampak terkejut, bahkan ia memundurkan langkahnya hingga jatuh ke Ranjangnya matanya menatap penuh ketidak percayaan, kakinya bergetar lemas
" Ma, Martin udah cukup besar untuk tahu semuanya. Mama selingkuhan papa yang merebut papa dari penyihir itu! " Ujar Martin dengan suara penuh penekanan rahangnya mengeras tatapan matanya tajam,
Tangan Quenza bergetar, begitupun bibirnya tidak ia tidak boleh menyerah batinnya.
" Martin, kamu tahu penyihir itu tidak layak untuk di cintai! " Tekan Quenza
" Mereka juga Makhluk ma!, mama menghancurkan kebahagiaan orang dan sekarang mama menuding kaumnya! " Pekik Martin sorot mata nya tajam, Ia mengacak rambutnya frustasi " Dan aku anak dari seorang selingkuhan!, aku malu ma!! "
Martin menghela napas panjang, Ia menatap lekat sang mama penuh kebencian yang terpendam. " Mama ngga tahu seberapa hancurnya aku, saat tahu aku anak dari seorang perebut. Mama merebut kebahagiaan semuanya!, ma Aku pantas terkutuk karena.... Aku udah mengambil kebahagiaan orang! uara pecah Tangisnya pecah seketika
Quenza terbelalak, seumur hidup ia tidak pernah menyaksikan puteranya menangis membuat hatinya bergetar. " Kita ngga salah! "
" Ma, mama ngga pernah ngerasa apa. Yang Martin rasakan — merasa bersalah yang seharusnya mama yang bersalah! "
" Martin kita tidak salah!! " Tekan Quenza
" Ma kita penghancur, dan aku menyesal memilih percaya sama mama! " Kata Martin dengan suara serak
Martin menatap mamanya dengan mata penuh perhatian, ia ingin membenci mamanya namun disatu sisi ia hanya mempunyai mamanya yang ada setiap langkahnya.
" Ma, Aku tahu mama cinta sama papa tapi tidak menghancurkan hubungan orang juga ma.. Itu tidak baik " Lanjut Martin
" Martin, kamu hanyalah anak kecil yang tidak tahu apapun!. Kamu membela penyihir tersebut karena kamu suka sama kaumnya bukan? " Tuding Quenza
Martin menegakkan punggung nya, yang terasa sakit itu ia menatap lekat sang mama dalam " Yang mama katakan benar, aku suka sama dia!... Mama ngga bisa suruh aku mundur untuk mencintainya. " Tutur Martin
" Martin! Dia penyihir kita beda! "
" Kalau mama mempertahankan cinta mama dengan papa, walaupun harus menghancurkan hubungan papa dengan penyihir itu bisa. Kenapa aku ngga?? " Sindir Martin dengan suara dingin
" Martin! "
Plak!
Martin termangu, saat sebuah tamparan dari sang mama mendarat di pipi kanan nya ia menatapnya tajam. " Aku ngga apa-apa mama sakitin, anggap saja karena omongan aku yang membuat mama terluka.. Tapi! " Ia terhenti mengambil napas dan mempertimbangkan kata yang cocok untuk keluar dari bibir nya. " Jangan sekali-kali nya, mama kasar sama Evelyn lagi dan berbuat semena-mena dengannya! "
" Martin, dia Hanya PENYIHIR!! "Tekan Quenza
" Dan aku suka dia, aku akan mempertahankan dia... ! " Tegas Martin Lalu berlalu begitu saja membuat Quenza memekik. Mereka tidak menyadari kalau dokter keluarga mereka sedaritadi melihat apa yang terjadi baru san,