NovelToon NovelToon
Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Romantis / Cintamanis
Popularitas:806
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)

•••

Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.

Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.

Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Di balik ketenangan

Suasana kamar masih terasa tenang menjelang siang itu. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai, menerangi sebagian ruangan dengan sinar hangat yang lembut.

Shaka masih tertidur pulas di atas tempat tidur. Tubuh kecilnya meringkuk nyaman, sesekali bergerak kecil dalam tidurnya.

Anindia duduk di sofa dengan laptop terbuka di depannya. Jemarinya bergerak pelan di atas keyboard, menyelesaikan beberapa tugas kuliah yang harus dikumpulkan minggu ini.

Sesekali pandangannya tertuju pada Shaka, memastikan putranya itu tidur dengan nyaman. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Anindia kembali fokus pada layar laptopnya.

Hening, hanya suara ketikan pelan dari laptop dan hembusan angin dari kipas angin yang terdengar samar memenuhi ruangan.

Pandangan Anindia perlahan kembali ke arah Shaka. Matanya memperhatikan wajah kecil itu lebih lama dari biasanya. Nafas Shaka pelan dan teratur, begitu tenang tanpa tahu apapun tentang isi kepala kedua orang tuanya.

Tanpa sadar, Anindia tersenyum tipis. Namun perlahan, senyum itu berubah menjadi tatapan penuh pikiran. Tangannya berhenti mengetik sesaat.

Di tengah tugas kuliah dan semua hal yang sedang ia jalani sekarang, tiba-tiba muncul satu pertanyaan yang kembali memenuhi isi kepalanya.

"Apa aku bisa benar-benar ngejar impianku nanti... Tanpa bikin Shaka kehilangan waktu sama aku dan Mas Keanu?"

Anindia menunduk pelan menatap layar laptopnya. Sejak dulu, ia selalu ingin menjadi seorang desainer. Itu bukan sekedar keinginan sesaat, tapi mimpi yang sudah ia simpan lama sebelum semuanya berubah dan kehidupannya berjalan sejauh ini.

Namun sekarang, ada Shaka di hidupnya. Ada keluarga kecil yang jauh lebih penting dari sekedar ambisi pribadi.

Anindia menghela nafas kecil sambil menyandarkan tubuhnya perlahan ke sofa. Pikirannya terasa sedikit penuh. Karena semakin ia menyayangi keluarga kecilnya, semakin besar pula rasa takutnya kehilangan momen bersama mereka nanti.

Anindia menutup laptopnya sebentar. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuannya sebelum akhirnya ia bergumam lirih, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.

"Semoga nanti, Shaka tetap ngerasain hangatnya rumah ini, ya."

Tatapan Anindia tidak lepas dari putranya. "Meskipun aku dan Mas Keanu bakal sibuk ngejar impian kami masing-masing."

Suaranya mengecil di akhir kalimat. Ia tahu, suatu saat hidup mereka pasti akan semakin sibuk. Ia dengan mimpinya, dan Keanu dengan tanggung jawab besar yang perlahan sedang menunggunya di masa depan.

Namun dibalik itu, ada satu hal yang paling ia takutkan. Jangan sampai Shaka tumbuh besar dan merasa sendirian di tengah kesibukan kedua orang tuanya.

Anindia tersenyum kecil, lalu beranjak ke arah tempat tidur. Tangannya bergerak lembut mengusap kepala kecil itu.

"Pokoknya... Shaka harus tetap mendapatkan kasih sayang," gumamnya pelan, lebih seperti harapan sederhana yang ia simpan di dalam hati.

Sementara itu, di bagian rumah lain, tepatnya di ruang kerja ayah Keanu, semuanya terasa jauh lebih serius.

Dokumen-dokumen tersusun rapi di atas meja, beberapa di antaranya masih terbuka. Sang ayah tampak fokus dengan pekerjaannya, sesekali menatap layar laptop di depannya dengan ekspresi tenang namun penuh perhatian.

Tokk... Tokk... Tokk...

