NovelToon NovelToon
Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Time Travel
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Jilal Suherman

ajil seorang suami yang ditinggal istrinya meninggal dunia setelah kelahiran anak keduanya.
sampai pada suatu ketika dia berjalan dijalan raya tanpa melihat kanan kiri menyebrang jalan, lalu ia tertabrak kendaraan.
tapi seketika ia berada ditempat dimana keadaan yang jauh dari planet bumi dan bertemu seorang Dewi yang akan memberikan kehidupan dan petualangan baru disdimensi lain diplanet yang bernama ridokan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Kristal yang Hancur dan Gadis Panah Kilat

Bangunan raksasa berbentuk bundar itu berdiri angkuh di pusat kota, mendominasi lanskap dengan arsitektur yang terbuat dari susunan batu obsidian dan pualam putih. Di puncaknya, sebuah lambang guild—sepasang pedang raksasa bersilang yang terbuat dari kristal merah menyala—berputar pelan melawan arah jarum jam, memancarkan pendaran magis yang bisa dilihat dari seluruh penjuru Kerajaan Valeria.

Ajil berdiri di depan pintu ganda raksasa yang terbuat dari kayu ek besi. Tidak ada keraguan dalam langkahnya. Ia mendorong pintu itu terbuka, dan seketika indranya diserang oleh gelombang suara dan aroma yang sangat pekat.

Bagian dalam Guild Petualang Valeria lebih menyerupai sebuah aula perayaan raksasa yang digabungkan dengan barak militer. Terdapat tiga lantai yang melingkar; lantai dasar dipenuhi oleh ratusan meja bundar tempat para petualang berpesta, berdebat, dan memamerkan hasil buruan. Udara dipenuhi asap dari cerutu daun tembakau peri, aroma tajam dari bir gandum yang tumpah, dan wangi gurih dari Babi Hutan Panggang Saus Madu Hitam yang dibawa berlusin-lusin oleh para pelayan di atas nampan perak.

Di sudut ruangan, seorang penyihir sedang beradu panco dengan seorang prajurit berzirah lempeng, sementara di sudut lain, sekelompok Rogue (penjahat bayaran) tengah mengasah belati kembar mereka yang berlumuran racun hijau. Suara dentingan koin emas dan perak yang dilemparkan ke atas meja terdengar bersahutan.

Langkah sepatu bot tempur Ajil yang kedap suara membawanya membelah keramaian. Setelan Malam Abadi miliknya menyerap cahaya ruangan, membuatnya tampak seperti bayangan hidup yang meluncur di antara para petualang. Hawa dingin dan aura intimidasi pasif yang menguar dari tubuhnya membuat beberapa petualang veteran yang sedang mabuk secara insting menghentikan tawa mereka, memberi jalan tanpa sadar saat Ajil lewat.

Di lantai tiga, bersandar pada langkan balkon kayu berukir, Erina berdiri menyembunyikan wujudnya dengan sihir manipulasi cahaya pembiasan angin. Ia baru saja tiba dari atap penginapan dan langsung melacak fluktuasi mana Ajil. Mata zamrudnya menatap lekat setiap pergerakan Ajil, memutar sebuah cangkir teh porselen berisi nektar bunga matahari di tangannya dengan senyum tipis yang penuh intrik.

Ajil tiba di meja resepsionis panjang yang terbuat dari kayu mahoni mengkilap. Di balik meja kaca itu, berjejer staf guild yang sibuk melayani para petualang. Langkah Ajil berhenti tepat di depan seorang resepsionis wanita muda.

Wanita itu bernama Karin. Rambut pirangnya diikat rapi ke belakang, ia mengenakan kacamata berbingkai tipis dan seragam guild resmi berupa kemeja putih ketat berbalut rompi cokelat dari kulit rusa, lengkap dengan pita merah di kerahnya. Ia sedang sibuk menstempel setumpuk perkamen misi menggunakan stempel sihir.

"Selamat datang di Guild Valeria," sapa Karin dengan nada profesional tanpa mendongak. "Ada yang bisa saya bantu? Laporan misi, pencairan hadiah, atau..."

Karin mendongak, dan kata-katanya terhenti di kerongkongan.

Mata Karin bertubrukan langsung dengan sepasang mata hitam yang begitu kelam, sedingin gletser di puncak Benua Utara. Tidak ada setitik pun kehangatan atau cahaya di mata pria berjaket hitam di depannya ini. Karin, yang sudah terbiasa menghadapi petualang paling kasar atau monster berbentuk manusia sekalipun, tiba-tiba merasa bulu kuduknya meremang. Udara di sekitar meja resepsionis itu seolah turun beberapa derajat.

