sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FONDASI & DEADLINE
Pagi di kediaman Dirgantara tidak lagi diawali dengan aroma kopi yang menggoda. Sejak garis dua itu muncul, aroma kopi—bahkan yang paling mahal sekalipun—telah menjadi musuh nomor satu bagi penciuman Kira. Alih-alih bau biji kopi panggang, rumah itu kini lebih sering beraroma irisan jeruk nipis dan jahe hangat.
"Huekk... Lan... jauhkan... jauhkan mug itu!" seru Kira dari balik pintu kamar mandi, suaranya terdengar sengau dan lemas.
Arlan, yang baru saja hendak menyesap kopi paginya di ruang tengah, langsung tersentak. Ia meletakkan cangkir keramiknya dengan terburu-buru hingga isinya sedikit tumpah ke meja marmer. "Maaf, Ra! Astaga, aku lupa. Aku buang sekarang, ya?"
"Jangan dibuang! Taruh di teras belakang saja, sayang kalau dibuang," sahut Kira lagi, disusul suara kumuran air.
Arlan membawa kopinya ke luar, lalu kembali masuk untuk menghampiri istrinya. Ia menemukan Kira sedang bersandar di bingkai pintu kamar mandi dengan wajah pucat pasi dan rambut yang sedikit berantakan.
"Parah banget ya pagi ini?" Arlan mengusap tengkuk Kira dengan lembut, membantunya berjalan menuju tempat tidur.
"Rasanya kayak habis naik roller coaster sepuluh kali putaran, Lan. Pusing banget. Padahal aku ada rapat Zoom jam sepuluh nanti sama Mr. Henderson untuk finalisasi material hotel," keluh Kira sambil merebahkan diri.
Arlan melirik jam di dinding. Pukul 08.30. "Kamu nggak bisa minta tunda? Kondisi kamu lagi nggak fit, Ra. Morning sickness kamu minggu ini makin menjadi-jadi."
Kira menggeleng lemah. "Nggak bisa, Lan. Ini deadline terakhir sebelum dokumennya masuk ke kontraktor Singapura. Kalau aku tunda, seluruh jadwal renovasi bisa geser seminggu. Aku nggak mau dicap nggak profesional cuma karena hamil."
"Tapi kesehatan kamu dan si Kecil lebih penting dari jadwal renovasi mana pun di Orchard Road," tegas Arlan. "Aku temani ya? Kalau kamu merasa mau mual lagi, aku yang ambil alih layarnya."
"Memangnya kamu nggak ke kementerian? Katanya hari ini ada pemaparan desain maket pusat riset?"
Arlan terdiam sejenak. Ia teringat tumpukan pesan singkat dari Pak Broto, pejabat kementerian yang terkenal sangat disiplin. "Ada. Tapi bisa aku delegasikan ke Rian, asistenku. Dia sudah paham teknisnya."
"Lan, jangan," Kira meraih tangan Arlan. "Kamu sudah janji proyek pemerintah ini bakal jadi masterpiece kamu. Kalau kamu nggak datang di pemaparan pertama, mereka bakal mikir kamu nggak serius. Aku nggak apa-apa, beneran. Aku cuma butuh biskuit gandum dan air jahe."
Pukul sepuluh tepat. Kira duduk di meja studionya dengan wajah yang sudah dipoles makeup tipis untuk menutupi pucatnya. Di layar laptop, wajah Mr. Henderson muncul dengan latar belakang kantornya yang sibuk.
"Kira! Senang melihatmu. Bagaimana kabarmu di Jakarta? Aku dengar ada berita besar tentang 'proyek kecil' di perutmu?" sapa Mr. Henderson dengan ramah.
Kira tersenyum paksa, menahan rasa mual yang tiba-tiba merayap di tenggorokannya. "Kabar baik, Sir. Terima kasih. Ya, proyek ini sedang berjalan sesuai rencana, meski sedikit menguras energi."
"Hahaha, aku mengerti. Oke, mari kita langsung ke poinnya. Aku tidak suka warna marmer yang kamu sarankan untuk area foyer. Bukankah kita sepakat menggunakan Travertine?"
