Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
Mobil melaju cepat membelah jalanan malam.
Lampu-lampu kota tampak seperti garis panjang yang berlari mundur di kaca jendela. Tangan Tama menggenggam setir lebih kuat dari biasanya.
Di kursi sebelahnya, Dita duduk kaku.
“Tuan… sebenarnya apa yang terjadi?” tanyanya pelan.
Tama tidak langsung menjawab.
Ia masih memikirkan suara panik dari rumah tadi.
“Tidak tahu,” katanya akhirnya. “Mereka cuma bilang Mama sakit.”
Jantung Dita langsung terasa mencelos.
“Baru saja tadi beliau menyuruh Tuan datang ke reuni…”
“Iya.”
“Jangan-jangan…”
Dita tidak melanjutkan kalimatnya.
Namun pikirannya mulai dipenuhi rasa bersalah.
Kalau saja mereka tidak keluar dari acara.
Kalau saja mereka pulang lebih cepat.
Kalau saja ia tidak ikut.
Mobil akhirnya berhenti di depan rumah besar keluarga Tama.
Lampu ruang tamu menyala terang.
Pintu bahkan sudah terbuka.
Begitu Tama turun dari mobil, seorang pembantu langsung berlari menghampiri.
“Tuan! Ibu di kamar!”
Tama tidak menjawab.
Ia langsung berlari masuk.
Dita mengikuti di belakang dengan langkah terburu-buru.
Begitu sampai di kamar utama, mereka melihat Bu Diana terbaring di tempat tidur. Wajah wanita itu terlihat pucat, sementara seorang dokter keluarga sedang memeriksa tekanan darahnya.
“Mama!”
Tama langsung mendekat.
Dokter menoleh.
“Tenang dulu, Tuan Tama.”
“Apa yang terjadi?” tanya Tama tegang.
“Tekanan darahnya naik cukup tinggi.”
Dita berdiri di ambang pintu.
Tangannya mulai gemetar.
Bu Diana membuka mata perlahan.
Tatapannya langsung mencari seseorang.
“Dita…”
Dita terkejut.
“Saya di sini, Bu.”
Ia mendekat dengan langkah ragu.
Bu Diana menatapnya lama.
“Akhirnya pulang juga…”
Nada suaranya lemah.
Dita menunduk.
“Maaf, Bu… tadi kami keluar sebentar.”
Bu Diana menghela napas pelan.
Dokter selesai memeriksa.
“Tidak perlu khawatir berlebihan,” katanya pada Tama. “Hanya kelelahan dan sedikit emosi.”
“Emosi?”
Dokter tersenyum tipis.
“Ibu Anda terlalu banyak berpikir.”
Setelah memberi beberapa obat, dokter pun pergi.
Kamar itu akhirnya menjadi lebih tenang.
Tama duduk di kursi dekat tempat tidur.
“Mama membuatku khawatir.”
Bu Diana menatap anaknya lama.
“Aku juga khawatir.”
“Khawatir apa?”
Wanita itu memindahkan pandangannya ke Dita.
“Kalau aku tiba-tiba mati… siapa yang menjaga kalian?”
Dita langsung panik.
“Bu jangan bicara seperti itu.”
Namun Bu Diana justru menggeleng pelan.
“Dita.”
“Iya, Bu?”
“Kalian menikah saja.”
Ruangan itu langsung sunyi.
Dita merasa seolah jantungnya berhenti berdetak.
“Apa?”
Bu Diana menatapnya dengan serius.
“Aku ingin melihat kalian menikah.”
“Bu…” suara Dita gemetar. “Jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda.”
Tama menghela napas panjang.
“Mama…”
“Diam dulu.”
Bu Diana menatap Dita lagi.
“Kalau kalian menikah, aku bisa tenang.”
Dita langsung menggeleng cepat.
“Tidak bisa, Bu.”
“Kenapa?”
“Saya… saya tidak pantas.”
“Siapa bilang?”
Dita menunduk semakin dalam.
“Saya hanya asisten.”
Bu Diana mendengus pelan.
“Aku tidak peduli soal itu.”
Namun Dita tetap menggeleng.
“Maaf, Bu. Saya tidak bisa.”
Suasana kembali sunyi.