"Mendaftar," ucap Ajil datar, suaranya pelan namun menusuk tajam.

"A-Ah... b-baik, Tuan," Karin buru-buru membetulkan letak kacamatanya, mencoba menutupi kegugupannya. Ia menarik sebuah perkamen kosong dari laci meja. "Untuk pendaftaran anggota baru, kami memerlukan biaya administrasi sebesar lima keping perak. Dan kami harus mengecek potensi mana serta menentukan kelas awal Anda."

Ajil menatap Karin tanpa berkedip. "Aku tidak punya uang. Pakai ini."

Dari dalam saku jaket panjangnya—yang sebenarnya terhubung dengan Cincin Ruang Tak Terbatas—Ajil mengeluarkan sebuah benda dan meletakkannya di atas meja kaca.

Tuk.

Sebuah tanduk besi sepanjang lengan orang dewasa, berwarna abu-abu gelap dengan bercak darah hitam yang masih segar di bagian pangkalnya. Itu adalah tanduk dari Serigala Tanduk Besi Level 15 (Pemimpin) yang ia bantai semalam di Hutan Terlarang.

Mata Karin membulat sempurna di balik kacamatanya. Ia adalah penilai item yang ahli. "I-Ini... Tanduk Besi dari Serigala Pemimpin Hutan Terlarang? Material utuh tanpa cacat tebasan? Tuan... benda ini bernilai setidaknya dua keping emas murni! Ini terlalu berlebihan untuk biaya pendaftaran."

"Ambil potongannya untuk pendaftaran. Sisanya simpan di saldoku," jawab Ajil tak acuh. Baginya, itu hanyalah rongsokan sisa pertarungan yang menghalangi ruang inventarisnya.

Karin menelan ludah, mengangguk cepat. Ia segera mencatat sesuatu di perkamen. Pria ini sendirian, tidak membawa senjata yang terlihat, mengenakan pakaian kulit yang tampak bersih, tapi membawa material monster dari area paling mematikan.

"Baiklah. Selanjutnya adalah pengukuran kelas," Karin memutar tubuhnya dan mengambil sebuah bola kristal bening seukuran kepala manusia yang diletakkan di atas bantalan beludru merah. Ia meletakkannya di atas meja, tepat di depan Ajil.

"Ini adalah Kristal Penilai Roh. Ia akan mengukur kapasitas mana, elemen inti, dan kekuatan fisik Anda yang tersimpan di dalam sel tubuh," jelas Karin, suaranya kini dipenuhi rasa hormat. "Di dunia Ridokan, kekuatan dibagi dari level 1 hingga 999. Sedangkan peringkat kelas dimulai dari F, E, D, C, B, A, S, SS, SSS, God Realme, hingga puncaknya God Absolute. Silakan letakkan telapak tangan Anda di atas kristal ini dan alirkan sedikit saja energi Anda."

Di lantai tiga, Erina memiringkan kepalanya. "Mari kita lihat, Algojo. Seberapa besar monster yang bersembunyi di balik matamu yang mati itu?"

Ajil memandang bola kristal itu sejenak. Ia tidak tahu bagaimana cara 'mengalirkan sedikit energi'. Sejak ia menerima kekuatan God-Tier dari Dewi Lumira semalam, mana di dalam tubuhnya seperti samudra tanpa dasar yang selalu bergejolak hebat, ditahan hanya oleh ketahanan fisiknya.

Tanpa banyak berpikir, Ajil mengangkat tangan kanannya, dan meletakkan telapak tangannya yang kapalan tepat di atas permukaan kristal yang dingin.

Selama satu detik, tidak terjadi apa-apa.

Lalu, di detik kedua...

VZZZMMMM!

Seluruh Guild Valeria mendadak senyap. Cahaya dari lampu-lampu sihir yang menggantung di langit-langit berkedip-kedip tak karuan, seolah pasokan energi mereka tersedot paksa.

Bola kristal bening di bawah tangan Ajil meledak dengan cahaya hijau yang membutakan mata. Cahaya itu begitu pekat dan murni hingga membuat orang-orang di lantai satu harus menutup mata mereka rapat-rapat. Tak berhenti sampai di situ, dari dalam pusaran cahaya hijau di inti kristal, muncul kilatan-kilatan petir berwarna ungu gelap yang menyambar-nyambar ganas, menghantam dinding kristal dari dalam.

