NovelToon NovelToon
Hutang Yang Harus Kubayar

Hutang Yang Harus Kubayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33

“Laki-laki itu,” ucap Rio perlahan, memilih setiap kata, “dia selingkuh.”

Arya menoleh tajam. Alisnya berkerut. “Apa?”

“Yang memeluk Nona Nadia,” lanjut Rio, menatap lurus ke depan agar tidak goyah. “Dia bukan laki-laki setia. Selama ini dia memiliki hubungan lain.”

Arya terdiam. Kebingungan melintas di wajahnya, menggantikan amarah yang belum sempat meledak. “Laki-laki siapa,” tanyanya rendah, berbahaya. “Apa yang kamu maksud, Rio?”

"Saya sudah melaksanakan tugas yang anda berikan untuk menyelidiki keluarga Mahesa. Tuan Galang, adalah putra Bangsa dari keluarga itu, dia berselingkuh dengan seorang model di tempat kerjanya."

"Katakan semua informasi yang kamu dapat!" Mata Arya memancarkan api, dia terus meratap asistennya dengan penuh sukacita, siap mendengarkan penjelasan dari laki-laki itu.

Rio mendekat, menyerahkan foto-foto yang dia ambil dari dalam saku jasnya. Dia sudah mengumpulkan bukti-bukti yang diinginkan oleh tuannya untuk menghindari kemurkaan laki-laki itu.

"Namanya Clara, seorang model pendatang baru. Dia bercerai dari suaminya beberapa tahun yang lalu. Saat itu kehidupannya sangat kacau. Bahkan beberapa kali meminjam uang dari nona Nadia."

Keruta di kening Arya semakin dalam. " Apa yang terjadi di antara mereka?"

"Nona Nadia dan Clara adalah teman semasa sekolah. Karena merasa kasihan, Nadia meminta kekasihnya untuk membantu Clara mendapatkan pekerjaan sebagai model. Namun dua orang itu justru menjadikan hubungan di belakang nona Nadia."

Mata hitam Arya membola. Fakta ini cukup mengejutkan. Pria yang Nadia cintai memiliki hubungan tidak sehat dengan temannya sendiri?

"Nona Nadia tidak tahu sama sekali mengenai hal ini. Dia begitu percaya pada dua orang itu."

Sudut bibir Arya terangkat, dia tidak menyangka ada fakta mengejutkan yang akan dia temui.

"Saya berhasil menyadap ponsel nona Clara dan menemukan hal ini." Rio menyerahkan ponsel di tangannya kepada Arya. Di dalam sana menampilkan video tidak pantas antara Galang dan Clara.

Tampak Galang menguasai tubuh wanita di bawahnya. Laki-laki itu tidak menyadari ada kamera yang merekam kegiatan yang mereka lakukan. Berbeda dengan Clara yang sesekali menatap ke arah lensa , sepertinya wanita ini memang sengaja.

"Benar-benar seorang ja*ang! Dia wanita licik." Arya menghina Clara yang menikmati kegiatan tidak pantas itu.

Rio mengangguk, membenarkan pendapat tuannya. Dia sendiri cukup terkejut mendapati rahasia yang pasti tidak diketahui oleh Nadia sendiri. Di sisi lain, dia juga merasa iba namun tidak bisa berbuat apa-apa.

"Setelah ini apa yang harus saya lakukan?" Tanya Rio

"Cukup mudah, sebarkan hubungan mereka ke sosial media."

Rio terkejut." Tuan.." kata-katanya tertahan.

"Kita lihat seberapa jauh dia bisa bertahan."

Kali ini kening Rio berkerut. Tidak mengerti siapa yang dimaksud dia oleh Tuannya. Apakah Galang? Nadia atau Clara?

"Dia akan datang padaku setelah tahu kekasih hatinya menghianatinya. Kita lihat saja."

Sebuah senyum miring terukir di wajah tampan Arya. Dia bisa memperkirakan kemungkinan terbesar yang akan terjadi. Dalam kasus hubungan gelap antara kekasihnya dengan temannya itu terungkap ke publik, tidak ada yang bisa Nadia lakukan. Dia tidak punya pilihan lain selain merelakan laki-laki itu.

"Tunggu," punya Arya sesaat sebelum Rio beranjak pergi, senyuman di wajahnya semakin lebar." Lakukan sesuatu untukku."