Tama berdiri perlahan.
“Aku ke ruang kerja sebentar.”
Ia keluar dari kamar tanpa menoleh lagi.
Di ruang kerja, lampu meja menyala redup.
Tama berdiri di dekat jendela sambil menatap halaman gelap.
Beberapa menit kemudian pintu diketuk pelan.
“Tuan…”
“Masuk.”
Dita masuk dengan langkah hati-hati.
Ia berdiri beberapa meter dari Tama.
“Maaf,” katanya pelan.
Tama menoleh.
“Kamu minta maaf lagi.”
“Saya membuat Ibu khawatir.”
“Bukan salahmu.”
“Tapi…”
Tama memotong.
“Dita.”
“Iya?”
“Kalau Mama memaksa seperti itu… kamu benar-benar tidak mau?”
Dita terdiam.
Beberapa kenangan lama muncul di kepalanya.
Wajah mantan kekasihnya.
Sepupunya.
Pengkhianatan yang membuat hidupnya berantakan.
“Aku takut,” katanya akhirnya.
“Tentang apa?”
“Kalau semuanya terulang lagi.”
Tama menatapnya lama.
“Dita.”
“Iya?”
“Aku bukan pria yang meninggalkan orang di hari pernikahan.”
Kalimat itu membuat Dita terdiam.
Tama melanjutkan pelan,
“Dan aku juga tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu lagi.”
Ruangan itu kembali sunyi.
Beberapa detik terasa sangat panjang.
Akhirnya Dita menarik napas.
“Kalau kita menikah…”
“Hmm?”
“Bukan karena kasihan.”
Tama mengangguk.
“Setuju.”
“Dan bukan karena dipaksa.”
“Setuju.”
Dita menatapnya.
“Kalau begitu…”
“Ya?”
“Kita menikah.”
Tama mengangguk pelan.
“Minggu depan kita ke kampungmu.”
Dita kaget.
“Ke kampung?”
“Iya. Aku harus melamarmu dengan benar.”
***
Seminggu kemudian.
Sebuah mobil hitam mewah memasuki jalan kecil di sebuah desa.
Debu tipis terbang di belakangnya.
Penduduk yang sedang duduk di warung langsung menoleh.
"Eh, ada mobil bagus lewat."
“Mobil siapa itu?”
"Entahlah, tidak tau."
“Wah mahal sekali.”
"Tamunya siapa? Kayaknya enggak mungkin kalau orang dari sini."
"Coba ikuti..."
"Hah? Ikuti? jalan kaki?"
"Ya ampun, itu jalannya aja pelan kok, kayak lagi nyari rumah orang aja."
"nyari rumah orang apa jalannya yang jelek?"
Mobil itu terus berjalan, Dita yang duduk di dalamnya melihat ke sekitar begitu memasuki perkampungan.
"Kamu udah lama banget ya enggak pulang, Dit."
"Iya, Bu Diana."
"Mulai biasain panggil Mama dong Dit."
Dita hanya mengulas senyum. Setelah hampir dua tahun lamanya dia meninggalkan kampungnya, akhirnya Dita kembali lagi. Mobil itu terus berjalan hingga berhenti di depan sebuah rumah dengan halaman luas.
Rumah nenek Dita.
"Eh, berhenti di rumah Supinah tuh."
"Rumah Supinah?"
Beberapa warga tampak kepo mendekat. "Siapa?"
"apa tamunya Bakri? Di sana kan yang agak bagusan kan si Bakri mantunya itu."
"Oh, iya. Suaminya Sari ya?"
"iya."
Beberapa tetangga mulai berkumpul di pinggir jalan.
Dita yang turun dari mobil langsung merasa jantungnya berdebar.
Kenangan lama kembali muncul.
Di rumah inilah dulu ia dipermalukan.
Di desa inilah mantannya meninggalkannya demi sepupunya.
"Dita!"
"Astaga, itu Dita kan?" seru salah satu warga yang melihat Dita keluar dari mobil.
"Eh, sama siapa tuh dia?"
Tama turun dari sisi lain mobil. Dita sigap membantu Bu Diana keluar perlahan.
Semua orang mulai berbisik.
“Siapa mereka?”
“Kenapa datang sama Dita?”