Suara ketukan pelan terdengar dari pintu, diikuti suara Keanu setelahnya. "Pa, aku boleh masuk?" Ujarnya sopan dan terdengar sedikit hati-hati.

Sang ayah langsung mengalihkan pandangannya dari pekerjaan. Ia menoleh ke arah pintu, tanpa ragu menjawab dengan tenang.

"Masuk saja, Keanu."

Keanu pun membuka pintu perlahan, lalu melangkah masuk. Langkahnya pelan, ada sesuatu di sorot matanya yang terlihat lebih serius dari biasanya. Pintu di belakangnya tertutup, ia melangkah lebih jauh ke dalam ruangan.

Sebelum benar-benar duduk, Keanu sempat ragu sejenak. Tangannya sedikit mengusap tengkuknya, tanda bahwa ada sesuatu yang sedang ia pikirkan cukup berat.

"Papa lagi sibuk, gak?" Tanya Keanu pelan. "Aku ganggu?"

Ayahnya menoleh sebentar dari layar laptop, lalu bersandar ringan di kursinya. Ekspresinya tetap tenang, seperti biasa ketika bekerja.

"Papa masih cek beberapa dokumen," jawab ayahnya. "Kenapa Keanu? Ada apa?"

Keanu duduk di sofa, di sisi ruang kerja ayahnya. Ia tidak langsung bicara, punggungnya sedikit bersandar, sementara tangannya saling bertaut di depan. Ia menghela nafas cukup panjang, sebelum akhirnya bersuara.

"Tadi, aku ketemu Rendra, Pa."

Ayah Keanu yang masih memegang dokumen di tangannya langsung menghentikan gerakannya. Ia mengangkat pandangannya, alisnya sedikit mengernyit, seperti memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.

"Rendra?" Ulang ayahnya, nada suaranya lebih serius dari sebelumnya.

Keanu mengangguk pelan. "Iya Pa, Rendra di sini."

Ayah Keanu terdiam sejenak. Alisnya masih mengernyit, seolah mencoba mengingat atau mungkin menghubungkan sesuatu yang sudah lama tidak tersentuh.

"Bukannya Om kamu, sudah pindah ke luar kota?" Tanya ayah Keanu.

Keanu terdiam sejenak sebelum mengangguk kecil. "Iya, Pa." Ujarnya singkat. "Justru itu yang bikin aku kepikiran, Pa."

Keanu menunduk sesaat. Tangannya mengusap rambutnya pelan seperti sedang merapikan pikirannya sendiri yang mulai berantakan.

"Aku takut masalah yang dulu itu muncul lagi," lanjut Keanu lebih pelan, tapi suaranya terdengar lebih berat. "Dan jadi masalah lagi sekarang."

Ayah Keanu terdiam sesaat mendengar itu. Tatapannya tang tadi tenang, kini berubah lebih tegas, ada ketegasan yang jelas terbentuk dari pengalaman lama.

"Kalau memang itu yang kamu khawatirkan," ujar ayah Keanu sambil menutup dokumen di tangannya. "Mereka tidak akan mendapatkan hak yang bukan milik mereka."

Ayah Keanu kembali bersandar. Ia menatap Keanu lebih dalam, seolah ingin memastikan Keanu mengerti maksudnya.

"Masalah lama itu sudah selesai di tempatnya." Ujar ayah Keanu. "Dan seharusnya tidak dibuka lagi dengan cara yang salah."

Keanu merasa sedikit lega, meski tidak sepenuhnya menghapus kekhawatiran yang masih ada di benaknya. Ia menghela nafas pelan, lalu mengangguk kecil.

"Aku juga harap gitu, Pa," ujar Keanu setelah hening beberapa saat. "Aku cuma gak mau hal itu sampai ganggu Anindia sama Shaka."

Tangan Keanu bertaut lagi, kali ini sedikit lebih rileks seolah beban di dadanya sedikit berkurang setelah berbicara dengan ayahnya.