KRETEK... KRETEK...

Retakan halus mulai merambat di permukaan Kristal Penilai Roh yang konon dikabarkan bisa menahan tekanan magis dari petualang kelas SS sekalipun.

Karin terkesiap mundur, wajahnya pucat pasi. "T-Tuan! Hentikan! Kristalnya kelebihan beban!"

Ajil mengerutkan kening. Ia bahkan belum melakukan apa-apa, ia hanya menyentuhnya. Ia baru saja akan menarik tangannya ketika aliran Mana Tak Terbatas dan Amukan Petir Abadi di dalam jiwanya merespons secara otomatis layaknya bendungan yang jebol.

[SISTEM: Peringatan. Benda medium (Kristal Penilai Roh) tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menampung pembacaan stat God-Tier. Status medium: Kritis.]

PRAAAANNNG!!!

Bola kristal raksasa itu meledak berkeping-keping. Gelombang kejut yang dahsyat menyapu meja resepsionis, menerbangkan ribuan kertas perkamen ke udara seperti badai salju. Karin menjerit tertahan saat tubuhnya terlempar ke belakang, namun sebelum punggungnya menghantam dinding, Ajil dengan refleks yang melampaui kecepatan suara, merentangkan tangan kirinya. Gelombang angin di belakang punggung Karin membeku seketika, menciptakan bantal udara tak kasat mata yang menahan tubuh resepsionis itu hingga ia mendarat dengan aman.

Asap tebal berwarna hijau keunguan mengepul di atas meja yang kini bolong dan hangus. Suara dentingan gelas-gelas bir yang pecah di meja-meja petualang menambah dramatis suasana. Semua senjata secara refleks dicabut. Ratusan petualang bersiaga penuh, menatap horor ke arah pusat ledakan.

Di balkon lantai tiga, mata Erina membulat sempurna. Cangkir teh di tangannya retak. "Dia menghancurkan Kristal Penilai Kelas Tertinggi hanya dengan sentuhan pasif?! Mustahil... Petir ungu itu... kekuatan macam apa ini?!" Jantung sang High Elf berdebar liar, sebuah ketertarikan yang sangat adiktif mulai meracuni akal sehatnya.

[SISTEM: Peringatan Bahaya! Niat membunuh dan fluktuasi elemen petir kuning terdeteksi dari arah jam 9. Jarak: 15 meter.]

Sistem Ajil berkedip merah. Bersamaan dengan itu, kilatan cahaya kuning menyambar dari arah tangga lantai dua, mendarat dengan suara dentuman keras di tengah-tengah aula yang berantakan.

Asap perlahan menipis. Ajil menolehkan kepalanya dengan tenang ke arah jam 9.

Berdiri sepuluh langkah dari posisinya, seorang wanita tinggi semampai dengan postur tubuh sangat atletis tengah menarik tali sebuah busur panjang yang terbuat dari emas murni. Anak panah yang menempel pada tali busur itu bukanlah anak panah biasa, melainkan murni terbuat dari aliran listrik berwarna kuning yang berderak-derak ganas. Mata panah kilat itu membidik lurus, tepat di antara kedua mata Ajil.

[Nama: Reyna]

[Ras: Manusia]

[Level: 150]

[Kelas: S (Master Pemanah Kilat)]

Wanita itu mengenakan zirah kulit ketat berwarna kuning dan hitam yang mengekspos perut ratanya, dengan jubah pendek yang berkibar menantang. Rambut merah bata-nya diikat tinggi ekor kuda. Dia adalah Reyna, Master Guild dari kota tetangga yang kebetulan sedang berkunjung, terkenal dengan julukan "Si Panah Kilat Kuning".

"Jangan bergerak se-inci pun, Penyusup," ancam Reyna, suaranya tegas dan menggema di seluruh aula. Listrik kuning di mata panahnya semakin terang, siap menembus tengkorak Ajil kapan saja. "Menghancurkan fasilitas inti Guild dan melepaskan fluktuasi sihir setara monster bencana. Sebutkan namamu, ras-mu, dan tujuanmu, atau kepalamu akan menguap detik ini juga."

Semua petualang menahan napas. Master Reyna turun tangan. Pria berbaju hitam itu pasti akan mati jika berani melawan.

Namun, Ajil tidak mengangkat tangannya. Ia tidak mundur, tidak pula memohon. Pria berusia tiga puluh tujuh tahun yang kehilangan segalanya itu hanya menatap mata panah kilat yang berjarak belasan meter darinya dengan pandangan yang teramat kosong dan dingin. Petir kuning Reyna terlihat seperti mainan anak-anak jika dibandingkan dengan petir ungu abadi yang bersemayam di darah Ajil.