....

Matahari kian merunduk ke ufuk barat, meninggalkan jejak jingga yang memudar perlahan. Di atas sebuah jembatan tua yang membentang di atas sungai kecil, Nadia berdiri mematung. Tangannya bergerak pelan, melemparkan kerikil satu per satu ke permukaan air. Setiap lemparan menciptakan riak kecil yang cepat menghilang, sama seperti perasaannya yang terasa muncul hanya untuk lenyap tanpa bekas.

Tatapan matanya kosong. Tidak ada fokus, tidak ada tujuan. Ia bahkan tidak menyadari sejak kapan air matanya berhenti mengalir. Matanya terasa kering dan perih, namun ia membiarkannya begitu saja, seolah tubuhnya sudah terlalu lelah untuk memproduksi kesedihan dalam bentuk air mata.

Nadia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara senja yang dingin. Kepalanya dipenuhi oleh kejadian-kejadian yang berputar tanpa henti, seperti rekaman rusak yang menolak berhenti. Dua orang yang paling ia percaya, orang-orang yang selama ini ia lindungi dengan sepenuh hati ternyata tega mengkhianatinya dengan cara yang paling kejam.

Dadanya kembali sesak. Bibirnya bergetar ketika ia akhirnya menyadari satu hal pahit: kekasih yang ia cintai, yang selama ini ia anggap rumah, ternyata menjadi sumber luka terdalamnya.

“Aku bodoh…” bisiknya lirih, hampir tak terdengar oleh angin.

Air mata kembali mengalir, kali ini tanpa bisa ditahan. Nadia menunduk, bahunya bergetar. Ia tidak pernah membayangkan pengkhianatan akan terasa seperti ini sunyi, dingin, dan mematikan perlahan. Tidak ada teriakan, tidak ada adegan dramatis. Hanya kehancuran yang menyelinap pelan-pelan ke dalam jiwa.

Masalah seolah datang bertubi-tubi tanpa memberi jeda. Kematian ayahnya yang masih terasa begitu dekat, pernikahan kontrak dengan Arya yang belum sempat ia cerna sepenuhnya, dan kini pengkhianatan dari orang yang ia cintai sepenuh hati. Seakan semesta sedang mengujinya, mengikis kesabarannya sedikit demi sedikit, hingga ia nyaris tak bersisa.

Nadia mengangkat wajahnya ke langit yang mulai gelap. Warna jingga berubah menjadi ungu keabu-abuan. Ia menatap kosong, lalu berbicara dalam hati, seolah ibunya masih bisa mendengar.

“Ibu… aku capek,” gumamnya. “Kenapa semua orang jahat sama Nadia? Apa Nadia salah? Apa Nadia memang tidak pantas bahagia?”

Angin berembus pelan, menyapu rambutnya yang tergerai. Tidak ada jawaban, tentu saja. Hanya keheningan yang semakin menegaskan betapa sendirinya ia sekarang.

Ia mengusap wajahnya kasar, menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipinya. Dengan sisa tenaga dan tekad yang entah datang dari mana, Nadia melangkah menjauh dari jembatan itu. Ia tahu satu hal: ia tidak boleh menyerah. Tidak sekarang. Tidak setelah semua yang ia lalui.

Langkahnya terasa berat saat menyusuri jalan menuju kos. Setiap sudut jalan menyimpan kenangan tawa, obrolan ringan, janji-janji yang kini terasa seperti kebohongan besar. Namun ia terus berjalan, memaksa kakinya melangkah meski hatinya ingin runtuh di tengah jalan.

Ketika akhirnya sampai di depan bangunan kos yang sederhana itu, langit sudah hampir sepenuhnya gelap. Lampu-lampu kecil di lorong menyala redup, menciptakan bayangan panjang di dinding. Nadia menaiki anak tangga satu per satu, kepalanya tertunduk, pikirannya kosong.

Baru saja ia menginjak anak tangga terakhir, sebuah suara menghentikannya.

“Nadia.”

Tubuhnya menegang. Suara itu terlalu familiar. Terlalu menyakitkan untuk diabaikan.

Ia menoleh perlahan dan mendapati Galang berdiri di depan pintu kamarnya. Wajah laki-laki itu tampak lelah, matanya cekung, rambutnya sedikit berantakan. Ia terlihat seperti seseorang yang telah menunggu lama dan memang benar, Galang sudah berada di sana hampir satu jam.