Kira menarik napas panjang, mencoba fokus pada layar yang penuh dengan kode warna. "Sir, Travertine terlalu berpori untuk area dengan kelembapan tinggi seperti itu. Saya menyarankan Statuary Marble karena—"
Tiba-tiba, aroma pengharum ruangan otomatis di studionya menyemprotkan wangi bunga mawar. Bagi Kira, itu terasa seperti serangan gas beracun. Perutnya bergejolak hebat.
"Kira? Kamu masih di sana?" tanya Mr. Henderson saat melihat Kira mendadak terdiam dan menutup mulutnya.
"Maaf... Sir... sebentar..." Kira mematikan kamera dan mikrofonnya dengan gerakan kilat, lalu berlari menuju tempat sampah di pojok ruangan.
Di saat yang sama, di kantor kementerian yang megah, Arlan sedang berdiri di depan sepuluh orang pejabat tinggi. Rian sedang menyiapkan proyektor, namun Pak Broto tampak tidak sabar.
"Mana Pak Arlan? Oh, itu dia. Pak Arlan, kenapa maketnya belum dipasang? Kita cuma punya waktu tiga puluh menit sebelum Menteri datang," ucap Pak Broto dengan nada ketus.
Arlan melirik ponselnya yang bergetar di saku. Ada pesan dari sistem keamanan rumah mereka yang terhubung ke studio Kira—sebuah tombol darurat kecil yang ia minta Kira tekan jika terjadi sesuatu. Ponselnya bergetar tiga kali. Kode darurat.
"Mohon maaf, Pak Broto. Ada urusan mendesak di rumah. Asisten saya, Rian, akan memulainya," ucap Arlan sambil membereskan tasnya.
Pak Broto berdiri, wajahnya memerah. "Urusan mendesak? Pak Arlan, ini proyek negara! Anda tidak bisa seenaknya meninggalkan rapat sepenting ini hanya karena urusan domestik!"
Arlan berhenti melangkah, ia menatap Pak Broto dengan tatapan yang sangat tenang namun tajam. "Pak Broto, saya adalah arsitek yang Anda sewa karena keahlian saya. Dan keahlian saya tidak akan hilang hanya karena saya pulang sebentar untuk memastikan istri saya baik-baik saja. Istri saya sedang mengandung, dan bagi saya, itu adalah proyek kehidupan yang jauh lebih penting daripada beton dan baja mana pun. Rian sangat kompeten. Jika Anda tidak puas dengan pemaparannya, silakan hubungi saya nanti malam."
Tanpa menunggu jawaban, Arlan melangkah keluar. Ia tidak peduli jika reputasinya di kementerian hancur. Pikirannya hanya tertuju pada Kira.
Arlan sampai di rumah dengan napas terengah-engah. Ia langsung menuju studio dan menemukan Kira terduduk lemas di lantai, kepalanya bersandar di kaki meja. Laptopnya masih menyala, memperlihatkan layar Zoom yang sudah kosong dengan pesan singkat: "Take care, Kira. We will reschedule."
"Ra! Sayang!" Arlan langsung berlutut dan mengangkat Kira ke dalam pelukannya.
"Lan... kenapa pulang? Rapatnya gimana?" bisik Kira lemas.
"Persetan dengan rapat itu. Kenapa kamu nggak panggil aku lewat telepon saja? Kenapa cuma tekan tombol?" Arlan mengusap keringat dingin di dahi Kira.
"Aku nggak mau ganggu konsentrasi kamu... aku cuma... baunya mawar tadi mendadak bikin aku pusing banget," Kira menyandarkan kepalanya di bahu Arlan.
Arlan membawa Kira ke ruang tengah yang sirkulasi udaranya lebih baik. Ia membaringkan Kira di sofa, lalu mengambilkan air jahe hangat yang sudah disiapkan di dalam termos.
"Minum dulu, pelan-pelan," pinta Arlan.
Setelah beberapa saat, warna di wajah Kira mulai kembali. Ia menatap Arlan dengan rasa bersalah. "Maafin aku ya, Lan. Gara-gara aku, kamu pasti dicap buruk di kementerian. Pak Broto itu kan galak banget."
Arlan duduk di lantai, di samping sofa, sambil menggenggam tangan Kira. "Biarkan saja. Kalau mereka nggak bisa menghargai posisi seorang suami dan calon ayah, berarti mereka nggak layak dapet desain terbaik aku. Ra, kita harus buat aturan baru."
"Aturan apa lagi?"