"Alat yang diciptakan untuk menimbang setetes air akan selalu hancur ketika dipaksa untuk mengukur luas dan gelapnya lautan duka," ucap Ajil datar, suaranya membelah keheningan dengan kejelasan yang mengerikan. Ia kemudian menatap langsung ke mata Reyna. "Namaku Ajil. Dan aku hanya ingin mendaftar."

Tatapan mata Ajil—yang begitu pekat, mati, dan mengintimidasi tanpa harus memancarkan mana—membuat kewaspadaan Reyna bergetar. Wanita tangguh itu tanpa sadar menelan ludah. Ada sesuatu yang sangat salah dengan pria ini. Insting bertahannya sebagai petualang Kelas S menjeritkan satu kalimat di kepalanya: 'Jika kau melepaskan panah ini, kau akan mati sebelum cahaya kilatmu menyentuh wajahnya.'

"M-Master Reyna! Tolong turunkan senjata Anda!"

Suara Karin yang bergetar memecah ketegangan. Resepsionis itu berlari dari balik reruntuhan mejanya, berdiri di samping Ajil sambil merentangkan kedua tangannya sebagai tameng. "T-Tuan Ajil tidak menyerang! I-Ini kecelakaan! Kristalnya yang gagal menahan kapasitas mana beliau!"

Reyna mengerutkan kening. Ia menatap Karin, lalu kembali menatap Ajil. Perlahan, dengan keraguan yang masih membekas, ia mengendurkan tarikan tali busurnya. Anak panah kilat kuning itu menghilang tanpa suara.

"Kau beruntung, Ajil," dengus Reyna, menyarungkan busur emasnya ke punggung, meski matanya masih memancarkan permusuhan. "Jika aku melihatmu membuat kekacauan lagi di kota ini, aku sendiri yang akan membakar jantungmu."

Ajil tidak merespons ancaman kosong itu. Ia hanya mengalihkan pandangannya kembali kepada Karin. "Jadi? Apa pendaftaranku selesai?"

Karin, yang masih gemetar, buru-buru mengangguk. "S-Selesai, Tuan Ajil! Tentu saja!" Ia membungkuk mencari-cari sesuatu di laci yang selamat dari ledakan, lalu mengeluarkan sebuah cincin logam berwarna perak dengan lambang guild yang terukir kecil di atasnya.

"I-Ini Cincin Keanggotaan Guild Anda," Karin menyerahkannya dengan kedua tangan yang sedikit gemetar. "Cincin ini terhubung langsung dengan Sistem dunia Ridokan Anda. Karena kristalnya hancur sebelum sempat membaca kelas akhir Anda... sistem kami untuk sementara memasukkan Anda ke kelas paling dasar, Kelas F. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini."

Ajil mengambil cincin perak itu tanpa banyak komentar. Saat ia menyelipkan cincin itu di jari manis tangan kirinya—tepat di sebelah jarinya yang kosong, tempat di mana cincin kawinnya dengan Ami dulu melingkar di Bumi—sebuah layar hologram biru langsung muncul di atas cincin tersebut.

[SINKRONISASI SISTEM GUILD SELESAI]

[Nama: Ajil]

[Kelas Guild: F (Glitched/Error Pembacaan)]

[Level Guild: 1]

[Saldo Hadiah: 2 Keping Emas, 17 Keping Perak (Hasil konversi Tanduk Serigala Besi)]

Ajil menatap layar hologram itu sejenak. Ia punya uang sekarang. Ia resmi terdaftar. Tanpa mengucapkan terima kasih pada Karin atau menoleh pada Reyna yang masih mengawasinya dengan ketat, Ajil memutar tubuhnya, berjalan dengan langkah berat nan pelan menuju Papan Misi raksasa yang menempel di dinding seberang.

Hari ini, sang algojo berhati dingin akan memulai perburuan pertamanya sebagai petualang terdaftar, sementara di sudut bayangan ruangan, takdir mulai merajut benang pertemuannya dengan kawan-kawan yang kelak akan mengubah hidupnya.

1
Mr.Jeje
bilamana ada kesalahan tulisan mohon untuk memberi tahu saya sebagai author🙏
Mr.Jeje
saya sebagai author, bila mana ada kesalahan kata atau kalimat, mohon saran dan kritik nya untuk para pembaca. sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak.🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!