Namun Nadia tidak peduli. Ia kembali memalingkan wajah dan berjalan melewatinya, seolah Galang hanyalah udara.

“Nadia, tunggu,” ujar Galang cepat, langkahnya menyusul. “Aku mau bicara.”

Tidak ada respon.

Galang menghela napas panjang. “Aku minta maaf.”

Langkah Nadia terhenti. Ia berbalik perlahan, menatap Galang dengan ekspresi datar yang menusuk. Tidak ada air mata, tidak ada amarah yang meledak hanya kehampaan yang membuat Galang justru semakin takut.

“Kamu minta maaf?” suara Nadia tenang, terlalu tenang. “Maaf untuk apa?”

Galang terdiam.

Nadia tersenyum kecil, senyum pahit yang tidak mencapai matanya. “Apakah kamu merasa berbuat salah? Atau aku yang salah karena terlalu sok suci?” nada suaranya mulai bergetar. “Aku terlalu bodoh ya, sampai harus bertanya kenapa aku harus memaafkan kamu.”

Galang menunduk. Kata-kata seakan tersangkut di tenggorokannya. Ia tahu, apa pun yang ia ucapkan sekarang tidak akan pernah cukup.

Nadia menaikkan satu alisnya. “Kenapa diam?” tanyanya tajam. “Apakah aku sehina itu sampai kamu tidak sudi lagi bicara padaku?”

Ia melangkah lebih dekat. “Kalau begitu, untuk apa kamu buang-buang waktu datang ke tempat wanita sok suci sepertiku ini?”

Beberapa detik berlalu. Galang masih bungkam.

Kesabaran Nadia runtuh.

“Dulu,” suaranya meninggi, “kamu mencium keningku. Apakah kamu juga melakukan hal yang sama pada wanita itu?”

Galang tidak menjawab.

“Kamu memelukku erat,” lanjut Nadia, air matanya kembali jatuh. “Apakah kamu juga memeluknya seperti itu?”

Diam.

“Apa lagi yang kamu lakukan di belakangku?” suaranya pecah. “Apa lagi, Galang?!”

Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menampar lebih keras dari kata-kata.

Amarah, sakit hati, dan penghinaan bercampur menjadi satu. Tangan Nadia terangkat, dan sebelum Galang sempat bereaksi, tamparan keras mendarat di pipinya. Suaranya menggema di lorong sempit itu.

Galang terhuyung sedikit, namun tidak melawan. Ia hanya menatap Nadia, matanya merah, rahangnya mengeras menahan rasa bersalah.

“Hubungan kita berakhir di sini,” ucap Nadia tegas.

Ia melepas cincin di jarinya cincin yang dulu begitu ia jaga lalu meletakkannya di tangan Galang. Benda kecil itu terasa begitu berat, seolah membawa seluruh kenangan mereka di dalamnya.

Nada suara Nadia berubah dingin, formal. “Tuan Galang, jika tidak ada lagi yang ingin Anda bicarakan, silakan pergi dari tempat saya.”

Ia menarik napas, menahan getar di dadanya. “Wanita sok suci seperti saya sepertinya memang tidak pantas lagi untuk Anda.”

Galang menatap cincin di telapak tangannya, lalu kembali menatap Nadia. Kata-kata formal itu menusuk lebih dalam daripada tamparan tadi. Apakah sejauh itu jarak yang kini tercipta di antara mereka?

“Apakah… apakah kita memang harus berakhir seperti ini?” tanya Galang lirih, suaranya hampir tak terdengar.

Nadia menatapnya lama. Di matanya, ada sisa cinta yang terluka, ada kenangan yang enggan pergi. Namun lebih dari itu, ada harga diri yang tidak bisa lagi ia korbankan.

“Seharusnya kita tidak pernah berakhir seperti ini,” jawabnya pelan. “Tapi kamu yang memilih jalan ini.”

Ia berbalik, membuka pintu kamarnya. Sebelum masuk, ia berkata tanpa menoleh, “Pergilah. Jangan kembali.”

Pintu tertutup perlahan, meninggalkan Galang sendirian di lorong sunyi, dengan cincin di tangan dan penyesalan yang datang terlambat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!