"Selama trimester pertama ini, nggak ada kerjaan setelah jam dua siang. Dan kalau kamu merasa mual, kamu harus bilang. Jangan sok kuat sendirian. Aku ini suami kamu, bukan cuma rekan diskusi desain."
Kira tersenyum tipis, jarinya membelai rambut Arlan. "Sebelas tahun kita sahabatan, aku terbiasa mandiri, Lan. Aku lupa kalau sekarang ada kamu yang selalu siap sedia."
"Itu masalahnya. Kamu masih sering pakai mode 'sahabat mandiri', padahal sekarang statusnya sudah 'istri manja boleh banget'," goda Arlan, membuat Kira tertawa kecil.
Tiba-tiba, ponsel Arlan berbunyi. Pesan dari Rian.
Rian: Pak, pemaparannya sukses! Pak Menteri justru suka karena Pak Arlan berani memprioritaskan keluarga. Beliau bilang, 'Arsitek yang sayang keluarga biasanya membangun dengan hati'. Pak Broto langsung kicep, Pak!
Arlan membaca pesan itu dan tertawa lepas. Ia menunjukkannya pada Kira. "Lihat? Kadang kejujuran itu lebih ampuh daripada formalitas."
Kira menarik napas lega. "Syukurlah. Aku sempat takut karier kamu hancur gara-gara aku."
"Nggak akan, Ra. Justru sekarang aku makin semangat. Oh ya, Mr. Henderson juga kirim email. Dia bilang jangan dipikirkan soal rapat tadi. Dia kirim paket jeruk Bali khusus dari distributornya ke sini buat kamu."
"Wah, Mr. Henderson beneran baik ya."
Sore harinya, suasana rumah terasa lebih santai. Arlan memutuskan untuk tidak kembali ke kantor. Ia malah sibuk di dapur, bukan membuat kopi, tapi memotong buah-buahan segar untuk Kira.
"Lan," panggil Kira dari sofa.
"Ya?"
"Kamu kepikiran nggak, nanti kalau anak ini lahir, kita bakal seberisik apa?"
Arlan membawa piring buah dan duduk di samping Kira. "Pasti berisik banget. Kamu yang cerewet soal kebersihan, aku yang rewel soal tata letak mainan. Tapi aku sudah bayangkan, Ra... di studio itu nanti, bakal ada meja kecil buat dia corat-coret sementara kita berdua kerja."
Kira membayangkan hal itu dan hatinya terasa hangat. "Dia bakal punya dua guru desain paling galak sedunia."
"Tapi paling sayang sama dia," sambung Arlan. Ia mengusap perut Kira yang masih tampak rata. "Halo, jagoan atau cantik? Jangan bikin Bunda susah ya. Ayah di sini siap jaga kalian berdua."
Kira menatap Arlan, pria yang sebelas tahun lalu hanyalah teman yang sering ia pinjami catatan kuliah. Siapa sangka, pria yang sama kini menjadi pelindung terhebatnya.
"Lan, makasih ya sudah selalu ada. Bahkan saat aku lagi bau minyak kayu putih begini."
Arlan mencium kening Kira. "Bau minyak kayu putih kamu itu aroma paling menenangkan buat aku sekarang, Ra. Itu tandanya kamu dan anak kita lagi berjuang di dalam sana. Dan aku nggak akan biarkan kalian berjuang sendirian."
Malam itu, di bawah temaram lampu ruang tengah, mereka menyadari bahwa tantangan pernikahan bukan hanya soal pihak ketiga atau restu orang tua. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana tetap berdiri tegak sebagai tim saat kondisi fisik dan tekanan pekerjaan mencoba meruntuhkan pondasi yang ada. Dan bagi Arlan dan Kira, pondasi sebelas tahun mereka ternyata jauh lebih kuat dari baja kualitas terbaik sekalipun.
"Lan," bisik Kira saat mereka bersiap tidur.
"Ya?"
"Besok... kopinya tetap di teras ya?"
Arlan tertawa, mengecup mata Kira. "Siap, Nyonya. Kopinya akan saya minum di taman belakang bareng burung-burung, biar aromanya nggak sampai ke hidung sensitifmu."
Kira tertawa, dan dalam tawa itu, rasa mualnya seolah hilang sesaat. Hidup memang penuh dengan kejutan desain yang tak terduga, namun selama mereka menggambar garisnya bersama, tidak ada yang perlu ditakutkan.