Ayah Keanu beranjak, lalu duduk sedikit lebih dekat dengan Keanu. Ia mengangkat tangan dan merangkul pundak Keanu dengan tenang.

Tepukan pelan mendarat di pundak Keanu, hangat, berat, tapi penuh makna.

"Sekarang kamu sudah beda, Keanu," ujar ayah Keanu, suaranya lebih lembut dari tadi. "Bukan cuma umur yang bertambah, tapi cara kamu melihat semuanya juga sudah berubah."

Ayahnya menatap Keanu sebentar, seolah memastikan kata-katanya sampai dengan benar.

"Dulu kamu keras kepala, susah dengar orang lain," lanjut ayahnya, sembari tersenyum tipis mengingat masa lalu. "Tapi sekarang kamu sudah punya tanggung jawab. Kamu sudah punya Anindia juga Shaka."

Tepukan di pundak Keanu kembali terasa, kali ini lebih menenangkan. "Papa tau kamu bisa berpikir lebih jernih sekarang. Jadi apapun yang akan datang nanti, kamu tidak akan menghadapi itu dengan cara yang sama seperti dulu."

"Iya Pa, aku ngerti," jawab Keanu dengan anggukan singkat.

Suaranya tidak lagi se-tegang sebelumnya. Kali ini lebih tenang, seperti telah mendapat pencerahan dari tempat yang semestinya.

Mata Keanu sempat menatap ke bawah, lalu kembali lurus ke depan. Untuk sesaat, ruangan itu terasa lebih tenang, seolah sedang memberi ruang untuk berpikir.

Ayah Keanu menghela nafas pelan sebelum melanjutkan, suaranya kini lebih rendah namun tetap tegas. "Kalau Rendra dan ayahnya kembali ke Jakarta hanya untuk mengungkit soal warisan Opa kalian," ucapannya tertahan sesaat. "Mereka tidak akan menemukan apa-apa lagi yang bisa diperebutkan."

Ia berhenti sejenak, menatap Keanu dengan sorot mata yang lebih serius. "Semua sudah lama diambil alih oleh Om Sandy. Karena ambisi dan sifatnya yang tidak pernah cukup." Lanjutnya, menahan kata-kata terakhir seolah mencari kalimat yang paling tepat. "Sekarang yang tersisa dari Opa kalian hanya rumah ini."

Keanu mengangguk pelan di sela-sela penjelasan itu, tanda ia mengikuti setiap kata yang diucapkan ayahnya.

"Itu satu-satunya yang benar-benar tersisa dari keluarga ini," lanjut ayah Keanu.

Keanu kembali terdiam beberapa saat. Rahangnya sedikit mengeras, bukan karena emosi yang meledak, melainkan karena rasa lelah yang sudah lama ia simpan setiap kali mendengar nama keluarga itu.

Keanu menghela nafas pelan, lalu menatap ayahnya. "Berarti semuanya udah jelas kan, Pa?" Ucapnya pelan, lebih seperti memastikan pikirannya sendiri.

Keanu mengusap wajahnya sesaat, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tenang. "Kalau cuma tinggal rumah ini, harusnya mereka juga udah paham batasnya dimana." Ujarnya. "Aku cuma gak mau masalah lama itu bikin Anindia dan Shaka ikut kena dampaknya."

Ayah Keanu menatap putranya lebih dalam. Ia bisa menangkap jelas kekhawatiran yang sedang Keanu simpan sejak tadi. Ia kemudian mengangguk, seolah memahami sepenuhnya perasaan itu.

"Papa mengerti," ucap ayah Keanu tenang.

Ayahnya menarik nafas singkat, sebelum akhirnya melanjutkan dengan nada yang lebih tegas namun tetap terkendali.

"Dan satu hal yang perlu kamu ingat, Keanu," lanjut ayahnya. "Perusahaan yang Papa jalankan sekarang itu bukan warisan siapapun yang mereka perebutkan."

Ayah Keanu menatap lurus ke depan sejenak, seperti mengingat perjalanan panjang yang sudah ia lewati.

"Itu murni hasil kerja Papa sendiri, dari nol. Jatuh bangun Papa lewati sendiri. Tidak ada sedikit pun bantuan dari om Sandy di dalamnya." Ujar ayah Keanu.

Suasana sedikit hening setelah itu. Ayahnya kembali menepuk pelan pundak Keanu. "Jadi kamu tidak perlu khawatir soal itu. Yang penting sekarang adalah kamu, Anindia dan Shaka."

Keanu benar-benar mendengarkan, tanpa sedikitpun menyela perkataan ayahnya. Sorot matanya tajam, ada keteguhan yang mulai terbentuk jelas di dalam dirinya.

"Aku gak akan biarin mereka mengambil apapun lagi, Pa,"ucap Keanu tegas, suaranya rendah tapi mantap.

Keanu mengatupkan rahangnya, sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih pelan tapi tetap penuh keyakinan. "Cukup sampai di sini saja."

"Sudah," ujar ayah Keanu. "Jangan kamu pikirkan terlalu jauh."

Sorot mata ayah Keanu melembut, berbeda dari sebelumnya yang tegas saat membahas urusan keluarga.

"Fokus saja pada kehidupan kamu sekarang. Kuliah kamu, Anindia, dan Shaka." Lanjut ayah Keanu. "Itu yang paling penting untuk kamu jaga."

Ayah Keanu kemudian tersenyum tipis, memberi rasa tenang yang sengaja ia sampaikan tanpa banyak tekanan. "Hal-hal di luar itu biar Papa yang urus kalau memang perlu."

Keanu tersenyum, lalu mengangguk kecil. Ekspresinya mulai lebih tenang dibanding sebelumnya. "Terima kasih, Pa," ucapnya tenang.

Namun, ia belum selesai. Keanu kembali menatap ayahnya, kali ini lebih serius. "Tapi gak mau cuma jadi penonton," ujarnya. "Kalau memang ada yang harus dihadapi, aku perlu tau juga, Pa."

Keanu berhenti sejenak, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Apalagi aku satu-satunya anak Papa dan Mama. Aku gak mau Mama Papa nanggung semuanya sendiri."

Ayah Keanu tersenyum hangat, tatapannya jauh lebih lembut. "Papa mengerti," ucapnya pelan, penuh pemahaman.

Tangan ayah Keanu kini bergerak ke arah punggung putranya, menepuk pelan punggung bidang itu. "Sekarang Papa masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan."

Bukannya mengusir, hanya penjelasan sederhana bahwa tanggung jawabnya masih menunggu untuk diselesaikan.

Keanu mengangguk pelan, menunjukkan bahwa ia memahami maksud ayahnya. Wajahnya sedikit melunak, lalu membalas dengan senyuman tipis.

"Iya, Pa." Jawab Keanu. "Aku ke atas dulu, ya."

Ayahnya mengangguk kecil sebagai jawaban. Keanu pun berdiri, memberi sedikit hormat sopan sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan itu.

Pintu tertutup pelan di belakangnya, meninggalkan ayahnya kembali pada pekerjaannya. Sementara Keanu membawa kembali pikirannya ke kamar, di tengah ketenangan yang masih terasa rapuh dibalik semua percakapan tadi.

Suasana rumah itu terasa tenang, tapi tidak dengan isi kepala Keanu. Nama Rendra dan percakapan tadi terus berputar, seperti mengingatkan bahwa masa lalu itu belum sepenuhnya selesai.

Keanu berhenti sejenak sebelum menaiki tangga, lalu menghela nafas pelan. "Semoga gak sampai ganggu hidup gue sekarang," batin Keanu, sebelum kembali melangkah menuju kamarnya.

^^^Bersambung...^^^

1
Fadillah Ahmad
Kok, sepi sih, yang baca? Padahal Tulisan di Sinopsis-nya bagus loh? Rapi lagi. Kok sepi banget, ya?

Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih udah mampir, kak... Selamat membaca ya, semoga terhibur hehe😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!